
"Mama mengenal bibi Clara?" tanya Alea sekali lagi.
El dan Clara menoleh pada Alea secara bersamaan, kemudian mereka kembali saling menatap satu sama lain, lalu Clara menunduk malu.
"Clara" El memeluk teman lamanya itu.
Clara tidak menyangka bahwa Eliana akan berlaku seperti itu, ia merasa malu dengan pertemuan itu mengingat masa lalu mereka.
"Clara kemana saja kau selama ini?" tanya El melepas pelukan dan memegang bahu perempuan itu, Clara memberanikan diri menatap teman lamanya.
"El...."
"Mama" panggil Alea kembali karena sejak tadi ia diabaikan.
Clara menatap Alea kemudian beralih menatap Eliana, El mengangguk pelan.
"Ini Alea putri ku Clara, si kembar" jawab El tersenyum.
"Benarkah? Apa dia benar-benar putrimu?" tanya Clara memastikan pendengarannya, airmatanya mengalir begitu saja.
"Iya ini putri ku, Alea kembarannya Dannis apa kau mengenalnya? Ah tentu saja karena Alea sedang koas disini, lalu kenapa kau di rumah sakit siapa yang sakit? Sepertinya kalian saling mengenal" tanya El kembali.
Alea hanya menyimak, ia tidak menyangka bahwa ibu Naura adalah teman lama mamanya.
"Putrimu sudah banyak membantuku selama ini El, dia sama seperti mu...astaga aku begitu malu sekarang" jawab Clara menangis.
"Ayo kita duduk dulu, tenanglah Clara kita bisa bicara disana" ajak El menarik tangan Clara untuk duduk di kursi tunggu di depan meja informasi yang tidak jauh dari mereka, Alea menurut saja, putri sulung Kemal ini masih kebingungan.
"Clara ayo katakan padaku siapa yang sakit? Kenapa kau disini?"
"Mas Agung El....dia sakit stroke, ini sudah yang ke sekian kalinya El, kami benar-benar di hukum di masa tua atas apa yang telah kami lakukan padamu dulu" jawab Clara menunduk, membuat Alea mengernyit heran tentang jawaban yang baru saja keluar dari mama Naura itu.
El pun terkejut ia melirik putrinya ketika mendengar nama Agung, memang setelah Agung dan Clara mendekam di penjara Eliana memang tidak pernah lagi bertemu mereka dan juga tidak tahu kabar selanjutnya.
"Kalian menikah?" tanya El lagi.
Clara mengengguk.
"Kami memiliki seorang putri El dari kehamilan ku waktu itu, namanya Naura teman putrimu Alea saat ini, itulah alasan kenapa putrimu mengenal kami dan dia banyak membantuku selama ini"
"Dimana mas Agung sekarang di rawat? Aku boleh menjenguknya?" tanya Eliana tanpa ragu.
"El.....aku banyak salah padamu, maafkan suamiku....dia sudah cukup menerima hukuman selama ini, kami hidup dalam kekurangan El karena mas Agung kehilangan pekerjaan sejak Naura masih kecil, kami pindah ke kota sebelah namun tidak ada perubahan lalu kembali kesini lagi, orangtuanya bangkrut dan tidak memiliki apa-apa sampai mereka meninggalkan kami dengan kemiskinan, tapi aku tidak meninggalkannya El...aku mendampinginya hingga sekarang dia sakit sudah hampir satu tahun ini"
El ikut menangis mendengarnya.
"Kau ini bicara apa Clara, aku sama sekali tidak dendam pada kalian, aku sudah melupakannya....aku sedih mendengarmu seperti ini kita masih teman Clara jangan lupakan itu, aku sangat senang kita bertemu hari ini"
__ADS_1
"Terimakasih banyak El....aku senang mendengarnya, tidak heran putrimu juga sepertimu, kau pasti mendidiknya dengan baik...."
El baru menyadari sesuatu, ia melirik putrinya Alea yang hanya diam dan terheran-heran sejak tadi karena Alea memang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Clara.....ini putriku adalah menantumu juga" ucap El kian menangis.
Clara terkejut mendengarnya begitupun Alea.
"Mama?"
El mengangguk.
