
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
"Apa?? Kamu dibawah???" nada suara Yusuf langsung meninggi saking terkejutnya saat Karin menelponnya dan bilang ia sudah berada di rumah sakit itu namun masih di resepsionisnya saja.
Karin sempat tanya pada resepsionis tapi ia tidak dapat bantuan karena ia tak tau nama lengkap bang D. Resepsionis itu tentu meminta nama lengkapnya baru bisa cek di ruangan apakah pasien itu.
"Ada apa nak Yusuf?" tanya mama Herna sambil menyentuh bahu Yusuf.
Reaksi tak terduga dari Yusuf yang langsung menepis tangan mama Herna membuat mama Herna terkejut. Yusuf langsung keluar kamar tanpa menyahut pertanyaan mama Herna itu.
"Kira kira kenapa ya nak Yusuf Dion?"
"Biarkan saja ma. Mungkin ada masalah. Bagaimana pun kita ini hanya orang baru dalam kehidupannya. Meski ia bilang ia menganggap kita ini keluarganya, tapi tetap saja kita punya batasan ma." jawab Dion.
"Iya sih mama ngerti. Mungkin memang kita tidak usah terlalu banyak bertanya. Kalau dia cerita kita dengarkan, kalau dia tidak cerita ya sudah. Begitu saja ya?"
"Iya ma. Pokoknya kita harus tau diri. Kita berhutang banyak padanya dan kita tidak punya apa apa untuk membalas semua budi baiknya selain membuatnya senang." ucap Dion.
Mama Herna mengangguk perlahan meski dalam hatinya rasanya sangat aneh bersikap seperti itu. Kehidupan mereka yang selalu serba lebih dan diatas yang paling atas tak pernah mengajarkannya hidup menanggung budi begitu. Dulu semua selesai dengan uang.
"Sudah. Mama jangan mikir macam macam. Dion lapar ma. Ada makanan apa?" tanya Dion mencoba mengalihkan pikiran sang mama.
"Mmm,,, cuma ada bubur. Kamu kan belum boleh makan yang macam macam Dion."
"Tapi Dion ingin makan masakan catering itu ma. Dion merasa sangat kenal masakan itu. Itu persis masakan Karin. Oh ya ma,,, handuk yang kemarin mama pakai itu,,, itu juga parfum Karin. Dion yakin ma."
"Tapi bukan berarti itu memang Karin yang masak dan handuk itu juga miliknya kan? Bisa saja orang lain juga pakai parfum yang sama. Mama yakin Karin tidak ada di sini Dion. Karin itu mama kirim ke Kanada. Itu cuma perasaanmu saja yang memang sangat merindukannya." tegas mama Herna.
"Mungkin mama benar. Memang hanya perasaan Dion saja. Hmm,,, entah kapan kita bisa ke Kanada menyusulnya? Dulu Dion tinggal sentuh layar ponsel Dion,sekali klik saja sudah bisa berangkat. Sekarang?? Hmm,,, harus banyak bersabar. Benar kata orang,,, kehidupan itu seperti roda. Berputar,,, kadang di atas kadang di bawah."
"Maafkan mama ya nak." lirih mama Herna.
"Ma,,,Dion bukan bermaksud mengungkit itu." Dion jadi merasa tidak enak.
__ADS_1
"Tetap saja. Ini semua salah mama."
...💃💃💃...
Yusuf tergesa gesa berjalan setengah berlarian menuju ke tempat di mana Karin dan Delvara menunggunya. Sesekali ia menoleh ke belakang memastikan apakah ada yang mengikutinya atau tidak.
"Tidak boleh ada yang tau." batinnya.
Yakin tidak diikuti, ia pun menghampiri Karin.
"Kamu ngapain kesini? Katanya mau belanja?" tanyanya.
"Ini,,," Karin mengangkat tas besar yang dibawanya.
"Apa ini?"
"Aku bawakan kamu makan siang. Kamu pasti lapar kan? Kamu kan sibuk urusan bang D jadi aku yakin kamu pasti lupa makan." ucap Karin lembut.
Yusuf merasa hatinya bagai disiram air segar yang langsung membuat pucuk pucuk cintanya bermekaran. Perhatian yang diberikan Karin ini sangat berarti baginya.
