Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Terima Kasih Tuhan


__ADS_3

...Selamat membaca ...


...🌸🌸🌸🌸🌸...


"Gawat ini,,, Gawat,,, Jangan sampai Darren membantu Dion. Tapi gimana caranya bisa menghalanginya?? Mikir Hana mikir!! Ayo dong mikir,,,," Hana sibuk dengan pikirannya sendiri sewaktu mama Herna mengeluarkan ponsel dari tas tangannya.


"Bentar ya Dion,,, mama coba telpon Darren dulu." ucap mama Herna dibalas kedipan mata lemah Dion.


Brrruuukkk,,,,


Baru jari jari mama Herna memainkan layar ponsel mencari cari nomer kontak Darren, Hana tiba tiba terjatuh atau tepatnya menjatuhkan diri dengan gaya pingsannya. Sebenarnya ia meringis kesakitan juga karena kepalanya terbentur lantai lumayan keras. Tapi kalau gak begitu ya mana kelihatan kalau dia benar benar pingsan.


"Astaga Hanaaaa!!!" Mama Herna spontan melempar tas dan ponselnya, bergegas menolong sang wanita kesayangan.


"Hhh sial,,,, Mengganggu saja. drama apalagi yang dibuatnya kali ini?" sungut Dion yang merasa terganggu dan mau tidak mau harus menunggu mama Herna mengurus Hana dulu.


"Aduh bagaimana ini??" mama Herna panik karena tak kuat juga jika harus menolong Hana sendirian.


"Aduh maaa,,, panggil suster dooonggg,,," Hana gemas dalam hati.


Tak lama kemudian mama Herna punya ide mencari bantuan juga. Beliau setengah berlari kecil keluar ruangan itu dan menarik perawat yang tengah berjalan di koridor itu.


"Tolong menantu saya."


Tak banyak tanya perawat pun segera mengikuti langkah mama Herna. Menghampiri Hana yang masih pura pura terbaring tak sadarkan diri di lantai. Memeriksa denyut nadi dan hembusan nafas dulu lalu memanggil bantuan untuk mengangkat tubuh Hana.

__ADS_1


"Ma,,," panggil Dion saat mama Herna mau keluar ikut perawat yang membawa Hana.


"Sebentar ya Dion. Mama bantu Hana dulu takut dia kenapa kenapa." jawab mama Herna.


"Huh baguslah,,, mama jauh lebih memikirkanku daripada Dion." batin pasien pura pura itu.


Tinggallah Dion yang harus kecewa karena dinomerduakan urusannya. Sebenarnya jika saja ia tidak dalam kondisi tak berdaya begini, ia tidak akan menyalahkan mamanya yang begitu perhatian pada Hana karena terlepas ada masalah dan urusan apa antara mereka,,, membantu sesama itu adalah hal yang baik bukan?


"Tuhan,,, ampuni hambaMU ini. Ampuni suami tak berdaya yang tidak mampu melindungi anak istrinya ini. Hamba terima semua cobaanMU ini dan hamba anggap ini adalah bagian dari ujian keimanan hamba. Tapi hamba tidak akan pernah lelah memohon kepadaMU,,, di mana pun anak dan istri hamba,,, lindungilah mereka. Aamiin,,,"


Sambil menunggu mama Herna, Dion kembali larut dalam kesedihannya. Berdoa yang terbaik untuk dua insan belahan jiwanya adalah satu satunya hal yang bisa dilakukannya saat ini sambil menunggu pertolongan dari Darren.


"Dare,,, gue harap saat ini lo sedang sehat dan bisa bantu gue. Cuma lo saat ini yang bisa gue andalkan. Kuat ya bro,,," Dion juga mendoakan sahabatnya yang sakit sakitan itu.


"Ma,,," lirih Hana.


"Apa mama sudah telpon Darren??" tanya Hana tanpa mengindahkan apa pun yang dikatakan oleh mama Herna barusan.


"Belum,,, kenapa sayang?? Kamu mau mama sekalian mengabarkan keadaanmu padanya? Bagaimana pun juga dia kan sudah seperti abang kandungmu sendiri selama ini kan? Dia juga berhak tau."


