
...Haiii,,, Selamat membaca ya π€ Maafkan typo yang bertebaran π€π...
...πΈπΈπΈ...
Karin mengulurkan testpack yang dipegangnya kepada Dion dengan gerakan yang sangat lemah.
"Om papa lihat sendiri saja." lirihnya.
Dion menerimanya dengan hati yang bisa dibilang sudah terlebih dulu diaturnya menjadi mode sabar. Gerakan istrinya,,, Tangisannya,,, Raut wajah sedihnya,,, Semua sudah memberi jawaban apa hasil testpack itu.
Ingin rasanya menolak benda itu tapi karena tak ingin membuat istrinya makin sedih,,, Dion tentu memilih menerimanya.
"+"
Mata Dion mengerjap ngerjap beberapa kali memastikan jika matanya belum minus. Otaknya berpikir keras bukannya tanda + artinya positif. Tapi kenapa istrinya begitu sedih jika memang itu positif.
"Ah,, Apa aku yang bodoh ini ya?? Apa sekarang tanda positif sudah diubah??" Dion garuk garuk kepala sendiri.
Sesekali dilihatnya lagi Karin yang masih duduk dan menangis,,, Kemudian melihat lagi testpack di tangannya. Dion benar benar merasa menjadi manusia paling bodoh saat itu.
"Hahahha,,,, Bingung ya?? Jadi auto bego ya???" Tiba tiba Karin menertawakannya.
"Maksudnya apa nih???" tanya Dion makin merasa bodoh.
Baru saja masih dilihatnya dengan jelas istrinya itu masih menangis tapi sekarang tiba tiba sudah tertawa walau sisa lelehan airmatanya masih nampak jelas.
"Karin hamil om papa." Karin mengecup tangan suaminya itu dengan lembut lalu menyandarkan kepalanya di pinggang suaminya.
"Tunggu,, Tunggu,,, Hamil kan?? Ini artinya positif hamil kan???" Dion mundur selangkah dan menunjukkan testpack itu.
Karin mengangguk beberapa kali sambil mengelus elus perutnya yang masih datar.
"Benaran hamil???"
"Iyaaa om papa. Karin hamil. Om papa sebentar lagi bakal jadi papa." Karin meyakinkan suaminya yang masih belum benar benar percaya dan malah masih bingung.
"Ok,,, Kamu hamil. Aku jadi papa. Kabar bahagia kan??" Dion masih bingung.
"Pastinya,,," seru Karin.
"Terus kenapa kamu nangis tadi?? Kenapa sedih sekali kelihatannya??"
__ADS_1
"Cuma ngerjain om papa aja hahahha,,," Karin berdiri dari toilet duduknya dan menarik ke atas ****** ********.
"Apa?? Jadi kamu lagi ngerjain om papa nih???" Dion baru sadar bahwa dirinya sudah dikerjai istri kecilnya itu.
"Hahahha,,,," Karin berjalan keluar sambil menjulurkan lidahnya.
"Awas yaaaa,,,," kejar Dion langsung mengejar dan menyambar tubuh Karin dan menggelitikinya sampai Karin tertawa tawa menahan geli.
"Ampuuun om papa,,, Ampuuunnn,,,," teriak Karin diantara rasa gelinya.
"Gak pokoknya gak ada ampuuun,,,!!!" Dion tak mau berhenti menggelitiki Karin di atas ranjang.
Sampai Karin benar benar terengah engah dan Dion sendiri kecapekan. Dion lantas menjatuhkan dirinya di sebelah Karin. Saling berpandangan dengan tatapan penuh cinta.
Dion memiringkan tubuhnya,,, Bertumpu pada sebelah sikunya yang menyangga kepalanya. Dielusnya puncak kepala Karin dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih sayang,,, Sudah membuat om papa merasakan bahagianya menjadi calon papa di usia yang tidak muda ini. Terima kasih,,," Dion mengecup kening Karin.
"Karin yang berterima kasih sama om papa karena om papa begitu sabar sama Karin. Terus menyemangati Karin biar gak patah semangat dan terus percaya bahwa tuhan itu baik. Tuhan mengabulkan doa Karin. Sekarang ada nyawa dalam perut Karin dan itu buah cinta kita om papa. Karin gak bisa jelasin dengan kata seperti apa bahagianya Karin saat ini."
