
"Bukankah aku sudah minta maaf, aku tidak sengaja", ucap Nara pada salah satu perempuan.
"Mudah sekali kau meminta maaf, ayo bersihkan sepatuku! mahasiswa baru ingin bermain-main denganku rupanya", jawab perempuan itu seraya menyeringai.
Hari pertama masuk kuliah membuat Nara terlalu bersemangat, setelah mengikuti orientasi pengenalan kampus minggu lalu yang membuat Nara mendapatkan teman barunya dua orang sekaligus, mereka tentu mendapat kelas yang sama.
Nara tidak sengaja menabrak dan menginjak sepatu salah satu mahasiswa lainnya yang diyakini bukanlah mahasiswa baru seperti dirinya.
Dewi dan Tari teman baru Nara terlihat kesal namun tidak berani melawan sebab mereka tahu bahwa yang mereka hadapi itu adalah Melanie. Siapa yang tidak mengenal Melanie putri pemilik yayasan tempat mereka berkuliah sekarang.
Nara menatap Melanie tanpa takut, ia tidak menyukai cara perempuan itu bicara kasar.
Dewi menarik tangan Nara seakan memberi kode agar Nara tidak perlu melawan Melanie.
"Meski aku mahasiswa baru, tidak lantas aku harus membersihkan sepatu mu juga nona, aku sudah meminta maaf".
"Aku tidak menerima maaf mu, bersihkan sepatu ku sekarang atau kau akan tahu akibatnya".
"Jika aku tidak mau apa akibatnya?".
"Oh kau menantangku rupanya", Melanie tersulut emosi dengan mendorong tubuh Nara kasar hingga Nara terhuyung ke belakang dan hampir saja jatuh jika tidak seseorang yang menahannya.
Nara menoleh, dan alangkah terkejutnya ia bahwa yang menahan tubuhnya adalah lelaki tidak lain tidak bukan adalah adik iparnya sendiri Baim.
"Baim?".
"Sekali lagi kau menyentuh Nara, akan ku patahkan tanganmu", ucap Baim dengan nada dingin pada Melanie yang menelan ludah mendengarnya, bagaimana tidak terkejut Baim yang terkenal ramah dan santai itu bisa berkata menusuk hingga ke jantung perempuan yang menyukainya sejak mereka semester satu.
"Kau mengenalnya?", tanya Melanie melunak.
"Sangat mengenalnya", jawab Baim singkat.
Pria itu menarik tangan Nara menjauhi Melanie dan dua teman Nara yang diam mematung.
"Baim.... Terimakasih kau membelaku, ini takdir yang tidak ku mengerti, kenapa aku tidak bisa lepas dari orang-orang yang dekat dengannya, bahkan kita bertemu di satu kampus seperti ini", ucap Nara mengingat wajah suaminya.
"Kenapa? apa kau menyesal bertemu denganku?".
"Tidak..... aku senang bertemu denganmu, meski kami berpisah silaturrahmi harus terjalin bukan", jawab Nara tersenyum.
Baim terkekeh mendengarnya, ia sekilas mengingat keadaan kakak sulungnya yang tengah merana menanti dan mencari Nara kemana-mana, namun dengan mudahnya ia menemukan perempuan itu sekarang.
__ADS_1
Baim tidak bicara tentang Dannis, pria ini pun bungkam apa yang ia ketahui tentang Dannis sekarang.
"Jika begitu kenapa tidak menjalin silaturrahmi pada kak Dannis?", pancing Baim.
Nara menelan ludah.
"Aku.... aku belum siap, aku tidak siap dengan kenyataan bahwa dia telah menikah lagi, kakakmu benar-benar gila Baim, aku membencinya".
"Apa? menikah? Siapa?", Baim mengernyitkan dahi.
"Dannis gila itu siapa lagi, jangan pura-pura tidak tahu", jawab Nara kesal.
Baim sungguh tertawa sekarang.
"Kenapa kau tertawa? kau mengejekku yang belum resmi menjadi janda tapi dia telah menikah lagi begitu?".
"Kau sungguh tidak tahu kabar kak Dannis sekarang?", tanya Baim lagi.
