Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 36


__ADS_3

Alea sedang menunggu suaminya menjemput, ia terus melihat jam dipergelangan tangannya, langit mulai abu gelap tanda akan turun hujan, dimana angin sudah mulai bertiup kencang menerbangkan rambut perempuan cantik yang masih setia menunggu suaminya.



Dokter Bayu pun tidak melewatkan pemandangan indah di depan matanya, dimana Alea tampak melihat kesana kemari seperti sedang menunggu seseorang.


Alea terkejut mendengar suara klarkson mobil yang berhenti di hadapannya, ia segera tersenyum dan menunduk sopan ketika menyadari bahwa itu adalah dokter Bayu.


"Apa nona cantik ini butuh tumpangan?" sapa dokter Bayu dengan senyum terbaiknya.


Alea tertawa mendengarnya, kemudian ia menggeleng pelan.


"Suami saya sudah menjemput dokter terimakasih tawarannya, mungkin sebentar lagi sampai"


"Kau tidak lihat hujan akan turun Alea, tidak baik menolak orang yang ingin berbuat baik padamu"


"Terimakasih dokter, saya rasa dokter Bayu tidak perlu repot....itu mobil suami saya" tunjuk Alea pada sebuah mobil yang berhenti diseberang sana.


Bayu melihat ke arah pria yang baru keluar dari mobilnya ingin menyeberang menjemput istrinya, Bayu masih belum beranjak dari sana ekor matanya tetap mengarah pada Abrar yang mulai mendekat.


"Sayang...maaf apa kau lama menunggu?" Abrar menghampiri istrinya disana memberi kecupan kening dengan lembut.


"Tidak masalah, ayo kita pulang hujan akan turun" jawab Alea menatap suaminya dengan senyum.


Sebelum beranjak dari sana, Alea menoleh pada Bayu yang masih berada didalam mobil dihadapan mereka, Abrar mengira mobil itu hanya orang lain yang kebetulan berhenti di dekat istrinya.


"Dokter Bayu....maaf ini suami saya sudah datang, saya permisi terimakasih banyak atas tawarannya" ucap Alea seraya menunduk hormat pada dokter Bayu yang masih menatapnya dengan raut sulit diartikan.


Abrar mengernyit heran.


"Sayang ayo" ajak Alea lagi sambil menggandeng suaminya mesra.


Dokter Bayu hanya membalas dengan anggukan saja, namun matanya belum beralih dari memperhatikan gerak gerik Alea dengan suaminya hingga masuk mobil dan berlalu dari sana, tangan lelaki ini mengepal.kuat memukul stir mobilnya seperti sedang kesal.


"Alea....Alea....kau sungguh menarik perhatianku, cantik, pintar, menikah, mencintai suamimu, sungguh kau wanita istimewa" gumam Bayu pada dirinya sendiri padahal mobil Alea telah menghilang.

__ADS_1


******


Di perjalanan, Alea yang tampak lelah hanya diam dan bersandar saja di kursinya sambil menatap keluar jendela memandangi rintik hujan yang turun membasahi kaca mobilnya, langit gelap hanya lampu jalan yang tampak dalam pandangannya, entah kemana isi pikiran perempuan ini sekarang yang membuat Abrar merasa aneh Alea tidak seperti biasa hari ini istrinya lebih banyak diam tidak heboh seperti sebelumnya jika di mobil.


"Sayang....kenapa kau diam saja?"


"Tidak....aku hanya menikmati pemandangan hujan ini sekarang, tampak mencekam...."


Abrar terkekeh mendengarnya, lelaki ini menggenggam satu tangan istrinya dengan sayang, ia mengelus lembut jemari istrinya sambil terus fokus mengemudi.


"Bisa abang berhenti di toko roti depan sana? aku ingin membeli roti pada teman baru ku yang bekerja di sana, namanya Naura gadis yang pernah hampir kita tambrak waktu lewat lampu merah, apa kau mengingatnya?"


"Iya aku ingat sekarang, kau berteman? bagaimana bisa sayang?"


"Aku sering bertemu saat di rumah sakit, dia menemani ayahnya berobat karena sakit stroke, aku kasihan padanya dia mengingatkanku pada Delila, iya dia lebih tua sedikit dari Delila, dia sudah bekerja membantu orangtuanya hingga tidak berkesempatan mengenyam pendidikan lebih tinggi lagi, berbeda dengan adikku yang serba memakai barang mewah dan menikmati fasilitas atas gadis seusianya, kadang aku merasa malu sendiri bagaimana gadis itu bisa bertahan dengan ekonomi keluarga yang serba kekurangan, ayahnya tentu tidak bisa bekerja lagi, ibunya hanya bisa menjadi penjahit rumahan yang tidak seberapa"


Ucap Alea pelan membayangkan ketika ia pernah mengantarkan Naura dan ayahnya pulang setelah berobat, Alea melihat sendiri mereka hanya bisa mengontrak rumah sederhana.


"Itulah kenapa kita harus selalu bersyukur sayang...." jawab Abrar mengecup tangan istrinya.


"Iya....aku sangat bersyukur terlebih setelah menikah denganmu" Ucap Alea lagi menatap suaminya dengan cinta.


