
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
"Mama,,, bangun ma,,,Ma,," Karin masih tersedu dan berusaha menyadarkan mama Herna yang terkulai.
Berkali kali Karin mengguncang guncang tubuh lemas mama Herna namun beliau tetap tak membuka matanya. Tampak lelehan darah segar membasahi kepalanya.
"Sudah dong Rin nangisnya. Kamu lupa? Wanita itu adalah wanita yang pernah membuangmu,,, menyingkirkanmu. Dia yang merampas kebahagiaanmu. Sudah ya nangisnya." bujuk Yusuf sambil menyentuh bahu Karin.
"Lepasin!!" sengit Karin sambil menepis tangan Yusuf.
"Rin,,, Percuma kamu tangisi!! Wanita itu sudah mati." tegas Yusuf.
"Kamu ini sebenarnya kenapa Yusuf? Kenapa kamu jadi begini? Kemana Yusuf sahabatku yang baik hati itu? Kenapa kamu berubah jadi monster begini? Bahkan kamu sampai tega menyakiti wanita tua dan anak anak. Kenapa kamu?" tanya Karin dengan perasaan sedih kehilangan sosok baik itu.
"Aku memang sudah gila. Gila karenamu Rin.Sahabat baikmu itu juga sudah lama mati karena cintanya tak berbalas. Bertahun tahun aku mencintaimu tanpa balas. Dan kini saat cinta itu hendak terbalas,,, kamu akan pergi lagi? Gak Rin,,, aku gak akan melepasmu lagi. Sudah cukup selama ini aku mengalah pada semua laki laki yang pernah dekat denganmu selama ini. Selama ini aku mampu menutup hatiku untuk wanita lain di dunia ini hanya untukmu. Tapi kali ini,,, aku tidak sudi mengalah pada si lumpuh ini. Aku jauh lebih sempurna dan bisa kamu andalkan Rin. Buka matamu,,, lihat kenyataannya."
"Kamu yang harus buka matamu. Kamu yang harus melihat kenyataan bahwa aku ini istri orang. Kamu juga yang harus terima kenyataan bahwa kamu memang tidak pernah punya tempat khusus di hatiku. Kamu sahabatku,,, tidak lebih dari itu." ucap Karin di sela isak tangisnya.
"Cukup!! Jangan bicara lagi. Aku tidak mau dengar. Terserah mau kamu anggap aku ini apa,,, Yang jelas kali ini aku gak akan lepaskan kamu begitu saja. Kamu milikku Rin,, Kita pergi dari sini ya,,, mulai hidup baru,,, Kita akan tetap menikah. kamu, aku dan Delvara. Kita bertiga akan bahagia."
Bagai orang gila dan tak tau malu, Yusuf tetap bersikeras.
"Tidak Yusuf. Percuma,,,percuma kamu membawaku pergi kalau hatiku bahkan tidak pernah menjadi milikmu. Percuma juga menjadikanku istrimu kalau jiwa dan ragaku bahkan sama sekali tak menganggapmu suami. Untuk apa Yusuf?? Untuk apa dipaksakan?" Karin terus berusaha menyadarkan Yusuf.
"Aku tidak peduli. Bahkan jika tidak ada sedikit pun cinta di hatimu untukku, aku tidak peduli. Cintaku saja sudah cukup untuk kita. Aku tidak perlu cintamu." tolak Yusuf.
Karin kembali menangis. Jauh dalam hatinya sebenarnya ia merasa kasihan pada sahabat yang tengah di luar kendali itu.
__ADS_1
"Cukup sudah!! Jangan buang waktu lagi. Ayo kita pergi."
Yusuf menarik lengan Karin dengan paksa. Sehingga wanita yang masih duduk di lantai dengan menyangga kepala mama Herna itu pun terseret.
"Yusuf!!! Lepaskan istriku!! Jangan sentuh dia!! Aku tidak ikhlas kamu membawanya pergi!!" akhirnya Dion bersuara.
Karin dan Yusuf sama sama menoleh ke arahnya. Namun lain Karin lain pula arti tatapan mata Yusuf. Kalau Karin merasa bahagia karena akhirnya Dion memilih melanggar janjinya dan mempertahankannya,,, sedangkan Yusuf hanya menatapnya dengan kesal dan tatapan penuh hina.
Dengan cepat Yusuf meraih tubuh Karin dan merangkulnya erat. Karin meronta ronta dibuatnya.
