Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 100


__ADS_3

Dannis menggendong istrinya ala bridal style keluar dari kamar mandi yang sama-sama memakai jubah handuk setelah ritual mandi bersama.


Duduk di pangkuan Dannis yang kembali berlabuh di tepi ranjang bersama senyuman yang terus mengembang sejak tadi membuat Nara melupakan sesuatu, bahwa ponselnya yang masih berada di mobil Dannis itu terdapat puluhan panggilan tak terjawab yang tentu panggilan dari paman dan bibinya.


"Apa kau tidak bosan?", tanya Nara.


Dannis menggeleng.


"Tidak jika bersama mu".


"Bukankah dulu kau bahkan terkesan menghindar dariku", sindir Nara terkekeh.


"Apa kau ingin menyindir ku terus?".


"Kau tersinggung rupanya", jawab Nara mengecup pipi suaminya dengan manja.


"Sayang, kita melupakan sesuatu..... ayo bersiap kita akan pulang ke rumah mama, mereka harus tahu tentang kita", ajak Dannis semangat.


Nara mengangguk dan tersenyum.


"Apa mereka kecewa padaku?", tanya Nara lagi.


Dannis menggeleng lagi, ia meraih kedua tangan istrinya.


"Mereka bahkan tidak memberiku ampun dalam hal ini, aku menyesal mengecewakan mereka dengan menyakitimu, maafkan aku Nara".


Nara tersenyum lalu mengecup bibir Dannis sekilas.


"Ayo ke rumah mama, kita bisa bicara serta meminta maaf atas kekacauan ini.... aku menyayangi mereka layak orangtua ku sendiri".


"Aku mencintaimu Nara".


"Aku juga benci padamu Dannis".


"Apa?".


"Maksudku benar-benar cinta", jawab Nara terkekeh.


"Huh, kau membuatku takut".


Mereka saling melempar senyum dilanjutkan dengan berpakaian kembali secara lengkap.


Dannis dan Nara menautkan tangan berjalan menuruni tangga dengan wajah segar sehabis mandi, tentu juga karena aura bahagia dari keduanya.


Keluar rumah berniat masuk mobil, tidak sengaja mata Nara mengarah pada satu rumah yang tidak jauh dari mereka, tampak Ranti dan mantan ibu tirinya sedang di marahi oleh seorang pria.


Bahkan pemandangan itu kian membuat Nara penasaran, karena sang ibu tiri baru saja mendapat tamparan di pipinya, Ranti yang sedang menangis dan keduanya tampak takut.


"Sayang", panggil Dannis yang sudah masuk mobil namun istrinya masih melamun menghadap rumah tetangganya.


Dannis tahu arah penglihatan Nara.


"Ayo masuklah, jangan pedulikan mereka", ajak Dannis lagi.


Nara masuk mobil dengan hati yang bertanya-tanya ada apa dengan kedua orang yang masih ia anggap bagian dari keluarganya itu.


"Hei berhenti melamun, mereka seperti itu setiap hari", ucap Dannis yang sudah menjalankan mobilnya pelan meninggalkan rumah.


"Sayang apa maksudmu?".


"Jangan pedulikan mereka, sepertinya mereka tidak diperlakukan baik oleh suami mantan ibu mu itu".


"Benarkah? apa mereka di pukul setiap hari? aku melihatnya dengan jelas, pria itu memukul ibu".


"Dia bukan ibumu, sudah lupakan", tangan Dannis meraih jari-jari lentik istrinya, mengecupnya berkali-kali.


Nara tersenyum dengan perlakuan manis suaminya.


"Sayang, apa kau tidak lapar?", tanya Nara ketika lama hening dengan pikirannya masih tertuju pada ibu dan Ranti, namun matanya mengarah pada jendela mobil lalu menatap suaminya penuh arti.


Dannis melambatkan laju mobilnya ketika melewati sebuah mall dan pusat perbelanjaan, ia membalas tatapan Nara.