"Untuk apa aku mengetahuinya, jika akan membuatku sakit hati saja, ayo lupakan aku malas mengingat wajahnya".
Baim terkekeh lagi, sungguh menggemaskan wajah cantik yang menjadi cinta pertamanya itu ketika kesal.
"Yakin tidak ingin mendengar kabarnya?", goda Baim lagi.
"Baiklah lupakan, kita masih bisa berteman bukan?".
"Tentu saja Baim, kau tahu aku bahagia bertemu dengan mu, kau seniorku di sini itu artinya aku cukup beruntung jika membutuhkan bantuanmu, kau tahu sendiri aku benar-benar mulai dari nol belajar sekarang".
"Tenanglah, aku ada untukmu".
Nara tersenyum mereka lama mengobrol tentang bagaimana Nara bisa berkuliah seperti sekarang, namun tidak lama mereka pun berpisah karena jam perkuliahan akan dimulai.
*****
Dannis pulang ke rumah orangtuanya, berniat menginap di sana malam ini. Pria yang tidak juga mendapat kabar yang baik tentang istrinya itu langsung menuju kamar yang pernah terdapat kenangan di sana bagaimana Aira dan Nara sering bermain di sana.
Menjatuhkan tubuh di ranjang, Dannis mengeluarkan ponsel membuka galery photo karena ia teringat bahwa ada banyak photo kenangan yang Aira dan Nara berada di sana, sebab jika sedang bernyanyi Aira selalu menggunakan ponsel Dannis untuk merekam aksi mereka.
Dannis tersenyum saat menatap wajah cantik dan yang cukup banyak berada di memori ponselnya, photo Nara mencium pipi Dannis ketika Aira mengaturnya dulu menjadi sesuatu yang menghimpit perasaan pria itu sekarang.
"Tidak ada lelaki sebodoh diriku, tidak ada suami sejahat aku..... dimana kau sekarang? bisakah aku mendapat kesempatan memperbaikinya? masihkah kau mencintai ku? Bisakah kita memulainya dari awal lagi?", gumam Dannis pada photo Nara yang sedang memejam dengan wajahnya yang lucu setelah didandani Aira ketika itu.
__ADS_1
Dannis turun berniat makan malam bersama keluarganya, ia mengingat pesan Alea tentang makan teratur agar ia tetap sehat untuk melanjutkan pencariannya.
"Papa bagaimana kantor?", basa basi Dannis pada papa Kemal, mereka bicara tentang kantor sambari menunggu mama El menyiapkan nasi mereka.
Mereka telah berkumpul kecuali Baim yang baru saja akan duduk.
"Sayang, kau tampak cerah malam ini?", sapa mama El pada Baim yang baru saja selesai mandi.
"Mama pandai membaca wajahku", jawab Baim terkekeh.
"Kau terlihat bahagia, apa mama salah mengira?".
"Tidak, mama benar... aku sedang bahagia", jawab Baim tersenyum penuh arti dengan ekor matanya melirik Dannis di hadapannya.
"Apa soal perempuan?", tanya mama El lagi.
Dannis menoleh pada adiknya itu, Baim mengangguk saja dengan cuek.
"Apa dia cantik?", goda Dannis lagi ikut percakapan itu.
"Sangat cantik, baik, berambut panjang, seperti Syasya", jawab Baim mantap dengan menatap Dannis penuh arti, lalu ia melirik Syasya di sampingnya.
"Syasya, Syasya.... aku ini kakakmu", jawab Syasya kesal.
"Kau menyukai nya?", tanya mama El penasaran.
"Aku menyukainya, hanya pria bodoh lagi buta yang bisa menolaknya, terlebih aku baru tahu sekarang dia ternyata kaya raya".
"Dasar lelaki matre", sahut Syasya lagi.
"Lain kali ajaklah kemari", tawar mama El.
Baim menggeleng.
"Aku rasa akan sulit", jawabnya pelan.
"Apa perlu papa melamarnya untukmu?", canda papa Kemal.
Dannis hanya menggeleng mendengarnya.
__ADS_1
"Tidak bisa, sayangnya dia sudah ada yang punya", jawab Baim menatap Dannis lagi.