"Terima kasih atas perhatianmu sayang." ucap Yusuf membuat Karin tersipu malu.
"Ku anggap perhatian ini adalah ungkapan "iya" darimu atas pernyataan cintaku padamu selama ini." kata Yusuf kemudian.
"Mm Yusuf,,, Aku,,," Karin tentu tidak setuju dianggap setuju atau menerima karena tindakannya membawakan makan siang itu.
"Kenapa?"
"Mmm,,, tidak apa apa." Karin merasa tidak enak juga jadinya untuk mengatakan rasa tidak setujunya itu mengingat semua yang sudah dilakukan oleh pria yang dianggap papa oleh Delvara.
"Yakin?" tanya Yusuf.
"Iya yakin. Hanya tolong berikan juga makanan ini pada bang D dan ibunya. Meski ini rumah sakit elite tapi aku yakin pasien mana mana pun tidak akan selera dengan makanan rumah sakit. Lagipula katamu kemarin masakanku ini bisa membangkitkan semangat hidupnya kan? Jadi aku juga berinisiatif memasak untuknya. Berikan padanya ya." kata Karin dengan wajah sumringahnya.
Yusuf seketika perasaannya mencelos. Rasa bahagia merasa diperhatikan tadi berubah menjadi cemburu.
__ADS_1
"Belum apa apa sudah menjadi pembagi perhatian Karin. Bagaimana kalau sampai Karin tau siapa bang D sebenarnya. Bisa bisa aku ini benar benar tersingkirkan."
"Yusuf,,, Yusuf,,, halooo,,," tangan Karin bergerak gerak di depan wajah Yusuf yang malah melamun.
"Eh,,, iya. Iya nanti aku berikan. Dia pasti senang." Yusuf baru tersadar.
"Apa boleh aku sendiri yang memberikan padanya. Sekalian berkenalan. Senang rasanya bisa bertemu orang orang dari negara kita di negara orang. Berasa ketemu keluarga." pinta Karin dengan penuh harap.
"Apa?? Bertemu dengannya?? Tidak!! Tidak bisa!!" suara Yusuf meninggi.
"Yusuf. Kenapa harus begitu ngomongnya? Kalau memang tidak bisa juga tidak apa apa tapi apa harus begitu nada bicaranya?" tanya Karin.
"Oh maaf Rin maaf. Aku hanya,,,," Yusuf tidak tau harus bicara apa.
"Hanya apa?" desak Karin.
"Hanya lelah. Iya aku lelah. Dan lagian bang D belum boleh dijenguk banyak orang. Jadi mungkin lain kali saja ya kenalannya. Lagipula tidak bagus juga untuk kesehatan Del kalau kamu berlama lama berada di rumah sakit kan." akhirnya Yusuf dapat alasan bagus.
"Benar juga katamu. Baiklah kalau begitu sampaikan saja salamku padanya. Dan makanan ini juga ya. Jangan lupa." pesan Karin.
"Tentu. Terima kasih sekali lagi atas perhatianmu. Untukku,,,dan bang D." Yusuf mengatakannya dengan berat.
"Sama sama. Kalau begitu aku pulang ya. Mm maksudku aku lanjut belanja dengan Delvara."
"Iya. Aku antar sampai depan ya." Yusuf memutuskan mengantar Karin sampai depan untuk memastikan Karin dapat taksi dan tak diam diam mengikutinya.
Yusuf sungguh tak mau sampai Karin bertemu Dion. Sesampainya di luar segera ia meminta security memanggilkan taksi untuk Karin.
"Hati hati ya. Papa cium dulu dong Del,,," Yusuf langsung mencium pipi gembul Delvara yang sempat diambilnya tadi dari kereta dorongnya dan digendongnya.
Delvara yang biasanya anteng malah rewel digendongan Yusuf hari itu. Anak itu masih meminta diajak masuk ke dalam rumah sakit itu lagi.
"Belanja sama mama dulu ya sayang. Papa janji nanti pulangnya langsung temui Del. Papa yang bacakan dongeng nanti ya." Yusuf merayu dan kembali mencium pipinya membuat Delvara sedikit tenang.
Karin pun lalu masuk ke dalam taksi masih dibantu Yusuf yang membukakan dan menutup pintunya. Yusuf juga melambaikan tangannya dengan senyuman manis dan penuh cinta.
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️...