
...Hai,,, Selamat membaca ya π€ Maafkan typo yang bertebaran π€π...
...πΈπΈπΈ...
Hengki memaksa Herna pulang meski wanita itu menolak. Hengki ingin memberikan waktu pada Dion dan Karin membicarakan semuanya. Baik itu kondisi penyebab pingsannya Karin maupun tentang Hana.
"Mama keterlaluan." ucap Hengki begitu mereka keluar dari kamar inap Karin.
"Mama kan bicara apa adanya pa. Benar kan??" Herna bela diri.
"Meski benar tapi tetap saja cara mama menyampaikan itu salah. Karin bisa saja sakit hati. Masalah usia muda Karin dan gairahnya itu bukan sepenuhnya salah dia ma.Dion putra kita juga pegang kendali. Hal itu biar mereka berdua yang rundingkan. Jadi mama gak bisa dong meletakkan semua beban pada Karin."
Hengki terus melangkah cepat meninggalkan Herna yang hanya mengerucutkan bibir atau kadang membuat gerakan seolah olah meniru ocehan saat suaminya menceramahinya begitu.
"Emang nyatanya begitu juga." sungut Herna.
"Tapi tetap saja papa gak suka mama bawa bawa Hana segala di depan Karin. Jaga dong ma perasaan menantu kita. Papa tau seberapa sayangnya mama sama Hana dulu."
"Bukan dulu aja. Sampai sekarang pun mama masih tetap sayang anak itu." Herna menghela napas mengingat kebersamaannya bersama mantan menantunya itu.
Hana yang suka membantunya mencoba segala resep masakan baru,,Hana yang suka menemaninya belanja. Hana yang lembut. Hana yang pertama kalinya bisa membuat putranya meninggalkan semua kebiasaan buruknya dan pertama kalinya bisa serius dengan yang namanya wanita.
Yah meski akhirnya putranya juga yang membuat Hana pergi.
"Seperti apa sekarang kabar Hana,,, Sudah lama sekali dia gak pernah telpon mama. Hmmm seandainya saja anak itu belum menikah lagi,, mama masih ingin Dion rujuk dengannya." lanjut Herna.
"Papa paham. Hana memang menantu kita yang baik hanya saja Dion yang brengsekk dulu. Tapi tetap saja bukan berarti mama bisa seenaknya menyebut namanya di depan Karin ma. Tetap harus jaga perasaan Karin. Apalagi sekarang Karin tengah mengandung cucu kita. Tidak seharusnya mama menambahi beban pikirannya". Hengki terus menasehati.
__ADS_1
"Ya ya ya,,," sahut Herna sekenanya.
"Ingat ma,, Karin juga punya nilai plus. Dia bisa hamil. Itu hal utama yang sangat kita inginkan bukan??" Hengki mengingatkan sekali lagi.
"Hmmm kalau itu mama gak setuju. Hana juga bisa hamil kok sebenarnya. Dion saja yang lemah dulu." Herna sekali lagi menjawab.
Hengki mengelus dada. Heran juga kenapa istrinya ini yang biasanya juga baik dan sayang pada Karin justru saat Karin benar benar membutuhkan dukungan darinya tapi wanita itu malah seolah mengibarkan bendera perangnya.
Hengki paham seberapa sayangnya istrinya itu pada mantan menantunya dulu. Bahkan saking shocknya dengan keputusan cerai mereka,, Herna sampai harus dirawat di rumah sakit hampir dua minggu karena depresi.
Tapi tetap saja,,, seperti kata katanya tadi. Tetap harus jaga perasaan Karin juga. Sama dengan Hana yang saat ini juga sudah bahagia dengan keluarga barunya.
Hengki tidak mau membahas apa apa lagi. Cepat ia naik ke mobil dan pulang. Sepanjang perjalanan pun ia tak begitu banyak bicara. Dibiarkannya saja Herna melihat lihat foto kebersamaannya bersama Hana dulu.
