Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Saling Menguatkan


__ADS_3

...Selamat membaca ya 🌸...


...Maafkan typo yang bertebaran πŸ˜†πŸ™...


...🌸🌸🌸...


"Alhamdulillah,,, Gue ikut seneng ya bro akhirnya Rayya isi juga. Wah gue kalah nih berarti,,,"


"Rayyaaa,,, selamat yaa atas kehamilanmu."


Baik Dion dan Karin tengah berbahagia mendapatkan kabar kehamilan Rayya yang menikah seminggu lebih awal dari mereka.


"Iya Rin makasih ya ucapannya. Semoga kamu segera nyusul juga." ucap Rayya.


"Mana Bimo?? Anak itu pasti bangga banget bisa ngalahin om nya ini." sungut Dion.


"Hahaha,,, Gak lah om. Kan emang secara duluan kita yang nikah. Kalau sampai duluan Karin yang buncit kan malah kita kita jadi tanda tanya hahahaha,,," Bimo,suami dari Rayya tak ingin membuat Dion berkecil hati.


Baik Rayya maupun Bimo sudah sama sama tau dari Darren bahwa pernikahan pertama Dion dengan Hana retak juga dikarenakan tidak adanya jiwa kecil tambatan hati.


Dion divonis susah memiliki keturunan kala itu.Tapi kini Dion sudah dinyatakan siap dan bisa punya anak setelah berobat kesana kemari meski butuh waktu lama baginya untuk bisa membuktikan dirinya benar benar bisa punya anak karena sekian lama menduda.


"Benar kata Bimo. Lo gak usah ngerasa kalah gitu kali." ucap Darren.


"Iya sih ya. Tumben menantu lo cerdas." puji Dion menggoda Bimo.


"Kebanyakan dikasih makan ikan salmon sama Rayya nih om. Jadi otak Bimo cemerlang deh." celetuk Bimo yang langsung mendapat cubitan dari Rayya.


"Jagain bumil. Jangan sampai emosinya naik turun. Biar gak ganggu kehamilannya ya Bim." pesan Dion.


"Siap om."


"Lo juga Dare,,, Jangan bikin bumil kepikiran dengan kesehatan lo. Jaga pola makan. Terapkan hidup sehat. Meski kanker lo dinyatakan hilang tapi tetap saja lo gak boleh lengah." pesan Dion pada Darren.


Maklum selama ini dirinyalah yang lebih banyak tau kondisi sahabatnya itu dibanding anak anaknya. Dion adalah orang pertama yang tau bahwa Darren mengidap kanker. Jauh sebelum Darren siap menyampaikannya pada anak anaknya, Levi dan Rayya.


Cukup membuatnya tenang ketika sahabatnya itu dinyatakan sembuh tapi itu tidak serta merta membuatnya berhenti mengontrol kondisi kesehatan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Bawelnya pengantin baru." seru Darren.


"Tuh kan lo kalau gue kasih tau yang bener selalu gitu." sungut Dion.


"Iya iya maaf. Jangan marah marah nanti mood lo kacau loh malamnya." goda Darren.


"Eh jangan salah. Kalau urusan begituan gue mah tetap stabil gak pakai kacau. Iya kan cil??" ucap Dion sambil merangkul mesra Karin.


"Gak usah bahas begituan napa sih om papa." Karin masih malu malu di depan Rayya dan semuanya.


Mendengar yang satu panggil "Cil" alias bocil dan satunya panggil "om papa",,,, Semua tak tahan untuk tidak tertawa. Suasana vicall saat itu sangat seru dan dipenuhi canda tawa.


Puas bercengkrama dengan sahabat dan anak anaknya,,, Dion pun mengakhiri vicall mereka malam itu karena ada tugas negara penting yang harus ditunaikannya di ranjangnya.


Joni sudah berontak terus minta dikeluarkan dari sangkarnya. Dan sangat girang begitu sudah dilepas bebas dan tanpa hambatan apa apa. Menari,,, meliuk liuk,, menggali dan menghujam keras.


Dion melepaskan diri dari tubuh Karin yang tampak kelelahan akibat permainan liarnya.


"Capek ya sayang??" Dion menyelipkan anak rambut Karin ke belakang telinganya.


Karin hanya mengangguk lemas.