Alea mengangguk.


"Beri aku ciuman sebagai bahan bakar melangkah kesana, aku sungguh lelah hari ini aku butuh ciumanmu" ucap Alea manja sambil memajukan bibirnya arah Abrar.


Lelaki itu segera meraih wajah istrinya dengan kedua tangannya lembut, memberikan lebih dari yang Alea minta, bukan sekedar kecupan namun ciuman yang lebih dalam dan berperasaan, sungguh ia merasa gila jika sudah menyentuh bibir tipis sang istri.


Setelah lama berciuman, Abrar melepasnya pelan dan mengucap bibir Alea dari liurnya disana.


"Kau bisa masuk sekarang, beli apa yang kau suka, aku akan menunggu disini.....kita bisa lanjutkan ini di rumah nanti" jawab Abrar sambil memberikan dompetnya pada Alea.


"Jangan bicara yang macam-macam dengan bang Arkan, awas saja jika membahas soal wanita"


"Kau ini bicara apa sayang....aku akan bicara soal pekerjaan" Abrar tertawa karena setiap ia akan menghubungi Arkan istrinya selalu mengingatkan untuk tidak membahas soal wanita.

__ADS_1


"Huh....baiklah, aku akan turun tunggu aku"


Alea pun keluar dari mobilnya menuju toko roti tempat Naura bekerja.


****


Alea memilih begitu banyak roti dari etalase, hampir sekeranjang penuh ia bawa ke kasir tempat Naura bertugas, Naura terus tersenyum melihat Alea selalu membeli roti yang banyak jika perempuan itu mampir.


"Nona Alea....kau selalu memborong roti ketika mampir, bahkan kau hampir setiap hari kesini, memang kau apakan roti sebanyak ini?" tanya Naura bercanda.


"Aku bagikan pada pasien-pasienku Naura, aku senang membeli roti disini enak semua, aku juga suka memakannya...kau belum pulang?"


"Kau sungguh baik nona Alea, beruntung suami yang berhasil menikahimu, aku akan pulang jam 10 nanti"


"Iya....seharusnya suamiku sadar akan hal itu, ha ha ha, kau ini pandai memuji Naura bukankah kita harus baik sesama manusia, aku akan jahat pada wanita yang berani menggoda suami ku saja, selebihnya aku tidak masalah" jawab Alea tertawa.


"Astaga....kau sungguh posesif nona Alea" ucap Naura yang tidak bisa menahan tawanya sambil terus menghitung belanjaan teman barunya itu.


"Apa kabar ayahmu? apa lebih baik?"


"Seperti yang kau lihat tempo hari nona, papaku belum menunjukkan kemajuan yang berarti"


"Hei....kalian harus bersemangat oke, memang pasien stroke seperti itu, kita tidak boleh putus asa, titip salam pada paman dan bibi ya Naura"


"Iya pasti harus semangat, terlebih kau sering membantu kami sekarang jadi kami lebih bersemangat dari sebelumnya, ini kembaliannya" jawab Naura sambil memberikan uang kembalian.


"Ini kau bisa membeli buah untuk oleh-oleh paman dirumah" ucap Alea setelah ia mengambil uang kembalian itu dan Alea memberikan beberapa lembar uang lain yang nominalnya lebih tinggi pada Naura.


"Nona Alea, kau selalu seperti ini....aku merasa malu, aku berharap kau tidak setiap hari kemari aku seperti memanfaatkanmu saja" jawab Naura sungkan karena memang hampir setiap hari Alea memberikannya uang dengan alasan untuk membeli buah sebagai asupan gizi ayahnya.


"Hei....aku tulus Naura, kau seperti adikku....jangan sungkan dan menolak oke, aku akan pulang, jangan lupa titip salam pada paman dan bibi, kau bisa membeli susu dan buah untuk memenuhi kebutuhan ayahmu yang sakit, suamiku menunggu di mobil" pamit Alea pada Naura.


Naura hanya bisa mengangguk dan melambai tangan pada Alea yang berlalu dari sana sambil menghapus airmatanya kemudian ia menatap lembar uang yang diberikan Alea, ia baru kali ini bertemu perempuan yang mau berteman dengannya yang berbeda nasib bak langit dan bumi, namun Alea berbeda dari kebanyakan orang kaya yang biasa tidak peka dengan keadaan sekitar.


"Sayang kau sudah selesai? hampir setiap hari aku melihat roti ini dan kau membawanya ke rumah sakit, apa istriku berjualan roti disana?" tanya Abrar bercanda.

__ADS_1


"Aku memberikannya pada pasien-pasien kelas tiga, lumayan kan untuk sarapan para keluarga yang menunggunya, lagi pula aku bisa membantu untuk menghabiskan jualan Naura juga..."


Abrar mengusap kepala istrinya dengan sayang, Alea memang suka membantu bahkan sejak ia masih kecil Abrar tahu betul sifat istrinya ketika lelaki ini sering menemani Alea ketika mereka masih kecil membagikan permen dan jajanan gratis pada teman-teman di kampung sebelah yang memang banyak anak dari keluarga serba kekurangan.


__ADS_2