Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 2


__ADS_3

"Ibu, memang nya kita mau kemana? kenapa lama sekali sampainya?", tanya Nara pada ibu tiri yang duduk di sebelah Ranti, mereka sedang berada di dalam bis menuju kota.


"Huh....kenapa kau banyak tanya dari tadi, bukankah kita akan ke kota mengunjungi pamanmu, sekaligus mengabari bahwa kau akan menikah tidak lama lagi, kau kira kota itu dekat?", jawab ibu kesal.


Nara akhirnya mengangguk saja, padahal ia merasa tidak nyaman dengan sikap ibu dan Ranti sejak pertunangan nya beberapa waktu lalu, terlihat jelas bahwa mereka tidak menyukai ternyata pria yang lama disukai oleh Ranti melamar Nara bukan Ranti.


Ranti hanya diam seribu bahasa, ia sesekali melirik Nara di hadapannya dengan raut sulit diartikan, tampak pula sesekali ia menyeringai halus sambil memalingkan muka ke arah jendela.


******


Mama El menyambut baik bahwa Dannis telah memantapkan hati ingin berumahtangga dengan gadis baik dari keluarga baik pula. Orangtua Dannis pun sudah mengadakan pertemuan keluarga membahas pernikahan anak mereka.


Siapa yang tidak bahagia ketika diajak menikah oleh seorang pria yang tampan dan kaya seperti Dannis, perasaan kian berbunga pun dirasakan oleh calon pengantin Naya, ia menjadi wanita paling beruntung dari teman-temannya.


Nesya, kakak dari Naya hanya bisa menerima dan ikut merasa bahagia atas adiknya, meski ia dulu pernah menyukai Dannis karena mereka berteman sekelas saat sekolah, namun sekarang Dannis jatuh cinta pada adiknya Naya, selain ikut bahagia tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, ia bersyukur bahwa Naya mendapatkan lelaki sebaik Dannis, cinta tidak bisa dipaksakan bukan, begitulah perasaan Nesya pada Dannis.


Dua hari sebelum hari pernikahan, dimana Dannis dan Naya baru saja selesai dengan semua urusan persiapan pernikahan yang akan digelar mewah di sebuah hotel.


Sengaja hari ini, Dannis mengajak kekasih hatinya Naya berjalan menyusuri pantai dan menghabiskan waktu berdua sebelum mereka menikah dua hari lagi.


Bergadengan tangan, dua sejoli ini begitu romantis dan tampak serasi cantik dan tampan begitulah bagi pemandangan di pantai sore itu.


"Kenapa kau terlihat sedih, kau tidak bahagia aku ajak jalan-jalan seperti ini?".


"Hmm.... justru aku terlalu bahagia Dannis, tidak terasa dua hari lagi kita akan menjadi suami istri, tapi entah kenapa hatiku merasa lain hari ini", jawab Naya menatap wajah kekasihnya sendu.


"Apa maksudmu? ayolah mungkin kau hanya gugup saja, tenanglah bukankah perempuan hanya duduk manis saja, yang seharusnya gugup itu aku, bagaimana jika aku salah menyebutkan nama ketika menikah nanti?", canda lelaki itu.


Naya langsung menepuk lengan kekasihnya, dengan wajah dibuat kesal Naya berkata "Apa? memangnya kau punya nama perempuan lain yang akan kau sebut selain namaku?".

__ADS_1


Dannis tertawa, "Tentu saja tidak sayang, Khanaya Saraswati, hanya nama itu yang ku hafal hingga sekarang bahkan sampai nanti", jawab Dannis mencolek hidung mancung Naya.


Keduanya tertawa, tetapi Naya benar-benar merasa lain, ia tidak tahu itu perasaan apa, ia menatap sendu wajah Dannis, lama ia pandangi wajah tampan yang satu tahun terakhir menjalin hubungan serius dengannya.


Naya menyandarkan kepala di lengan prianya, ketika mereka duduk menghadap sunset dengan tangan masih saling bertaut satu sama lain.


"Dannis, jika suatu saat aku tiada....apa kau akan mencintaiku seperti ini juga? atau kau akan menikah lagi dengan perempuan lain dan melupakanku?", tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul dari bibir manis Naya.


