
...Selamat membaca ...
...❤️❤️❤️❤️...
Karin sibuk bergelut dengan semua bahan masakan yang harus disulapnya menjadi masakan penuh citarasa yang pastinya selalu dirindukan oleh para pelanggannya.
Meski masih tergolong baru membuka usaha rumahan tersebut namun Karin sudah punya banyak pelanggan. Tentu saja campur tangan Yusuf mempromosikan pada teman dan rekan rekannya juga menempati urutan nomer satu kalau ditanya siapa yang punya andil paling besar dalam kemajuan usahanya ini.
Tapi Karin mulai merasa melakukannya sendirian sepertinya mulai susah karena Delvara makin aktif dan tak bisa ditinggal tanpa pengawasan. Bayi itu sudah memasuki usia hampir setahun dan mulai belajar berdiri dan merambat sana sini.
"Seperrtinya aku akan butuh orang yang membantuku. Apa aku minta Yusuf mencarikan saja tenaga yang bisa bantu bantu aku di dapur ya?" gumamnya sambil terus memotong motong sayuran.
"Kamu ngomong apa Rin? Kok cuma bisa didengar sendiri saja." tegur pak Adi yang tengah bersiap siap berangkat kerja.
"Eh papa. Ini lho pa,,,Karin rasa mulai kewalahan mengerjakan semua pesanan catering. Apa sebaiknya Karin minta saja Yusuf bantu carikan orang yang bisa bantu bantu Karin ya?"
"Bagus juga seperti itu. Tapi apa kamu yakin pendapatanmu sudah mencukupi dan bisa untuk bayar tenaga juga?" pak Adi mengingatkan.
"Mmm,,, cukup sih pa. Karin juga berpikir untuk cari kurir juga. Karena kan sekarang papa juga sudah sibuk kerja. Mana bisa Karin terus mengandalkan papa yang jalan kirim makanan? Karin sendiri juga makin kerepotan kalau harus bawa Del kemana mana. Kasihan juga dia kan harus kepanasan dan kadang kehujanan." ucap Karin.
"Kalau memang kamu rasa kamu mampu,,, dicoba saja nak. Apa pun langkahmu selama itu tidak memberatkanmu maka papa akan selalu dukung. Tapi ada baiknya kamu bicarakan saja dulu sama Yusuf ya. Bagaimana pun dia yang lebih tau keadaan sekitar sini kan? Lagipula selama ini selalu kamu diskusikan dengannya apa pun itu. Tidak enak rasanya kalau tiba tiba melangkahinya." pak Adi memberi masukan.
"Iya pa. Karin pasti bicarakan juga dengannya. Dia itu sudah seperti bagian hidup Karin juga sekarang. Hampir semua tentang Karin ada sangkut pautnya dengannya."
"Lalu apa kamu gak ingin memperjelas hubungan kalian nak? Sudah sedemikian tergantungnya kita pada nak Yusuf. Sudah sedemikian bertanggung jawabnya juga nak Yusuf pada kamu dan Del.Bahkan pada papa juga. Apa kamu benar benar hanya menganggapnya teman saja nak?" tanya pak Adi dengan serius.
__ADS_1
Karin tertunduk sejenak. Menghela napas kemudian kembali mendongakkan wajahnya menatap sang papa yang menanti jawaban baik.
"Pa,,, Hingga detik ini Karin masih merasa menjadi istri om papa. Masih menantinya dan masih yakin suatu saat nanti dia akan datang menjemput Karin. Yusuf sendiri juga sudah tau itu karena Karin juga sudah menegaskan kepadanya." jelas Karin.
"Lalu ucapannya tempo hari tentang akan tetap menunggumu? Apa itu tidak membebanimu nak? Setidaknya apa kamu gak ingin memberikan waktu yang jelas sampai kapan kamu seperti ini? Kasihan nak Yusuf kalau harus terus menunggu tanpa kejelasan darimu nak."
"Pa,,, Menikah itu bagi Karin bukan karena kita merasa tidak enak atau kasihan pada seseorang melainkan harus disertai dengan rasa tulus ikhlas mencintai dan mengabdikan sisa hidup Karin untuk seseorang yang Karin pilih. Dan sayangnya Yusuf bukan orangnya pa. Orang itu adalah om papa." Karin kembali menegaskan.