"Om papa juga bahagia sekali sayang. Seperti ini ternyata rasanya tau kalau istri hamil. Ijinkan om papa sapa calon bayi kita ya,,," Dion langsung merosot turun ke perut Karin lalu dengan gerakan lembutnya,, membelai perut Karin dan mengecupnya.
"Boleh kok nakal dan rewel sayang,,, biar papa kamu ini yang kewalahan ngurusin mama dan nuruti semua maunya mama dan kamu sayang,," sahut Karin tak mau kalah menggoda Dion.
"Siapa takut??? Ini tuh suami plus papa siaga." Dion menyombongkan diri.
"Hehehe,,, iya deh iyaaa. Percaya Karin." Karin tersenyum dengan manis sekali bahkan paling manis di mata Dion sejak mereka menikah.
Entah mungkin efek kehamilannya itu membuat aura Karin terlihat lebih cantik atau memang hanya perasaan Dion yang tengah bahagia saja membuat terasa berbeda.
"Sayang,,, Tau gak sekarang ada yang mau ketemu baby D??" tanya Dion.
"Siapa?? Kan belum ada yang tau,,," Karin heran karena merasa belum memberitahu mama Herna maupun papa Hengki.
"Joni dong,,, Tuh dia udah bangun mau kenalan katanya sama baby D. Ijinin dia masuk lagi ya sayang,,," rengek Dion.
Entah kenapa hari ini dia merasa aura Karin sangat menggoda.
"Kan udah tadi,,," protes Karin.
"Tadi kan mama Karin yang minta. Sekarang ganti papa Dion yang minta." Dion mengedip nakal.
__ADS_1
"Hhhmmm,,, gak kerja emangnya?? Udah jam berapa ini?? Katanya ada meeting penting bukan??" tanya Karin mengingatkan.
"Nah tadi siapa yang nangis nangis minta ditemenin hayooo,,, Sekarang udah mau nemenin kok diusir usir sih,,," Dion pura pura ngambek.
"Hahaha,,, iya juga ya. Ya udah deh Jon,,, Sini kenalan sama baby D. Tapi jangan keras keras ya masuknya. Kasihan baby D kena sundul nanti." ucap Karin dengan manjanya.
"Siap mama muda,,," Dion menyanggupi.
Tak mau menunda lagi,, Dion sudah memposisikan Joni tepat di depan pintu surga dunianya. Ujungnya sudah masuk sedikit dan menggesek lembut dinding kenikmatan Karin. Lenguhan lembut Karin sudah terdengar.
Krriiingggg,,,, Suara ponsel Dion berbunyi membuat konsentrasi Dion terpecah belah. Diliriknya ponsel yang menampilkan nama Megha di layar.
Dion tau betul kalau tidak ada urusan yang tidak penting atau mendesak,, sekretarisnya itu tidak akan mengganggunya.
"Yahh Joni jadi ngambek nih. Letoy." Dion menggerutu.
"Ya udah nanti aja dilanjut lagi. Om papa kerja aja dulu. Karin sama baby D gak apa apa kok ditinggal. Kan kerja juga nyariin uang buat kita yaaaa,,," Karin bicara dengan perutnya.
"Baiklah. Om papa usahakan bisa pulang lebih awal biar bisa antar kamu ke dokter ya sayang. Kita periksakan kehamilanmu." ucap Dion sambil berlalu menuju ke kamar mandi membersihkan diri.
"Iya om papa. Karin nurut aja."
Karin lalu bangun dan menyiapkan pakaian kerja Dion seperti biasanya.
"Rina,,, Kok belum turun?? Dion kerja jam berapa??" suara mama Herna terdengar di depan pintu kamar.
"Iya ma. Sebentar lagi kita turun." sahut Karin dari dalam.
"Iya sayang. Papa nungguin juga tuh di bawah." mama Herna tak menunggu lagi jawaban Karin dan langsung turun.
"Dion sejak menikah malah sering telat ngantor." gumam mama Herna yang sudah duduk di meja makan.
"Namanya juga pengantin baru ma. Masih anget angetnya." ujar papa Hengki.
"Iya sih,,," mama Herna mengerti.
...πΈπΈπΈ...
...Masih slow up π€§...
Dukung author dengan vote, like dan komen πΈβ€οΈπ
__ADS_1