
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
Sepanjang jalan menuju pulang Dion kembali diserang gejala gejala masuk anginnya dan kantuk yang bukan main beratnya. Tapi ia tetap harus pulang untuk memastikan sesuatu yang penting.
Tidak terima rasanya kalau hanya dibahas lewat telepon saja.
Dion menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai rumah. Ia benar benar tak kuat lagi menahan diri untuk tau apa jawaban dibalik keanehannya ini.
Setibanya di rumah ia mengucap salam saat memasuki rumah tercintanya dan Karin itu. Suasana tampak sepi. Hanya Mela, asisten rumah tangga yang sempat dipecat Hana dulu yang muncul menyambutnya. Mela kembali bekerja di rumah mereka sebulan setelah Dion dan Karin kembali bersama sama.Bukan main bahagianya hati Mela saat itu mengetahui nona mudanya yang baik hati itu kembali mendapatkan hak dan kebahagiaannya.
Bukan hanya Mela melainkan Darwin juga yang kembali bekerja di sana. Kebahagiaan yang serupa juga dirasakan oleh Darwin. Ia turut berbahagia untuk Dion dan Karin. Bedanya, ia tak lagi bekerja dan tidur di sana karena ia sudah punya anak istri yang tidak berkenan untuk tinggal dalam bersama keluarga Dion.
Meski begitu, Dion tidak mempermasalahkannya. Ia tau, masing masing rumah tangga punya hak dan batasan batasan masing masing. Tinggallah Mela saja yang tinggal dalam bersama satu asisten lainnya dan seorang tukang kebun.
Kembali ke Mela yang menyambut kedatangan Dion dengan menjawab salamnya dan buru buru membantu Dion membawakan tas kerjanya.
"Kok sepi? Pada kemana orang orang? Darwin juga,,, kemana mama??" tanya Dion yang sudah tau kalau mobil tidak ada berarti Darwin mengantar mama Herna ke suatu tempat.
"Tadi keluar bersama mbak Karin tuan. Sepertinya mbak Karin buru buru minta diantar ke dokter. Coba tuan cek ponsel tuan. Mungkin mbak Karin sudah kirim pesan pada tuan sebelumnya." ucap Mela sopan.
Dion tak menjawab melainkan langsung merogoh ponsel dalam saku jasnya. Benar saja ada notif pesan dari Karin. Dion menepuk jidaknya sendiri ketika menyadari ia lupa merubah mode ponselnya dari silent ke normal. Kebiasaannya saat di kantor dan ada meeting selalu menonaktifkan nada dering ponsel dan hari ini akibat buru buru pulang dan badmood dengan gejala masuk anginnya, ia malah lupa mengaktifkan dering notif ponselnya.
"Pantas saja aku tidak dengar ia menelpon berkali kali dan kirim pesan juga." gumamnya dalam hati sembari segera membuka isi pesan Karin.
Dion membaca susunan kalimat dalam pesan Karin. Isinya memang benar sesuai kata Mela tadi. Karin merasa harus ke dokter. Sayangnya istrinya itu tidak mengatakan ia sakit apa.
"Sebaiknya aku susul sajalah daripada terjadi apa apa di sana." batin Dion.
"Aku pergi dulu." pamit Dion pada Mela sambil mengucap salam.
Mela hanya mengangguk dan menjawab salam itu walo Dion sudah main kabur saja. Dion yang sudah diberitahu alamat rumah sakitnya oleh Karin langsung tancap gas.
"Semoga istriku baik baik saja." sepanjang jalan Dion terus berdoa.
__ADS_1
Semua gejala masuk angin dan kantuknya jadi hilang karena ia lebih mencemaskan keadaan Karin saat ini. Apalagi karena sudah berusaha menelponnya selama di perjalanan tapi Karin sama sekali tak menjawab telepon.
"Pasti silent juga ponselnya." batin Dion yang paham juga kebiasaan sang istri kalau sedang ada urusan penting.
Dion menambah laju kecepatannya agar cepat sampai. Tapi tetap fokus berkendara. Ia tak ingin kembali harus mengalami kecelakaan. Bukan takut merasakan sakit dan luka lukanya melainkan takut mengalami kejadian fatal yang mengakibatkan dirinya tak berdaya lagi atau sampai harus terpisah dari anak istrinya lagi.
