
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
Dion memijat mijat tengkuk dan keningnya sendiri. Ia merasa sebal dengan kondisinya akhir akhir ini. Ia gampang sekali masuk angin.
"Sudah lima kali aku muntah hari ini. Sarapan sudah. Kerokan sudah. Olesi minyak kayu putih juga sudah. Matikan Ac kantor sudah. Pakai jaket juga sudah. Masih saja masuk angin. Apa sudah setua itu aku ini??" gerutunya sambil terus memijat.
Dipakai mengomel membuatnya kembali merasa mual. Sekali lagi ia muntah muntah namun hanya cairan bening saja yang keluar.
"Muntah gak seberapa tapi mualnya lebay sekali." sekali lagi ia menggerutu.
"Cuci muka sajalah biar lebih segar." gumamnya lalu membasahi wajah tampannya dengan air dingin dari kran.
Merasa jauh lebih baik perasaan dan kondisinya, perlahan ia keluar dari toilet yang tersedia di ruang kerjanya itu. Di sana sudah ada Megha, sekretaris yang paling dan masih setia bekerja padanya.
Wajah Megha tampak cemas melihat si bos melangkah gontai begitu. Meski kelihatannya bosnya baru saja mencuci muka, tapi aura segarnya tidak tampak.
"Bapak gak apa apa? Yakin gak mau ke dokter saja? Bapak pucat sekali lho." ucapnya cemas.
Dion hanya menggeleng dan mengangkat tangan kanannya dan membuka lebar lima jarinya pertanda ia tak setuju dengan usulan Megha itu.
"Kalau begitu saya ambilkan obat anti masuk angin saja ya pak."
Kali ini Dion mengangguk pasrah. Ia sungguh badmood. Tak ingin bicara sepatah kata pun. Ia mengantuk dan merasa sangat lemas. Megha pun tak menunggu Dion berkata apa apa lagi. Segera ia berjalan keluar ruangan itu.
Belum sampai ke tempat kantor meletakkan kotak P3Knya,, ponsel Megha sudah berdering dan panggilan itu dari Dion.
"Halo pak?"
"Pesankan asinan bogor dong. Tapi yang jualannya di ujung gang Merpati ya. Banyakin isi mangga."
"Apa pak?? Asinan???" mata Megha membelalak.
"Kamu dengar kan??" tanya Dion balik.
Kalau sudah seperti itu Megha paham si bos sudah kesal. Bertahun tahun mengabdi padanya sampai gajinya pun sebenarnya sudah bukan gaji sekretaris lagi saking banyaknya,, tentu Megha hafal betul sifat dan karakter bosnya itu.
"Kenapa diam?? Gha,,, halooo."
"Iiiya pak. Saya segera belikan." ucapnya cepat begitu suara di seberang sana makin tinggi nadanya.
"Sejak kapan pak Dion mau makan asinan?? Biasanya juga dia selalu kesal kalau lihat aku bawa makanan itu. Katanya makanan aneh. Nah sekarang malah dia yang doyan."
__ADS_1
Megha mengomel sendiri sambil tetap berjalan menenteng tas tangannya turun ke lobi untuk menemui sopir kantor yang bertugas mengantarnya kemana saja selama itu urusan si bos dan perusahaan.
"Mau kemana mbak?" tanya si sopir.
"Gang Merpati pak."
"Lah mau ngapain kesana mbak? Perasaan gak ada perkantoran daerah sana."
Sopir yang tau persis di jalan atau gang yang disebut Megha itu hanya ada sekumpulan pedagang aneka makanan pinggir jalan atau ala ala gerobak,, tentu heran kalau tiba tiba sekretaris bos besar itu memintanya mengantarnya kesana.
"Pak Dion minta dibelikan asinan pak."
"Hahhh?? Lah kenapa malah dibeliin kesana mbak? Itu kan bukan kelasnya pak Dion. Saya antar ke restoran saja ya yang jual asinan."
"Jangaaan pak. Ini justru si bos yang minta dibelikan di sana." Megha menolak dengan tegas.
Megha paham si bos itu susah dibohongi apalagi urusan makanan. Entah jurus apa yang dipakai oleh nyonya muda Karin sampai bisa melatih indera perasa bosnya itu jadi makin tajam.
