
...Selamat membaca...
...🧁🧁🧁...
"Paa,,, Mantu papa udah lahiran tuh." ucap mama Herna pada papa Hengki yang baru saja pulang.
Tadinya mama Herna mau menyampaikannya via telepon saja tapi diurungkannya dan menunggu sampai suaminya pulang saja.
"Alhamdulillah. Laki laki apa perempuan ma cucu kita??" wajah papa Hengki langsung berseri.
"Gak tau." mama Herna terkesan cuek.
"Gak tau?? Kok bisa? Memangnya Dion belum kasih tau mama?" papa Hengki heran.
Mama Herna hanya angkat bahu dan asyik melihat kuku kukunya yang baru diwarnai dengan cat kuku oleh Hana.
"Ya sudah kalau gitu ayo kita ke rumah sakit saja ma. Kita lihat sendiri cucu kita. Mungkin Dion masih terlalu bahagia sampai lupa memberitahukannya pada mama. Mama tau kan rumah sakitnya mana?"
"Gak tau juga tuh."
"Ma,,, Bisa bisanya sih mama ini apa apa gak tau. Ini urusan menantu dan cucu kita lho ma. Kalau pun Dion gak kasih tau ya seharusnya mama yang tanya." papa Hengki mulai kesal karena mama Herna gak tau apa apa.
"Dih mama mah ogah ya nyari tau urusan itu. Sama sama bukan cucu kita mending mama pilih lebih sayang dan perhatian sama anaknya Hana aja. Sudah karuan dan jelas identitas bapak si bayi. Lewat perkawinan yang sah pula. Bukan anak haram."
Hana yang ditunjuk langsung senyum meski ia tau pasti papa Hengki akan banyak pertanyaan setelah ini.
"Ini maksudnya apa sih ma? Papa gak ngerti deh. Sama sama bukan cucu sendiri? Anak haram?? Maksudnya apa??"
__ADS_1
Saking penasarannya papa Hengki langsung duduk di depan mama Herna.
"Jelasin ma." pinta papa Hengki.
"Tuh,,, Mending papa lihat sendiri deh. Abis itu papa pikir sendiri juga. Kira kira pikiran papa bakalan seperti pikiran mama juga gak abis lihat ini." mama Herna meminta ponsel milik Hana dan menyerahkannya pada papa Hengki.
Papa Hengki menerimanya lalu keningnya mulai berkerut. Alisnya juga tampak mulai menyatu seakan tengah berpikir keras. Mata tuanya dipaksa terus melihat dengan jelas deretan foto foto yang cenderung kelewat vulgar.
Pakaian minim,,, Rokok,,, minuman keras,,, pergaulan bebas,,, dan wajah yang sangat dikenalinya meski kini pemiliknya telah menutup semua auratnya dan tidak lagi terlihat menyentuh barang barang itu. Apalagi pergaulan bebas,,, gadis berhijab itu mana pernah keluar rumah?
"Karin." lirih papa Hengki.
"Betul. Kenal juga ternyata papa sama dia kalau udah begajulan gitu." sinis mama Herna.
"Kamu dapat ini dari mana Hana?" papa Hengki langsung menatap Hana.
"Dari media sosial pa. Hana kebetulan berteman dengan salah satu ibu dari temannya Karin. Teman Hana itu cerita dulu anaknya sering menghabiskan waktu bersama Karin. Sampai teman Hana itu stress karena anaknya terpengaruh ajakan ajakan Karin yang mengarah ke hal hal yang dilarang. Teman Hana sempat kaget juga pas Hana kasih tau sekarang Karin udah berubah dan jadi istri mantan suami Hana. Kata teman Hana jangan main percaya sama gadis rusak seperti itu."
"Apa Dion sudah tau?" tanya papa Hengki singkat.
"Ya pasti belumlah makanya anak kita itu mati matian cinta sama Karina. Belum tentu juga itu anak yang dikandung Karina anaknya Dion. Itu anak ya,,,pandai banget kamuflase di depan kita semua. Gak Ratna,, Gak Karina,, Semua cuma mau memanfaatkan Dion saja." gerutu mama Herna.
