
Alea mengerjapkan matanya ketika sebuah sinar masuk di sela gorden jendela yang sudah terbuka, Alea tersentak dan segera bangun dari baringnya, melihat ranjang yang kosong di sebelahnya kemudian matanya mengarah pada jam kecil di atas nakas sudah menunjukkan pukul 7.35 pagi.
Alea menghembus napas kasar, bagaimana ia bisa tidur pulas hingga pagi, tentu saja ia merasa bersalah tidak bisa membuat sarapan dan menyiapkan pakaian suaminya untuk ke kantor.
Tidak ingin berlama-lama disana, ia pun sudah merasa lapar maka darinya Alea bangkit dari ranjang dibalut dengan selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya menuju kamar mandi.
Setelah mandi dan berpakaian rumahan, Alea menuruni tangga hendak ke dapur namun langkahnya terhenti ketika matanya mengarah pada seorang pria yang menjadi suaminya ternyata belum ke kantor dan masih memakai pakaian santai sambil menyiapkan sarapan di sana.
Alea tersenyum dan segera berlari memeluk suaminya dari belakang, membuat Abrar ikut mengembangkan senyum pria itu berbalik badan menghadap sang istri.
"Istriku sudah bangun" ucap Abrar mengecup kening Alea dengan lembut.
Alea menatapnya dengan senyum manis nan penuh cinta.
"Kenapa tidak membangunkanku? Aku kira kau sudah ke kantor pagi-pagi....." jawab Alea membenamkan wajahnya didada Abrar dan memeluknya erat.
Abrar mengusap punggung itu dengan sayang, satu tangannya tergerak mengambil sesuatu dari atas meja yaitu setangkai bunga mawar berwarna merah ia berikan pada istri tercinta.
Alea yang semula tersenyum tiba-tiba rautnya berubah dan menatap Abrar tajam membuat lelaki itu bingung.
"Aku minta maaf soal semalam ini untukmu" ucap Abrar seraya menyerahkan bunga itu dengan senyum manisnya.
"Darimana kau dapat bunga di pagi buta ini?" tanya Alea penuh selidik.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, tentu saja ini ku petik di halaman" ucap Abrar polos.
Membuat wajah Alea kesal seketika, perempuan itu langsung mencubit gemas lengan suaminya.
"Sayang....kau kenapa?"
"Bang Abrar.....itu bunga koleksi ku, aku susah payah membujuk mama memberikannya padaku sekarang seenaknya kau main petik saja, kau menyebalkan" pekik Alea terus memukul suaminya dengan manja.
"Astaga.....aku salah lagi, apa yang telah aku lakukan" gumam Abrar sambil terus menghindari istrinya.
"Aaaa....bang Abrar, kau jahat kenapa di petik" kembali Alea merengek kesal.
__ADS_1
"Sayang, ini hanya sekedar mawar biasa kenapa jadi semarah ini? Aku akan menggantinya oke....." jawab Abrar.
"Apa kau bilang? Mawar biasa? Ini mawar terbaik dari kebun mama dan aku sudah berhasil menanamnya disini, enak saja" umpat Alea kembali kesal dan memukul lengan suaminya geram.
Melihat bibir istrinya yang terus maju karena kesal membuat Abrar tersenyum dan merasa gemas pria itu menangkap tubuh istrinya yang terus berontak memukulnya itu, Abrar mengangkatnya dengan gerakan memutar membuat Alea memeluk leher suaminya dengan erat.
"Ayolah sayang....maafkan aku" ucapnya menurunkan tubuh Alea lalu menyibakkan rambut terburai istrinya dan mencium leher Alea yang menyeruakkan harumnya sabun mandi yang melekat sempurna di tubuh kecil itu.
Membuat Alea kegelian akan bibir Abrar yang bermain disana.
"Awas jika kau memetiknya lagi" ancam Alea menatap mata suaminya dengan manja.
"Tidak....aku tidak akan berani lagi, aku menyesal"
Alea berdecak melihat wajah suaminya, ia meraih bibir Abrar menciumnya dengan gemas lagi dan lagi.
"Ayo sarapan, aku lapar....." ucap Alea.
Suaminya tersenyum dan mengangguk, mereka duduk dan sarapan bersama seperti biasa.
"Hmmm sebagai ganti mawar ini, aku mau abang ikut aku bertemu papa di rumah sakit" ucap Alea tiba-tiba setelah mereka menyelesaikan sarapan.
"Ayolah sayang, buka hatimu....jika bukan karena papa lakukan ini demi aku, kau mencintaiku bukan?"
"Kau ini bicara apa tentu saja aku mencintaimu" jawab Abrar menatap wajah istrinya penuh makna.
"Aku tidak meragukannya sayang, aku mendapat jadwal malam jadi hari ini aku free kita bisa menjenguk papa di rumah sakit, setelah itu aku akan menemanimu bekerja di kantor sampai kau bosan" rayu Alea.
Membuat Abrar menghembus napas pelan, dengan malas ia hanya bisa mengangguk.
"Oh aku sangat bahagia pagi ini, tidak masalah aku mengorbankan bunga mawarku yang baru mulai mekar karena tangan jahil ini, yang penting kau mau ikut ke rumah sakit bersama ku" peluk Alea gemas pada tubuh suaminya, semula Abrar memutar bola mata malas namun senyumnya terbit ketika melihat raut bahagia istrinya.
