
Dannis menatap lama batu nisan yang berada di hadapannya saat ini, tidak ada tangis di sana pria itu tersenyum sekarang.
"Sudah tiga bulan kau meninggalkan ku, tiga bulan pula hati ini terus merindu, entah sampai kapan, hidupku harus tetap berjalan sayang.... maaf jika aku sibuk dan tidak sempat kemari beberapa hari ini, tenang di sana dalam damai Naya, aku akan lebih baik seiring waktu", ucap Dannis setelah selesai membacakan doa.
"Kau akan abadi dalam hatiku, tempatmu tidak tergantikan, Nesya banyak membantu ku, tapi aku tidak bisa menerima nya maafkan aku Naya, hati tidak bisa dipaksakan, Nesya sudah seperti saudara ku sendiri", gumam Dannis lagi pada pusara tunangannya.
Pada kenyataan nya bahwa sebelum meninggal Naya sempat meminta Dannis untuk memberi Nesya kesempatan yang sama untuk mencintainya dan menggantikan Naya di hari pernikahan, namun tentu saja pria itu menolaknya.
Nesya menghentikan langkah ketika mendengar Dannis bicara seperti itu di pusara sang adik kesayangannya, ia menelan ludah dengan mata berkaca-kaca mengetahui bahwa Dannis memang tidak bisa memberinya kesempatan meski telah menyadari bahwa Naya tidak mungkin akan kembali karena dunia mereka telah berbeda.
Gadis itu menyeka tetesan air di sudut matanya agar Dannis tidak curiga, segera ia berbalik arah kembali menuju mobil mereka berada.
*******
Nara sedang berjalan kaki dalam perjalanan menuju tempatnya mencari uang untuk bertahan hidup menjadi seorang petugas kebersihan.
Rambut ia gerai dengan indah, sesekali rambut cantik itu menutupi sebagian wajahnya karens hembusan angin di pagi ini, cuaca cukup dingin seperti mau turun hujan.
Gadis itu sesekali memeluk dirinya sendiri karena kedinginan, ia lupa membawa jaket hanya mengenakan baju seragamnya saja.
"Gerimis", gumam Nara ketika beberapa tetes air menimpa wajah cantiknya.
Ia lanjutkan langkah dengan sedikit lebih cepat agat tidak kehujanan yang akan menghambat perjalanannya untuk bekerja, namun ia segera menepi dengan cepat ketika sebuah mobil melaju dengan kencang hingga jantungnya berdegup cemas.
"Ya Tuhan..... itu kan mobil tuan Dannis, apa dia begitu dendam padaku hingga mengemudi kencang ketika melewatiku?", gumam Nara kesal ketika menyadari bahwa mobil bosnya lah yang baru saja lewat.
"Kenapa dia pagi sekali? aku penasaran apa wanita yang kemarin itu adalah kekasih barunya? kata para pegawai pria itu sangat setia pada nona Naya yang sudah meninggal, tapi kemarin jalan bersama wanita lain, huh dasar lelaki", gerutu Nara sambil terus berjalan cepat karena takut telat.
Gadis ini terperanjak ketika sebuah suara klarkson mobil menghentikan langkahnya.
"Hei.... ayo naiklah, kau akan terlambat dan basah, hujan akan turun lebat", suara seorang pria dari dalam mobil.
__ADS_1
"Aldo? baiklah, kau penyelamatku hari ini sebelum hujan menenggelamkan ku membuat ku tidak masuk bekerja karena kebasahan", ucap Nara tertawa manis sebelum masuk mobil temannya Aldo.
Tanpa mereka sadari bahwa ada sebuah mobil dibelakangnya yang terdapat seorang perempuan yang sedang menggertakkan giginya geram dengan pemandangan senyuman manis dari bibir Nara.
*******
Jam istirahat telah tiba, Nara berniat membuka tasnya yang berisi bekal makan siangnya hari ini, namun belum juga ia ingin duduk di kursi tempat biasa ia istirahat kembali gadis ini terkejut oleh sebuah tepukan di bahunya.
"Astaga Aldo, kau mengagetkan ku lagi..... ayo berhenti bercanda, kenapa kau kemari? kau tidak makan siang?", tanya Nara sambil mengusap dadanya karena terkejut.
"Ayo makan bersamaku, aku tidak bisa makan tanpa ditemani, Mery sedang ada pekerjaan lain, ayolah aku akan mentarktirmu lagi hari ini", ajak Aldo.
"Tapi....", ucapan Nara menggantung ketika pria itu menggelengkan kepala cepat.
"Berhenti mengatakan bahwa kau tidak enak hati akan ajakanku ini, kita sudah berteman Nara, aku nyaman bersama mu kita bisa berbagi cerita tidak seperti temanku yang lain sukanya bergosip saja, ayolah....", bujuk Aldo lagi.
Akhirnya Nara tidak bisa menolak ajakan Aldo terlebih pria itu banyak membantu nya selama dua bulan ia bekerja jika membutuhkan sesuatu.
"Baiklah jika kau memaksa", jawab Nara terkekeh.
