
Abrar keluar kamar mandi mendapati istrinya sudah cantik dengan gaun tidur yang menggoda.
Alea tidak berbasa basi lagi, tangannya menyambut sang suami yang masih memakai handuk melilit di pinggang, tentu saja untuk melakukan adegan ranjang yang sudah lama absen sejak mereka berpisah lebih kurang sepuluh hari sejak penculikan itu.
Bergumul di bawah selimut yang sama, Alea dan Abrar menyalurkan kerinduan yang lama terpendam tentu bermain dengan lembut dan aman mengingat Alea tengah mengandung.
*****
Pagi-pagi sekali Alea membangungkan Abrar ingin minta antar pulang ke rumah orangtuanya sebelum sang papa mencurigai ketidakhadirannya sarapan pagi ini, menghembus napas kasar lelaki ini pun bangkit dari ranjang yang bahkan belum terasa hangat baginya, sungguh ia merindukan istri yang selalu menatap mesra ketika bangun tidur, namun sekarang hanya ada kegaduhan diantara mereka berdua karena harus terpisah kembali namun tubuh mereka seakan enggan untuk berjauhan.
Masih sangat pagi, embun pun masih mendominasi udara pagi ini Abrar sudah harus mengantarkan sang istri pulang ke rumah mertuanya sebelum ketahuan, ia tidak bisa membayangkan jika papa Kemal mengetahui bahwa Alea bermalam dengannya secara diam-diam, Abrar tidak ingin mertuanya bertambah marah akan hal itu.
Alea keluar mobil dengan cepat dan ingin segera masuk pagar rumah orangtuanya, lama mereka berpelukan seakan enggan berpisah.
"Sayang" ucap Abrar sendu.
"Ayolah....aku harus masuk sekarang nanti papa akan mencariku ketika sarapan, aku mencintaimu bang Abrar, bersabarlah papa tidak akan marah lagi nanti....hanya butuh waktu saja, percayalah tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya berpisah, papa hanya berjanji sampai aku benar-benar sembuh, aku masih sering muntah jika sore hari mungkin karena itu papa mengira aku masih sakit" jawab Alea membelai wajah suaminya.
"Maafkan aku, apa aku tampak pengecut?" ucap Abrar lagi.
"Iya....kau pengecut, seharusnya kau dengan gagah berani menculikku biar saja papa marah karena itu, ha ha aku bercanda sayang....." peluk Alea lagi dengan gemas.
Alea melepaskan diri dan ingin segera masuk namun Abrar kembali menariknya dalam pelukan.
"Aku mencintaimu Alea.....aku akan mencoba membujuk papa lagi setelah urusan kantorku selesai"
Alea mengangguk dan mencium bibir lelaki itu dengan mesra "Aku akan masuk, berhati-hatilah jangan lupa hubungi aku nanti jika waktu luang, aku mencintaimu bang Abrar"
__ADS_1
Alea kembali ingin masuk pagar, kemudian langkahnya terhenti dan berlari lagi ke arah suaminya dan Abrar tentu saja menyambutnya dalam pelukan yang tinggi, berciuman lama sebelum benar-benar mengakhiri pagi itu dengan perasaan berbunga karena telah bertemu.
*****
Tidak terasa hari begitu cepat berlalu dari siang menjadi malam, Abrar kembali merasakan kesepian ketika pulang ke rumah tidak mendapati istrinya disana, wajahnya berubah ketika memasuki pintu melihat ke arah sofa yang biasa Alea tertidur menunggunya pulang, beralih ia mengambil minum di dapur seketika ia terduduk di meja makan terasa sangat sepi tidak ada apa-apa disana selain meja kosong yang biasanya dipenuhi makan malam yang dimasak dengan cinta oleh istrinya, Abrar mengusap wajahnya kasar.
Masuk kamar dan mandi agar pikirannya kembali segar, berniat ingin berbaring di ranjang namun hatinya menjadi sendu ketika melihat ranjang dan bantal yang biasa tempat istrinya berbaring seraya menatapnya penuh cinta sebelum mereka menemui mimpi setiap malamnya.
Bayangan Alea tersenyum manja pun terlintas, Abrar mengingat kembali percintaan mereka malam kemarin, pria ini mencium bantal yang biasa Alea tiduri masih tercium wangi rambut sang istri tertinggal disana.