"Lepasin Yusuf." ucapnya namun tidak dihiraukan oleh Yusuf.
"Yusuf!! Lepaskan tangan hinamu dari istriku!!!" titah Dion penuh amarah.
"Wah wah wah,,, sudah lumpuh masih berani dan sok memerintahku. Sudah ingkar janji masih tidak tau diri. Bisa apa lagi selain duduk dan memerintah begitu? Kalau sudah ku dekap begini bisa apa kamu?? Kamu suruh aku melepasnya?? Sini kalau bisa,,, kamu yang melepaskan." ejek Yusuf.
Darah Dion terasa mendidih mendengarnya. Wajahnya memerah menahan amarah.
Yusuf menuding ke arah Dion. Karin menatap tajam ke arah sahabat lama yang kini bahkan tak dikenalnya lagi.
"Jaga bicaramu!! Cukup Yusuf cukup!! Hentikan kegilaan ini. Aku tau ini bukan dirimu. Kamu bukan orang seperti ini. Sadar Yusuf,,, sadar!!!" ucap Karin.
"Sudahlah. Aku sudah bosan dengan semua drama ini." Yusuf melepaskan tangannya dari tubuh Karin.
Karin dan Dion lega dibuatnya. Namun Yusuf justru menghampiri Delvara yang masih duduk menangis di lantai dekat tubuh mama Herna. Yusuf mengangkat tubuh Kecil Delvara lalu menggendongnya.
"Yusuf berikan Del padaku. Mau kamu apakan dia?" Karin panik.
"Ikut aku atau kamu akan kehilangan Del selamanya!!!" ancam Yusuf.
__ADS_1
"Yusuf jangan gila kamu!!" bentak Dion.
"Heh,,,diam kamu lumpuh! Jangan berani berani membentakku!! Di sini aku yang berkuasa, bukan kamu! Bukan kamu juga Rin. Ikut aku dan tetap bisa bersama Delvara atau kamu pilih bangkai hidup ini??" Yusuf memberi pilihan yang sangat sulit pada Karin.
"Yusuf,,," Karin tak bisa memilih.
Ia kembali berurai airmata. Mana bisa ia membiarkan Delvara dibawa Yusuf? Tapi mana bisa juga ia meninggalkan Dion??
"Kelamaan!!!"
Karin tersentak saat Yusuf menarik paksa tangannya. Menyeretnya untuk menjauh dari tempatnya semula. Membawanya pergi dengan paksa.
"Om papaaaa,,,," teriak Karin pilu minta diselamatkan.
Dion berusaha,,,Dion sangat berusaha meski hanya dirinya sendiri yang tau itu karena orang hanya melihatnya diam tak bergerak. Dion menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Yusuf semakin menjauh darinya membawa bidadari dan buah hatinya.
Mereka sudah keluar dari ruangan itu. Yusuf tetap menyeret Karin menuju ke pintu lift tapi Dion masih bisa mendengar umpatan umpatan Karin yang ditujukan pada Yusuf. Dion bisa mengerti saat itu Karin tentu tengah meronta ronta ingin melepaskan diri namun cengkraman tangan Yusuf lebih kuat.
Tiiing,,,
Pintu lift terbuka bersamaan dengan sebuah pukulan keras bersarang di wajah Yusuf membuat laki laki itu tersungkur. Untungnya saat sebelum ia masuk ke lift, ia sudah menyerahkan Delvara pada Karin hingga anak itu tak ikut jatuh dengannya.
Yusuf yang tak menyadari akan mendapat pukulan sekeras itu tak sempat menghindar. Bahkan saat sudah jatuh tersungkur ia hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya karena pandangannya sedikit memudar akibat pukulan keras itu.
"Sudah kubilang kan,,,lepaskan istriku!!!"
"Om papa,,,," pekik Karin dengan perasaan campur aduk antara terkejut, senang dan takjub akan mukjizat Tuhan.
Karin masih tak percaya melihat Dion berdiri dengan sempurna menahan amarah yang tersisa dengan tangan yang juga masih mengepal sempurna. Amarah yang memuncak dan naluri suami yang ingin melindungi istri dan anaknya membuat semua otot tubuhnya seketika berfungsi dengan sempurna.
__ADS_1
"Bang D??" lirih Yusuf kemudian tak sadarkan diri.
...❤️❤️❤️❤️...