
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
Mentari pagi yang biasanya harus berusaha keras menerobos tirai tirai tebal nan halus milik kamar kamar di rumah Dion,,, kali ini tak perlu kerja keras kalau hanya ingin membangunkan Dion dan mama Herna karena tak ada lagi yang menghalangi sinar matahari.
Di bawah langit dan di atas bumi,,, tanpa atap maupun dinding pelindung, hanya sebuah kursi taman dan kursi roda saja yang masih berbaik hati bersedia menopang tubuh lemas keduanya.
Ironis,,,sungguh ironis.
Pemilik kerajaan bisnis itu kini jatuh miskin dan jadi gelandangan yang hanya bisa menerima nasib tanpa bisa melawan lagi. Menjadi pusat perhatian orang orang yang mulai berlalu lalang menjalankan aktifitas masing masing. Menatap mereka dengan tatapan heran,,,ada yang kasihan,,ada juga yang merasa melihat sampah masyarakat.
"Mama lapar Dion,,," lirih mama Herna dengan muka memelasnya.
Beberapa saat kemudian beliau juga mengusap usap perutnya. Untuk orang yang selalu makan teratur,, tak pernah melewatkan yang namanya sarapan tentu lapar itu menyisakan rasa tak nyaman di perut yang terbiasa dimanjakan dengan berbagai makanan lezat.
"Sabar dulu ya ma. Dion juga lapar sebenarnya." Dion mengakui juga setelah sedari tadi berpikir keras bagaimana caranya bisa makan.
Namun meski bicara begitu juga sebenarnya Dion tidak tau akankah kesabaran mereka menahan lapar ini akan berujung?
Memangnya apa yang bisa diharapkan dari dirinya yang lemah itu? Lalu apa ada juga yang bisa diharapkan dari mama Herna yang tidak terbiasa dengan kerasnya hidup seperti itu?
Tak sampai hati juga kalau Dion harus menyuruhnya bekerja. Lagipula kerja apa juga? Menuntut mama Herna berbuat lebih rasanya tak akan ada hasilnya, dan kalau pun mama Herna bersedia bekerja malah jatuhnya Dion yang tak tega.
Wanita yang disebutnya mama itu sudah cukup menderita dengan kondisi mereka sekarang. Dion tak sanggup untuk membebaninya lagi. Seharusnya di masa tuanya ini beliau bisa tenang menghabiskan sisa usianya ditemani cucu kesayangan.
Khayalan semata,,,
Dion sadar itu hanya sekedar khayalan dan bayangan. Tapi Dion juga tak ingin menyalahkan siapa siapa lagi. Dion lebih memilih menganggap semua ini semata mata bentuk ujian Tuhan atas kesetiaannya dan Karin. Mampukah keduanya bertahan saat berjauhan begini? Mampukah keduanya menjaga mata dan hati masing masing selama tak bersama?
Berpikir begitu rasanya membuat Dion lebih merasa ikhlas menjalani semua ini. Mungkin juga teguran keras untuk mama Herna yang sudah dzalim terhadap menantu dan cucunya.
Terima nasib,,, Itu saja yang bisa dilakukannya sekarang.
__ADS_1
"Terus kita makan apa Dion?" mama Herna menyadarkan Dion dari diamnya.
"Sepeser pun mama gak punya uang." lanjut mama Herna.
"Dion juga gak punya ma. Mama tau sendiri semua pengeluaran Hana diatur Hana." ucap Dion.
"Iya Dion mama tau. Perhiasan mama juga gak ada satu pun yang tersisa di badan. Setidaknya kalau ada cincin saja bisa kita jual. Hmmm,,, tau begitu kan mama pakai saja ya semalam perhiasan mama." keluh mama Herna yang terbiasa melepas semua perhiasannya saat di rumah.
Mana sangka ternyata malah diusir oleh si ular berbisa. Mau masuk ambil perhiasan pun sudah pasti dilarang mengingat Hana dengan teganya langsung mendorong kursi roda Dion keluar dan menyeret mama Herna keluar setelahnya.