Mama Herna malah merasa beruntung diingatkan harus telpon Darren. Tadinya beliau sudah lupa urusan itu karena fokus pada kondisi Hana. Segera beliau meraih ponselnya dan menelpon Darren.


"Eh ma,,, Gak usah." cegah Hana yang merasa bodoh malah mengingatkan. Tapi ia terlambat karena sudah ada yang menjawab telpon mama Herna di seberang sana.


"Halo,,,siapa ini? Levi ya?? Bisa bicara dengan ayahmu? Kok sepertinya banyak orang di sana?" tanya mama Herna yang bisa mendengar banyak suara di seberang.

__ADS_1


"Maaf tante. Ayah tidak bisa lagi berbicara dengan siapa pun. Ayah sudah berpulang ke rahmatullah tante." suara Levi, putra sulung Darren terdengar sangat berat dan sedih.


"Innalillahi,,,,kapan Levi??" tanya mama Herna turut merasakan kesedihan mereka. Pantas saja mama Herna bisa mendengar suara tangisan juga tadi. Pasti Rayya dan siapa pun yang menyayangi pria baik itu tengah merasa sangat kehilangan saat ini.


"Baru saja tante. Levi mewakili ayah,,, memohon maaf kalau selama hidupnya ayah mungkin pernah ada salah pada tante sekeluarga ya. Levi juga mohon maaf karena tidak sempat mengabari om Dion juga. Kondisi ayah tiba tiba memburuk dan kami hanya berpikir untuk segera bawa ke rumah sakit dulu. Tapi apa pun usaha kami, Tuhan jauh lebih sayang ayah. Ayah dijemput." ujar Levi masih dalam suara penuh duka.


"Yang sabar ya Levi. Tante yakin,,, ayahmu itu pasti dapat tempat terindah di sisiNYA. Jangan meminta maaf pada kami karena ayahmu tidak pernah punya kesalahan apa apa melainkan hanya punya segudang kebaikan untuk keluarga kami."


Mama Herna merasa tak tega mengabari Levi tentang papa Hengki dan Dion saat seperti ini.


"Terima kasih tante. Kalau tante dan om Dion gak sibuk, tolong luangkan waktu mengunjungi makam ayah. Kami akan segera memakamkan ayah hari ini juga. Sekali lagi mohon sampaikan permohonan maaf kami pada om Dion. Bukan kami berniat melupakannya atau tidak mengabarinya." Levi takut sahabat terbaik ayahnya itu akan kecewa karena tidak dikabari di saat saat terakhir ayahnya.


"Om Dion pasti mengerti Levi. Baiklah kalau begitu,,, uruslah dulu segala keperluan ayahmu ya. Salam tante pada Rayya,,, yang tabah ya sayang." mama Herna tak kuat menahan tangisnya kemudian menutup telpon.


Bukan hanya sedih kehilangan sahabat terbaik dari putranya yang juga sudah seperti anaknya sendiri itu,,, namun sedih juga membayangkan bagaimana reaksi Dion jika tau hal ini.


"Mampukah Dion bertahan ketika semua berita buruk datang di saat kondisinya seperti ini Han??" mama Herna tersedu juga akhirnya.


"Darren meninggal ya ma?? Abangku meninggal ma,,," hanya itu yang diucapkan Hana sambil berurai airmata.


Airmata palsu,,, karena dalam hatinya ia bahkan merasa senang karena saat ini Tuhan pun kembali berada di pihaknya. Tuhan kembali membantunya menyingkirkan segala yang bisa memungkinkan rencana besarnya gagal tanpa perlu mengotori tangannya.


Sedari tadi ia juga sudah bersorak saat mendengar mama Herna mengucap kalimat duka. Hana sudah bisa menebak siapa yang meninggal. Dan dengan meninggalnya Darren,,, Dion tak punya lagi orang orang yang bisa membantunya keluar dari jeratan Hana.


"Terima kasih Tuhan. Engkau memang baik." batin Hana tersenyum dengan mata hati yang sudah tertutup dengan ketamakan akan harta.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸...


...Sabar ya readers,,, biarkan Hana bahagia dulu,,, Cuma sementara kok 🤭...


__ADS_2