
Dannis kembali ke kamarnya setelah adegan pukul memukul antara dirinya dan Reno pagi ini, pria itu menghubungi Reta sang sekretaris mengatakan bahwa ia urung masuk kantor hari ini.
Dannis membasuh wajahnya, ia tatap bayangan dirinya di cermin, rahangnya mengeras dengan tangan ia kepalkan.
Demi apa Dannis sungguh kesal atas kejadian yang baru saja membuat mood nya kembali berantakan.
Pria yang sedang bertelanjang dada itu berjalan menuju jendela kamar, ia menenggak minuman dalam gelas yang ia pegang, matanya menangkap sosok dua insan yang berhasil membuatnya kesal pagi itu dari arah ia berdiri.
"Ck..... mengaku istriku, tapi dia masih meladeni pria lain", gumam Dannis kesal matanya menatap jelas Nara yang masih bicara empat mata dengan mantan tunangannya Reno di halaman rumah.
Namun ia mengernyit heran saat seorang wanita menghampiri istri dan sepupu jauhnya itu.
Nara masih berdebat dengab Reno soal pernikahannya, dimana pria itu masih kukuh ingin membawanya dari rumah itu namun tentu saja Nara menolak namun tetap saja Reno memaksa hingga sampai saat ini pria itu enggan beranjak pergi.
"Ayolah Reno aku mohon, bisakah kita akhiri pembicaraan ini aku masih banyak pekerjaan, aku tidak bisa terus meladeni mu maafkan aku segeralah pergi", kembali Nara memohon agar pria itu segera berlalu.
"Aku tidak akan pergi kecuali denganmu meninggalkan rumah dan pria terkutuk itu", Reno berucap mantap.
"Dia saudaramu".
"Cih..... aku benci keadaan ini", umpat Reno kesal.
Nara kehabisan kata-kata, ia menghela napas kasar.
"Terserah pada mu, aku akan kembali masuk dan mengerjakan tugasku jadi aku harap kau segera pergi dari sini", ucap Nara dengan nada lesu.
Reno meraih pergelangan tangan gadis itu lagi.
"Maafkan aku yang menyebabkan kau berada di posisi sekarang, jika saja aku menikahimu lebih cepat mungkin kau tidak akan ke kota waktu itu, aku sangat menyesalinya".
"Yang lalu biarlah berlalu Reno, aku sudah mengikhlaskannya, lagi pula ibu dan Ranti sudah meninggalkanku, mereka sudah memiliki kehidupan baru sekarang, aku benar-benar seorang diri beruntung aku masih dijadikan pelayan di rumah suamiku sendiri daripada terlunta-lunta di jalan".
"Ck berhenti menyebutnya suami, kau membuatku cemburu.... selama aku masih hidup aku tidak akan membiarkan mu hidup sendirian, terlebih aku mengetahui hubungan kalian sekarang".
Nara tersenyum.
"Oh jadi kenyataannya adalah kau menjadi pelayan di rumah suamimu sendiri Khinara Aldaniah? huh.... aku beruntung mengetahuinya pagi ini, aku tidak mengira nasibmu begitu malang mantan saudaraku", ucap seorang perempuan yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka.
Ranti terkekeh geli menatap Nara seraya mengejek.
"Ranti?".
__ADS_1
Reno tidak menduga bahwa gadis yang hampir menggantikan Nara menjadi tunangannya ini muncul secara tiba-tiba.
"Ada apa kau kemari Ranti?", tanya Nara lesu.
"Semula aku berniat ingin menjalin silaturrahmi dengan mu karena kita bertetangga sekarang, aku kira kau benar bekerja jadi pelayan di rumah ini tapi ternyata kau adalah istri yang tak dianggap rupanya, hmmm aku juga heran kenapa Reno masih mengharapkanmu".
"Berhenti mengejek Nara, apa kau tidak tahu malu setelah apa yang kau lakukan padanya?", bela Reno menatap geram wajah Ranti.
