Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 76


__ADS_3

Nara terdiam, demi apa sungguh ia tidak menginginkan Dannis bicara seperti itu.


Kata-kata Dannis seakan menjadi sebuah jawaban menohok bahwa pria itu menegaskan untuk Nara berhenti menyukainya, berhenti berharap balasan cinta darinya.


Airmata gadis itu seakan berhenti dengan sendirinya, lama mereka hening sebelum akhirnya Dannis berjalan meninggalkan Nara menuju kamarnya yang berada di lantai dua dengan raut yang sulit dimengerti.


Nara mengerjapkan mata beberapa kali, ia menatap punggung Dannis yang menjauh.


********


Dannis membasuh wajahnya, lalu ia melihat wajahnya sendiri di cermin kamar mandi.


Lama Dannis termenung, sampai pada akhirnya ia keluar kamar mandi dan mendudukkan diri di tepi ranjang seraya ekor matanya melirik bingkai photo di atas nakas.


"Kalian benar-benar membuat ku pusing", gumam Dannis pelan, lalu pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan kedua tangan menopang kepala menghadap langit-langit kamar, Dannis kembali bermenung dengan perasaan lain di hatinya sampai ia terlelap sendiri.


Keesokan paginya, Nara mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa, namun hatinya lah yang tidak biasa.


Memasak sarapan dengan lesu, Nara seakan enggan untuk melakukan sesuatu saat ini.


Dannis belum turun, karena tentu akhir pekan telah tiba jadi pria itu tidak akan ke kantor.


Bell kembali berbunyi, Nara berjalan menuju pintu dan segera membukanya, kembali ia dibuat terkejut saat melihat siapa yang datang dipagi buta.



"Hai.....", sapa Alan dengan senyum dengan membawa seikat mawar putih yang langsung ia berikan pada gadis itu


Nara belum menjawab karena cukup bingung dengan sikap pria yang tiba-tiba memberinya seikat bunga dipagi hari seperti ini.


"Nara", panggil Alan lagi.


"Oh, tuan Alan.... kau kemari?", tanya Nara berbasa basi.


"Ini untuk mu, bunga ini khusus untuk perempuan cantik di hadapan ku ini selamat pagi Khinara", Alan memberikan bunga itu seraya membungkuk.


Nara merasa sikap Alan terlalu berlebihan pagi ini terlebih biar bagaimanapun ia adalah seorang istri di rumah itu.


Lama Nara terdiam, namun ia tetap menerima bunga tersebut dengan senyum manis.


"Terimakasih tuan Alan, bunganya cantik.... aku menyukainya", jawab Nara seraya mencium bunga itu.


Di waktu yang bersamaan tanpa mereka sadari, Dannis melihat semua adegan Alan di depan matanya sendiri, pria itu terlihat cuek saja.


"Masuklah tuan, akan ku panggil tuan Dannis jika begitu", ajak Nara dengan sopan.


"Tidak perlu, aku kemari khusus menemui mu", jawab Alan santai sambil mensejajarkan tubuhnya dengan berjalan di samping gadis itu menuju ruang tamu.


"Aku? apa maksudmu? apa aku berbuat salah padamu tuan?".


"Kau tidak pernah salah Nara, aku hanya ingin memulai hari dengan melihatmu tersenyum Nara.... seperti ini kau cantik seperti bunga itu", ucap Alan dengan suara lantang.


Nara terdiam, ia tidak menyangka bahwa sahabat Dannis itu memujinya tanpa basa basi.


"Berhenti bercanda, duduklah akan ku buatkan teh untuk mu", tawar Nara.

__ADS_1


"Aku tidak sedang bercanda, baiklah aku akan menunggu secangkir teh darimu", jawab Alan terkekeh.


Pria itu duduk dan memainkan ponselnya seraya bersiul, ia tidak terkejut saat Dannis menghampirinya.


"Dannis, kemarilah kenapa kau berdiri saja", ajak Alan tersenyum penuh arti.


"Kau serius menyukai gadis itu?".


"Ha ha ha, Dannis Dannis..... kau memang tak pandai berbasa basi rupanya, kenapa bertanya seperti itu? tentu aku menyukainya? kenapa? apa kau mulai ragu?".


"Tidak.... maksudku, jangan bermain-main kasihan dia".


"Aku tidak pernah bilang ingin bermain-main Dannis, kau lah yang bermain-main dalam pernikahan ini, jika tidak bisa melanjutkan silahkan lepaskan dia segera, aku siap menjadi suaminya setelahmu", jawab Alan mantap.


Dannis kembali terdiam.


"Aku kasihan padamu teman, kita berteman sejak SMA, aku bisa membaca sikapmu Dannis, aku tahu kau tengah cemburu sekarang".


"Tidak", jawab Dannis pelan.


"Aku tahu kau tidak akan mengakuinya, terserah padamu namun kata-kata mu tentu ingin ku lihat buktinya, malam ini malam minggu.... aku ingin kau membuat Nara datang pada dinner yang akan ku siapkan nanti".


"Jangan membuatnya menunggu lebih lama lagi dalam ketidakpastian hubungan kalian, lepaskan dia berikan padaku malam nanti", sambung Alan lagi dengan serius.


