Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 27


__ADS_3

"Apa kau mau membunuhku Dannis?", ucap mama El dengan nada marah.


"Tenanglah sayang, dengarkan Dannis bicara dulu", papa Kemal mengusap punggung istrinya.


"Mama tidak akan pernah mengiyakan jika itu menikah siri, kau seperti tidak menghargai Nara Dannis, apa aku mendidikmu untuk tidak bertanggung jawab? kau akan menikahi Nara secara resmi, tidak ada yang namanya nikah siri atau apalah itu", ucap mama El masih sangat kesal, ia melirik tajam suami yang duduk di sampingnya.


Tatapan itu membuat papa Kemal menggelengkan kepala dengan cepat.


"Apa kau mendukung Dannis untuk menikah secara siri?".


"Tidak.... jangan berpikir seperti itu, aku hanya ingin kita bicara baik-baik jangan marah-marah kita bisa dengarkan alasan Dannis terlebih dahulu bukan?".


"Huh..... papa sama anak sama saja, jangan harap mama akan setuju, itu sangat merugikan pihak wanita", jawab mama El lagi, Dannis hanya bisa terdiam sejak tadi.


"Mama, maksudku bukan tidak menghargai, aku hanya tidak ingin ada pesta".


"Apa maksudmu Dannis?".


"Maksudku, persiapan pernikahan membutuhkan banyak waktu sedang aku tengah sibuk dengan proyek baru ku, aku hanya ingin mama memberiku waktu untuk fokus pada pekerjaan ku. Ini penting dan pertama kalinya aku mengemban tanggung jawab besar perusahaan, aku mohon mama bisa mengerti".


"Mama mengerti akan kesibukanmu, tapi itu bukan berarti kau tidak memiliki waktu untuk menyiapkan dokumen pernikahan hingga kau hanya ingin menikah siri saja, mama akan menyiapkan semua keperluan pesta, jadi kau tidak perlu khawatir", bujuk mama El lagi agar Dannis mau untuk merayakan pesta pernikahan.


"Tidak tidak, mama tidak perlu..... biar aku saja yang mengurus semuanya jika saja pekerjaan ku selesai dalam dua bulan kami akan mengadakan pesta, tapi tidak sekarang.... mama hanya perlu mengurusi segala keperluan pernikahan Sheira saja, aku tidak ingin menghalangi niat baik adikku yang akan menikah", ucap Dannis lagi dengan wajah sulit dimengerti.


El menatap suaminya dan Sheira bergantian, ia juga tidak ingin anak gadis ke empatnya itu terlalu lama menunggu sedang rencana pernikahan semakin dekat.


Pada akhirnya, dengan perdebatan dan pertimbangan yang panjang telah diputuskan bahwa mama El dan papa Kemal menyetujui Dannis dan Nara menikah di KUA saja dan merayakan resepsi pernikahan tiga bulan setelah pernikahan Sheira berlangsung, sebab menimbang jika gadis itu akan dibawa oleh suaminya untuk tinggal di luar negeri nanti setelah menikah karena pria yang akan menikahi Sheira itu dipindah tugaskan ke Singapura.


******


Nara sedang bermain dengan Aira, bocah cantik milik Alea dan Abrar itu mudah akrab dengan siapapun termasuk Nara, adik dari si kembar Azzam dan Eza yang sudah berumur enam tahun.


Aira menyukai Nara karena gadis itu pandai bernyanyi, berlarian di taman belakang membuat keduanya merasa haus, Nara mengajak Aira untuk minum di dapur namun baru saja melepas dahaga Aira menarik tangan calon bibinya itu berjalan menuju kamar pamannya berada.

__ADS_1


"Ayo bibi Nara, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu", ucap Aira penuh semangat.


"Pelan-pelan sayang, nanti kita bisa terjatuh memangnya kita mau kemana?" tanya Nara dengan nada lembut, ia mengikuti langkah gadis kecil itu.


Mereka menaiki tangga dan tanpa permisi gadis kecil itu menarik Nara masuk ke dalam kamar yang diyakini adalah kamar Dannis.


"Sayang, kenapa kita malah ke sini? nanti pamanmu marah", ucap Nara berusaha menghalangi.


"Paman Dannis tidak akan marah, dia tidak akan berani, ayo aku ingin menunjukkan sesuatu pada bibi", ucap Aira santai sambil terus masuk ke kamar pria itu.


Nara melangkah pelan mengikuti Aira, matanya berpendar melihat seisi kamar yang bergaya maskulin, Nara belum pernah masuk ke sana.


Matanya tertuju pada satu bingkai besar yang terdapat photo kenangan Dannis dan seorang perempuan yang diyakini Nara adalah mendiang calon istri Dannis yaitu Naya menggantung indah di sudut dinding kamar.