*****
Abrar gugup ketika Alea menautkan tangan mereka berjalan menuju ruang rawat dimana pria tua yang menjadi ayah kandungnya di rawat, ia melangkah dengan ragu sungguh ia merasa belum siap untuk menerima ini semua apalagi untuk memaafkan pria itu, Abrar hanya melakukan ini untuk istrinya tidak lebih dari itu.
Alea terus tersenyum sambil mengayunkan tangan mereka, tidak sengaja ia bertemu dokter Bayu yang berjalan berlainan arah, Alea berdecak kesal melihat raut tampan nan menyebalkan baginya itu, Alea memalingkan wajah pura-pura tidak melihat, ia merapatkan tubuh menggandeng sang suami dengan mesra melewati dokter tersebut, Abrar sama sekali tidak menyadari itu karena ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
Sampai langkah pria ini berhenti ketika Alea menunjuk salah satu kamar pasien yang menjadi tujuan mereka.
"Sayang?" tanya Alea heran karena mereka berhenti sebelum mencapai kamar papa Agung.
"Huh....aku belum bisa, maafkan aku ini masih sulit untukku....aku harap kau mengerti, aku akan menunggu disana saja" ucap Abrar tiba-tiba sambil melirik kursi tunggu yang tidak jauh dari meja para perawat yang berjaga.
Alea menatapnya sendu, ia mengakui bahwa memang tidak mudah bagi Abrar, ia menarik napas dalam lalu mengangguk ia pikir dengan Abrar mau ikut kesini saja sudah pencapaian terbesar dalam membujuk pria itu. Alea yakin lambat laun Abrar juga akan melunak dan mau membuka diri menemui ayahnya yang sedang sakit.
Abrar duduk di sebuah kursi dan mengeluarkan ponsel untuk mengurus pekerjaannya sambil menunggu sang istri.
Mama Clara dan Naura senang Alea datang membawa beberapa makanan dan cemilan pagi itu, Alea mendekati papa mertuanya yang masih terbaring lemah.
"Papa....aku datang kesini tidak sendiri, tapi bersama suamiku putramu bang Abrar" ucap Alea menitikkan airmata sambil menggenggam tangan pria tua tersebut.
Papa Agung mendengarnya, ekor matanya mengarah ke pintu seakan mencari seseorang yang baru saja menantunya sebutkan.
"Tapi maaf....dia menunggu di luar, sepertinya bang Abrar masih malu menemui papa tapi jangan kecewa aku akan terus membujuknya, papa lihat hari ini awal yang baik bukan pria keras kepala itu sudah mau datang kesini meski menunggu di luar, aku berjanji dalam waktu dekat bang Abrar akan berdiri disini menggenggam tangan papa seperti ini" ucap Alea penuh haru pada mertuanya hingga papa Agung pun ikut menitikkan airmata, sungguh pria ini sudah sangat berjuang ingin mengeluarkan sebuah suara namun tetap tidak bisa.
Clara menangis dan mendekati Alea, ia mengusap punggung perempuan itu dengan sayang.
Naura melangkah mengintip di balik pintu melihat ke arah luar dimana seorang pria duduk tengah sibuk bersama ponselnya, lama Naura menatap lekat wajah itu dari kejauhan sungguh ia tidak menyangka takdir mempertemukannya pada seorang kakak lelaki yang bahkan hanya ia bayangkan dalam mimpi selama ini, dan itu terwujud lewat sosok Alea perempuan berwajah bidadari berhati malaikat baginya, tidak apa Abrar belum bisa mengakuinya dengan tahu wajah sang kakak saja sudah sangat membuat Naura bahagia.
"Aku akan terus membujuk suamiku ma agar bisa menemui papa" ucap Alea pada mama Clara yang memeluknya.
Tidak ingin Abrar menunggu lama, Alea pun pamit pada mertuanya untuk menemani suaminya bekerja di kantor.
Mama Clara dan Naura melepas kepergian Alea sampai ke depan kamar papa Agung, Abrar menatap mereka yang tampak akrab dengan raut datarnya, Alea melambai tangan dan segera berlalu menuju suaminya berada.
"Kau sudah selesai?" tanya Abrar berdiri menyambut tangan sang istri.
"Sudah, kau tahu papa jadi lebih baik ketika mengetahui kau juga berada disini, dia bahagia putranya mau datang walau duduk di luar seperti ini" jawab Alea seraya menyindir.
"Ayo pulang, mama menghubungiku kita disuruh ke sana ada yang ingin mama bicarakan padaku dan juga Arkan" Abrar bicara sambil menautkan tangannya pada sang istri seraya berjalan arah keluar setelah melirik sekilas ke kamar pasien dimana ayahnya terbaring.
"Aku rasa mama juga akan membujuk kalian tentang hal ini" jawab Alea enteng.
"Mama juga mengetahui ini?" Abrar menjadi heran.
__ADS_1
"Tentu saja, bahkan mama sudah kesini menjenguk papa kemarin, mereka sudah saling memaafkan aku sangat bahagia mama tidak seperti kalian yang masih saja mengeraskan hati"
Abrar tidak bisa berkata-kata lagi, ia sungguh dibuat terkejut oleh istri dan mamanya sendiri akan hal ini, ia masih ingin menyangkal namun tidak bisa jika sudah melihat wajah bahagia Alea terlebih sang mama.