Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 3


__ADS_3

"Apa maksud ibu?", tanya Nara heran.


"Kau tentu tahu maksud ibu, sejak ayahmu meninggal kita sudah tidak bisa lagi berpangku tangan, tujuan ibu membawamu ke kota adalah agar kau bekerja di sini, pernikahanmu masih tiga bulan lagi, setidaknya kau bisa menghasilkan uang untuk menambah biaya pernikahan, kau tahu sendiri menikah itu tidak murah", jawab ibu santai.


Nara mengernyitkan dahi, ia baru tahu bahwa keuangan keluarganya menurun seperti yang dikatakan ibu. Yang ia tahu selama ini keuangan mereka baik-baik saja karena ayahnya meninggalkan banyak harta dan usaha yang sedang berjalan sebelum meninggal.


"Bukankah keuangan kita baik-baik saja bu? Aku takut di sini, aku tidak punya keahlian untuk bekerja, aku ikut pulang saja bu ku mohon?", ucap Nara mulai cemas.


"Apa yang kau takutkan, paman Heru akan memberi mu pekerjaan, setelah tiga bulan kau akan ibu jemput untuk menikah, tenang saja ini kota bukan hutan Nara.... Kau tidak akan tersesat", ucap ibu lagi dengan seringai khasnya.


"Apa Ranti juga akan bekerja di sini bersamaku?".


"Oh saudariku sayang.... Aku ini sarjana, tidak sembarang pekerjaan yang akan aku terima, asal kau tahu kau akan menjadi pengasuh pengganti anak paman Heru selama pengasuh mereka cuti", sela Ranti dengan senyum manis namun terasa tajam bagi Nara yang melihatnya.


"Ibu.... Aku mohon, aku ikut pulang, aku tidak biasa di kota, tidak apa-apa aku bekerja di desa saja, aku bisa meminta Reno segera menikahiku agar aku tidak menyusahkan ibu lagi, aku mohon bu....", kembali Nara memohon pada ibu.


"Jangan buat ibu marah Nara, ikuti perintah ibu jika kau masih ingin ku anggap anak. Kau harus tinggal di sini, jangan merepotkan pamanmu", ucap ibu lagi dengan nada keras.


Nara pun tidak bisa mengelak ketika mendapat bantahan keras dari ibu, ia tidak berani melawan, ia melirik paman Heru dan istrinya yang hanya menjadi pendengar sejak tadi. Nara sedikit cemas ketika tatapan paman Heru terlihat lain saat menatapnya.


******


Satu bulan berlalu, Nara bekerja menjadi pengasuh anak dari paman Heru yang masih kecil, satu bulan pula ia tidak bisa berbagi kabar dengan tunangannya Reno, sebab paman Heru tidak memperbolehkannya.


"Paman memerlukan sesuatu?", tanya Nara cemas ketika mendapati paman Heru mengikutinya hingga ke kamar.

__ADS_1


"Paman memerlukanmu Nara", seringai paman Heru dengan senyum sinis pada sudut bibirnya.


"Apa maksud paman? ini sudah malam paman, maaf bisakah paman keluar dari kamarku?", Nara mulai berpikir negatif tentang tatapan mata elang paman Heru yang terus berjalan mendekat, terpaksa ia mundur perlahan.


"Justru itu aku kesini saat ini istriku sudah tidur, kau cantik Nara.... paman menyukaimu", ucap paman Heru tanpa basa basi.


Nara hampir tersedak liurnya sendiri karena ucapan itu, ia tidak menyangka paman Heru mengatakan hal yang diluar dugaan.


"Paman, jangan bercanda aku mohon keluarlah jangan biarkan bibi salah paham, aku ini keponakan paman.... ", ucap Nara ketakutan hingga tubuhnya sudah mencapai dinding.


Paman Heru terus maju mendekatinya, dengan berani paman Heru menyentuh pipi mulus Nara yang membuat gadis ini menangis dan kian ketakutan, ia mengelak dengan perasaan marah merasa dilecehkan namun paman Heru lebih kuat mengunci pergerakannya dengan dua tangan menempel ke dinding hingga Nara terjebak di dalamnya.