Si bos bisa dengan mudah tau makanan ini masakan siapa,,,restoran mana. Karenanya kalau sopir mengajaknya berubah haluan maka Megha tak mau cari mati.
"Baiklah kalau begitu mbak. Saya cuma heran aja kok tumben tuan bos minta makanan begituan. Saya kira bos besar seperti beliau gak akan pernah selera sama yang begituan."
"Aneh juga sih pak bos. Udah makanannya yang gak pernah dimakan,,,mana jauh pula tempatnya. Ayo deh pak. Buruan jalan. Nanti takut kelamaan kita jadi marah si bos."
"Tuh kan. Pasti mau bilang lama ini." gumam Megha saat ponselnya kembali berdering dan lagi lagi panggilan dari Dion.
"Halo pak. Maaf lama ini jalanannya lumayan macet."
"Sekalian belikan aku es kelapa muda juga ya. Yang jualan pakai gerobak dorong. Jangan yang buka stand atau warung."
Megha melongo mendapati permintaan Dion yang makin lama makin aneh. Tapi mau tidak mau Megha harus tetap bisa mendapatkan apa mau bosnya itu.
Mobil mewah itu mulai memasuki area gang merpati yang ramai dengan jajanan jajanan dan aneka kuliner yang dipasarkan di gerobak gerobaknya. Mata Megha membaca satu persatu judul gerobaknya.
"Yaaahhh tutup."
Kecewanya Megha karena asinan yang diminta Dion malah sudah tutup. Asinan itu memang terkenal enak karenanya jam segini saja sudah habis.
Dengan bibir mengerucut paham akan kena omel, Megha pun menelpon Dion.
"Apa???!!! Tutup??? Gak mau tau ya. Pokoknya bilang sama pedagangnya buat siapin aku satu porsi. Aku mau makan itu hari ini Megha. Ngerti kan??"
"Iya pak. Saya coba minta pedagangnya buatin bapak." Megha berusaha menenangnkan Dion yang kesal bukan main ketika makanan yang sedari tadi membuat liurnya menetes itu ternyata sudah habis.
__ADS_1
"Tolong pak. Buatkan satu porsi saja ya. Saya bayar berapa pun." pinta Megha pada penjualnya.
"Bukan masalah harga nona. Tapi bahan bahannya memang sudah habis. Saya mana bisa buat?"
Megha yang sengaja tidak menutup telpon Dion tadi bersiap kena omel lagi karena Dion pasti mendengarkan.
"Aku mau makan asinan Meghaaaa,,,huhuhu,,,"
Kali ini Megha terkejut bukan main karena bukan omelan melainkan tangisan yang ia dapat. Dan itu Dion yang menangis.
"Apa aku mimpi???" Megha menepuk nepuk sendiri pipinya.
"Huuuaaaa,,, Asinan merpati Ghaaaa,,,," tangis Dion makin menjadi.
"Bapak,,, Bapak kayak orang ngidam saja." celetuk Megha.
Tapi nyatanya ucapannya itu mampu membuat si bos langsung berhenti menangis. Dion diam sesaat.
"Apa katamu tadi??" tanya Dion serius.
"Ma,, maaf pak. Saya,,," Megha baru sadar tak seharusnya dia bicara begitu tadi.
"Kamu bilang apa tadi??!!"
"Ngidam pak. Ngidam. Bapak kayak orang ngidam." sahut Megha cepat karena kalau tidak segera dijawab dia tau Dion akan makin marah.
"Ngidam ya,,, Memangnya bisa laki laki ngidam???" tanya Dion.
"Mmmm,,,, Mungkin saja kebetulan sih pak. Kemarin pas saya hamil juga suami saya yang ngidam. Bukan saya." jawab Megha.
Dion berpikir sejenak. Mengingat sesuatu.
"Aku harus pulang." ucapnya setelah itu.
"Loh pak,,, Asinannya gimana?? Kelapa mudanya??"
"Gak jadi."
"Isshhh,,, kalau aja bukan pak Dion yang baik hati itu yang suruh. Aku ogah banget kesini. Mana sampai sini gak jadi lagi. Bos yang aneh!!!."
Megha mengomel sepanjang masa merasa dikerjai oleh bosnya yang aneh hari itu.
...❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1