
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
"Iya sayang,,,Di sana sayang,,,"
Suara suara berbau kemesraan terdengar sahut menyahut di dalam kamar pribadi yang telah ditinggalkan beberapa tahun lalu. Kamar yang dulunya menjadi saksi bisu tiap sentuhan sentuhan lembut dua insan terpagut cinta hingga pada penyatuan jiwa raga mereka.
Malam itu, kamar itu kembali mendapatkan haknya untuk dijadikan saksi kembali akan bersatunya Karin dan Dion. Meski peluh menbanjiri, meski tubuh lelah mendaki,,,namun hati masih tak ingin berhenti.
Segala posisi dilakukan dan diperankan dengan sebaik baiknya oleh keduanya. Bak lupa pernah mengalami kejadian buruk pada mereka. Bak lupa Dion bahkan pernah divonis lumpuh. Yang jelas malam itu ia tampil prima.
Pacuan kuda liarnya tetap liar seperti tak pernah ada jinak jinaknya. Meski ladang tandus yang dibiarkan kering itu kini basah dan licin,,,si kuda liar masih tak takut untuk berlarian. Bahkan makin lincah menggali dan menggali makin dalam.
Tak peduli pemilik ladang mengerang kelelahan,,, Tak peduli pemilik ladang makin kebanjiran lelehan cintanya,,, tak peduli pemilik ladang terengah engah dibuatnya,,, Dion tetap memegang kendali.
Hingga akhirnya ujung kerinduannya pun menemui titiknya. Joni,,, sang kuda membuat gerakan cepat dan makin cepat lalu terkulai dan tetap tertanam di ladang basah itu.
Menyemaikan benih benih cintanya yang tak pernah memudar, tak tergantikan.
"Om papa ini lho,,, Udah ngalah ngalahin AbG saja." Karin protes.
Dirinya kewalahan sangat melayani dan meladeni permainan kuda kudaan Dion. Si Joni benar benar membuat seluruh tubuhnya terasa ngilu.
"Tapi nikmat kan?"
"Heem." Karin mengangguk malu.
"Mau lagi??" Dion mengangkat dadanya dan mengambil posisi lagi.
"Sekarang???" mata Karin terbelalak tak percaya.
"Mumpung masih hidup loh." jawab Dion.
Karin makin membulat matanya merasakan sesuatu bergerak gerak di dalam tubuh bawahnya. Dia benar benar tidak percaya suami yang pernah dirawatnya karena kelumpuhannya itu malam ini begitu gagah.
"Nggak nggak nggak,,, istirahat dulu. Ingat kondisi om papa yang masih baru sembuh. Karin gak mau ya terjadi apa apa nanti kalau om papa overdosis mainnya."
__ADS_1
Karin menolak karena ia sungguh cemas. Antara cemas kondisi Dion akan ngedrop dan cemas akan dibuat kewalahan oleh kuda pacu Dion lagi alias si Joni yang menggila.
"Baiklah Jon,,, Kamu ditolak tuh. Tidak apa apa. Kita kasih dulu lawan kita ini istirahat malam ini ya. Masih ada besok pagi bro. Tenang saja. Kalau kamu ditolak lagi,,, kita tetap akan bertindak hehehe,,,"
"Om papaaa. Nakal deh. Masih saja suka banget nyuri nyuri pas subuh." gerutu Karin ingat kebiasaan Dion tiap paginya sebelum ia bangun.
Dion selalu suka mengajaknya olahraga pagi dulu.
"Itu tandanya tidak ada satu pun yang berubah dari om papa sayang. Jauh dan dekat denganmu tidak mempengaruhi cinta om papa padamu. Kamu tetap di hati. Kamu bahkan tetap menjadi pemilik hati ini." ucap Dion bersungguh sungguh.
Karin menitikkan airmata bahagia atas melimpah ruahnya cinta Dion untuknya. Dia masih ingat betul bagaimana dulu Dion berjuang mendapatkannya. Kini perjuangannya masih tetap berlanjut.
Tidak seperti kebanyakan suami yang merasa sudah mendapatkan istrinya lalu mengurangi perjuangannya. Mengurangi caranya mencurahkan kasih sayangnya. Mengurangi intensitas kebersamaannya dengan sang istri.
"Karin beruntung punya om papa. Love you so much om papa." Karin melingkarkan tangannya ke leher Dion.
