Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 2


__ADS_3

Alea menggeleng pelan, airmatanya tumpah ketika memergoki Deni kekasihnya yang tengah berciuman dengan perempuan lain.


"Ternyata benar kata teman-teman ku, kau memang bukan pria yang baik Deni, kau menghianatiku" ucap Alea setelah menampar pria yang sudah menjadi kekasihnya sejak awal semester kuliah.


Deni terkesiap sambil memegang pipinya yang memerah, pria itu terkejut bukan main bagaimana bisa Alea tahu tentang keberadaannya bersama teman satu kelas Alea yang tengah berciuman di sebuah lorong tersembunyi rumah sakit tempat mereka mengurus segala keperluan untuk memulai koas.


Pun perempuan yang menjadi lawan ciuman pria itu, Dara hanya tersenyum smirk menatap Alea yang sudah memergokinya.


"Aku tidak menyangka Dara, ternyata kau dan Deni bermain dibelakang ku"


"Tenanglah Alea....ini semua salahmu, kau sendiri bukan yang tidak pernah memberikan hak Deni sebagai kekasihmu selama ini? jangan salahkan aku jika pria ini mendapatkannya dariku" jawab Dara santai bahkan teman satu kelas Alea itu tampak bangga dengan bibirnya yang masih bengkak karena pertautannya dengan bibir Deni.


Deni hanya diam, ia tidak tahu harus berkata apa. Deni mencintai Alea namun karena Alea tidak pernah memberikan apa yang dia inginkan sebagai lelaki maka darinya ia tergoda oleh Dara yang memang menyukainya sejak dulu, bahkan Dara telah menyerahkan segalanya termasuk mahkotanya sebagai perempuan.


Deni seringkali merayu Alea akan hal itu namun entah kenapa Alea begitu tebal iman mempertahankannya bahkan hanya untuk berciuman saja tidak pernah, padahal sudah lama sekali mereka menjalin kasih meski diam-diam, Alea hanya memberi akses untuk memegang tangan mulusnya saja dan Deni hanya bisa mencium kening gadis itu tanpa bisa berbuat lebih.


"Aku tidak percaya ini Deni, kau tega melakukan ini padaku" Alea kian menangis dan kilatan amarah menyelimuti wajah gadis itu.


"Tidak Alea maafkan aku....aku bisa menjelaskannya" Deni gelagapan ketika Alea memutuskan untuk pergi dari hadapan mereka.


"Tidak perlu, teruskan kegiatan kalian....kita putus"


Jawab Alea sambil menepis kasar tangan Deni yang mencoba meraihnya.


*******


"Aaaaaaahhh....." pekik Alea geram sambil terus menangis dihadapan dua sahabatnya.


Keysa dan Nazli hanya bisa geleng kepala, tangan mereka masih setia mengusap punggung gadis yang sedang kesal tersebut.


"Kalian benar....Deni menghianatiku" ucap Alea sesekali menarik ingusnya.


"Tenanglah.....sekarang kau sudah percaya bukan? sabar yaaa...." jawab Keysa.


"Sabar.....sabar....mana bisa, kalian tahu jika bukan teringat wajah mamaku mungkin sudah ku sunat mereka berdua, aaaaaaaaa aku kesaaaaaaallll" Kembali Alea memekik kesal sambil mencubit kedua pinggang Nazli.

__ADS_1


"Astaga....hentikan, mereka yang berulah kenapa kau malah menyakitiku" Nazli berdiri menjauh.


Keysa terkikik geli melihat mereka.


"Kau juga....kenapa kau tertawa? apa kalian senang aku seperti ini? kalian juga menyebalkan, awas saja akan ku adukan ke papaku" cebik Alea kembali pada Keysa yang masih menahan tawa.


"Aw.....takuuuut" ucap Keysa dan Alea berbarengan, mereka sudah terbiasa menghadapi tingkah manja Alea jika sedang marah ataupun kesal pasti gadis cantik itu akan mengadu pada papa nya.


Ponsel Keysa tiba-tiba berdering ada panggilan masuk dari kekasihnya, ia kembali bicara pada Alea setelah menutup kembali teleponnya.


"Maafkan aku sayang....Randy sudah menungguku didepan, kami akan pergi untuk memilih cincin kawin" ucap Keysa pada Alea.


