Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 15


__ADS_3

Alea bersikap seperti biasa, sebenarnya ia merasa malu untuk bercerita pada dua sahabat karibnya tentang apa yang ia alami dan rasakan setelah menikah dengan Abrar, ia takut ditertawakan nantinya.


Iya, Alea semakin hari semakin merasa lain dalam hatinya, dimana ia selalu bertemu Abrar dari mulai bangun tidur sampai hendak tidur lagi, ia mengakui bahwa rasanya berbeda dari sebelum menikah.


Gadis ini belum berani mengartikan perasaannya saat ini, karena masih terlalu baru baginya jika harus mengakui ini sebagai jatuh cinta.


Namun Alea tidak memungkiri ia merasa bahagia hidup bersama Abrar, pria ini sosok lelaki idaman penyayang dan pekerja keras, ia selalu menuruti kemauan Alea meski sering kekanakkan.


Akhir-akhir ini pula ia sering merasa cemburu jika Abrar mengabaikannya, terlebih mengingat Abrar mempunyai sekretaris seksi bernama Gina, dan membuat Alea tambah kesal ia mendapat gosip jika mereka bertetangga dengan seorang janda kembang diseberang rumahnya.


****


Alea pulang dari rumah sakit, ia memutuskan akan memasak untuk makan malam ia sengaja menghubungi mama Bella untuk membimbingnya membuat makanan kesukaan Abrar, ia begitu semangat untuk belajar demi sebuah pujian dari Abrar nantinya.


Meski belum sempurna, Alea berhasil menyelesaikan masakan itu dengan bangga, namun ia terus saja berjalan kesana kemari seperti orang kebingungan.


"Kenapa lama sekali, apa dia begitu sibuk hingga belum pulang sampai sekarang" Alea kesal sendiri, ia menahan lapar sejak tadi karena menunggu Abrar pulang, namun sudah pukul 9 malam suaminya belum juga menampakkan diri.


Tidak berselang lama senyumnya mengembang ketika mendengar suara mobil di halaman rumah mereka.


Abrar masuk rumah disambut senyum manis dari Alea, ia merasa Alea berbeda malam ini kenapa wajah gadis itu memerah ketika ia masuk tadi.


"Alea kau belum tidur?"


"Kenapa abang baru pulang? Aku sudah sangat lapar menunggumu. Ayo cepatlah mandi kita makan malam" perintah Alea untuk menghilangkan kegugupannya.


"Kau belum makan? Alea abang sudah kenyang, tadi makan malam di kantor dipesankan Gina" jawab Abrar polos.


Membuat Alea kesal seketika.


"Apa? Sudah kenyang? Abang menyebalkan, aku menunggu mu sejak tadi menahan lapar, enak saja bilang kenyang, aku tidak mau tahu abang juga harus makan bersama ku, cepatlah mandi dan kita makan bersama" ucap Alea menggebu-gebu.


Abrar tersenyum, Alea selalu memaksa jika sudah seperti ini, ia mengusap kepala Alea gemas.

__ADS_1


"Baiklah abang mandi dulu, tunggulah disini" Abrar lagi-lagi selalu menghargai Alea.


"Bagus" Alea tersenyum puas, ia tidak ingin masakannya sia-sia begitu saja, padahal ia merasa ingin menangis ketika Abrar mengatakan sudah kenyang terlebih membayangkan suaminya makan malam dengan Gina, namun ia berpikir dengan merajuk tidak akan membuatnya merasa lega, maka dari itu Alea memaksa Abrar, ia tahu pria itu tidak bisa menolaknya.


Abrar menuju kamarnya untuk mandi, meski ia merasa lelah namun ia tidak ingin membuat Alea kecewa terlebih gadis itu sudah bersusah payah memasak.


Alea merasa Abrar terlalu lama, ia menyusul ke kamar pria itu namun ia mendadak berhenti ketika tidak sengaja melihat Abrar tengah bertelanjang dada dan baru akan berpakaian, itu terlihat dari sela pintu yang tidak tertutup sempurna.


Gadis ini bersandar di dinding untuk bersembunyi, ia memegang dadanya yang tidak berdegup dengan normal.


