
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
"Subhanallah,,,Om papa,,,Ini benar om papa??" Karin masih tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.
Meski sudah selesai dengan urusan Yusuf yang pingsan dan sedari tadi melihat sendiri Dion yang mengurus segala sesuatunya termasuk urusan mama Herna yang juga harus dibawa ke rumah sakit,,,tetap saja Karin masih belum bisa percaya begitu saja melihat tubuh suami yang sudah lumpuh lama itu kini kembali tegap dan sempurna.
Secara medis ini tidak mungkin terjadi. Tapi inilah yang memang terjadi.
"Iya sayang ini om papa. Memangnya siapa lagi yang bisa sekeren ini selain om papa??" Dion bisa saja bercanda saat situasi seperti ini.
Karin gemas dan menggebuk dada Dion manja.
"Aw,,, sakit sayang." rintih Dion.
"Eh,,, maaf. Sakit ya?" Karin takut Dion sebenarnya memang masih sakit.
"Sakitlah kalau gak dicium sekarang juga." Dion mengerlingkan mata.
"Ihh,, baru sembuh sudah genit." gerutu Karin kesal yang rupanya hanya dipermainkan oleh Dion.
"Hehehe genit sama istri sendiri itu halal kok hukumnya." Dion malah makin genit dan membuka dua tangannya lebar lebar mempersilahkan sang bidadari untuk mendekapnya.
Karin tersipu malu dibuatnya. Kerinduan yang lama membuncah membuatnya hanya bisa segera mendekatkan dirinya pada Dion. Membiarkan Dion mendekap erat tubuhnya.
"Karin kangen banget sama om papa." ucap Karin lembut seraya menciumi dada bidang itu dengan lembut.
Perlakuan Karin itu mengundang reaksi si teman kecil yang juga sudah lama vakum dari dunia kenikmatan. Teman kecil itu bergerak gerak perlahan. Dion benar benar merasakan kehidupan kembali. Jiwa dan raganya yang dikiranya telah mati kini bangkit kembali.
"Sayang,,, Om papa juga kangen banget. Tapi bisa gak udahan dulu cium ciumnya?" bisik Dion.
"Kenapa memangnya? Cium suami sendiri kan halal hukumnya. Ada pahalanya lagi." ganti Karin pakai jurus jitu andalan Dion.
"Pahala sih pahala sayang,,, tapi nanti dulu ya. Dirumah saja ya. Kasihan tuh ada yang ngintip." bisik Dion.
"Siapa?? Mana ada yang ngintip?" Karin mengedarkan pandangan matanya ke sekitar mereka.
Mereka saat ini tengah berada di rumah sakit menunggu hasil pemeriksaan tim dokter pada Dion tadinya dan juga mama Herna.
__ADS_1
"Yaaah,,, gini nih kalau istri udah kelamaan didiemin. Suka lupa sama barang penting." gerutu Dion.
"Maksudnya apa om papa? Barang penting apa? Kok jadi bahas barang penting segala sih? Katanya ada yang ngintip." Karin benar benar gak paham maksud Dion.
"Yaaah kaaan beneran deh Jon,,, udah lupa tuh penggemarmu." gerutu Dion lirih tapi manja.
"Astagaaaaa,,,, Jadi yang ngintip itu??? Joni???"
Pipi Karin seketika bersemu merah saat Dion mengangguk menjawab pertanyaannya itu. Sudah lama,,, bahkan sudah sangat lama tak pernah bersua dengan sang benda pusaka.
"Yakin Joni bangun?" tanya Karin kemudian dengan wajah serius karena ia kembali merasa tak percaya dengan keajaiban ini.
Melihat Dion berdiri sempurna begitu saja membuat ia masih merasa ini semua mimpi malah sekarang ditambah dengan keperkasaan Dion yang juga kembali.
Sungguh sebaik inikah Tuhan kepada mereka? Setelah semua kepahitan yang telah mereka lalui?
"Kalau gak percaya ayo kita buktikan." tantang Dion.
"Nggak ya. Om papa harus tunggu hasil dokter dulu. Pokoknya harus ada pernyataan resmi dari tim medis dulu baru bisa tes dan buktikan ya." tolak Karin tegas.
"Om papa sudah sembuh sayang. Percaya deh,, Katanya tadi kangen." rengek Dion manja.
