Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 13


__ADS_3

"Bunda mu menghubungi bibi bahwa kau sudah beberapa hari berada di kota kenapa baru mengunjungi kami anak nakal?", ucap seorang perempuan paruh baya yang memeluk tubuh seorang pria di hadapannya.


"Maafkan aku bi, aku baru sempat kemari. Bagaimana kabar kalian semua? mana Dannis aku belum sempat menemui nya menyampaikan bahwa aku ikut berduka atas kehilangan tunangannya".


"Ya kau tahu sendiri bahwa kakak mu itu masih belum bisa bangkit dari kejadian itu, bibi senang kau di sini setidaknya dia akan merasa punya teman karena kalian sama-sama gagal menikah", canda perempuan itu menepuk pipi keponakannya.


"Bibi ayolah berhenti menggodaku, gagal menikah bukan berarti gagal dalam segala hal, aku akan tinggal lama di kota karena kakek ingin aku yang mengurus restoran, selain itu aku juga akan mencari mantan tunanganku di sini".


"Oh ya, hmmm baiklah.... kau bisa bicara dengan pamanmu jika soal mantan, bibi sedikit tidak menyukai para pria yang masih belum bisa melupakan barisan para mantan", lirik wanita itu pada suaminya yang baru saja menuruni anak tangga berniat menghampiri mereka.


Pria itu hanya terkekeh sambil melempar tatapan pada sang paman yang mendekat.


"Ada apa ini kenapa menyinggung soal mantan di sini? ayolah sayang kenapa menatapku seperti itu?", pria paruh baya tersebut menatap istrinya dengan menaikkan alis.


Membuat perempuan itu hanya menghardikkan bahunya tersenyum. Reno tertawa pelan.


"Reno, kenapa baru kemari?".


"Iya maafkan aku paman Kemal, aku sibuk di restoran kakek. Bagaimana kabar paman?", peluk Reno pada pamannya.


"Paman baik, sepertinya kau yang sedang tidak baik. Paman mendengar bahwa kau gagal menikah bahkan dua kali, siapa yang berani menolakmu ha?".


"Oke baiklah, kalian bisa mengobrol tentang banyak hal di teras, ayo silahkan biar bibi siapkan makanan", ucap perempuan itu mengusap lengan Reno.


Belum juga mereka beranjak, datang seorang gadis yang berlari menuruni anak tangga.


"Kak Reno?", pekik gadis berbadan mungil itu girang.


Reno tersenyum dan menyambut tubuh mungil itu dan memeluknya gemas.


"Kenapa kau tidak tumbuh tinggi Syasya? padahal sudah beberapa bulan kakak tidak mengunjungi mu, tapi kau masih saja sebesar ini", goda Reno pada saudara perempuannya itu.


Membuat Syasya memajukan bibirnya ke depan.


"Kak Reno jahat, aku ini sudah dewasa meski badan ku mungil seperti ini, seperti nya hanya aku mewarisi tubuh mama dalam keluarga ini".


"Hei kenapa bawa-bawa mama dalam hal ini?".

__ADS_1


Mereka tertawa bersama sebelum akhirnya melanjutkan niat akan duduk di teras.


******


Hari pun berlalu terasa sangat lambat bagi Nara, namun gadis ini bersyukur bahwa hingga sekarang ia masih diberi kesehatan dan umur yang panjang dan belum menemui kesulitan hidup di kota besar seperti sekarang, terlebih Nara sudah memiliki beberapa perempuan yang mau berteman dengannya.


Gadis ini bekerja seperti biasa, ia sudah tidak memikirkan hal-hal buruk yang pernah menimpanya, ia ingin fokus pada pekerjaan dan menata masa depannya lagi yang mengharuskan gadis itu merantau jauh dari desa yang membesarkannya.


"Hallo nona Sheira? ada apa menghubungi ku pagi-pagi seperti ini?", ucap Nara berbicara pada ponsel barunya.


'.......'


"Begitukah? hmm..... baiklah, aku akan bersiap sekarang", jawab Nara pada gadis di seberang telepon.


'.......'


"Tidak tidak nona Sheira, nona tidak perlu menjemputku, aku bisa kesana sendiri", jawab Nara lagi.


'........'