Tidak dipungkiri,,, Hana dan Herna dulu begitu akrab. Chemistry yang terjalin antara mertua dan menantu sudah melebihi ibu dan anak kandungnya. Masih tercetak jelas di ingatan Hengki saat istrinya histeris mengetahui perceraian Dion dan Hana.
Hengki tidak pernah membenarkan apa yang sudah dilakukan Dion dulu terhadap Hana. Wanita mana yang sudi dan tahan untuk dimadu apalagi madunya sangat beracun.Tapi Hengki juga tidak pernah menyalahkan atau menyesali apa pun yang sudah terjadi.
Mungkin hanya segitu jodohnya,,, itu saja yang dipikirkan Hengki.
Mobil terus melaju membawa pasangan yang sudah sama sama berumur namun tetap setia satu sama lainnya.
"Pa,,, coba telpon Darren. Tanyakan kabar Hana. Anak itu pasti tau kabar Hana. Mereka sudah saling angkat saudara. Darren satu satunya keluarga yang dimiliki Hana. Ya pa ya,,, telponin Darren ya. Mintain nomer telpon Hana. Mama kangen banget deh sama Hana." rengek Herna.
"Ma,,, Sebaiknya tidak usah lagi mengorek berita tentang Hana. Biarkan anak itu bahagia dengan pilihannya. Hana mungkin senang bisa ngobrol sama mama lagi. Tapi bagaimana dengan suaminya?? Belum tentu ia bisa menerima hadirnya mama dalam hidup Hana lagi. Kita ini semua cuma bagian dari masa lalunya Hana ma. Dan biarkan begini saja. Jangan buat masalah baru."
"Belum juga coba telpon Darren papa udah panjang lebar ngomelnya." sungut Herna.
__ADS_1
"Hargai perasaan suami Hana dan perasaan menantu kita. Karin ma. Mama gak kasihan sama dia?? Bukannya mama itu sayang sama Karin?? Kenapa sih mama tiba tiba jadi toxic people begini??" Hengki benar benar tidak mengerti.
"Siapa yang bilang mama gak sayang sama Rina. Sayanglah,,, bagaimana pun dia adalah istri Dion. Menantu kita. Dan ibu dari cucu kita. Mana mungkin mama gak sayang. Tapi Karina juga kan tau kalau dia itu bukan yang pertama bagi Dion. Dia harus bisa terima kenyataan itu. Dion emang salah namanya kalau dia masih cari cari Hana lagi. Tapi kalau mama,,, tidak pernah ada salahnya."
Hengki mau jawab tapi ponselnya keburu berdering.
"Siapa telpon pa??"
"Dion. Halo,,,Dion. Gimana keadaan Karin??" Hengki langsung bicara dengan Dion.
"Baik pa. Dia lagi istirahat. Dion udah coba bicara baik baik dan beri pengertian sama dia masalah omongan mama tadi. Untungnya bidadariku itu bisa mengerti pa." suara Dion terdengar lega.
"Alhamdulillah kalau begitu. Sayangnya bidadari papa nih yang gak bisa bisa diatur.Tetap saja merasa dirinya benar." Hengki melirik istrinya yang duduk di sebelahnya.
"Apaan sih papa ini???!!!" protes Herna.
"Ma,,, Dion gak mau ya kalau mama bahas Hana lagi di depan Karin. Karin lagi hamil ma. Jangan buat dia stress. Nanti takut ganggu kehamilannya." Dion mengingatkan.
"Kenapa harus stress sih?? Itu kan kenyataan yang seharusnya dia sudah paham sebelum dia mau kamu nikahi. Kenyataan bahwa memang pernah ada Hana dan itu bagian masa lalumu yang gak boleh ditolaknya Dion." protes Herna.
"Pokoknya kalau mama terus begitu,,,Dion terpaksa tinggal di apartemen Dion saja. Dion gak mau tinggal di rumah lagi. Daripada nanti mama malah sering berulah dan membahayakan kandungan Karin."
Dion tidak main main mengancam mamanya. Dan mamanya tau persis anaknya itu serius bicara begitu.
...πΈπΈπΈπΈ...
Dukung author dengan vote,like dan komen ya πΈπΉβ€οΈ
__ADS_1