"Om papa,,," lirih Karin.


"Iya sayang. Ada apa??" tangan Dion masih terus membelai kepala Karin.


"Kalau misalnya Karin gak bisa segera kasih keturunan,, Om papa nikah aja lagi ya."


Dion menghentikan belaian tangannya dan bangun dari rebahannya. Dion duduk dan menatap Karin intens.


"Kenapa bicara begitu??" tanyanya.


Karin menarik selimut untuk menutupi tubuh atasnya dan ikut duduk.


"Karena Karin tau om papa sangat menginginkan anak dan itu segera." lirih Karin.


"Apa pernah om papa mengatakannya langsung padamu?? Itu hanya kesimpulanmu sendiri sayang. Ok,,, Bohong kalau om papa tidak menginginkan anak apalagi om papa ini anak tunggal. Bohong juga kalau papa sama mama juga tak ingin segera menimang cucu. Tapi itu bukan berarti kesalahan dan bebannya ada di pundakmu seorang sayang."

__ADS_1


"Bukan berarti juga kamu boleh menyuruh om papa menikah lagi. Buat apa sayang?? Om papa tidak mau berbagi kasih lagi. Cukup kamu dan kamu saja." tegas Dion.


"Karin gak apa apa kok om papa,,, Selama pernikahan itu tujuannya murni hanya untuk memperoleh keturunan. Bukan dilandasi karena tuntutan naf*su belaka."


Dion menghela napas berat. Bocilnya ini tidak paham jga rupanya bahwa dia tidak akan menikahi wanita mana pun lagi meski itu tujuannya untuk punya keturunan. Masih ada banyak cara untuk bisa mendapatkan keturunan selama suami dan istri masih mau saling berbicara dan bersama sama mencari solusi.


"Baiklah begini saja. Om mau menikah lagi kalau memanh kamu yang tidak memungkinkan untuk bisa hamil. Tapi dengan satu syarat." ucap Dion sambil membuat gerakan jari menunjuk angka 1.


"Apa itu??" tanya Karin.


"Kalau ternyata terbukti om papa yang tidak bisa punya keturunan,, Kamu juga harus mau mencari pria lain yang bisa membuatmu hamil. Setelah kamu hamil,,, anak itu akan hidup dan tinggal bersama kita sebagai anak kita."


Karin terbelalak mendengarnya.


"Mana bisa seperti itu???" protesnya.


"Sama,,, Mana bisa kamu menyuruhku untuk menikah lagi???" tanya Dion balik.


"Om papa,,,"


"Dengar sayang,,, Pernikahan ini om jalani dengan niat tulus ikhlas. Lillahi ta'ala. Karena Allah semata sayang. Bukan karena keturunan. Keturunan itu adalah bonus pernikahan yang tidak bisa kita tuntut keberadaannya. Om papa tidak akan menikah lagi meski kamu tidak bisa hamil. Dan jangan pernah lagi meminta om papa melakukannya." Dion memegang erat kedua bahu Karin.


"Lagipula,,, Kemungkinan besar yang tidak bisa itu adalah om papa sendiri Rin. Seperti pernikahan terdahulu. Om papa yang bermasalah." Dion tertunduk.


"Om papa,,, Maafin Karin ya. Karin gak bermaksud mengungkit luka lama itu." Karin menyesal sudah ngaco bicaranya.


"Tidak apa sayang. Om papa paham itu bukan maksudmu. Kamu hanya ingin om papa bahagia meski dengan cara mengorbankan kebahagiaanmu sendiri. Tapi itu salah sayang,,, Dan tidak perlu kamu lakukan."


"Kalau pun hal itu kembali terjadi,,, Maukah kamu jika kita tetap saling menguatkan?? Kita cari solusi terbaiknya. Tapi sebelum terlalu memikirkan itu,,, Sebaiknya Joni biar terus usaha dulu ya hehehe,,,,"


Dion menunjuk Joni yang mulai bergerak gerak lagi.


"Dasar Joni. Gak tau lagi ngomong serius apa??" Sungut Karin langsung melahap Joni ke dalam bibir mungilnya.


...🌸🌸🌸...


...Karin main caplok aja ya bun πŸ˜†...

__ADS_1


Dukung author dengan vote, like dan komen ya 🌸❀️🌹


__ADS_2