"Aku rasa perempuan itu memang tidak tahu malu, sudah berani menjadi simpanan bos kita sekarang dia berani pula bercanda sedekat itu pada Aldo, apa dia tidak tahu pria yang sedang ia dekati itu sudah punya kekasih, huh aku heran kenapa wanita jaman sekarang sukanya pada lelaki yang sudah menjadi milik orang lain", celetuk salah satu pegawai perempuan yang sejak tadi memperhatikan Nara di kantin.
Belum juga teman wanita itu ingin merespon, mata mereka dibuat terkejut ketika gadis yang sedang mereka bicarakan itu mengalami sesuatu yang tidak terduga.
Nara memejamkan mata ketika merasakan ada air yang mengguyuri kepala hingga wajahnya. Gadis itu langsung berdiri dan menghadap pada seorang perempuan yang telah menyiramnya dengan sebotol air mineral.
"Gia, apa-apaan kau ini? apa yang kau lakukan pada Nara", bentak Aldo yang ikut berdiri menatap kesal wajah wanita itu.
"Kau pikir aku tidak tahu kau menggoda kekasihku sejak bekerja di sini? beraninya kau wanita sialan, tidak tahu malu lihat seragam mu apa kau pantas makan bersama Aldo?", cerca wanita itu pada Nara tanpa menghiraukan ucapan Aldo, dan wanita itu juga mendorong Nara dengan keras beruntung Nara tidak terjatuh.
"Nona apa yang kau bicarakan? aku tidak menggoda siapapun, Aldo temanku", jawab Nara sambil menyeka air di wajahnya.
__ADS_1
"Beraninya kau membela diri, kau pikir aku tidak tahu siapa aslinya dirimu? jika kau ingin uang katakan saja padaku tapi jangan kau dekati kekasihku lagi", ucap perempuan yang bernama Gia.
"Kau keterlaluan Gia, kita bisa bicarakan ini secara baik-baik, Nara temanku bukan seperti yang kau tuduhkan, Nara sama sekali tidak menggodaku, kau sangat salah menilainya", bentak Aldo membela, pria itu menarik tangan kekasihnya itu agar menjauh.
"Beraninya kau membelanya", tangan Aldo ditepis Gia dengan cepat.
Nara hanya diam seribu bahasa ketika menyadari adegan itu disaksikan oleh banyak mata di kantin.
"Nona anda salah paham, aku dan Aldo hanya berteman biasa....", ucap Nara mencoba membela diri.
"Diam kau, aku tahu kau wanita seperti apa, aku pernah melihatmu di hotel bersama pria lain dua bulan lalu, dan sekarang kau berani mendekati kekasihku, apa yang kau inginkan? uang?".
Ucapan itu membuat semua mata dan telinga yang mendengar nya menjadi terkejut, seakan memberi pembenaran akan gosip yang menyudutkan Nara.
"Apa? nona anda keterlaluan, aku tidak seperti yang nona kira", ucap Nara dengan mata berkaca-kaca.
"Keterlaluan? kau pikir aku tidak tahu kau bersama seorang bos perusahaan ini ketika menginap di hotel tempatku bekerja, kau lupa wajahku? aku adalah wanita yang bekerja di hotel tempat kau dan mami mu menunggu pria yang akan menyewamu, aku tidak menyangka kau bisa melayani beberapa pria dalam waktu satu hari, malamnya dengan bos perusahaan ini besoknya dengan lelaki lain lagi, hebat sekali bukan? sekarang kau juga akan memperdaya Aldo".
Ucapan gadis itu berhasil menyita perhatian semua orang, bahkan sampai ada yang merekam kejadian itu.
Nara menggeleng cepat, tangisnya pecah seketika.
"Kau jahat nona, aku sama sekali tidak seperti yang kau tuduhkan, kau benar-benar menjatuhkan harga diriku", jawab Nara menatap wajah wanita itu dengan marah.
Aldo geram, ia menarik lengan Gia agar pergi dari sana.
"Lepaskan aku, kau ingin membela gadis ini? oh tidak, aku rasa dia sudah tidak pantas disebut seorang gadis karena sudah pasti dia tidak gadis lagi, harga diri? berapa harga dirimu? kau ingin uang bukan? ini, ambil semuanya tapi jauhi Aldo", ucap wanita itu lagi seraya melemparkan beberapa lembar uang pada wajah Nara.
Nara memejamkan mata mendapat tamparan uang di wajahnya, Aldo merasa sudah kehilangan kesabaran ia menepis tangan wanita itu dengan kasar.
"Kau memperlihatkan siapa kau sebenarnya Gia, kau baru menjadi kekasih ku bukan istriku.... kau sudah benar-benar keterlaluan, aku pastikan hubungan kita sampai di sini saja, aku membencimu Gia membenci atas perbuatanmu hari ini, sebenarnya kaulah yang tidak tahu malu bukan Nara, kau tidak berhak mengeluarkan urusan pribadi Nara di sini, terlebih kau juga seorang wanita, kau menjatuhkan harga diri sesama kaummu".
__ADS_1
Aldo menarik tangan Nara untuk menjauh dari sana.
Tanpa mereka sadari Dannis melihat kejadian itu sekilas ketika ia berjalan melewati kantin.