"Alea.....ini istri dari papa kandungnya suamimu itu artinya bibi Clara juga mertuamu sekarang, Agung nama papa kandung Abrar sayang, mertuamu yang sedang terbaring sakit sekarang....iya dia adalah ayah kandung Abrar suamimu, astaga....mama tidak tahu arti dari pertemuan kita hari ini tapi mama senang kau sudah mengenal dan berbuat baik pada mereka selama ini, kau sudah membantu mertua mu sendiri Alea" ucap El tersedu-sedu, ia tidak menyangka takdir mempertemukan putrinya dengan ayah kandung Abrar, biar seburuk apapun masalalu pria itu dia tetaplah orangtua bagi Abrar yang patut di hormati.
"Jadi maksud mama, paman Agung ayahnya Naura adalah papa mertuaku? Itu artinya Naura adalah adiknya bang Abrar?" Alea juga tidak bisa menyembunyikan tangisnya.
El mengangguk, Clara yang kian menangis hanya menunduk ia begitu malu mendengarnya, ia tidak menyangka bahwa Alea adalah istri dari Abrar anak sulung suaminya dengan Bella.
"El...." ucap Clara.
"Iya Clara Alea adalah istri Abrar putra sulung suamimu....dia menantumu Clara" balas El tak kalah haru.
Alea menyalami tangan ibu tiri dari suaminya saat ini. Alea tetap menghormati Clara sebagai mertuanya juga saat ini terlepas apapun masa lalu orangtua mereka, karena pada kenyataannya Eliana telah memberi pengertian pada Alea tentang masa lalu ayah kandung Abrar selama ini untuk tidak ikut dendam dan mempermasalahkannya.
Clara tidak menyangka akan sikap Alea yang bisa menerimanya begitu saja.
"Ayo aku ingin menjenguk besanku" ajak El tersenyum.
Clara memeluk Eliana dengan haru.
"Sudah Clara, jangan menangis lagi....apa kau tidak senang kita berbesan?" ucap El seraya bercanda.
Alea tertawa pelan mendengarnya. Clara mengangguk dan melepas pelukannya pada Eliana dan beralih menatap Alea.
"Boleh bibi memelukmu Alea?" ucap Clara sungkan.
"Tentu saja....kau mama mertuaku juga sekarang" jawab Alea sambil memeluk Clara.
El tersenyum bahagia melihatnya, putrinya benar-benar sudah dewasa sekarang.
*****
Eliana bersama Alea dan teman lamanya Clara menuju ruang rawat dimana suami Clara terbaring lemah.
El dan Alea mendekati pria paruh baya itu, membuat Naura yang sedang menjaga ayahnya terkejut akan kedatangan seorang perempuan seumuran ibunya namun tentu dengan penampilan yang berbeda tampak sekali bahwa perempuan itu seorang nyonya yang masih tampak awet muda.
Naura hanya diam, ia tidak ingin bertanya sesuatu yang membuatnya penasaran itu terlebih ada Alea juga disana, biar ibunya saja yang menjelaskan nanti.
__ADS_1
"Mas Agung.....ini aku Eliana" sapa El pada besannya itu.
Membuat pria itu menegang, lidahnya masih kelu ingin bersuara, ia hanya bisa manatap dengan matanya saja ke arah Eliana dan Alea secara bergantian. Ada suara yang keluar dari bibirnya yang terdengar pelo dan samar.
Clara mendekat dan mengusap tangan suaminya sambil menangis.
"Mas....ini Eliana datang menjengukmu" ucap Clara dengan tangisnya.
Tidak ada jawaban namun tampak raut ayah kandung Abrar itu kian menegang.
"Mas Agung, tenanglah....aku kesini ingin menjengukmu, maaf aku baru datang sekarang aku sama sekali tidak tahu keadaan kalian selama ini, aku senang bisa bertemu Clara di depan tadi" ucap Eliana tulus.
Agung tampak menarik napas dalam, tampak sudut matanya yang berair.
"Mas aku sudah ikhlas dan melupakan apa yang terjadi pada kita dimasa lalu, aku kesini juga ingin mengatakan bahwa ini Alea adalah putriku....kau mengenalnya bukan? mas Agung harus tahu pula bahwa kita sebenarnya berbesan, Alea adalah istri dari putra sulungmu Abrar....Alea adalah menantumu" ucap Eliana lagi sambil mendekatkan Alea disampingnya.