"Tenanglah, aku hanya mengatakan yang sebenarnya saja.... maaf Reno, aku tidak akan ikut campur karena kami bukan saudara lagi melainkan orang asing yang kebetulan bertetangga sekarang", Ranti mengangkat tangannya seraya pergi meninggalkan Nara dan pria yang masih ia sukai itu.
"Aku akan masuk, pulanglah.... maafkan aku Reno", ucap Nara lagi pada Reno setelah Ranti benar-benar pergi.
"Nara".
Gadis itu tidak menghiraukan lagi ucapan Reno, ia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu begitu saja, airmatanya kembali mengalir mengiringi langkah kakinya menuju kamar.
"Baiklah Dannis, kau tidak bisa terus bermain dengan gadis pemilik hatiku ini, jika bukan aku menghormati orangtua mu mungkin kau sudah ku bunuh, aku tidak akan mengadu pada mereka sampai Nara kembali mempercayaiku", gumam Reno menatap pintu yang tertutup.
Lama Nara menatap wajahnya di cermin, wajah yang menyedihkan.
"Nara", panggil Dannis dengan suara lantang.
Gadis ini cepat-cepat keluar.
"Kenapa kau lama sekali, kau tidak lihat aku hampir mati oleh mantan sialan mu itu".
Nara menatap Dannis yang memicingkan mata elangnya.
"Maaf tuan, Reno sudah pergi", jawab Nara polos.
"Kau memang menyebalkan", Dannis tiba-tiba menarik tangan Nara untuk mengikutinya.
"Tuan?", Nara merasa bingung.
Langkah Dannis terhenti dan menatap wajah Nara dengan marah.
"Apa kau bodoh? aku ini terluka.... kau harus bertanggung jawab, obati dan kompres wajah ku, kau tidak lihat ini ada berapa lebam? aku tidak jadi ke kantor karena ini, enak saja kau pura-pura tidak tahu", Dannis berkata kesal sambil menunjuk wajah nya yang terdapat beberapa lebam yang baru muncul.
"Baik tuan, ayo aku akan mengobatinya", Nara mengangguk.
"Kenapa kau belum berganti pakaian? sudah ku bilang aku sedang tidak ingin melihat pelayan di rumahku".
__ADS_1
"Huh.... baik", jawab Nara singkat, ia hanya bisa menghela napas kasar oleh sikap Dannis yang suka berubah-ubah.
Nara ingin kembali ke kamarnya, namun tidak bisa karena Dannis belum melepaskan pergelangan tangannya.
"Tuan?".
"Apa lagi? cepat ganti pakaian mu".
"Maaf, aku tidak bisa kembali ke kamar. Tangan mu tolong dilepaskan".
Dannis baru tersadar akan tangannya yang masih belum melepaskan pergelangan istrinya itu.
"Tidak mau", ucap Dannis mengulum senyum.
"Ayolah tuan berhenti bercanda, kau bilang aku harus ganti baju".
"Tidak mau ya tidak mau", jawab Dannis mempererat pegangannya.
"Jadi aku harus bagaimana? apa aku harus buka baju di depanmu?", Nara mulai kesal.
"Ck.... jangan GR, kau bukan tipe ku", ucap Dannis terkekeh.
"Kau juga bukan tipe ku", jawab Nara lagi.
"Jadi kau ingin mengatakan bahwa Reno adalah tipe pria idamanmu?", tanya Dannis tajam.
"Iya....", jawab Nara polos.
"Apa?", Dannis kehabisan kata-kata.
"Kenapa kau tidak ikut dengannya tadi? bukankah dia yang kau sukai?".
"Aku tidak bisa".
"Kenapa tidak bisa? jika kau ingin kembali padanya pergi sana, pergilah", ucap Dannis kesal namun tidak merubah pegangan tangannya.
"Aku tidak bisa karena aku sudah menikah", jawab Nara dengan nada dalam.
Membuat Dannis kembali terdiam.
"Bergegaslah ganti pakaian mu, aku akan menunggu di kamarku", ucap Dannis pelan seraya melepaskan pergelangan tangan Nara.
__ADS_1
Gadis itu kembali mengangguk dan berjalan ke kamarnya.