Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Restu Untuk Kami


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


"Karin,,,, Del,,, Rin,,,sayang,,,"


Yusuf yang sudah tiba hanya tersandar di pintu kamar rumah yayasan miliknya sendiri dengan seribu perasaan berkecamuk mendengar nama itu terus disebut sebut oleh abang angkatnya yang terus mengigau itu.


Terkejut,,, mungkin itulah yang dirasakan Yusuf saat ini kala mengetahui fakta siapa sebenarnya anak dan istri bang D nya itu.


Bagaimana tidak terkejut? Segala sesuatunya serba kebetulan begini. Di sini ada bang D yang baru ditemuinya pagi ini,,,yang tengah galau dengan masalah rumah tangganya,,, yang tengah mengharapkan agar Tuhan mau berbelas kasih padanya dan mau mempertemukannya kembali dengan yang terkasih.


Lalu di seberang sana,,, tepatnya hanya dua blok apartemen saja,, ada sang wanita idaman hati yang telah lama dinantikannya juga tengah berharap takdir tak sekejam ini padanya.


Dan kedua insan yang saling mencinta namun terpisah karena keegoisan wanita tua itu kini terhubung kepadanya.


"Tuhan,,, kenapa aku?" hanya itu yang bisa diucapkan Yusuf dalam hatinya.


Bahagia karena akhirnya dirinyalah yang ditunjuk sebagai titik terang dua insan itu akan bertemu kembali,,, hanya dengan mempertemukan keduanya.


Ya,,, cukup dengan katakan sejujurnya kepada mereka saja lalu mereka akan bertemu dan pastinya kembali bisa hidup bersama. Ayah bisa bertemu anaknya, suami bisa kembali bertemu dengan istrinya. Dion akan menemukan semangat hidupnya,,, Karin akan tersenyum manis bertemu belahan jiwanya,,, Delvara juga tentu akan bertemu dengan the real papa.


Bahagianya membayangkan semua itu.


"Tapi hamba tidak rela Tuhan,, Sungguh,,, hamba tidak rela untuk melepas Karin kesekian kalinya. Hamba tidak sanggup mengalah lagi. Hamba ingin kali iniiii saja,,, Engkau tidak memisahkan hamba dengannya lagi. Sekaliiii ini saja,,, percayakan wanita ciptaanMU itu kepada hamba. Tidak bolehkah hamba bahagia Tuhan?"


Sisi lain dari jiwa yang penuh kasih itu pun kembali pada kodratnya untuk selalu menjadi manusia yang egois. Bisikan bisikan keburukan pun menguasai jiwa yang biasanya selalu tergerak untuk membantu sesama.


"Pikirkan dirimu sendiri Yusuf,, Pikirkan kebahagiaanmu sendiri,,, Kali ini saja. Jangan biarkan dirimu yang masih sempurna ini tersingkir oleh yang tak bertenaga." tekad itu pun kuat tertanam dalam hati yang kelam dan kini dipenuhi oleh kecemburuan hanya dengan membayangkan pria lumpuh itu disandingkan kembali dengan sang pujaan hati.


"Nak Yusuf,,, bagaimana ini?"


Suara mama Herna mengejutkan Yusuf dari keterkejutannya.

__ADS_1


"Bisakah kita bawa Dion ke rumah sakit? Tapi mama gak punya uang nak,,, Tolong mama dan Dion nak. Mama mohon." pinta mama Herna dengan memelas.


Kesepuluh jarinya merapat membentuk tanda permohonan di depan wajahnya. Mama Herna sangat memohon kebaikan hati dari jiwa yang kini berubah menjadi kelam itu.


"Haruskah aku menolongnya?? Bukankah jika pria itu kubawa ke rumah sakit dan jiwanya tertolong maka ia bisa jadi batu sandungan terbesar untukku??" jiwa kelam itu kembali punya pikiran untuk berontak dalam hati.


"Nak,,, mama mohon." kembali suara mama Herna menyadarkan sang jiwa agar kembali suci.


"Eehgg,, Iya ma. Siapkan keperluannya. Yusuf akan panggilkan ambulan." Yusuf tersadar dan memenuhi panggilan jiwanya.


"Baik nak." mama Herna mengusap airmata yang sempat tumpah dan menyiapkan segala sesuatunya.


"Sabar ya Dion. Adikmu sedang mencari bantuan." ucap mama Herna pada Dion yang makin basah tubuhnya karena terus berkeringat dingin.


"Ambulan segera datang ma." Yusuf kembali dengan kabar baik.


