Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Jalan Sedap Malam


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


Matahari tersenyum dengan cerahnya hari ini. Sinarnya pun mampu menembus tirai tebal hotel tempat Valdy menginap. Jika tadi sempat tak dihiraukannya beberapa panggilan masuk di ponselnya,namun kali ini sinar matahari yang masuk membuatnya langsung terjaga.


"Sial aku malah kesiangan." gerutunya langsung melompat turun.


Valdy tipe orang yang sangat tidak suka jika segala jadwalnya berantakan. Ia juga tidak suka diburu buru. Ia orang yang terjadwal. Apalagi kalau jadwal dan rencananya terganggu hanya karena ia bangun kesiangan, ia tak bisa menerimanya begitu saja.


Ia mandi dengan cepat meski ia juga tak suka seperti itu namun apa mau dikata? Kalau mau semua kembali pada jadwal semula ya harus mempercepat mandinya.


Lima belas menit mandi, lima belas menit merapikan diri lalu turun ke tempat di mana pasti ibu dan adiknya sudah menunggu untuk sarapan di restoran yang juga dikelola oleh hotel ini.


"Tumben kakak membuat kita menunggu? Biasanya kakak yang manyun karena kelamaan menunggu kita." goda Celia begitu melihat kakak tampannya itu tiba dan duduk di sebelahnya.


Tidak ada sahutan atau pun respon dari Valdy. Ia langsung mengambil sesendok nasi goreng yang sudah tidak begitu hangat lagi karena pasti sudah sedari tadi makanan itu disajikan. Menyendokkannya ke mulutnya tanpa berbasa basi lagi.


"Huuhh dasar kulkas dua pintu. Dingiiin." gerutu Celia melihat ulah kakaknya itu.


"Celia,,, biarkan saja. Kayak gak tau kakakmu saja. Lebih baik cepat selesaikan sarapanmu terus kita pergi. Kamu ikut juga kan Val??" tanya Lisa.


Valdy tidak menjawab dan masih fokus dengan nasi gorengnya. Makanan itu terasa sangat enak di lidahnya dan sayang untuk dilewatkan.


"Mommy sama Celia mau shopping." tukas Lisa lagi.


Valdy masih tak menyahut. Membuat Lisa geleng geleng kepala dengan ulah putranya itu. Kadang Lisa berpikir entah siapa yang mewariskan sikap dan sifat seperti itu pada Valdy? Dirinya bukan tipe seperti itu,,, daddynya juga tidak begitu seingat Lisa.


Lisa yakin betul Valdy itu anaknya dengan suaminya, bukan seperti Celia yang sebenarnya Lisa sendiri tidak tau benih siapa sebenarnya anak itu. Apakah anak suaminya atau pria pria lain yang pernah menidurinya. Yang jelas Celia memang beda sifat dengan Valdy.


"Biarin aja mom. Kakak paling juga malah bikin gak asyik nanti kalau kita shopping. Celia gak mau ya yang seharusnya bisa belanja banyak ngabisin uang si janda malah kita jadi gak dapat apa apa."

__ADS_1


"Diam kamu!!! Jangan kasar begitu. Janda janda,,, begitu begitu dia itu juga tantemu. Ingat ya,, dia itu istri om Dion!!!"


Sekalinya bersuara, Valdy membuat baik Celia maupun Lisa tersentak. Bukan karena suara garangnya melainkan apa yang dikatakannya itu.


"Kak,,, Gak salah kakak belain janda itu???" tanya Celia tidak percaya.


"Apa??" Valdy tidak mengerti dan mengerutkan dahinya berpikir keras, mencoba mengingat kembali apa yang diucapkannya tadi.


"Kenapa memangnya kalau dia istri om Dionmu? Toh om mu itu juga sudah meninggal. Kita tidak ada urusan dengan istrinya. Sudah bagus mommy masih mau memikirkan nasib anak anaknya. Mommy masih mau berbaik hati memberinya jatah warisan. Mommy masih mau memikirkan nasib anak anaknya karenanya mommy ingin pengelolaannya di tangan mommy selama anak anak itu masih kecil. Mommy tidak percaya dengan ibunya. Janda muda itu akan dengan gampangnya menghabiskan uang Dion dengan lelaki lain." sungut Lisa.


