Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 73


__ADS_3

Abrar masih dengan frustasi mencari keberadaan istrinya, ia memutuskan untuk menunggu jika saja dokter Bayu pulang ke rumahnya.


"Bang sampai kapan kita menunggu ketidakpastian seperti ini, hari sudah mulai sore kita juga belum bisa bertemu dokter itu yang menjadi target kita, bagaimana jika bukan dokter Bayu pelakunya kita bisa menghabiskan waktu sia-sia dengan berada disini" ucap Arkan, karena memang mereka sudah menunggu di depan rumah dokter itu sejak siang tadi namun belum juga tampak tanda-tanda dokter itu kembali, nomor ponsel dokter Bayu yang di dapat dari pelayan rumahnya pun tidak bisa dihubungi.


Abrar tidak menjawab, ia sungguh kalut tidak tahu harus seperti apa lagi terlebih pikirannya dipenuhi rasa khawatir akan keadaan Alea yang tengah mengandung buah hati mereka dan Abrar juga telah mengetahui bahwa calon bayinya ada dua seperti penjelasan dari dua sahabat Alea kemarin. Pria ini hanya bisa kembali memukul stir mobil yang tidak bersalah.


Papa Kemal dan besan sekaligus sahabatnya tengah berada di rumah sakit bersama beberapa polisi yang menyelidiki dan mengamati cctv yang memperlihatkan Alea sebelum menghilang, namun hingga kini belum juga menemukan titik terang meski mencurigai dokter Bayu namun hingga sekarang belum ada bukti mengarah ke dokter tampan itu.


Abrar memutar mobilnya berniat ingin kembali menuju ke rumah sakit menyusul sang mertua disana.


Semua pusing semua panik dan khawatir keadaan Alea, namun hingga malam pun tiba tidak juga menemukan keberadaan perempuan cantik buah cinta Kemal dan Eliana itu, pun dokter Bayu hingga sekarang tidak juga menampilkan wajah tampannya tidak ada yang tahu dimana ia berada, pria ini ikut menghilang seperti di telan alam, hal tersebutlah yang membuat semua orang mencurigainya sebagai pelaku dari hilangnya Alea.


*****


Alea semakin lemas, ia masih tidak diberi makan dan minum oleh dokter Bayu yang bahkan juga tengah berada di villa itu.


Dokter Bayu masih mengurung Alea, ia hanya sesekali melihat keadaan Alea yang semakin memucat dan lemah, entah terbuat dari apa hati pria ini, ia sama sekali tidak merasa kasihan pada perempuan yang ia akui sebagai cinta terakhirnya, ia hanya berfokus pada Alea yang masih belum setuju menerima lamarannya hingga dari detik ke detik menit ke menit sampai jam pun berlalu tidak juga Alea berubah pikiran, perempuan ini lebih memilih mati disana daripada harus menjadi istri dokter gila itu.


"Aku beri kau waktu untuk mengubah keputusanmu Alea, terima aku kau akan bebas dan hidup bahagia bersamaku....jika tidak kau akan mati membusuk disini, tidak ada yang akan menemukanmu, kita akan mati bersama...tenanglah aku tidak akan meninggalkan calon istriku mati sendiri, jika aku tidak bisa memiliki mu maka pria lain pun tidak akan bisa Alea"


Alea tidak menjawab, ia hanya menatap wajah tampan nan mengerikan itu dari ranjang tempatnya terbaring semakin lemah, ia begitu lapar dan haus, perutnya sesekali merasa sakit karena terus minum air keran untuk bertahan hidup di kamar nan cantik namun mencekam tersebut.


"Pergilah dokter Bayu, aku tidak mau mati dalam keadaan melihat wajah mu" jawab Alea pelan namun masih bisa didengar oleh dokter Bayu.


"Ha ha ha kau sungguh menggemaskan Alea, kau lah penyebab aku gila seperti ini, jika saja aku pindah ke kota ini lebih cepat sebelum kau menikah dengan orang lain mungkin sekarang kita sudah hidup bahagia Alea, baiklah aku akan pulang sebentar ada sesuatu yang harus ku urus, aku akan kembali besok pagi-pagi"


Ucap dokter Bayu seraya meninggalkan Alea kembali dengan lapar dan hausnya, dua hari cukup membuat Alea tumbang tanpa diberi makan dan minum terlebih perempuan itu tengah berbadan dua.


*****


Abrar dan Arkan memilih untuk tidak pulang, mereka masih mengikuti jalan tanpa arah pasti, hanya bolak balik rumah sakit dan rumah dokter Bayu namun tidak juga menemukan apa-apa, sampai pagi pun menjelang mereka bergantian menyetir jika salah satunya butuh tidur sejenak di dalam mobil, beruntung Arkan tidak mengeluh ia pun sama khawatirnya dengan Abrar, sebab Alea sudah seperti saudaranya sendiri ia tidak bisa melihat kakaknya seperti ini dan hanya bisa berharap Alea dalam keadaan baik-baik saja.


Arkan fokus mengemudi, mereka berniat kembali ke rumah sakit untuk memantau jika saja dokter Bayu kesana dan tidak pulang ke rumahnya, berbekal photo dan nomor flat mobil dari pelayan rumah dokter Bayu sebagai pengenal mereka dalam pencarian, sebab meski Abrar pernah bertemu dua kali ketika ia pernah menjemput Alea dulu tapi pria ini tidak terlalu ingat wajah dokter tersebut.


Arkan melihat sebuah mobil berhenti di depan sebuah minimarket yang membuatnya mengernyitkan dahi.


"Bang Abrar, lihat bukankah itu mobil dengan flat sama dengan dokter Bayu"


Abrar terperanjat dari pejaman matanya ketika mendengar ucapan Arkan, rupanya belum Abrar menjawab Arkan lebih dulu berbelok ke arah minimarket dan tidak menyia-nyiakan kesempatan.