Trauma mendalam.
"Istri saya sakit apa dok??"
Dion main masuk saja ke ruangan dimana Karin diperiksa. Ia tau dari Darwin yang menunggu di luar.
"Astaga Dion!! Bikin kaget saja." gerutu mama Herna yang memang paling merasa kaget saat Dion tiba tiba sudah di sana saja.
"Sakit apa dok??" Dion tak mengindahkan omelan mama Herna dan kembali bertanya pada dokter.
"Karin baik baik saja om papa." Karin menenangkan dengan mengusap lembut tangannya.
"Baik baik saja kok ke dokter??" Dion tak lantas percaya.
"Apa? Ada apa??" Dion tidak sabar.
Bagaimana pun, ia lebih memilih kalau ada yang harus sakit, lebih baik ia saja yang sakit. Jangan anak istrinya. Sudah cukup selama ini mereka harus sakit dalam perpisahan mereka.
"Nyonya tidak apa apa tuan. Silahkan duduk dulu biar saya jelaskan." ucap dokter.
Dion menurut dan duduk di sebelah Karin dengan wajah penasarannya. Makin penasaran lagi ketika dokter mengulurkan tangan untuk menyalaminya.
"Selamat tuan. Istri anda positif hamil. Kandungannya sudah masuk minggu ketiga."
Dion masih kaku dan belum bereaksi membuat Karin menyenggol lengannya. Barulah Dion sadar.
"Hamil?? Kamu hamil sayang??"
Karin mengangguk dengan seulas senyum yang makin membuatnya terlihat begitu manis.
__ADS_1
"Alhamdulillah." Dion memeluknya.
Bulan pertama dan kedua kebersamaan mereka kembali sebenarnya Dion sudah pesimis bisa membuat Karin hamil lagi. Usianya yang sudah memasuki angka enam itu mau tak mau memaksanya merasa ia sudah tak produktif lagi. Meski Joni masih perkasa tapi bisa jadi hormonnya tetap menua.
Tapi rupanya di bulan ketiga ini Karin hamil. Bukan main bahagianya. Delvara benar benar akan punya adik.
"Dijaga baik baik ya tuan kondisi nyonya. Saya akan mendampingi sampai lahiran nanti.'
Mendengar itu Dion baru sadar Karin mengirim alamat sebuah rumah sakit ibu dan anak. Pantas saja si dokter mengatakan akan mendampingi. Seharusnya ia sudah bisa menebak tadi tapi berhubung panik dan cemas, ia jadi tak bisa berpikir jernih.
"Pasti dok. Saya akan menjaganya."
Setelah selesai dengan urusan dokter, mereka pun pulang. Belum sampai di parkiran, Dion kembali dilanda mual. Ia langsung meminta semua menunggu karena ia harus ke toilet.
"Om papa baik baik saja??" tanya Karin cemas melihat Dion keluar dengan wajah pucat.
"Baik baik saja sayang."
"Baik apanya? Orang pucat pasi begini." karin tak percaya begitu pula mama Herna yang langsung menempelkan punggung tangannya ke dahi Dion.
"Badannya gak panas padahal." gumam mama Herna.
"Serius gak apa apa. Jangan khawatir. Alhamdulillah ini adalah jawaban dari doa doa Dion."
"Doa apa om papa? Mana ada orang senang diberi sakit begini??" protes Karin.
"Om papa selalu meminta pada Tuhan agar kalau ada yang sakit diantara kita,, biar om papa saja. Meski sebenarnya ya gak begini juga Tuhan,,,, masak dia yang hamil hamba yang ngidam???" wajah protes Dion seketika membuat Karin dan mama Herna tertawa.
"Hahahaha,, katanya mau berbagi?? Selamat ya bapak,,, selamat merasakan hormon kehamilan." kata Karin dengan nada mengejeknya.
"Emang enak??? Tau rasa sekarang kan?? Suka kuda kudaan ya harus suka tanggung resiko juga." mama Herna menambahi dengan nada mengejeknya.
"Senang sekali kalian berdua yaaaa,,," protes Dion lalu membawa keduanya dalam pelukannya.
Sayang Delvara tak diajak serta tadi ke dokter. Jadi kebahagiaan itu belumlah lengkap.
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️...