"Astaga....kenapa dia begitu seksi" Alea menggigit bibir bawahnya, sungguh ia merasa malu sendiri.


Lama melamun dengan wajah yang memerah, tanpa ia sadari Abrar keluar dari kamarnya, ia terkejut kenapa Alea berada disana.


"Alea? Sedang apa kau disini?"


"Ah....aku, aku, aku, tidak tahu kenapa aku bisa ada disini" jawab Alea terputus-putus.


"Ayo...katanya kau lapar, kenapa masih melamun" Abrar menarik tangan Alea untuk menuruni tangga.


"Kau memasak makanan kesukaanku? Bagaimana bisa?"tanya Abrar heran setelah mereka sudah berada di meja makan.


"Tidak ada yang tidak bisa ku kerjakan, aku menelepon mama Bella tadi, cobalah....memang tidak seperti buatan mama, tapi miriplah ya" Alea tertawa sambil menambahkan ke piring Abrar.


Abrar bahagia Alea memperhatikannya.


"Bagaimana? Enak?" tanya Alea tidak sabar.


"Tentu saja enak, benar-benar mirip dengan masakan mama" jawab Abrar sedikit berdusta.


"Benarkah....astaga aku berhasil, thank you suamiku" Alea tersenyum manis pada Abrar.


"Terimakasih Alea" Abrar memakannya meski ia sudah kenyang sekalipun.

__ADS_1


"Aku akan memasak untukmu setiap hari, jadi kau tidak perlu makan diluar, apalagi bersama sekretarismu yang sok seksi itu, awas saja jika abang mengulanginya, aku tidak mau punya suami yang suka jajan diluar" jawab Alea yang belum menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.


Alea terus mengunyah, ia begitu lapar hingga bibirnya sedikit belepotan oleh nasi.


Abrar menatapnya lama, tangannya tergerak membersihkan nasi yang menempel di bibir Alea, mereka saling memandang.


Alea semakin gugup, Abrar kian mendekat, entah kenapa Abrar tidak bisa menahannya ia merasa ingin mencium bibir manis Alea saat itu juga.


Baru saja Abrar mendekatkan wajahnya ke arah bibir Alea, namun Alea salah tingkah ia merasa jantungnya ingin lepas dari tempatnya, hingga tidak sengaja ia menyenggol gelas minuman yang tidak jauh dari tangannya, dimana suara gelas itu menyadarkan Abrar.


Pria ini pun salah tingkah, ia mengusap lehernya yang tidak gatal, Abrar menjauh namun ia terkejut ketika mendapat sebuah ciuman di pipinya.


"Ayo kita lanjutkan makannya, aku masih lapar" ucap Alea, ia dengan cepat merutuki aksinya yang mencium pipi Abrar.


Abrar tersenyum dengan sikap Alea yang kian hari kian manis padanya, ia benar berharap bahwa ini petanda baik bagi hubungan mereka kedepannya, Abrar memang pandai menyembunyikan perasaannya, ia tidak ingin membuat Alea tidak nyaman jika gadis itu tahu jika Abrar memendam cinta selama ini.


"Abang pasti lelah, istirahatlah....aku juga akan ke kamarku" ucap Alea ketika mereka sudah menyelesaikan makan malam.


Alea malu untuk berlama-lama bicara dengan Abrar.


"Baiklah...selamat malam" jawab Abrar sambil membelai wajah Alea.


Lagi-lagi mereka sama-sama merasa gugup, Alea mengangguk dan berlalu ke arah kamarnya, namun baru beberapa langkah ia mundur untuk memberi kecupan di pipi Abrar kembali. Entah kenapa Alea suka melakukannya.


Cup.


"Selamat tidur suamiku...."


Kemudian Alea berlari kekamarnya dengan wajah merah.


"Astaga....apa aku tampak seperti wanita murahan?" Alea tersenyum sendiri kemudian ia bersembunyi di balik selimut tebalnya.


Pria ini masih mematung tidak percaya, Abrar tertegun, sudah dua kali Alea menciumnya.

__ADS_1


"Alea.....jangan membuatku salah paham tentang ini" gumam Abrar sambil memegang pipinya.


__ADS_2