
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
Seorang pria dengan rambut beruban yang masih terlihat meski tertutup sorban tengah duduk menghadap sebuah sungai kecil. Disampingnya duduklah seorang wanita yang menyandarkan kepalanya di bahu renta itu.
Keduanya dengan bahu bergetarnya,,, terlihat menangis. Hana menghampirinya.
"Bapak,,, ibu,,, Kalian sedang apa di sini? Kenapa menangis??"
"Apa salah kami kepadamu nak? Sampai kamu pun tidak membiarkan kami beristirahat dengan tenang." pria beruban itu bertanya pilu.
Hana terdiam. Menunduk.
"Ibu merasa sebagai yang lebih sering bersamamu,,, mengandungmu,, melahirkanmu,, membesarkanmu,,, tidak pernah merasa pernah mengajarimu berbuat buruk begini Han. Kenapa kamu jadi begini? Tidak kasihankah kamu pada ibu?" wanita yang semula bersandar di bahu renta itu perlahan mengangkat kepalanya.
Beliau menatap Hana dengan tatapan yang luar biasa sedih.
"Tapi bu,,, Hana sakit hati. Hana tidak terima. Hana takut hidup sendirian. Apa belum cukup semua diambil dari Hana? Bapak,,, Ibu,,,Brian suamiku,,, dan putraku juga. Bahkan calon bayiku pun diambil bu." Hana menangis tersedu sedu.
"Nak,,, Hidup dan mati itu bukan kita yang menentukan. Itu semua sudah menjadi suratan takdir. Kita hanya bisa menerima segala sesuatunya dengan ikhlas karena dibalik keikhlasan itu sendiri,,, Tuhan sudah mempersiapkan hal baik lainnya."
Hana makin tersedu mendengar petuah bijak pria yang merupakan ayahnya itu. Sudah lama rasanya ia tak bertemu dengan kedua orang tuanya. Sudah lama juga ia tak duduk manis mendengarkan segala petuah bijak dari sosok sang ayah.
Hana duduk bersimpuh di depan keduanya lalu menyandarkan kepalanya di lutut sang ayah. Menangis sejadi jadinya menumpahkan semua rasa yang ditanggungnya selama ini.
"Bapakmu benar Han. Relakan semuanya. Hilangkan dendam tak berujung karena itu akan makin membuatmu merasa sedih dan sakit. Terima kenyataan dan buka lembaran baru." ucap sang ibu sembari mengusap kepala Hana dengan lembut.
"Kamu mau jadi anak manis kebanggaan bapak lagi nak?" tanya pak Kyai.
Hana belum menjawab karena masih tersedu sedu. Entah kenapa ia merasa sangat sedih kala itu. Perasaannya campur aduk antara merasa bersalah dengan semua yang sudah dilakukannya dan merasa itu semua belum seberapa dengan luka batinnya.
"Bapak tau ini berat untukmu nak. Tapi kamu juga harus ingat,,, Tuhan tidak pernah sekalipun memberikan ujian yang berlebihan atau di luar batas kemampuan hambaNYA. Jadi kenapa harus kamu yang merasakannya?? Karena kamu kuat nak."
"Setelah ini,,, ibu minta kamu tetap tabah. Apa pun yang digariskan untukmu harus kamu terima dengan ikhlas. Ibu yakin,,, niscaya kamu akan lebih ringan menjalaninya. Ibu lelah Han,,, Ibu hanya ingin istirahat tenang bersama bapak. Apa kamu bisa mewujudkan keinginan ibu ini?" tanya sang ibu.
__ADS_1
Hana mengangkat kepalanya. Mendongak menatap kedua wajah sedih itu. Hatinya terasa nyeri melihat wajah wajah itu. Bukan wajah begitu yang ingin ia lihat.
"Pak,,, Bu,,, Hana rindu." Hana mendekap kedua tubuh itu erat.
"Jadi anak kebanggaan bapak seperti dulu lagi ya nak." meski hanya lirih namun Hana bisa mendengarnya dengan jelas.
Hana mengangguk.
Perlahan ia merasa tubuh kedua orang tua yang sangat dirindukannya itu terasa ringan lalu perlahan hilang dari dekapan.
"Bapak,,, Ibu,,, Jangan tinggalin Hana."
Hana terbangun dari tidur panjangnya akibat obat penenang yang diberikan dokter untuknya. Hana menangis saat sadar semua itu hanya mimpi. Namun semua terasa begitu nyata.
Hana melihat sekeliling. Tubuhnya terasa lemah tak berdaya. Terasa sangat berat untuk digerakkan. Ia berusaha keras namun tetap tak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Kenapa aku tidak merasakan tubuhku sendiri?" batinnya.