"Syukurlah. Nak,,, terima kasih. Sekali lagi kamu telah jadi malaikat penolong kami. Entah apa jadinya kami jika kamu tidak ada. Meski sampai detik ini pun mama,,, dan abangmu ini masih tidak tau dengan apa kelak kami membalas semua kebaikanmu ini nak." ucap mama Herna.


"Cukup dengan kalian membantuku,,, mendoakanku,,, agar aku bisa bersatu dengan wanita pujaan hatiku ma. Restui saja kami. Selaku yang sudah kuanggap mama dan abang,,, Itu saja sudah cukup." ucap Yusuf dengan hati dipenuhi seringai kelicikan.


"Tentu nak,,, kami akan selalu mendoakanmu agar kelak bidadari itu akan menjadi pendampingmu. Semoga apa pun yang menjadi penghalang diantara kalian dihilangkan." mama Herna berdoa setulus hati untuk sang anak angkat.


"Aamiin,,," sahut Yusuf.


...🌸🌸🌸🌸...


Dua jam tak sadarkan diri akhirnya Dion kembali membuka matanya dengan perasaan yang jauh lebih baik. Matanya yang masih diijinkan Tuhan berfungsi dengan baik itu bisa mengenali wajah tampan yang tersenyum hangat menyapanya.


"Yusuf. Maaf aku merepotkanmu lagi." lirih Dion.


"Jangan bilang begitu bang. Aku ini adik abang. Sudah jadi kewajibanku untuk melakukan yang terbaik untuk abang."


"Terima kasih anak baik. Semoga Tuhan senantiasa membalas semua kebaikanmu ini. Abang tidak bisa berikan apa apa padamu." lirih Dion yang menyesali keterpurukannya ini.

__ADS_1


Bayangkan saja jika ia bertemu mahkluk baik ini saat ia masih punya segalanya. Tentu tidak akan sulit baginya bisa membalas kebaikan Yusuf.


"Siapa bilang gak ada? Ada kok bang,,," seru Yusuf.


"Apa? Abang bahkan tidak bisa apa apa. Tidak punya apa apa juga untuk diberikan."


"Ada." desak Yusuf.


"Apa?" Dion tak mengerti.


"Hahaha,,, Jangan serius begitulah bang. Abang baru sadar ini. Nanti tekanan jantung abang naik turun lagi loh." Yusuf malah bercanda.


"Hehehe,,, dan ujung ujungnya kamu lagi yang repot. Belum bisa balas satu kebaikan,,, sudah berhutang kebaikan lainnya. Entah apa jadinya kami tanpamu Yusuf." Dion jadi tak enak.


"Bagus,,, memang seharusnya begitu terus. Teruslah merasa tak enak dengan semua kebaikanku bang hingga suatu hari nanti kamu pun tak bisa tak berikan semua milikmu kepadaku."


"Suatu saat nanti juga bisa balas kok. Yang penting sekarang abang fokus dulu sama kesehatan abang. Cepat pulih biar bisa segera dimulai terapi akupunkturnya. Kalau abang masih dipakaiin segala infus ini ya mana bisa terapi akupunktur. Abang mau kan sembuh?? Yusuf hanya minta abang sembuh dan merestui,,,"


"Merestui?? Maksudnya,,, kamu sama kekasih hatimu itu,,,, Sudah ada titik terang ya??" binar binar kebahagiaan menerpa wajah Dion.


"Iya bang. Anaknya mulai belajar memanggilku papa. Dan ibunya,,, sorot matanya sudah mulai mengisyaratkan bahwa ia tak boleh hanya memikirkan dirinya saja,,, putranya juga butuh sosok ayah dan itu aku. Hanya aku." jelas Yusuf.


"Alhamdulillah. Abang senang dengarnya."Dengan sukacita dan tulus Dion ikut berbahagia dengan sinyal baik yang disampaikan sang adik angkat.


"Makanya Yusuf hanya minta keikhlasan abang mendoakan agar kami segera bisa bersatu. Yusuf hanya minta restu abang."


"Pasti. Siapa pun pilihan hatimu ini,,, abang restui kamu menjadi imamnya."


"Memang begitu seharusnya. Aku yang lebih layak menjadi imamnya. Bukan kamu. Kamu yang lemah tak berdaya melawan sakit dan kehendak mamamu. Kamu yang sudah membiarkan wanitaku menderita,, mana layak kembali bersanding dengannya?"


Hati kelam itu membenarkan.


...❤️❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2