Mendengar itu Alea hanya bisa mendengus kasar, ia bertambah kesal mendengar tentang cincin kawin.


"Pergilah....pergilah....aku tahu setelah ini kalian pasti akan meninggalkan ku lebih memilih para suami, ha....menyebalkan" Alea menunduk kesal sambil menghentak-hentakkan kaki ditanah.


"Sabar ya....jodohmu masih dirahasiakan Tuhan, bersabarlah sayang, kita akan bertemu lagi besok aku duluan ya" jawab Keysa memeluk singkat Alea.


Setelah Keysa pergi, tidak lama Nazli pun mendapat sebuah panggilan.


Nazli hanya bisa menggigit bibir bawahnya saja.


*****


Seminggu berlalu setelah putus dari kekasih rahasianya, Alea sudah lebih tenang namun niat untuk menikah tetap saja menggebu seiring ia selalu saja merasa kalah dari dua sahabatnya yang tengah sibuk mempersiapkan pernikahan sebelum mereka mulai koas.


"Aku harus cari suami kemana?" gumamnya seorang diri di dalam kamar.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka menampilkan senyum sang mama yang sudah biasa menemuinya setiap pagi sebelum bangun tidur.


"Sayang kau sudah bangun? kenapa belum mandi? kau lupa hari ini kau akan ikut bibi Bella menjemput bang Abrar di bandara?"


Ucap Eliana mencium kening putri sulungnya yang masih bergumul didalam selimut dengan mata terbuka seperti sedang berpikir.


"Astaga.....aku lupa" Alea segera bangkit dari kasur berlari menuju kamar mandi namun dengan cepat ia berbalik ke arah mamanya.

__ADS_1


Cup.


"Maaf ma aku lupa....love you ma" kemudian ia kembali berlari menuju kamar mandi membuat perempuan berumur 46 tahun itu menggeleng pelan dengan tingkah Alea yang masih belum dewasa seperti usianya.


*****


Abrar berjalan melihat sekeliling, ia baru saja keluar dari pintu kedatangan di sebuah bandara internasional kota tersebut, senyum pria itu mengembang tatkala melihat keluarganya datang menjemput, namun ada satu yang kurang ia sedikit kecewa setelah memperhatikan bahwa tidak ada Alea disana.


"Sayang mama merindukanmu" ucap Bella dipelukan anak sulungnya.


Abrar beralih memeluk ayah tirinya Ricko dan Arkan bergantian.


Abrar masih melihat sekeliling membuat Bella mengerti.


"Apa kau mencari Alea?"


"Iya kenapa dia tidak ikut menjemput? tidak biasanya seperti ini?" jawab Abrar.


Arkan hanya tertawa, bukan rahasia lagi Arkan tahu bahwa kakaknya menyukai adik kecil yang selalu menempel pada mereka sejak dulu itu.


"Alea sudah dewasa bang.....dia mungkin sudah punya urusan sendiri yang lebih penting mungkin, kau kan bisa bertemu di rumah nantinya" jawab Ricko menahan senyum.


Semua orang tersenyum, membuat Abrar salah tingkah dan malu namun ada yang berbeda dari senyun orangtua dan adiknya itu.


Tidak lama berselang tiba-tiba ia merasa berat pada punggungnya, yang ternyata seorang gadis telah menaiki punggung itu memeluknya erat dari belakang, Abrar sedikit terhuyung kedepan.


"Astaga.....kau bocah nakal" Abrar tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya ketika Alea tidak melupakan untuk menjemputnya hari itu.


Alea tidak langsung turun malah sekalian digendong seperti itu menuju mobil mereka.


"Abang kenapa baru pulang? kenapa lama sekali apa kuliah S2 di negeri bisa memakan waktu 4 tahun?" cebik Alea yang masih memeluk erat punggung Abrar dari belakang.


"Iya....karena aku magang untuk memperbanyak ilmu sebelum kembali"


Jawab Abrar, mereka sampai mobil. Alea turun dari gendongan pria itu ikut masuk ke mobil Arkan.

__ADS_1


Abrar baru bisa menatap jelas wajah cantik Alea yang sudah tampak dewasa dari empat tahun lalu.


__ADS_2