
Pernikahan sederhana di KUA yang dihadiri oleh orang tua dan adik-adik Dannis saja, menjadikan hari dimana gadis bernama lengkap Khinara Aldaniah itu menjadi seorang istri, kehidupan baru pun akan bermula.
Degup jantung yang sejak tadi berdendang pun mulai terasa ringan saat semua urusan di KUA telah selesai.
Senyum Nara hanya terbit ketika mama El dan Sheira yang menyelamatinya dengan rasa sayang, berbeda dengan adik Dannis yang lain hanya tersenyum tak kalah tipis sebab mereka juga tidak menginginkan pernikahan kakak sulungnya itu dilakukan secara tertutup.
Nara hanya bisa diam sejak tadi, ia tidak banyak bicara karena tatapan tajam Dannis terus mengarah padanya.
Gadis yang memakai gaun sederhana pemberian Sheira dengan rambut yang dijalin indah dihiasi beberapa bunga yang mempercantik penampilannya, Sheira juga mendandaninya dengan make up minimalis yang sangat pas dengan wajah cantik milik Nara.
"Oh Nara sayang, kau sudah resmi menjadi bagian dari keluarga ku, kita akan menjadi ipar yang akur setelah ini", ucap Sheira dengan nada bahagia sambil memeluk Nara.
"Aku harap juga begitu", Nara singkat.
"Hei.... kau tidak bahagia?".
"Entahlah Sheira..... aku meragukan hidupku sekarang, lihatlah kakakmu bahkan tidak berniat menoleh ku sejak tadi".
"Nara apa kau menyesal? ketahuilah aku tidak pernah menyesal telah merahasiakan semua ini, aku menyayangimu..... tenanglah kehidupan baru kalian akan dimulai, jatuh cinta setelah menikah itu sangat menyenangkan setidaknya itu yang ku dengar dari kak Alea, bahagia mu akan datang seiring waktu Nara ku sayang, aku mendukungmu sepenuhnya", jawab Sheira penuh semangat.
Mereka berpelukan sebagai tanda mengakhiri pembicaraan antara adik dan kakak ipar.
Dannis datang ke arah Nara, membuat gadis itu menciut ketika tangan besar pria yang sudah menjadi suaminya ini merangkul pundaknya.
"Baiklah.... maaf kami tidak bisa ikut ke rumah sakit, kami akan menyusul saja nanti, aku lelah ingin beristirahat", ucap Dannis pada keluarganya setelah mereka berada di parkiran.
"Oh apa kakak sudah tidak sabar.... kenapa bicara seperti itu di depan anak kecil seperti kami", ucap Syasya terkekeh geli membuat wajah Nara merah merasa malu, namun berbeda dengan dannis yang masih dengan aura dinginnya.
Eliana dan Kemal saling melempar senyum satu sama lain.
"Baiklah.... mengemudilah dengan hati-hati Dannis, kami akan ke rumah sakit sekarang, Abrar baru saja menghubungi papa bahwa Alea sebentar lagi akan masuk ruang operasi", ucap papa Kemal.
Itu pula yang menjadi alasan Alea dan Abrar tidak menghadiri pernikahan Dannis dan Nara, diluar rencana ternyata Alea telah pecah ketuban sebelum tanggal rencana operasi caesar karena posisi bayinya yang melintang yang tidak memungkinkan ia untuk melahirkan secara normal.
Nara dan Dannis mengangguk mengerti.
__ADS_1
Sheira mengerjapkan sebelah matanya menggoda Nara sebelum gadis itu masuk mobilnya yang ia juga akan pergi ke rumah sakit guna menjaga keponakan-keponakannya selagi Alea di rawat.
Nara melambaikan tangan ketika mobil mertua dan iparnya seraya menjauh.
Nara menatap Dannis canggung.
"Ayo", ajak Dannis dengan nada datar sambil pria itu masuk mobilnya.
Nara mengangguk dan segera menyusul masuk mobil.
*****
Tidak ada pembicaraan apapun selama perjalanan, baik Nara maupun Dannis. Bagaimana tidak Nara ingin bersuara namun rasa takut lebih menguasainya sekarang.
Dan benar saja ketika Dannis menghentikan mobilnya tiba-tiba.
"Ada apa? kenapa berhenti?", tanya Nara polos.
"Keluar".
"Apa?".
"Tapi tuan, kita belum sampai".
"Keluar ku bilang ya keluar", jawab Dannis dingin.
Nara kebingungan karena mereka masih separuh jalan, itupun ia tidak tahu berada di jalan mana sekarang.
"Tuan, aku akan pulang dengan apa? ayolah jangan membuat ku takut, ini sepi", rengek Nara.
"Aku tidak peduli, keluarlah.... aku akan pergi ke tempat lain, silahkan pulang sendiri".
"Tuan Dannis.... aku istrimu sekarang, mana boleh seperti ini? aku tidak tahu ini di mana, aku juga belum terbiasa pergi sendirian sejauh ini selama di kota?", ucap Nara mulai berkaca-kaca.
"Istri di atas kertas, jangan lupa itu".
__ADS_1
"Tapi tidak dengan menurunkan aku di tengah jalan seperti ini tuan, ku mohon aku tidak tahu ini di mana".
"Ingin keluar sendiri atau ingin ku paksa?", Dannis bicara dengan nada marah.
Membuat Nara yang menatap nya menjadi takut, segera ia bergerak membuka pintu mobil dan keluar dengan pelan.
Dannis tersenyum sungging dan kembali menjalankan mobilnya, namun tanpa ia sadari gaun yang dipakai Nara tersangkut bagian bawahnya ketika gadis itu menutup pintu mobil.
"Tuan, tuan baju ku.... awhhh.....", Nara tersungkur ketika Dannis tetap menjalankan mobilnya hingga gaun itu robek dam menyebabkan Nara terhempas ke aspal, beruntung hanya sikunya saja yang mendapat luka lecet.
Mata Nara merah dengan air mengalir di sana, ia menatap mobil Dannis terus menjauh.
"Kau jahat tuan Dannis".
Dannis melirik Nara yang tersungkur dari kaca spion, pria itu kembali tersenyum sungging.
"Kita lihat apa dia bisa pulang atau tidak......", gumam Dannis mengherdikkan bahunya sebelum ia menginjak pedal gas mengemudi dengan kencang meninggalkan seorang perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya beberapa saat yang lalu.
Nara berdiri dengan terseok-seok mencoba berjalan menepi dari tengah.
Ia melihat pakaiannya yang kotor terkena debu aspal dan robek bagian bawahnya.
"Lihatlah penampilan ku sudah seperti seorang pengemis, mana ada yang mau memberiku tumpangan".
Nara bicara sendiri seraya menatap penampilannya yang membuat beberapa mobil yang coba ia singgahi untuk menumpang itu tidak ingin berhenti.
"Apa ini yang namanya pengantin yang di buang di tengah jalan", Nara kesal sendiri
Sampai pada ia memutuskan untuk berjalan kaki, namun tidak berapa lama ia melangkah diluar dugaannya ada sebuah mobil yang berhenti.
"Hei nona, kenapa kau berjalan kaki di tempat sepi seperti ini?", ucap pengemudi sambil menatap penampilan Nara sampai ke ujung kaki.
Nara menoleh, lalu mereka lama saling menatap seperti sedang mengingat sesuatu.
Pria itu keluar dari mobil dan bertatapan langsung dengan gadis berpakaian kotor dan robek itu.
__ADS_1
"Tuan Alan".
"Khinara?".