"Aku tidak ingin basa basi, aku akan melamarnya Dannis", ucap Alan menatap Dannis tajam.


"Apa?".


*******


Mama El tidak ingin menunda terlalu lama, sebab ia tidak ingin Nara keburu hamil sebelum resepsi.


Setelah lama bicara dengan mertuanya meski lewat telepon, Nara hanya mengiyakan saja semua perkataan mama El namun hatinya sungguh merasa sedih mengingat wajah Dannis yang tidak ingin menjadi mempelainya.


Tidak lama setelah itu ia mendengar bell berbunyi, Nara membukanya dan ia mengernyit heran saat melihat dua orang perempuan dan lelaki berseragam.


"Maaf ada apa ya?", tanya Nara heran.


"Maaf nona, tuan Dannis menyuruh menjemput anda untuk bersiap di butik dan salon kami", ucap perempuan itu.


"Apa?"


******


Nara menatap wajahnya di cermin, dandanan minimalis dengan pewarna bibir yang tidak terlalu mencolok, gaun indah berwarna khaki yang menambah keanggunannya.


"Kenapa dia suka berubah-ubah, tadi malam bilang untuk berhenti menyukainya, sekarang dia mengajakku dinner bahkan didandan seperti ini, apa dia menyesal semalam sudah berkata itu?", Nara bertanya sendiri, ia terus mengulum senyum menatap penampilan cantiknya di cermin.


"Nona, anda sudah siap?".


Nara mengangguk saat seorang perempuan menghampirinya.


Dadanya terus dag dig dug selama berjalan dengan cantik menuju restoran hotel diantarkan perempuan tadi.


"Dimana suamiku?", tanya Nara pada pelayan itu setelah sampai restoran.

__ADS_1


"Di sana nona", tunjuk pelayan itu.


Nara menatap punggung pria yang duduk membelakangi gadis itu, ia merasa punggung pria itu berbeda dengan punggung milik Dannis suaminya.


Tidak ingin penasaran, ia mendekat perlahan pada meja.


Nara dibuat terkejut saat berhadapan dengan siapa di sana.


"Tuan Alan?".


"Nara, kau sudah tiba, ayo duduklah", Alan berdiri memberikan seikat mawar merah menyala pada gadis itu.


Nara menatapnya penuh tanya.


"Tuan Alan, maaf apa maksudnya ini? mana suamiku?", tanya Nara seraya menerima buket bunga itu.


"Kau tidak diberi tahu Dannis tentang hal ini?".


"Apa? apa maksudmu tuan Alan?".


"Bukankah pria itu sudah melepasmu dan memberiku kesempatan untuk mengenalmu lebih jauh setelah ini, Dannis melepasmu Nara, melepasmu masuk dalam pangkuanku", jawab Alan penuh arti dengan tatapan tajam nya.


Nara tidak kuasa menahan laju airmatanya, buket bunga yang ia pegang pun perlahan terlepas jatuh ke lantai.


Luka tapi tidak berdarah, itulah kata yang tepat untuk gadis itu sekarang.


"Maaf tuan Alan, aku seorang istri.... tuan Dannis tidak bisa asal melepasku begitu saja, pernikahan itu bukan hal sederhana yang bisa diakhiri kapan saja, aku kecewa padamu asal kau tahu aku bukan wanita yang bisa diperjualbelikan, bisa diserahkan pada siapa saja".


Menarik napas dalam, "Maaf tuan Alan, aku rasa kau salah orang".


Ucapan itu menjadi penutup pertemuan mereka malam ini, gadis itu berbalik badan berjalan cepat meninggalkan Alan yang tersenyum penuh makna menatap punggung Nara yang menjauh.


Nara menangis, ia ingin menangis meraung rasanya namun entah karena terlalu sakit hingga untuk mengeluarkan suara pun ia tidak mampu.


Keluar dari restoran menuju jalan raya, ia melambai tangan pada sebuah taksi yang akan melintas, namun belum juga taksi itu melewatinya tangannya lebih dulu ditarik oleh Dannis yang entah datang dari mana.


Pria itu menarik tangan istrinya menuju mobil, membuka pintu agar Nara masuk diluar dugaan gadis itu tidak melawan, ia hanya diam namun tangisnya masih saja enggan berhenti.


Mereka dalam perjalanan pulang, Nara hanya diam seribu bahasa, hanya tangannya saja yang sejak tadi sibuk menghapus airmata.


"Maafkan aku Nara", ucap Dannis di tengah perjalanan.


Diam, gadis itu masih diam, sesekali terdengar suara tangisnya yang kian tersedu.


Sampai pada mereka tiba dan masuk rumah dalam suasana dingin dari sikap keduanya.


Nara ingin ke kamarnya, namun lengannya ditahan oleh Dannis.


"Nara.... Maafkan aku, kita bisa bicara baik-baik".


Diam, Nara masih saja enggan bersuara.


"Nara, ayolah setidaknya katakan sesuatu.... Jangan diam seperti ini".


Nara menoleh, menatap Dannis dengan terluka.

__ADS_1


"Kau tahu tuan Dannis? terkadang keheningan lebih jelas dari kata-kata".


__ADS_2