Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 92


__ADS_3

"Aku mencintaimu Nara, kau dengar baik-baik aku sungguh mencintaimu", ucap Dannis lagi dengan mantap.


Nara hampir ternganga dengan pengakuan Dannis yang tiba-tiba itu bahkan mereka baru saja bertemu.


Nara mengambil napas, seraya melepaskan diri dari tangan Dannis yang sudah tidak memaksanya.


"Apa? tuan Dannis maaf.... berilah aku waktu untuk bernapas, beri aku ruang untuk berpikir, aku merasa ingin gila sekarang, kau bilang kita masih suami istri saja membuatku bingung dan sekarang kau bilang mencintaiku", ucap Nara memegang kepalanya dengan airmata yang mulai jatuh.


Perempuan itu tampak berjalan menjauh, ia tidak peduli Dannis menatapnya kecewa.


"Nara....", panggil Dannis lagi seraya mensejajarkan jalan mereka.


Nara menangis, ia mengelap airmatanya berkali-kali, bahkan mulai tersedu.


"Sayang kenapa malah menangis?".


Nara menghentikan langkah menoleh pada Dannis dengan perasaan terluka.


"Apa? sayang? aku rasa aku yang akan gila sekarang", ucap Nara pada Dannis kemudian ia melanjutkan jalannya menuju rumahnya yang sudah di depan mata.


"Nara....", panggil Dannis lirih, ia tidak menyangka bahwa Nara bisa memberi tanggapan seperti sekarang.


"Maafkan aku tuan Dannis, aku rasa kau sedang mengerjai ku saja... tiga bulan lalu kau menutup hatimu untukku, kau bilang tidak bisa membalas perasaan ku, kau bahkan meminta untukku mundur secara sadar dari kehidupan mu dan aku melakukannya demi kebaikan kita bersama, sekarang kita bertemu yang aku mengira kita sudah benar-benar bercerai, tapi kau malah membuat pengakuan lain bahwa kita tidak berpisah dan apa tadi kau bahkan mengatakan kau mencintai ku, apa itu tidak membuatku bingung?".


"Maaf aku rasa aku butuh ruang untuk berpikir jernih, aku hanya mengira kau sedang bercanda saja, bukankah kau pandai bermain drama, kau saja bisa menutupi hubungan kita dari orangtuamu, dan bagaimana bisa aku langsung percaya begitu saja sekarang".


Ucap Nara lagi setelah mereka sampai pagar rumah yang ia rindukan itu, Nara masih menangis sambil membuka pagar, ia merasa dipermainkan sekarang jika benar Dannis hanya mengerjainya saja.


Perempuan itu meninggalkan Dannis yang berdiri mematung, pria itu mulai kebingungan ingin berkata apa sekarang, Nara benar, tidak mudah percaya begitu saja terlebih mereka baru saja bertemu.


"Nara, aku serius... aku tidak sedang bermain-main, aku aku aku", ucap Dannis terbata saat melihat mata menangis istrinya itu.


"Aku apa? tuan Dannis ayolah, ini tidak mudah ku percaya, kau tidak mencintai ku.... kau hanya mencintai nona Naya saja, sadarlah".


Dannis menarik pinggang perempuan itu menghadapnya hingga tubuh mereka menempel, memeluk dengan satu tangan dan tangannya yang lain meraih wajah Nara agar menatap wajahnya.


"Aku mencintaimu, aku mohon percaya padaku", ucap Dannis dalam.


Nara memejamkan matanya yang masih menangis saja sejak tadi enggan berhenti.


"Aku bingung, berilah aku waktu untuk berpikir, beri aku ruang untuk bernapas tuan Dannis, ini terlalu tiba-tiba bagiku mana bisa ku percaya begitu saja", jawab Nara melepaskan diri dengan pelan, lalu ia mengambil kunci rumah dalam tasnya, ia buka pintu dan masuk.


Dannis terdiam, ia tidak bergeming dari tempatnya berdiri, ia sungguh tidak mengira Nara seperti sekarang tidak langsung percaya dan menerimanya begitu saja.


"Baiklah, aku akan menunggu kau siap menerima ku lagi.... aku tidak akan memaksa kali ini, kau benar Nara, tidak mudah percaya pada pria pengecut seperti ku", ucap Dannis kecewa.


"Aku hanya butuh waktu untuk meyakini bahwa ini bukanlah sebuah mimpi, maaf aku akan menutup pintunya".