__ADS_1


"Cepat" jawab Abrar yang kemudian langsung keluar dari mobilnya meski Arkan belum memarkirkan mobil itu dengan sempurna.


Abrar melihat sekitar tidak ada orang dimobil itu, namun matanya langsung tertuju pada pria yang baru saja keluar dari minimarket dengan sekantong belanjaannya.


Tanpa basa basi Abrar menghampirinya dan memukul pria yang ia yakini adalah dokter Bayu. Menarik kerah kemejanya dengan kasar.


"Katakan dimana istriku?" tanya Abrar cepat.


Arkan dengan cepat menyusul dan memegangi kedua tangan dokter Bayu dan menguncinya ke belakang badan.


"Apa maksudmu?" elak dokter Bayu.


Namun Abrar tidak bisa menahan emosinya yang sudah meluap sejak kemarin, ia memukul wajah dan perut dokter Bayu tanpa ampun, tidak ada perlawanan namun tampak semburat senyum mengerikan tampil dari wajah tampan dokter Bayu.


"Katakan atau aku akan membunuhmu disini" desak Abrar.


Semua pegawai minimarket melihat kejadian itu bergidik ngeri namun mereka tidak berani menegur apalagi melerai mengingat itu terjadi di halaman minimarket mereka.


"Bunuh saja jika bisa....aku akan mati bersama istrimu, Alea juga akan mati" jawab dokter Bayu enteng tanpa takut.


Mendengar itu meyakinkan dua kakak beradik ini bahwa memang benar dokter Bayulah dalang dari hilangnya Alea.


"Kau gila, cepat katakan dimana istriku? katakan katakan kau pria brengsek" pukul Abrar lagi dengan frustasi.


Abrar benar-benar emosi mendengarnya, bahwa benar dokter itu menyukai istrinya hingga terobsesi memiliki Alea sampai berujung penculikan ini.


Namun tidak di duga ada sebuah mobil juga berhenti disana, seorang pria keluar dari mobilnya berniat akan ke minimarket membeli rokok, namun ia menjadi heran ketika melihat sebuah ketegangan terjadi di hadapannya terlebih dari orang yang ia kenali.


"Abrar? ada apa ini? kenapa kau memukulnya?" tanya Imran.


Abrar tidak menjawab ia masih fokus memegangi kerah kemeja dokter Bayu dengan wajah merah padam.


"Cepat katakan dimana istriku? katakan atau kau akan benar-benar mati disini" desak Abrar lagi.


Mendengar itu Imran menjadi tertarik.


"Ayolah teman, ada apa ini kenapa kau bicara seperti itu pada dokter Bayu, dan apa tadi kau menanyakan istrimu? ada apa dengan Alea kenapa kau bertanya pada dokter ini?" tanya Imran penasaran.


"Kau mengenalnya?" tanya Arkan pada Imran.

__ADS_1


Imran mengangguk "Dokter Bayu adalah tetangga di samping villa baru ku" jawab Imran seadanya.


"Pria ini menculik Alea istri kakakku, dan dia tidak mau mengakui dimana Alea berada sekarang" jawab Arkan lagi.


Lama berpikir Imran menjadi paham sekarang.


"Tunggu-tunggu.....Alea diculik pria ini?" tanya Imran lagi.


Namun belum juga Abrar dan Arkan menjawab dokter Bayu kembali terkekeh dengan wajahnya yang penuh darah.


"Kalian tidak akan menemukannya, dia calon istriku.....dia akan mati tidak lama lagi, tidak ada yang bisa memilikinya diantara kita"


Abrar kembali memukul perut dokter Bayu hingga keluar muntahan bercampur darah disana.


"Tunggu Abrar....jika yang dia maksud calon istri adalah Alea, itu artinya...." ucapan Imran menggantung teringat kata-kata Beni temannya waktu di villa kemarin bahwa dokter Bayu akan melamar kekasihnya di villa itu.


Abrar ingin memukul lagi namun di tarik oleh Imran.


"Abrar....aku tahu dimana Alea sekarang"


Kata itu mampu mengalihkan perhatian Abrar menuju Imran yang berada disampingnya.


"Katakan apa yang kau tahu Imran?" tanya Abrar cepat.


Senyum Imran terbit ketika memikirkan sesuatu.


"Dia berada di jalan x, di sebuah villa x"


Mendengar itu Abrar dan Arkan melepaskan dokter yang sudah tidak berkutik itu tanpa basa basi menuju mobil mereka bahkan tidak sempat mengucapkan terimakasih pada Imran.


Imran tersenyum penuh arti menatap mobil Abrar yang menjauh lalu beralih pada dokter Bayu.


"Sepertinya kau sudah memberikan jalan padaku dokter....aku tidak menyangka kau juga menyukai Alea sama sepertiku" tepuk Imran pada pipi dokter Bayu yang terkulai.


Imran tampak menghubungi seseorang dengan ponselnya.


"Hallo tuan Kemal, ini aku Imran......aku tahu apa yang terjadi pada putrimu sekarang?"


'...........'

__ADS_1


"Baiklah...aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku tahu dimana keberadaan Alea sekarang, aku juga sedang menunggu polisi datang menangkap si dokter yang menjadi pelakunya, kita bisa bertemu disana aku akan mengirimkan lokasi Alea berada"


Ucap Imran sebelum mengakhiri penggilannya pada Kemal papa Alea, karena memang pria ini sudah lama kenal Kemal yang juga sebagai rekan bisnisnya, ia tahu Alea adalah putri Kemal dari informasi yang ia selidiki untuk mengenal Alea lebih jauh sejak pertemuan pertamanya dengan istri Abrar tersebut.


__ADS_2