"Love you more sayang,,, Hari sebelumnya,,, Hari ini,,, esok,,, Lusa,,, bahkan jika sudah tiba waktu om papa,,, sampai maut menjemput kelak,,, Akan om papa bawa cinta ini sampai mati. Om papa akan tunggu kamu di JannahNYA. Kamu mau jadi bidadari surga om papa sayang?"
Karin mengangguk dan tersenyum diiringi tangis bahagianya. Ditariknya tubuh Dion hingga menempel kembali kepadanya.
"Kalau kamunya begini ini,,, jangan salahkan kalau ada yang beraksi lagi lho ya." bisik Dion.
"Yakin??" tanya Dion.
Karin hanya mengangguk lalu mengangkat wajahnya. Memberikan keleluasaan pada suaminya untuk bermain sepuasnya di lehernya. Lampu hijau yang menyala tentu tak disia siakan oleh Joni yang sudah bangun sedari tadi.
Ia pun mulai lagi pelan pelan menyeberangi lembah yang masih basah oleh jejak jejak cintanya tadi.
Kebersamaan itu terulang lagi. Hingga rasanya jarum jam yang mengalah dan makin merangkak turun menuruni angka demi angka menuju pagi namun kedua mahkluk Tuhan yang saling merindu itu belum juga menyerah.
Entah kapan keduanya akhirnya mengakhiri kegiatan malamnya itu,,, bahkan sang jarum jam pun lupa.
Kedua insan itu tertidur dengan tetap saling memeluk satu sama lainnya setelah semua dirasa cukup dan saling terpuaskan jiwa raganya. Kedua saling mendekap dalam dekapan cinta halalnya.
"Tumben siang baru turun Dion?" sapa mama Herna yang tengah menemani Delvara bermain di ruang tengah rumah besar itu.
Delvara yang semalam memang sengaja diajak mama Herna tidur bersamanya itu sama sekali tidak rewel seolah tau dan mau dibuatkan adik oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Baru selesai proyek ma." jawab Dion sekenanya.
"Om papa!!" Cubit Karin gemas karena suaminya ini sepertinya tak ingin merahasiakan adegan semalam.
"Semoga cepat jadi ya,,, Sebelum mama makin tua lho." ucap mama Herna.
"Tuh sayang,,, Lampu hijau dari mama tuh. Artinya kita musti sering sering tuh." Dion semangat.
"Huuu maunya om papa aja itu." Karin mencubit pinggangnya lalu mendekati mama Herna. Menggenggam tangan beliau.
"Doakan ya ma. Semoga semua lancar." kata Karin.
"Pasti Rina. Perkara jadinya nanti laki laki atau perempuan, tidak masalah. Yang penting Delvara bisa ada teman mainnya."
"Iya ma."
"Sana kalian makan dulu. Mama sudah suruh si mbak masak buat kalian. Kalau bukan Rina yang masak gak apa apa kan Dion? Kalian harus jaga stamina untuk proyek kalian ini kan? Jadi jangan bikin Rina capek capek. Sesekali saja bolehlah Rina yang masak." ujar mama Herna mulai protektif pada menantunya.
"Iya deh ma. Dion nurut aja deh. Demi kebaikan bersama."
Dion menyusul Karin ke meja makan. Dilingkarkannya tangannya dengan mesra di pinggang ramping Karin yang sibuk menata piring di meja. Si mbak yang bantu bantu hanya senyum senyum simpul melihat kemesraan sang majikan.
"Om papa,,, malu nih sama si mbak." tegur Karin sambil berusaha melepaskan tangan Dion.
"Makanya buruan. Makan terus balik ke kamar lagi ya. Lanjutin yang semalam." bisik Dion.
"Lagi??"
"Iya dooong. Kan sudah lampu hijau. Gasss poll,,," seru Dion semangat.
"Om papa. Kecilin suaranya. Malu tau,,," protes Karin.
"Biarin!! Si mbak kalau pengen ya biar sama si akang. Ya mbak yaaa,,," seru Dion pada asistennya.
"Akang yang mana tuan muda?? Orang saya masih jomblo." jawab si mbak berkelakar.
"Waaahhh ya derita lo kalau gitu mbak,,,"
__ADS_1
Si mbak bersungut sungut dibuatnya. Keakraban seperti itu memang sering terjadi dalam rumah Dion. Tidak pernah ada batasan nyata antara atasan dan bawahan.
...❤️❤️❤️❤️...