
Nara pikir ia kembali ditinggalkan oleh suaminya saat pria itu pergi saja tanpa basa basi setelah bertemu Reno beberapa saat lalu.
Nara merasa lega ketika ia mencapai parkiran mobil, matanya melihat Dannis masih menunggunya. Pria itu berdiri menyandarkan punggung nya di badan mobil seraya tangan ia silangkan di dada.
"Tuan.... maaf kau menunggu ku", panggil Nara dengan napas terengah.
Dannis hanya diam, ia segera membuka pintu mobil bagian kemudi dan masuk ke sana tanpa berkata-kata.
Nara yang melihat itu pun segera bergegas ikut masuk mobil yang ia yakini mereka akan segera pulang, meski di awal Nara merasa sangat lapar setelah pertemuannya dengan mantan tunangannya dipastikan selera makannya hilang entah kemana.
Tidak ada percakapan selama perjalanan, Dannis mengemudi dengan raut datar sedang Nara sibuk dengan pikirannya yang menebak-nebak isi hati Dannis sekarang, Nara beberapa kali ingin membuka obrolan namun urung karena rasa takut yang diakhiri hanya menelan ludah saja.
Sampai pada pria itu yang memulainya.
"Apa benar kau tunangannya Reno?".
Nara selain mengangguk tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.
"Kenapa kau tidak menikah dengannya saja? kenapa kau malah mengincarku?", tanya Dannis lagi dengan raut dingin nan datar.
Nara kembali menelan ludah.
"Tuan percayalah, aku sama sekali tidak mengincarmu, kita memang tidak sengaja bertemu ketika di hotel beruntung kau mau menolongku, dan alasan itu pula yang membuat kami tidak jadi menikah karena orangtua nya tahu jika aku menjual diri namun kenyataannya adalah seperti yang terjadi malam itu bahwa aku dijual bukan menjual diri", jelas Nara panjang lebar.
Dannis kembali diam, Nara memberanikan diri menatap ke arah pria itu.
__ADS_1
"Kau tahu dia masih saudaraku?".
"Iya, aku mengetahuinya ketika mama dan papa meminta restu orangtua ku waktu itu, karena ibu dan Ranti sudah pindah akhirnya mama membawaku untuk mampir ke rumah bibi Karin, percayalah itu yang terjadi tuan aku bukan sengaja mengincarmu karena kau bersaudara dengan Reno aku sama sekali tidak mengetahui sebelumnya", jawab Nara jujur.
Lagi-lagi Dannis hanya diam dan datar membuat Nara menjadi heran dan ingin menerka-nerka isi pikiran suami nya itu.
"Jangan sebut pria itu di depanku", diluar dugaan Dannis bicara seperti itu membuat Nara heran dan menatap suaminya lagi.
"Jangan percaya diri, aku hanya tidak ingin kalian berpelukan di depanku. Itu tidak sopan, setidaknya karena kau pelayanku tentu harus menghargai tuanmu bukan? karena tidak ada seorang pelayan yang berbuat tidak tahu malu seperti tadi".
Nara mengangguk, "Baik tuan".
"Aku kira dia cemburu", gerutu Nara dalam hati.
Membuat Nara kembali menjadi heran.
"Maaf tuan, aku mengerti".
"Huh.... kau menyebalkan", gerutu Dannis pelan.
"Kau bicara sesuatu tuan?".
"Terserah, mulut mulut ku terserah aku ingin berkata apa", jawab Dannis lagi.
Nara menelan ludah dibuatnya.
__ADS_1
Mereka sampai rumah, Dannis yang semula Nara pikir telah mencair ketika mereka memutuskan untuk berdamai beberapa jam lalu sekarang berubah menakutkan lagi.
*****
Pada malam harinya, Nara yang ingin kembali ke kamarnya setelah makan malam dan berniat berganti seragam ke pakaian tidurnya urung setelah mendengar ketika bell rumah mereka berbunyi.
Gadis itu dengan polos membukakan pintu yang ternyata seorang perempuan lah yang tengah menunggu di sana.
Nara segera menunduk.
"Silahkan masuk nona".
Nesya tercekat menatap Nara di hadapannya sekarang, ia melihat gadis yang ia ketahui menjadi istri pria yang hampir menjadi iparnya itu dari atas kepala sampai bawah.
"Kau?", Nesya merasa tidak percaya atas yang ia lihat bahwa Nara berpakai seragam khas pelayan di rumah suaminya sendiri.
Belum juga Nara menjawab, Dannis lebih dulu menyela.
"Seperti yang kau lihat itulah yang terjadi, ayo masuklah jangan bertanya lagi tentang apa yang kau pikirkan, aku rasa itu cukup menjelaskan apa perlu ku pertegas bahwa gadis ini hanya pelayan ku saja", ucap Dannis mengajak Nesya masuk dengan wajah cueknya.
Nara menunduk ketika Nesya melewatinya dengan wajah heran.
Nara mengusap sudut matanya yang berair ketika menatap punggung Dannis dan Nesya yang menjauh.
"Iya, aku memang pelayannya.... batas yang sangat jelas, memangnya kau berharap apa Nara? apa kau berharap dia mengakuimu istri? oh seperti mengharap hujan diterik sang mentari", gumam Nara sedih.
__ADS_1