Pria itu bangkit dari ranjang, mengambil mantel dan memakainya cepat dan segera meraih kunci mobilnya sambil geleng kepala kesal.
"Aku tidak bisa seperti ini terus, aku tidak bisa jauh dari istriku lebih lama lagi" gumam Abrar sambil berlalu dari rumahnya itu.
Mengemudi kencang menuju rumah sang mertua dimana Alea berada disana, istri yang Abrar cintai dan gilai itu tengah bersantai ria sibuk dengan ponselnya chit chat bersama teman-temannya seraya menghilangkan jenuh.
Alea tersenyum melihat ponselnya berbunyi panggilan dari sang suami, namun ia heran panggilan itu disusul suara ketukan di kaca jendela kamarnya.
"Alea buka jendelamu, aku disini" jawab Abrar.
Alea membesarkan mata terkejut, segera ia membuka kaca jendela kamarnya dan benar saja Abrar tersenyum melambai tangan pada Alea.
"Sayang apa yang kau lakukan?" tanya Alea membuka pintu teras kamarnya karena Abrar berdiri di balkon depan jendela.
"Kau lihat, aku bisa gila jika terlalu lama berpisah dari istriku....aku tidak bisa sayang, maaf aku datang lewat jalan pintas" jawab Abrar memeluk Alea dengan rindu kemudian pria ini mengecup perut Alea.
Alea ingin tertawa dibuatnya.
"Sayang bagaimana kau bisa naik ke atas? apa kau memanjat?" tanya Alea heran.
__ADS_1
"Iya....dibantu adik-adikmu" jawab Abrar singkat.
Alea melihat kebawah, dan benar saja adik lelaki bungsunya Baim dan Delila melambai tangan padanya dengan tangga disamping mereka.
"Apa kau menyogok mereka?" tanya Alea curiga.
Abrar menghardikkan bahu "Hanya dengan gadget terbaru untuk Baim dan tas Chanel terbaru untuk Delila.....mereka cukup menguras dompetku hanya untuk tangga itu sayang" jawab Abrar terkekeh, sambil melambai tangan dan mengacungkan jempolnya tanda terimakasih pada kedua adik iparnya.
"Huh......mereka selalu saja begitu, tapi bukankah itu bayaran yang pantas untuk menemui Rafunzel yang terkurung di menara ini?" ucap Alea membelai wajah suaminya seraya tertawa dan segera menarik pelan tangan suaminya masuk kamar.
"Aku tidak bisa jauh darimu sayang, aku sudah tidak peduli jika papa membunuhku sekalipun"
"Aku menyukai aksimu ini sayang, kau menggemaskan.....ini keren, kau tahu adegan Peter Parker dan Gwen Stacy juga seperti ini ketika manusia laba-laba keren itu masuk ke kamar kekasihnya diam-diam, kita seperti sedang pacaran lewat belakang saja, papa akan melihatku mati jika dia berani membunuhmu" jawab Alea terkekeh, ia mendekatkan wajahnya dan meraih leher suaminya berciuman mesra sebagai awal dari pertemuan itu.
*****
Karena terlalu lelap atau terlalu bahagia hingga pasangan Alea dan Abrar tidur pulas saling berpelukan diranjang berada dalam selimut tebal, seakan enggan untuk berjauhan.
Tanpa Alea sadari, rupanya perempuan itu lupa mengunci pintu sejak semalam.
"Alea....sayang bangun, ini sudah pagi wanita hamil tidak baik tidur sampai siang....ayo kita sarapan nak" ucap mama El mengetuk pintu kamar putri sulungnya.
Namun tidak ada sahutan, mama El tidak sengaja membuka gagang pintu yang ternyata tidak di kunci itu dan dengan polos ingin masuk kesana.
Mama El membelalakkan matanya melihat pemandangan di atas ranjang Alea, segera ia tutup kembali pintu itu namun suaminya tidak sengaja melihat raut terkejut sang istri.
"Sayang ada apa? mana Alea? apa dia belum bangun?" tanya papa Kemal mencium pipi mama El sambil tersenyum.
Tentu saja mama El menatap suaminya dengan wajah memerah penuh makna seraya menggigit bibir bawah canggung.
__ADS_1
#####
Lanjut?