Terdapat pula beberapa figura kecil yang juga berisikan photo kenangan saat Dannis dan Naya bersama dulu.


Nara tersenyum melihatnya, dimana beberapa photo menampilkan adegan tertawa bahagia.


"Jadi ini ketika wajahnya tertawa......", gumam Nara terfokus melihat wajah calon suaminya.


"Bibi, kenapa kau melamun ayo ke sini.... aku akan menunjukkan sesuatu, ayo tolong buka pintu lemari ini, aku tahu paman Dannis menyimpan kuncinya di atas sana", ucap Aira sambil menunjuk ke atas lemari.


"Sayang.... sebenarnya kau mau apa? tidak boleh kita membuka lemari ini tanpa izin, ini bukan perbuatan yang baik", jawab Nara geleng kepala.


"Aku tidak perlu izin bibi cantik, ini lemari pamanku dia tidak akan marah padaku.... dulu juga aku sering membukanya ketika bersama paman", jawab Aira polos.


Nara ragu akan permintaan Aira, namun bocah itu terus memaksa hingga Nara tidak bisa menolak wajah lucu putri Abrar tersebut.


Nara mengambil kunci yang memang benar tersimpan di atas lemari.


Mata gadis ini tidak berpaling pada sebuah gaun pengantin yang tergantung di sana.


"Aira?".

__ADS_1


"Bibi lihat kan, inilah yang ku maksud.... aku ingin bibi kenakan gaun ini sekarang dan kita bisa buat video bernyanyi, aku juga punya gaun cantik yang di simpan di kamar bibi Syasya, jika kita mengenakannya maka video bernyanyi yang kita buat bisa menyaingi film Frozen, itu akan sangat menyenangkan", ucap Aira penuh semangat.


"Sayang, bibi tidak berani.... bibi tidak bisa mengenakannya tanpa izin, bibi tidak bisa sayang, ini bukan gaun bibi".


"Ayolah bi, sekali ini saja..... aku sangat mengagumi mu saat bernyanyi ayo kita buat rekaman video bernyanyi yang indah dengan mengenakan gaun ini, ayolah paman tidak akan marah, lagi pula bibi Naya sudah tiada, gaun ini bukan punya siapa-siapa sekarang ayolah aku mohon".


Nara masih diam dan berpikir bagaimana cara untuk menolaknya, ia cukup tahu diri untuk tidak mencoba gaun itu kecuali atas izin pemiliknya.


"Ayolah, sebentar saja bukankah paman Dannis belum pulang bekerja? ini akan menjadi rahasia kita, ayolah aku mohon bibi Nara, aku ingin kita bernyanyi seperti princess", bujuk Aira sedemikian rupa.


Nara menarik napas dalam dan terpaksa mengiyakan permintaan gadis kecil itu, karena ia pikir Dannis memang belum pulang setidaknya ini rahasianya bersama Aira.


"Baiklah.... bibi akan memakainya di kamar mandi, ayo kau juga pakai gaunmu".


"Aku sangat tidak sabar bibi, baiklah aku akan mengambilkan gaunku di kamar bibi Syasya, tunggulah sebentar", ucap Aira ketika Nara telah di kamar mandi.


Nara menatap wajahnya, ia berputar-putar di depan cermin saat sedang memakai gaun pengantin yang sangat pas di tubuh mungil nya.


Senyum Nara terbit dengan sendirinya, tangannya menyibak rambut yang beruraian di wajah cantiknya itu ke belakang telinga.


"Gaun yang cantik".


Sampai pada senyuman nya pudar ketika ia mendapati seorang pria berbadan tinggi dan berwajah tampan itu menatapnya tajam yang berdiri tepat di belakangnya terlihat dari cermin.


"Beraninya kau masuk ke kamarku, dan dengan lancang memakai gaun ini", Dannis menarik tangan Nara kasar agar menghadap lelaki itu.


"Tuan.... tuan aku tidak bermaksud", ucap Nara terbata namun segera Dannis meraih gaun itu dengan kasar hingga Nara terjatuh sebelum menyelesaikan kalimatnya.


"Ah.....", Nara mengaduh.


"Aku sudah mengira bahwa kau sengaja mengikuti dan memasuki kehidupanku, apa kau punya niat tertentu pada keluarga ku? hei... jangan pernah bermimpi untuk memakai gaun pernikahan, kau pikir aku akan mau bersanding denganmu di pelaminan? jika iya, sebaiknya jauhkan pikiran itu, karena itu tidak akan pernah ku lakukan".


"Lepaskan gaun itu, jika kau berani menyentuhnya lagi kau akan tahu akibatnya, keluar dari kamarku aku sedang tidak ingin melihatmu", ucap Dannis dengan nada marah ia berbisik di telinga Nara yang menunduk takut.

__ADS_1


Pria itu meninggalkan Nara seraya berjalan ke kamar mandi.


__ADS_2