"Paman tidak akan berbasa basi Nara, kau tahu kenapa ibumu menitipkanmu disini? karena kau telah merebut Reno dari Ranti, tidak akan ada pernikahan antara kau dan Reno, melainkan kaulah yang akan ku nikahi setelah ini".


Ucapan paman Heru benar-benar seperti petir bagi Nara, gadis itu hanya bisa menangis geleng kepala tidak menyangka bahwa ibu dan Ranti tega melakukan ini padanya.


"Aku sudah sabar selama sebulan Nara agar kau tidak curiga, tapi malam ini kau begitu cantik hingga aku benar-benar sudah tidak tahan ingin memilikimu", paman Heru menyeringai ingin menyentuh bibir Nara, namun segera gadis ini tepis dengan sekuat tenaga ingin lari dari pelukan paman Heru.


Namun bagi lelaki yang baru berumur 40 tahun itu justru semakin membuatnya bergairah oleh sikap Nara yang menolaknya.


"Kau tidak bisa lari sayang, malam ini milik kita", kembali paman Heru mendapatkan tangan Nara yang ingin lari dari nya.


Nara menampar keras dengan wajahnya memerah merasa benar-benar marah akan perlakuan paman Heru, namun belum juga paman Heru menjawab tiba-tiba istrinya sudah muncul diantara mereka.


Plak plak, bunyi tamparan keras seorang istri pada gadis polos yang menjadi korban suaminya.

__ADS_1


Nara memegang wajahnya yang memerah, ia tersungkur dengan tangis pilu bahwa istri paman Heru yang marah besar padanya.


"Wanita tidak tahu diri, sudah diberi pekerjaan dan menumpang hidup sekarang kau menggoda suamiku? benar saja apa yang ibumu katakan, kau gadis munafik Nara, beraninya kau menyukai pamanmu sendiri", ucap bibi Atikah dengan nada marah menggebu-gebu.


"Bukan aku bi, tapi paman!", tunjuk Nara dengan berani.


"Kau melawanku?", seringai bibi Atikah, kemudian wanita ini mendekati Nara yang masih dilantai dengan tangis yang seakan enggan untuk berhenti.


Paman Heru hanya tersenyum sendiri melihat Nara di pukuli istrinya.


******


"Sayang, jangan pergi..... Naya ku mohon jangan tinggalkan aku, Nay..... Nayaaaa".


Kembali mimpi itu hadir setiap malamnya, sudah satu bulan kejadian itu berlalu namun tidak bagi Dannis, setiap malam Naya hadir merasuki jiwanya meski sedang tidur sekalipun, tidak sedetikpun pria ini melupakan wajah kekasihnya.


Naya telah berpulang sebulan yang lalu akibat kepala berat yang dialaminya pada kecelakaan malam itu.


Pria itu turun dari kasur, ia keluar kamar menuju dapur dan segera ia minum air putih dari dalam kulkas, keringat membanjiri wajahnya.


Ia terduduk di meja makan agar perasaannya bisa ia kontrol setelah mimpi buruk kehilangan Naya itu kembali menghantuinya.


Lama ia termenung, entah bagaimana perasaan seorang pria yang kehilangan kekasihnya tepat satu hari sebelum menikah, Naya sempat mendapat perawatan intensif sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit.


Tamu undangan bukan datang untuk menjadi saksi hari bahagia mereka melainkan ikut melayat dan berduka hingga mengantarkan mempelai wanita ke peristirahatan terakhirnya.

__ADS_1


Kembali Dannis menangis hingga tersedu jika mengingat hari yang seharusnya menjadi hari paling bersejarah dan bahagia dalam hidupnya sekejap mata berubah menjadi hari yang paling menyedihkan menyaksikan calon istrinya masuk ke liang lahat.


Tidak ada yang bisa melawan takdir melainkan hanya bisa menerimanya dengan ikhlas mengingatkan bahwa manusia hanya bisa berencana namun Tuhan lah yang menentukan.


__ADS_2