Bahkan mama Herna juga didorong hingga hampir ambruk mengenai Dion. Untungnya tangan rentanya masih mampu menyangga berat tubuhnya waktu itu.
"Cincin pernikahan mama juga tidak ada ya ma?" tanya Dion.
Mama Herna menggeleng perlahan lalu menangis.
"Ma,,, Dion gak bermaksud meminta mama menjualnya tapi Dion hanya ingin tau apa kenangan mama dan papa juga tidak terbawa." jelas Dion yang takut mama Herna berpikir begitu.
"Tapi ma,,,bukan Hana yang ambil melainkan mama yang berikan." Dion mengingatkan.
"Tapi kan mama hanya bermaksud menitipkan. Bukan memberikan. Dasar Hananya saja yang tamak. Lupa diri!!! Semoga saja hidupnya tidak akan tenang dan bahagia setiap kali memakai milik kita. Mama benar benar gak ikhlas Dion." sengit mama Herna.
"Sudah ma sudah. Hidup kita ini sudah susah jadi lebih baik tidak usah lebih membebani hati kita dengan kebencian seperti itu. Biarkan saja pengadilan tertinggi yang memberinya hukuman. Tidak perlu kita yang meracuni hati dan pikiran kita dengan segala sumpah serapah ma. Bukankah lebih baik kita fokus pada hidup kita sekarang ini? Kita lapar dan kita harus putar otak untuk bisa makan." ucap Dion.
"Kamu benar Dion."
"Tapi apa yang bisa kita lakukan?" Dion pesimis lagi.
Mama Herna menggelengkan kepala tanda tak tau juga jawaban dari pertanyaan putranya itu.
"Good morning." seseorang menyapa.
"Good morning." sahut Dion.
__ADS_1
"Are you ok?" tanya orang itu yang merasa prihatin dengan kondisi mereka berdua.
Baik Dion dan mama Herna tak langsung menjawab karena bingung juga. Bertemu dan bicara dengan orang asing apalagi di negara orang juga kadang berbahaya.
"Dion,,, bagaimana ini? Kita harus jawab apa? Kalau dia benar benar berniat baik sih bagus,,,nah kalau niat jahat bagaimana bisa kita melawan. Kamu lumpuh dan mama sudah tua." ucap mama Herna.
"Maaf,,,kalian orang Indonesia rupanya? Saya juga orang Indonesia. Kalian tenang saja. Saya tidak ada niat jahat. Saya kebetulan sedang lewat saja.Saya putuskan menghampiri dan menyapa kalian karena saya rasa kalian sedang dalam kesulitan. Apa kalian butuh bantuan? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya orang itu dengan nada sangat sopan.
"Dion,,,gimana?" mama Herna takut.
"Permisi,,, saya lumpuh dan mama saya belum makan sejak semalam." Dion akhirnya menjawab.
"Ya Tuhan,,,Baiklah kalau begitu, saya akan bawakan kalian makanan. Tunggu sebentar ya. Saya telpon catering langganan saya biar dia segera kirimkan makanan." ucap pria asing nan baik hati itu.
"Terima kasih." mama Herna langsung menyahut.
"Sama sama ibu. Saya bicara dulu sama catering saya ya." pamit Yusuf sopan kemudian agak menjauh dari keduanya.
Tampak ia bicara serius dengan seseorang di seberang sana yang katanya catering langganannya. Tak peduli makanan apa pun yang dipesannya yang jelas pagi ini kedua manusia yang kelaparan itu akan terobati lapar dan dahaganya.
Yusuf menutup telponnya lalu kembali mendekat dengan wajah sumringah.
"Makanan akan segera datang." ucapnya riang.
"Terima kasih. Semoga semua kebaikan saudara,,,,?"Dion berhenti.
"Yusuf. Saya Yusuf." jawab Yusuf yang paham kenapa pria di kursi roda itu berhenti bicara. Pasti karena tak tau namanya dan karena Yusuf juga lupa memperkenalkan diri.
"Yusuf. Saya Dion. Ini mama saya. Herna. Semoga kebaikanmu dibalas oleh Tuhan." ucap Dion sambil memperkenalkan diri.
"Aamiin,,," sahut Yusuf.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1