Dannis terdiam, pria itu melihat wajah cantik istrinya menghilang di balik pintu yang mulai tertutup.


*****


Hingga malam hari tiba Dannis masih setia menunggu Nara keluar menghampirinya yang hanya berada di mobil sejak sore tadi, pria itu tidak berniat kembali ke kota tanpa istrinya, iya Dannis tidak akan pulang tanpa Nara.


Berbeda dengan Nara yang mengurung diri dalam rumah besar yang telah rapi dan bersih sejak paman Harun membelinya.


Perempuan itu tampak hanya bermenung saja, ia masih sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia alami.


Berjalan ke sana kemari, Nara berada di kamarnya namun tidak melakukan apa-apa sejak tadi.

__ADS_1


"Aku tidak percaya ini, aku rasa dia sudah gila", gumam Nara yang sejak tadi tidak bisa duduk diam.


"Oh sepertinya aku yang gila sekarang, mungkin saja aku hanya berhalusinasi, ini tidak mungkin, ini seperti mimpi dia bilang mencintaiku, yang benar saja".


"Jika iya kenapa baru sekarang? lebih dari tiga bulan menikah denganku tapi tidak juga membuka hati, sekarang setelah berpisah dengan mudahnya dia mengatakan cinta, ini aneh bukan".


"Cinta dari mananya?", Nara terus saja mengoceh kesal.


Ia membuka gorden jendela kamarnya, mengintip Dannis yang masih berdiri di depan mobilnya seakan sedang menunggu, Nara menggigit bibir bawahnya kesal namun ia tidak bisa melihat Dannis kebasahan karena hujan kembali turun sejak tadi.


Menghentakkan kakinya ke lantai, Nara berjalan juga keluar rumah berniat menghampiri Dannis di sana.


"Dia sungguh menyebalkan".


Dannis tersenyum melihat Nara keluar menghampirinya.


"Sayang, aku tahu kau tidak akan setega ini padaku....", Dannis tersenyum lebar menyambut kedatangan Nara yang memakai payung.


"Berhenti memanggil ku sayang, itu terdengar aneh".


"Kenapa memangnya? itu panggilan yang tepat untuk sepasang suami istri seperti kita", jawab Dannis terkekeh.


"Terserah kau saja, kenapa kau tidak pulang? ini sudah malam kenapa kau terus berhujan-hujanan di sini? pulanglah", ucap Nara sambil memayungi Dannis dengan payung yang sama.


"Aku tidak akan pulang tanpa istriku".


"Berhenti bercanda tuan Dannis, aku lelah aku mengantuk aku ingin tidur".


"Kau tidak percaya padaku?", Dannis menangkup wajah Nara dengan serius.


"Maaf, aku belum bisa percaya pada apa yang kau ucapkan sore tadi, aku hanya takut kau hanya bermain-main saja terlebih ini mendadak dan aku sangat terkejut tuan, aku bingung", jawab Nara pelan.


Dannis berlutut di hadapan perempuan itu menatap Nara dengan serius seraya meraih kedua satu tangan Nara tanpa berbasa basi lagi.


"Aku bersumpah Nara, aku tidak sedang berbual apalagi bercanda, apa yang aku katakan sore tadi semuanya benar, kita tidak bercerai sama sekali tidak, kau istriku hanya kau saja, aku mencintaimu Nara aku mencintaimu sungguh aku tidak sedang berbohong".


"Aku mohon, percaya padaku aku tidak bisa kembali tanpamu aku tidak mau Nara, aku tidak akan pergi tanpa istriku".


"Tuan jangan seperti ini, ayo berdirilah kita bisa bicara baik-baik, maafkan aku", Nara meraih tangan Dannis untuknya berdiri.


"Jika benar aku masih istrimu apa buktinya?".


Dannis terdiam, ia tidak memiliki bukti apa-apa tentang itu.


Dannis meraih tangan Nara yang masih memakai cincin kawin mereka.


"Ini? kau masih memakai mahar dariku bukan?".


"Ini bukan bukti tuan Dannis, jangan bercanda", jawab Nara kesal.


Dannis tersenyum, ia kembali meraih wajah Nara dan mencium bibir istrinya dengan penuh cinta.


"Kenapa mencium ku lagi? kau menyebalkan, mari masuk kau bisa sakit jika basah seperti ini".