"Baiklah,,, papa tau kamu masih belum bisa move on nak. Perpisahan kalian yang begitu tiba tiba memang pasti terasa sangat mengejutkan dan tidak bisa kamu terima begitu saja. Tidak apa apa. Papa hanya memberi masukan. Keputusan terakhir tetap ada padamu nak. Hanya saja papa tidak akan punya muka kalau nak Yusuf terus kamu gantung begini. Papa tau kamu merasa kamu baik baik saja begini tapi Setidaknya kamu pikirkan juga papa,Del dan juga Yusuf ya."
Pak Adi mengusap puncak kepala Karin dengan lembut. Beliau sangat tidak tega jika Karin memutuskan untuk terus menunggu sampai waktu yang ia sendiri tak pasti kapan akan berakhir penantiannya itu.
Karin hanya diam diperlakukan begitu. Hatinya mungkin mulai goyah dengan pendiriannya sendiri.
"Pikirkan dulu semua baik baik. Jangan terburu buru ambil keputusan. Papa berangkat dulu ya. Assalamualaikum." pamit pak Adi kemudian.
Diantarkannya pak Adi sampai ke pintu sambil sebelumnya menyempatkan diri menggendong Delvara agar ikut mengantarkan opanya.
"Del jangan nakal ya. Jangan ganggu mama. Opa kerja dulu. Doakan pekerjaan opa lancar dan bisa pulang bawa uang yang banyak untuk Del." ucap pak Adi yang dijawab dengan tawa lucu khas Del lengkap dengan deretan gigi yang baru tumbuh dan bisa dihitung jumlahnya.
Seperginya pak Adi Karin pun menutup kembali pintu itu lalu mengajak Del duduk di sofa yang dibelinya kapan hari dengan uang tabungan yang didapatnya dari menyisihkan uang keuntungan catering. Dipangkunya dan diajaknya sang putra berhadapan dengannya.
"Del,,, Bagaimana menurutmu? Apa sikap dan tindakan mama sudah benar? Apa kamu akan menderita karena keputusan mama menanti papa walau mama sendiri tidak tau sampai kapan? Apa mama benar benar harus mulai belajar melupakan dan merelakan papa?? Apa mama harus mulai belajar membuka hati mama untuk om Yusuf??"
Bagai perempuan yang tengah curhat kepada sahabat karibnya, Karin terus bertanya pada Delvara.
__ADS_1
"Papapappapapapa,,,Papppa,,,"
Karin yang mulanya tertunduk lesu langsung mengangkat wajahnya memandang sang buah hati yang akhirnya melontarkan kata pertamanya.
"Apa nak? Papa?? Del lebih pilih papa ya??" tanya Karin dengan mata berkaca kaca antara senang dengan perkembangan Delvara yang mulai bisa bicara dan sekaligus senang karena putranya juga sependapat dengannya.
"Pappaa,,,Paappa,,," si kecil terus menerus mengatakannya membuat Karin makin terharu lalu mendekapnya dengan erat.
"Iya sayang,,,papa ya,,,Mama sama Del sama sama tunggu papa ya,,," ucap Karin lalu dikecupnya putra kesayangan yang selalu jadi sumber kekuatannya itu.
...🌸🌸🌸...
"Delvaraaaaa!!!!"
"Dion kamu kenapa nak?? Astaga kamu kok panas sekali badannya?? Kamu demam Dion. Pasti karena semalaman tidur di taman. Mama ambilkan kompres dulu."
Mama Herna tergopoh gopoh menghampiri Dion yang semula tidur siang dan tiba tiba berteriak. Lalu cepat cepat ke dapur mencari cari sesuatu yang bisa dipakai kompres.
"Ma,,, Dion mimpi Delvara. Anak Dion ma. Anak itu memanggil Dion." ucap Dion begitu mama Herna kembali ke kamar.
"Mama tau. Kamu meneriakkan namanya keras sekali." ucap mama Herna sambil mulai mengompres kening Dion menggunakan kain handuk kecil seadanya.
"Ma,,, handuk siapa ini?? Kenapa seperti bau parfum Karin??"
Mama Herna menghela napas berat. Iba pada sang putra yang makin sering berhalusinasi sepertinya.
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️...