__ADS_1


"Ingin berkencan?", ucap Dannis tahu arah mata istrinya.


"Kau pandai membaca pikiran ku, aku rasa kita bisa makan dan berkencan sebelum pulang ke rumah mama, aku lapar", jawab Nara terkekeh.


"Apapun untuk mu sayang", jawab Dannis yang sudah mengarahkan mobilnya masuk pintu parkir mall.


Berjalan dengan tautan tangan yang tidak terlepas, mereka mengarah pada sabuah restoran berniat makan siang di sana, namun siapa sangka langkah mereka terhenti saat menyadari Reno dan Naura datang dari arah yang berbeda yang tidak sengaja juga melangkah ke restoran yang sama dalam waktu yang sama.


Lama Reno menatap Nara dan Dannis secara bergantian, sungguh ia tidak menyangka bahwa penglihatannya hari ini begitu nyata tentang Nara dan Dannis yang bergandengan tangan dengan mesra.


"Reno, Naura", sapa Nara tersenyum.


"Nara, kak Dannis kalian?", ucap Naura heran saat matanya menangkap tautan tangan Nara dan kembarannya Alea itu tidak terlepas sedikitpun.


"Ck.... aku tidak percaya ini", Reno berdecak kesal menatap Nara dengan lama.


Dannis yang langsung emosi melihat Reno yang menatap istrinya dengan lama itu langsung mendorong tubuh Reno dengan kasar.


"Apa? apa kau terkejut melihat kami? kenapa kau menatap istriku seperti itu?", Dannis memukul rahang Reno tanpa basa basi.


"Dannis", bentak Nara terkejut.


"Kak Dannis apa yang kau lakukan?", teriak Naura yang segera memegang tubuh Reno agar tidak terjatuh.


"Apa kau berharap kami berpisah selamanya? kau salah, itu tidak akan terjadi, buang rasa suka mu pada istriku atau ku bunuh kau lain waktu", ucap Dannis marah yang meraih kerah kemeja Reno dengan kasar.


"Sayang", Nara menarik Dannis dari Reno.


Reno memejamkan mata mendengar kata sayang dari bibir wanita yang masih membekas di hatinya itu.


Mata pria ini merah menatap Dannis, ia sungguh ingin membalas pukulan Dannis jika tidak menyadari tempat mereka berdiri sekarang, sudah banyak pasang mata melihat pertengkaran itu Reno tidak ingin membuat pertemuan mereka menjadi pusat perhatian.


"Nara, aku rasa kita perlu bicara sebentar, maksudku empat mata", ucap Reno pada Nara.


"Tidak boleh, kau tidak boleh bicara apapun pada istriku", bantah Dannis cepat.


"Dannis ayolah, dia banyak membantu ku.... hanya sebentar oke?", Nara membujuk suaminya dengan pelan.


"Reno, jangan memancingnya marah lagi, malu ini tempat umum", tegur Naura menahan Reno agar mereka tidak saling terpancing emosi kembali.


Setelah berdebat lama, akhirnya Dannis mengalah juga ia berikan waktu untuk istrinya bicara pada Reno.


"Hanya dua menit", ucap Dannis kesal.


"Baiklah, dua menit oke", jawab Nara ingin tertawa.


"Tidak boleh jauh", ucap Dannis lagi.


"Sayang, ayolah kenapa kau kekanakkan seperti ini".


"Apa kau bilang?".


"Dua menit oke, tunggulah di sini", jawab Nara tertawa pelan melihat raut kesal suaminya.


Dannis tidak melepas pandangan dari Reno dan Nara yang tampak bicara berdua tidak jauh dari mereka.


"Seharusnya kau nikahi sahabatmu itu Naura, agar dia tidak mengganggu istriku lagi", ucap Dannis kesal pada Naura yang berada di sampingnya.


Gadis itu tertawa mendengarnya, namun wajahnya memerah ketika mendengar kata nikah dari Dannis.