Dannis tersenyum lebar mendengarnya.


"Aku tahu kau masih mencintai ku".


"Aku tidak bilang begitu, aku hanya kasihan padamu karena kau hujan-hujanan di halaman rumahku", jawab Nara kesal namun wajahnya terasa panas karena malu.

__ADS_1


Dannis mengikuti langkah Nara memasuki rumah.


"Aku akan mengambilkan mu handuk, tapi bagaimana dengan pakaianmu aku tidak punya pakaian pria?".


"Kenapa harus repot mengganti pakaian, tidak memakai pun juga tidak masalah bukan? aku merindukanmu", goda Dannis menarik pinggang ramping Nara lagi hingga mereka menempel satu sama lain mengecup bibir perempuan itu lagi dan lagi yang membuat pipi Nara menjadi merah.


Nara meronta ingin dilepaskan, namun Dannis lebih kuat.


"Lepaskan aku, kau ku ajak masuk bukan berarti aku mau tidur denganmu tuan Dannis", jawab Nara memukul dada pria itu.


"Lalu aku akan tidur di mana? tentu saja tidur dengan mu sayang".


"Kau bisa kembali ke mobilmu, tidur di sana saja.... di sini tidak ada yang tahu kita menikah, lagi pula kau tidak bisa memberi bukti bahwa aku masih istrimu".


"Sayang ayolah, jika begitu ayo pulang malam ini juga agar kau percaya setelah melihat buku nikah yang tidak tersentuh di laci lemari ku".


"Tidak tidak, enak saja ini sudah malam.... lagi pula aku baru saja sampai di sini sore tadi, terserah kau ingin tidur di mana yang jelas bukan di rumah ini, apa kata tetangga nanti".


"Aku tidak peduli apa kata mereka, kita suami istri tentu harus tidur bersama bukan".


"Tidak bisa ya tidak bisa".


"Kau tega melihat ku tidur di mobil?".


"Bukankah kau juga tega melihatku tidur di kamar pelayan?", sindir Nara menatap Dannis tanpa takut.


Dannis terdiam, ia melepas Nara dari pelukannya.


"Iya, kau benar.... aku bahkan tidak pantas mendapatkan maaf darimu, aku banyak menyakiti mu", jawab Dannis pelan.


"Bagus jika kau sadar, sekarang keringkan dirimu tidurlah di mobil".


"Baiklah, aku akan tidur di mobil saja, biar saja tetap basah seperti ini aku tidak apa-apa", jawab Dannis dengan pelan.


Dannis menatap Nara dengan lama.


"Maafkan aku tuan, akal sehatku seakan belum menerima apa yang terjadi sekarang".


"Kau benar, aku tidak akan memaksa.... aku akan keluar sekarang, tidurlah jangan pedulikan aku", ucap Dannis ingin berbalik badan menuju pintu lagi.


Belum juga melangkah, Dannis menoleh pada tangannya yang diraih oleh perempuan itu.


"Aku mencintaimu Dannis, bisakah kau meyakinkan ku bahwa kau nyata sekarang? katakan padaku bahwa ini bukan mimpi, katakan jika kau mencintaiku secara sadar bukan sedang mengerjai ku saat ini", ucap Nara menatap Dannis serius.


Pria itu tersenyum, ia mendekat lalu mengecup punggung tangan Nara dengan cinta.


"Aku mencintaimu istriku.... Khinara Aldaniah saja, hanya kau satu-satunya cinta dalam hatiku saat ini bahkan sampai nanti, apa aku terlihat tidak nyata?".


"Benarkah kita masih suami istri?", tanya Nara lagi yang sudah ingin menangis.


Dannis mengangguk, "Kita tidak pernah berpisah, maafkan kebodohanku yang menyadari cintamu telah mengikat hati ku setelah kau pergi".


"Kita suami istri, dan akan selalu begitu", jawab Dannis lagi.


"Benarkah?", Nara mulai tersenyum malu.


"Apa kau ingin mencobanya?".


"Mencoba apa?", Nara bertanya polos.

__ADS_1


"Apa lagi yang dilakukan sepasang suami istri jika di malam hari apalagi sedang hujan seperti sekarang jika bukan melanjutkan keturunan", jawab Dannis terkekeh yang langsung menggendong perempuan itu tanpa berbasa basi lagi.


"Apa?".


__ADS_2