Lalu ia ingat kejadian sebelumnya yang terjadi padanya. Ia jatuh di tangga. Saat masih bingung akan keadaannya sendiri, matanya menangkap sosok berhijab yang masuk ke ruangan itu.
"Mbak Hana sudah sadar rupanya. Sebentar Karin panggilkan dokter ya." dengan begitu lembut Karin berbicara.
"Tunggu,,,"
Karin menoleh dan kembali mendekat.
"Ada apa mbak? Apanya yang sakit? Biar Karin bilang sama dokter." suara Karin terdengar cemas.
"Kenapa??"
"Kenapa kenapa mbak?"
"Kenapa kamu masih begitu baik padaku setelah semua yang kulakukan?" tanya Hana.
Karin tersenyum. Meraih jemari lemah Hana. Menggenggamnya dengan erat seolah memberi aliran kekuatan pada wanita itu.
__ADS_1
"Karena Karin tau mbak Hana bukan orang jahat. Mbak Hana hanya tersesat. Mbak Hana hanya tidak kuat. Tapi Karin paham kenapa mbak seperti itu. Karin sendiri mungkin juga tidak akan kuat mendapat cobaan seperti mbak Hana. Kehilangan belahan hati dan jiwa bersamaan adalah pukulan berat bagi seorang istri dan ibu. Karenanya disini Karin berada,,, untuk membuat mbak lebih kuat." Karin tersenyum.
Senyum manis dan ucapan itu terasa meneduhkan jiwa Hana. Hana bisa merasakan ketulusan wanita muda yang selama ini dibencinya tanpa alasan itu. Hana bisa merasakan dan mengakui bahwa wanita itu memang jauh lebih baik darinya.
"Maafkan aku Rin." lirihnya kemudian.
"Semua sudah Karin maafkan mbak. Tidak ada masalah apa apa diantara kita. Sebagai sesama wanita,,, Karin bisa memakluminya. Tapi Karin mohon maaf,,, meski Karin bisa memaafkan mbak, Karin tidak bisa membujuk om papa untuk tidak memperkarakan mbak. Kata om papa urusan bisnis lain dengan urusan pribadi." Karin terlihat sedih.
"Tidak apa apa. Dion memang begitu orangnya. Dia tidak suka mencampuradukkan urusan pribadi dan pekerjaan. Itu sudah sifatnya dari dulu makanya suamimu itu kaya raya." akhirnya Hana dengan penuh ikhlas menyebut Dion adalah suami Karin.
Hana merasakan sebongkah dendam tak beralasan yang membebani jiwanya menghilang seiring dengan keikhlasannya itu. Hana merasa sedikit lega meski ia tau ia tak akan bebas begitu saja dari jerat hukum.
"Tapi mbak,,,"
"Tidak apa apa. Aku memang harus bertanggung jawab atas semua perbuatanku. Aku siap walau harus dipenjara. Mungkin nanti disana aku akan punya waktu lebih untuk introspeksi diri." Hana tersenyum.
"Tapi dengan kondisi mbak Hana saat ini,,, Karin tidak tega." Kini Karin yang menitikkan airmata.
"Memangnya aku kenapa? Aku hanya masih lemas karena baru sadar. Aku akan segera pulih dan baik baik saja Rin." ucap Hana meyakinkan.
Karin menggeleng lemah. Airmatanya makin deras mengalir.
"Mbak Hana lumpuh. Tulang belakang mbak Hana mengalami kerusakan karena jatuh di tangga." Karin mengatakannya dengan perasaan sedih luar biasa.
Hana menangis mendengarnya. Hanya saja tangisnya kali ini terasa berbeda. Bukan tangis penuh rasa tidak terima melainkan tangis kesadaran bahwa karma itu benar benar ada. Kejahatan yang ia lakukan mendapat balasannya.
"Setidaknya kelak di akhirat hukumanku akan diperingan karena aku sudah mengecap hukuman di dunia." Hana menangis sekaligus tersenyum.
"Yang tabah ya mbak. Karin akan selalu mendampingi mbak Hana." Karin tidak sanggup menahan kesedihannya.
Dipeluknya tubuh Hana yang terbaring itu.
"Hamba terima takdirMU Tuhan. Dengan begini,, hamba harap kedua orang tua hamba bisa istirahat tenang di sisiMU" lirih Hana dalam dekapan Karin.
Dion yang baru masuk dan melihat semua itu menangis dalam diamnya. Ia bangga sekaligus salut pada sang istri yang begitu bersedih akan nasib buruk wanita lain yang pernah menyakitinya.
__ADS_1
"Sungguh Engkau telah begitu baik menciptakan bidadari tak bersayap ini untuk hamba ya Rabb."
...❤️❤️❤️❤️...