Seketika Joni pun melemas tak mendapat ijin masuk oleh sang pemilik pintu surga dunia.
"Dan memang sebaiknya tidur dulu ya Jon,,, karena ada hal penting yang harus kuselesaikan. Aku tidak akan tinggal diam. Ada dua orang yang harus dapat pelajaran." gumam Dion kemudian.
"Om papa punya rencana apa? Apa tidak sebaiknya jangan cari masalah lagi? Karin gak mau terjadi hal hal buruk lagi pada kita." ucap Karin cemas.
"Jangan cemas sayang. Om papa gak sendirian kok. Ada banyak pihak yang akan membantu. Kamu lupa siapa sejatinya suamimu ini?"
"Tapi om papa,,, balas dendam itu gak baik." Karin memperingatkan.
"Bukan balas dendam sayang. Hanya beri sedikit pelajaran saja. Hanya mengambil kembali apa yang jadi hak kita. Itu saja." tegas Dion.
"Tetap saja Karin khawatir. Pokoknya om papa harus pastikan dulu kondisi kesehatan om papa benar benar sudah prima baru boleh bertindak." pinta Karin.
"Siap bidadariku. Lagipula kalau tidak segera dipastikan kan kasihan juga Joni nih. Gak ketulungan nanti dia." Dion kembali genit dan mencubit kecil pipi Karin.
"Genit,,, genit genit genittt!!" gerutu Karin.
__ADS_1
"Tapi kamu cinta kan?? Hayoo ngaku,,," Dion makin nglenyit.
"Cinta banget,,, inshallah cinta lahir batin dan dunia akhirat. Aamiin,,," jawab Karin tanpa rasa malu mengakui kenyataan.
"Aamiin,,," Dion pun mengaminkannya.
Dekapan lembut suami istri yang dilanda rindu itu harus terurai saat tim dokter yang memeriksa mama Herna keluar dari ruang tindakan.
"Tuan Dion,,, bisa bicara?" dokter begitu serius.
"Ya dokter." Dion yang sudah bisa membaca mimik wajah sang dokter pun membesarkan hatinya bersiap menerima berita buruk.
"Pasien dalam kondisi kritis. Benturan keras di kepala menyebabkan ada pembekuan darah di otak. Kami sudah berusaha dan akan tetap berusaha semaksimal mungkin menolong pasien. Namun kami minta,,, anda bersabar."
Cukup jelas apa maksud dari dokter. Dion sedih sekaligus marah mengingat perlakuan Yusuf kepada mama Herna. Nyawa mama Herna jadi bergantung pada sehelai rambut tipis yang bisa kapan saja patah.
"Terima kasih dokter. Just do the best for my mom Lakukan semuanya. Jangan pedulikan biaya." ucap Dion kemudian.
"Baik tuan. Saya permisi."
Sepeninggalnya dokter, Karin mengusap punggung Dion. Berusaha meredakan kesedihan sekaligus kemarahan Dion.
"Yang sabar ya om papa. Mama pasti kuat. Mama pasti masih ingin hidup. Ada Delvara yang masih butuh belaian kasih dari neneknya." ucap Karin.
Dion mengangguk seiring dengan buliran bening yang jatuh dari kelopak matanya. Seberapa kuatnya pun seorang lelaki akan terpuruk juga kalau sudah wanita terkasih,,, apalagi yang sudah melahirkannya kini tengah berjuang antara hidup dan mati.
"Terima kasih atas doamu sayang. Maafkan mama atas semua yang sudah kamu alami." lirih Dion kemudian.
"Jangan bicara begitu. Karin tidak pernah sekalipun menyimpan amarah pada mama. Karin tau,,,mama hanya sedang tersesat."
Keduanya kembali saling mendekap mesra saat kembali harus dipanggil dokter. Tapi kali ini adalah dokter yang tadi memeriksa kondisi kesehatan Dion. Dokter itu menyampaikan hasil dari segala pemeriksaan dan tes yang dijalani Dion tadi.
"Anda kami nyatakan 100% pulih dan sehat."
"Alhamdulillah. Terima kasih Tuhan." seru Dion dan Karin yang kembali saling berdekapan mesra tak peduli dokter masih di sana merasakan kebahagiaan mereka.
Ada suka,,, Ada pula duka. Meski ada berita kurang mengenakkan tentang mama Herna tapi Tuhan masih menyiapkan berita bahagia juga.
...❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1