"Hei....apa yang kau bicarakan? tentu saja aku akan mencintaimu selamanya, tidak ada perempuan lain, aku janji... lagipula kita akan bahagia setelah menikah nanti hingga ujung hayat kita, kenapa bicara seperti ini?", tanya Dannis heran.


"Bagaimana jika hayatku hanya sampai minggu depan? besok atau bahkan sekarang? kita saja belum menikah, aku rasa semua pria itu sama, mereka akan cepat melupakan jika mengalami kehilangan", celetuk Naya tanpa menyadari apa yang ia ucapkan.


"Berhenti bercanda, kita akan menikah dan punya banyak anak seperti orangtuaku, bahagia itu kata yang pantas untuk kita", sela Dannis untuk mengakhiri percakapan mereka sebelum beranjak pulang.


Naya hanya tersenyum, betapa ia bahagia akan mendampingi pria baik seperti Dannis.


Ternyata pemandangan itu disaksikan oleh seorang perempuan berambut panjang nan tergerai indah oleh hembusan angin pantai, meski berpakaian sederhana namun aura kecantikannya terus terpancar dari wajahnya yang cantik dan lugu.


"Hmmm.... apa aku juga akan bahagia setelah menikah nanti? apa Reno akan memperlakukanku seperti lelaki ini pada perempuan itu?", Nara bertanya-tanya sendiri, pikirannya melayang pada sosok lelaki baik yang sudah menjadi tunangannya, Reno pria pemalu dan pendiam, namun pria ini bersungguh-sungguh mencintainya meski Nara tahu bahwa saudarinya Ranti juga menyukai pria itu.


Nara masih tersenyum sendiri melihat pemandangan indah dihadapannya, melihat sejoli yang tengah berbahagia seakan dunia hanya milik mereka, tanpa sadar lamunan Nara buyar oleh sebuah tepukan di bahunya.


"Kenapa kau tersenyum sendiri? apa kau sudah tidak waras?", suara Ranti membuat Nara kesal.


"Aku masih waras, kenapa kau menyusulku kesini? aku tidak akan hilang, meski ini pertama kalinya aku ke kota", jawab Nara kesal.


"Huh....ibu menyuruhmu cepat kembali, paman dan bibi sudah pulang, ayo mereka ingin bertemu denganmu".


"Huh.... baiklah", jawab Nara sendu.

__ADS_1


Mereka menginap di rumah paman Heru adik dari ibu tiri Nara yang tidak jauh dari pantai.


Sebelum ia beranjak mengikuti langkah kaki Ranti, sekilas ia menoleh pada sejoli tadi.


"Benar-benar membuatku iri", ucap Nara dalam hati sambil bibirnya tersenyum manis.


******


"Dannis? kau mengantuk?".


"Iya, sedikit.....", jawab Dannis sambil terus menguap.


Mereka berada di dalam mobil menuju pulang setelah kencan nonton bioskop dan makan malam terakhir mereka sebagai sepasang kekasih, sebab lusa mereka akan melewati hari sebagai sepasang suami istri.


"Ayolah....kita bisa berhenti sejenak, jangan mengemudi saat mengantuk", ajak Naya pada lelaki itu.


"Tanggung, sebentar lagi juga kita sampai", jawab Dannis yang sudah mulai hilang fokus.


"Kau terlihat mengantuk sekali, baiklah jika begitu biar aku saja yang mengemudi", bujuk Naya lagi.


Akhirnya Dannis mengalah, sebab ia benar-benar mengantuk, tidak biasanya ia mengantuk pada jam seperti ini.


Naya mengemudi cukup kencang agar cepat sampai, sambil menghidupkan musik.


"Sayang", panggil Naya.


Diam, Dannis tidak menyahut melainkan telah terlelap disamping.


"Huh.... bilang tidak mengantuk tapi sebentar saja sudah tidur, hmm.... tampannya calon suami ku, aku mencintaimu Dannis", ucap Naya tersenyum menatap wajah tidur Dannis di kursi samping kemudi.

__ADS_1


Seakan terlena akan pemandangan di sampingnya, tanpa ia sadari bahwa ia telah kehilangan fokus mengemudi hingga tidak menyadari ada sebuah mobil sedang berhenti mendadak dihadapannya.


__ADS_2