Papa Hengki masih diam dan berpikir. Mencoba menganalisa semuanya dan mencoba melihat permasalahan ini dari berbagai sudut pandang. Papa Hengki memang selalu bisa bijak dalam mengatasi sebuah permasalahan. Beliau bukan tipe yang gampang diprovokasi meski oleh orang terdekatnya.
"Mama yakin banget deh pasti Karina itu hamil sama pacar pacarnya itu. Secara Dion itu sakit. Bertahun tahun sama Hana sama sekali Hana belum pernah hamil. Masak sama Karin itungan bulan saja udah bisa hamil. Yakin banget itu anak haram."
"Husstt,,, Hati hati ngomongnya ma. Belum tentu semua dugaan mama itu benar. Jangan sampai malah mama nambah dosa dengan memfitnah Karin." papa Hengki mengingatkan.
__ADS_1
"Sudah jelas kan pa kelakuannya seperti apa. Masih saja papa belain dia." sungut mama Herna.
"Itu kan foto lama yang perlu kita pertanyakan dulu kapan kejadiannya. Ok,,, dulu mungkin Karin bejad seperti itu. Tapi sekarang dia sudah berubah ma. Lihat dirinya yang sudah berhijab. Daripada mama yang meski sudah tua tapi belum tergerak untuk berhijab. Setidaknya itu nilai positif Karin yang gak boleh mama lupakan."
"Alah hijab itu cuma kedok." sangkal mama Herna.
"Pokoknya mama gak mau ya kalau Dion bawa anak itu pulang sebelum jelas siapa ayah biologisnya. Mama mau anak itu di test DNA dulu biar kita gak terlanjur merawat dan membesarkan anak haram. Mama ogah ya,,," mama Herna mempertegas.
"Astaghfirullah mama!!! Dion sudah pasti ayah biologisnya. Dion memang sakit dulu tapi sudah berobat kemana mana dan dokternya pun sudah menyatakan bahwa Dion bisa mempunyai keturunan ma. Anak Karin itu cucu kita!!!" papa Hengki tak kalah tegas memperjelas.
"Ya sudah kalau memang papa sama Dion begitu yakin itu anak Dion,,, Apa susahnya sih melakukan apa yang mama minta. Tes DNA!! Itu saja mau mama. Baik untuk semuanya. Jelas untuk semuanya." tegas mama Herna.
"Menurut mama begitu ya?? Mama pernah gak pikirkan perasaan Karin kalau dia tau mama meragukan anaknya? Mama pernah gak mikir ini tuh menyakiti hati Karin? Apa sih salah anak itu ke mama sampai mama segininya ke dia? Apa karena Hana??" papa Hengki menatap tajam ke arah Hana.
Hana tertunduk dan merapatkan tubuhnya pada mama Herna seolah mencari perlindungan.
"Ma,,,"lirihnya.
"Jangan takut sayang. Ada mama." ucap mama Herna menenangkan.
"Papa itu harusnya mengucap terima kasih pada Hana karena kita akhirnya tau siapa Karina dari dia. Kalau gak ada Hana mungkin sampai kapan pun kita akan tertipu oleh hijab Karina dan salah salah kita akan terus menyayangi anak haram." ketus mama Herna.
"Baiklah. Terima kasih Hana atas informasinya. Tapi papa mau mengingatkan mama,,, Seandainya hasil tes DNa membenarkan bahwa bayi itu adalah cucu kita,,, Apa yang akan mama lakukan? Tidak malukah mama sudah mempermalukan dan menyakiti Karin?"
"Itu urusan belakang." sinis mama Herna.
...❤️❤️❤️...
__ADS_1
...Sabar ya sabar,,, Jangan kebawa emosi dulu para readersku,,, Biarkaj author dulu yang ngetik sambil emosi 😆...
Kirim dulu dong like, hadiah, vote dan komennya ya ❤️