Pada kenyataannya bahwa mereka sudah berteman sejak kejadian tabrak beberapa waktu lalu, Nara bersyukur sekaligus senang bisa berteman dengan gadis cantik dan kaya seperti Sheira, terlebih usia Sheira lebih tua darinya hingga Nara merasa memiliki seorang saudara perempuan yang menyayanginya.


Sheira pun merasa hal yang sama, meski awalnya kasihan pada gadis yang berjuang sendiri di kehidupan kota seperti ini, Sheira merasa bahwa Nara adalah gadis yang baik dan patut ia contoh akan kesabarannya dalam menghadapi segala hal.


Bahkan Sheira lebih nyaman bersama Nara dibanding teman-teman sepergaulannya sesama orang kaya, ia menemukan hal lain jika bersama gadis malang itu, Sheira tahu tidak mudah hidup merantau terlebih Nara seorang perempuan yang berumur masih sangat muda dan cantik.


Sheira mengajak Nara makan di restoran sebelum mengantarnya kembali pulang ke kost, mereka menghabiskan waktu libur Nara dengan menonton bioskop dan berbelanja kebutuhan Nara meski tentu saja gadis itu menolak kebaikan Sheira namun anak gadis Kemal yang tidak lama lagi akan bertunangan itu memaksa Nara untuk menerima nya.


"Nona Sheira, maaf bukan aku tidak menghargai makanan ini, tapi aku tidak bisa memakannya, seperti nya perutku menolak makanan mahal yang aneh ini", ucap Nara memberanikan diri.


"Hei....kau harus terbiasa sekarang, ayolah Nara ini hanya makanan biasa", bujuk Sheira.


"Apa tidak ada makanan kampung di restoran ini? aku sungguh tidak terbiasa nona maafkan aku", ucap Nara merasa tidak enak hati.


"Oke baiklah, setelah ini aku akan menemanimu makan di restoran makanan khas negara kita saja, sekarang kau temani aku makan dulu, aku sudah sangat lapar", ucap Sheira tersenyum menggenggam tangan Nara.


Nara mengangguk polos.

__ADS_1


"Apa aku boleh ke toilet?".


"Oh tentu saja sayang, silahkan kau bisa ikuti petunjuk itu oke?", tunjuk Sheira pada papan penanda arah toilet.


Nara mengangguk mengerti.


Sesaat setelah gadis itu menuju toilet, Sheira dikejutkan oleh seorang pria yang berdiri dihadapannya sambil tersenyum.


Sheira membesarkan matanya seketika.


"Kak Reno? kau ada di sini?", pekik Sheira langsung berdiri memeluk pria yang masih menjadi saudaranya itu.


"Mulai sekarang kakak yang membantu kakek mengurus restoran ini, kakak merindukanmu Sheira, kenapa kau tidak bilang jika akan makan di sini?".


"Aku kira kak Reno di restoran kakek yang lain, baiklah ayo makan bersamaku", ajak Sheira.


Reno melirik makanan yang ada di hadapannya dan ada piring lain selain di kursi Sheira.


"Kau bersama siapa?", tanya Reno.


"Temanku masih di toilet".


"Teman wanita apa teman pria? kau akan menikah jangan sembarang pergi bersama lelaki lain".


"Enak saja, aku bersama teman wanitaku kak Reno lebih tepatnya teman baru, ingin berkenalan? dia cantik dan baik, aku kira kak Reno akan segera move on jika bertemu dengannya, tunggulah sebentar lagi juga dia akan kembali", ucap Sheira sambil melirik jalan jika Nara telah kembali dari toilet.


Reno hanya geleng kepala dan tersenyum oleh ajakan adik sepupunya itu. Namun pria itu melihat jam dipergelangan tangannya.


"Baiklah kakak tidak bisa menolak permintaan mu, mana dia? apa benar dia cantik seperti yang kau sebutkan tadi? aku jadi penasaran pada teman barumu itu".


"Aku yakin kakak tertarik, aku saja perempuan tertarik padanya pada kebaikan dan kelembutannya sebagai seorang perempuan, mengingatkanku pada mama, iya aku rasa temanku itu mirip dengan sifat mamaku".


"Iya yang jelas tidak seperti kalian, manja semuanya tidak seperti bibi El kecuali Alea".


"Kak Alea menuruni banyak anak seperti mamaku, ha ha ha astaga... kenapa kita jadi membicarakan mereka", ucap Sheira tertawa.


Reno mengusap kepala Sheira dengan gemas.

__ADS_1


__ADS_2