Airmata pria itu pun lolos begitu saja, ia begitu berusaha ingin bicara namun tidak bisa, kembali hanya suara pelo dan samar yang mereka tidak mengerti maksudnya, namun Eliana yakin pria itu memang sudah berubah dan menyesali perbuatannya dimasa lalu.
Clara semakin menangis, ia hanya menggenggam tangan suaminya seakan memberi kekuatan, tidak lama Alea mendekat dan meraih tangan kanan ayah kandung suaminya yang selama ini ia tidak tahu dan tidak pernah bertemu terlebih Abrar sama sekali tidak ingin membahasnya jika bersangkutan dengan ayah yang ia benci itu, Alea mencium tangan papa mertuanya.
"Papa.....ini aku Alea istri bang Abrar, aku senang bisa mengetahui ini" ucap Alea tulus.
El tersenyum dan mengusap punggung putrinya dengan sayang, Naura yang sejak tadi hanya diam dan menyimak menajamkan pendengarannya bahwa apa yang baru saja di ucapkan oleh Alea dan nyonya yang masih asing itu adalah kebenaran.
Naura mendekat, ia memberanikan diri ingin bertanya apa yang sudah ia tahan beberapa saat ini.
"Mama?" tatap Naura pada Clara seakan mencari jawaban.
"Iya Naura, ini bibi Eliana teman mama sewaktu muda, mamanya Alea....seperti yang kau dengar bahwa Alea adalah istri dari putra sulung papamu dengan istri pertamanya dulu Abrar, maksud mama dia kakakmu satu ayah yang dulu pernah mama ceritakan padamu, mama juga baru mengetahuinya hari ini bahwa Alea yang selama ini membantu kita adalah istri Abrar kakakmu" ucap Clara yang kembali menangis.
Alea mendekati Naura sambil tersenyum meraih tangan Naura yang masih tampak tercengang.
"Benar Naura....aku adalah iparmu, aku istrinya kakakmu Abrar, aku senang mengetahui ini...." ucap Alea.
Naura yang masih menangis tidak tahu apa yang harus ia katakan, sungguh takdir yang luar biasa baginya bertemu Alea yang baik hati membantunya selama ini ternyata adalah iparnya sendiri, namun ia begitu malu mengakuinya ia takut Alea terlebih kakaknya Abrar tidak bersedia menerima kehadirannya.
"Kau tidak senang mengetahui ini?" tanya Alea lagi karena tidak ada jawaban dari gadis itu.
"Tidak begitu nona Alea, sungguh aku tidak menyangka hari ini akan terjadi, aku hanya malu padamu....aku pikir aku tidak pantas untuk di akui sebagai iparmu, aku cukup tahu diri" ucap Naura menunduk.
"Hei....kau ini bicara apa? kita saudara Naura, aku senang mengetahui ini, terlepas apapun masalah orangtua kita dimasa lalu tapi kenyataannya sekarang kau adalah adik dari suamiku, tidak akan ada yang menyangkalnya....dalam tubuhmu juga mengalir darah yang sama, kalian bersaudara jangan merasa kecil hanya karena kau terlahir dari ibu yang berbeda, kalian bersaudara Naura, kau adikku juga mulai sekarang jangan panggil aku nona, panggil aku kakak" ucap Alea menatap wajah gadis itu dengan serius.
El dan Clara tersenyum, sungguh Clara mengakui bahwa Eliana memang mendidik putrinya dengan sangat baik dimana Alea bisa menerima mereka begitu saja padahal Clara saja merasa tidak pantas untuk di akui.
"Kak Alea?" jawab Naura membalas tatapan Alea dengan sendu.
"Iya seperti itu" jawab Alea tersenyum sambil meraih tubuh Naura dan memeluknya.
__ADS_1
Pemandangan itu tentu masih dalam jangkauan lelaki yang terbaring lemah itu, ia tidak tahu betapa besar rasa syukur akan hari ini dimana Eliana datang memaafkannya terlebih mengetahui bahwa perempuan yang telah berbaik hati membantu keluarganya beberapa waktu terakhir adalah menantunya sendiri, istri dari putra kandungnya bersama Bella.