"Kayak mommy gak kayak gitu saja!!" ketus Valdy tidak suka dengan akhir ucapan Lisa.


"Valdy!! Jaga bicaramu!!"


"Thats true. Benar adanya!!"


Valdy membanting sendoknya lalu mengusap bibirnya kasar dengan kain yang tersedia. Melempar kain itu ke meja hingga mengenai beberapa hidangan yang ada.


Lisa terperangah mendengarnya, begitu pula Celia. Mereka membulatkan mata mereka dengan sempurna. Mereka ingat betul terakhir kalinya Valdy membela seorang wanita adalah saat ia jatuh cinta pada Morena. Dulu, saat daddynya melarang hubungan mereka, Valdy menentangnya dan membela Morena habis habisan karena ia tak ingin kehilangan cintanya itu.


Valdy berlalu meninggalkan dua wanita yang kadang disayanginya tapi kadang juga sangat dibencinya. Sebutan mommy sebagai yang melahirkannya dan adik perempuan yang membuatnya mau tidak mau harus menyayangi mereka, namun sifat dan kelakuan mereka yang membuatnya selalu muak.


Merasa diri sendiri paling baik. Valdy benar benar muak. Karenanya sikapnya kepada mereka juga kadang berubah ubah. Tiba rasa sayangnya, ia bisa bermanis manis namun kalau sudah muaknya yang datang, menoleh pun rasanya tak sudi.


Lisa berpandangan dengan Celia begitu punggung Valdy makin menjauh. Keduanya sepertinya punya pemikiran yang sama.


"Jangan jangan,,," kedua hampir serempak mengatakannya.


"Oh no,,, Apa kakakmu itu gak bisa cari wanita lain saja?? Bahkan Morena meski gak setia tapi mommy lebih setuju daripada harus dengan si janda itu." sungut Lisa.


"Ih apalagi Celia,,, Ogah banget punya ipar janda genit gitu. Mom,,, kita harus berusaha keras melarang kakak biar tidak semakin dalam cintanya pada si janda." bisik Celia kemudian.

__ADS_1


"Tapi gimana caranya?? Tau sendiri kan kamu watak kakakmu itu seperti apa?? Bisa dilibas habis kita kalau mencampuri urusan pribadinya." Lisa patah semangat.


"Kalau itu salah mommy. Kenapa bisa mommy punya anak yang wataknya seperti itu???" Celia kesal membayangkan kalau sampai benar Valdy jatuh cinta pada janda muda itu.


"Jaga bicaramu!! Bagaimana pun Valdy itu anak mommy."


"Terus Celia bukan gitu???"


Lisa terdiam mendengarnya. Ia selalu tidak yakin dengan status Celia namun tak seharusnya ia bicara seperti tadi di depannya.


"Sudah sudah. Kita shopping saja. Senangkan diri kita dulu." Lisa mengalihkan pembicaraan.


"Asyiiikkk,,,Celia pokoknya mau borong borong ya mom." rayu Celia merangkul bahu Lisa.


"Iya iya. Ya ampun kamu berat banget sih. Kurangi porsi makanmu." oceh Lisa yang hanya ditanggapi dengan tawa cekikikan Celia.


Valdy memanggil sebuah taksi. Setelah duduk didalamnya ia malah melamun sampai harus ditegur oleh sopir taksinya.


"Kita mau kemana tuan? Kalau tuan diam saja mana saya tau tujuan kita."


"Ee,,, eee jalan Sedap malam." jawab Valdy cepat.


"Otw,,," sahut sopir itu langsung menjalankan kendaraan roda empat yang selalu jadi medianya mencari nafkah itu.


Sementara itu Valdy tepuk jidat sendiri kenapa ia malah memilih tujuan ke alamat itu.


"Mau apa coba aku kesana??? Sudah gila aku ini ku rasa." gerutunya.


"Kalau ngomong sendiri begitu memang malah kayak orang gila tuan." sahut sopir itu dengan nada bercandanya namun untungnya Valdy tidak marah karena perkataannya benar adanya.


Valdy malah semakin tidak tenang ketika mobil itu makin melaju membawanya ke jalan sedap malam.

__ADS_1


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2