"Dia tidak menyukai ku", jawab Naura terkekeh.


"Aku tidak akan memberinya ampun jika masih berharap pada istriku".


"Bukankah kak Dannis tidak menyukai Nara?", goda Naura.


"Kau tidak tahu seberapa besar penyesalanku akan hal itu Naura", jawab Dannis yang matanya tidak beralih dari Nara.


"Aku turut bahagia kalian bisa bersama, Nara perempuan yang baik, dia layak dicintai", ucap Naura lagi.


"Aku sangat mencintainya".

__ADS_1


"Apa aku tidak salah dengar".


"Aku mengatakan ini dengan sangat sadar Naura, Khinara adalah hidupku".


"Aku mendengarnya kak Dannis, aku telah mengira ini sudah lama aku tahu kakak menyukainya".


"Kau benar, aku hanya bertahan dengan kebodohan yang terus menyangkal perasaan ku selama ini, aku menyesal sungguh menyesal".


"Aku turut bahagia untuk kalian", jawab Naura tersenyum.


"Ah sial ini sudah lebih dari dua menit", ucap Dannis kesal yang berjalan ke arah istrinya.


Di sisi lain, Nara terus memberi pengertian pada Reno tentang hubungannya dengan Dannis yang kembali bersama.


"Aku harap kau tidak salah dengan keputusanmu Nara, aku mendukungmu meski aku sulit menerima ini".


"Itu yang ku harapkan Reno, hiduplah dengan baik kau akan dapat perempuan yang jauh lebih baik dariku, aku harap kau mengerti, bukankah kita sudah sepakat untuk berteman saja".


"Aku akan menyerah pada perasaanku Nara, aku bahagia jika kau bahagia. Jangan ragu untuk tinggalkan pria itu jika dia menyakitimu", ucap Reno dengan perasaan dalam, ia meraih kedua tangan Nara lalu mengecupnya tanpa permisi.


Melihat itu emosi Dannis kembali ke ubun-ubun, pria ini meraih tubuh Reno dan memukulnya lagi.


"Beraninya kau mencium tangan istriku".


"Dannis, hentikan", Nara menahan tubuh suaminya agar tidak memukul lagi.


Reno menatap Dannis dengan tajam.


"Aku tidak melawan karena Nara, bukan karena aku takut padamu", jawab Reno tajam.


"Baiklah, jika begitu kita bisa menyelesaikan ini lain waktu tidak di depan istriku, satu lawan satu", tantang Dannis tak kalah tajam.


"Terserah padamu, aku tidak takut sedikit pun", jawab Reno seraya meninggalkan mereka berjalan ke arah Naura dan menarik tangan gadis itu menjauh dari sana.


"Sayang, ayolah lupakan ini oke... ayo bukankah kita akan makan", ajak Nara membujuk Dannis.


Dannis menoleh pada Nara, ia menarik tangan istrinya dengan pelan bukan menuju restoran.


"Dannis kita mau kemana?".


"Ke toilet".


"Apa?".


Dannis tidak berkata-kata lagi selain masuk ke toilet wanita bersama istrinya yang masih heran.


Dannis mencuci kedua tangan Nara menggunakan sabun.


"Sayang apa yang kau lakukan".


"Mencuci tanganmu dari kecupan pria sialan itu", jawab Dannis kesal.


Nara tersenyum mendengarnya.


"Dia saudara mu", goda Nara.


"Saudara jauh", jawab Dannis kesal.


"Kenapa kau diam saja tadi?", tanya Dannis tajam.


Nara tertawa.


"Maafkan aku, dia melakukannya tiba-tiba".


"Dan kau diam saja", Dannis masih sangat kesal.


"Baiklah, maafkan aku", jawab Nara tersenyum.


"Maaf tuan, ini toilet wanita", tegur salah satu wanita di sana.


"Aku tidak peduli", jawab Dannis datar.

__ADS_1


__ADS_2