
...Selamat membaca π...
...πΈπΈπΈ...
Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit tempat di mana Dion ditangani, Karin hanya diam. Untungnya Delvara juga mau tidur dalam dekapan ibunya.
"Kamu baik baik saja Rin?" sebuah pertanyaan terlontar dari bibir sang mertua yang setia menemani.
Dan hanya sebuah anggukan kepala saja sebagai jawaban dari Karin. Detik berikutnya papa Hengki merasa itu adalah pertanyaan terbodoh yang pernah diucapkannya.
"Ya mana mungkin menantumu ini sedang baik baik saja Hengki. Bodohnya kamu ini." gerutu papa Hengki dalam hati.
Diliriknya kembali menantu keduanya yang tengah sibuk membelai puncak kepala Delvara yang masih tertidur pulas. Bisa dilihatnya menantunya itu seperti tengah berkomat kamit namun papa Hengki tak bisa mendengar jelas apa yang diucapkan Karin pada putranya.
Mungkin Karin hanya sedang berusaha menjelaskan apa yang kini tengah keluarga kecil mereka hadapi. Bahasa antara ibu dan anak yang memang hanya keduanya saja yang bisa saling memahami.
Papa Hengki menarik napas dalam dalam. Jujur dirinya sendiri belum tau pasti bagaimana keadaan Dion saat ini. Papa Hengki yang menerima kabar dari mama Herna hanya langsung terpikir untuk memberitahukan berita ini pada Karin terlebih dulu lalu bisa bersama sama berangkat ke rumah sakit.
Bagaimana pun papa Hengki juga memikirkan kondisi Karin yang belum pulih benar pasca melahirkan. Wanita itu tentu masih rapuh baik raga maupun jiwanya.
"Apa pun kondisi Dion nanti,,, papa hanya berharap kamu yang tabah ya Rin. Papa tidak bisa menjanjikan hal baik padamu saat ini tapi papa ingin kamu bersiap untuk hal terburuknya. Papa sendiri juga belum tau kondisi Dion tapi papa harap anak itu baik baik saja. Dia harus kuat dan bertahan demi istri dan anaknya. Kalian masih membutuhkannya."
Suara papa Hengki terdengar serak karena menahan kesedihan. Tiap kali melihat wajah Karin yang tetap diam seribu bahasa tanpa airmata itu malah makin membuat papa Hengki merasakan kepedihan terdalam wanita itu.
Wanita kuat itu,,,wanita hebat itu,,,bidadari tak bersayap itu,,, kini tengah menata hatinya baik baik.
__ADS_1
"Om papa harus bertahan bukan karena kami masih membutuhkannya pa. Tapi karena dia telah berjanji akan selalu menjaga kami. Karin juga akan tetap menemaninya bukan karena Karin masih membutuhkannya melainkan karena Karin adalah wanita yang sudah dipilihnya untuk menjadi pendampingnya. Baik suka maupun duka,,, sehat sakit,, susah senang,,, Karin akan selalu ada untuk om papa."
Akhirnya untaian kalimat panjang tercetus dari bibir yang semula membeku itu. Tegas,,,dan terdengar tabah. Membuat papa Hengki makin kagum akan kecantikan hati menantunya itu.
Berkali kali papa Hengki mengutuki perbuatan Hana. Sejak kehadirannya kembali dalam keluarga mereka,,, wanita itu telah terlalu banyak membawa masalah.
Belum juga kelar masalah satunya kini malah ada masalah baru lagi. Hana juga terkapar di rumah sakit yang sama dengan Dion. Dan sama halnya dengan Dion, papa Hengki pun belum tau kondisi terkini Hana.
"Bolehkah berharap agar wanita itu meninggal saja?
Bolehkah berharap agar Tuhan segera memanggil jiwanya agar putraku bisa tenang dan bahagia bersama keluarga kecilnya." batin papa Hengki dengan egoisnya.
"Astaghfirullah,,, jahatnya aku." detik kemudian papa Hengki membuang jauh segala pikiran egois tadi.
Dilihatnya kembali Karin dan Delvara. Keduanya adalah kebahagiaan yang dikirim Tuhan dalam keluarga mereka. Hanya saja akhir akhir ini mama Herna tak memahaminya.
"Di mana kamarnya? Bagaimana keadaanya?" papa Hengki tak sabaran bertanya.
"Maaf tuan saya juga belum tau keadaan mas Dion seperti apa. Dokter belum keluar juga dari ruang tindakan." kata sopir itu sambil tetap berjalan mendampingi tuannya.
Di belakang mereka, ada Karin dan Delvara yang juga sudah didampingi asisten rumah tangga mereka. Inginnya asisten itu menggendong Delvara tapi tak diijinkan oleh Karin. Saat ini Delvara ada penguat hati Karin maka tidak heran Karin tak bisa memberikannya kepada yang lain.
"Belum keluar juga?? Apa yang sedang mereka kerjakan sebenarnya?" gerutu papa Hengki.
"Maaf tuan,,, sepertinya kondisi mas Dion parah." ucap sopir itu setengah berbisik takut Karin mendengarnya dan shock.
__ADS_1
Tapi ketika papa Hengki menoleh ke belakang, pandangan mata Karin tidak berubah. Wajahnya juga tetap datar. Mungkin dia memang tidak mendengar perkataan sopir itu.
"Papaaa,,, Dion pa Dion. Hana juga,,, Huhuhuhu,,, paaaa mama gak sanggup kalau harus kehilangan mereka pa." mama Herna langsung menghambur dalam pelukan papa Hengki begitu dilihatnya suaminya datang.
"Tenang ma tenang. Dokter kan belum keluar dan beri keterangan apa apa. Mama jangan mendahului. Sebaiknya mama berharap dan berdoa semoga Dion baik baik saja. Dan sebaiknya memang begitu karena dia punya tanggung jawab pada anak dan istrinya." ucap papa Hengki.
"Anak dan istrinya papa bilang?" mama Herna tiba tiba nyolot dan melepaskan diri dari papa Hengki.
Papa Hengki terkejut dengan reaksi istrinya itu. Merasa tidak ada yang salah dengan perkataannya tapi istrinya sedemikian menanggapi.
"Justru karena wanita ini dan bayinya lah Dion jadi sial begini. Wanita ini yang sudah berhasil meracuni pikirannya sampai sampai dia tidak bisa melihat mana wanita yang baik dan buruk bagi dirinya. Dan bayi ini juga,,,, masih bayi sudah jadi senjata untuk menarik perhatian dan hati Dion." ketus mama Herna.
"Mama jangan mulai lagi. Ini rumah sakit dan jangan buat ribut. Lagipula,,, situasi sedang seperti ini mama bisa bisanya bicara begitu. Tidak kasihan apa pada Karin? Ketimbang kita,,, dialah yang paling terpukul dengan kejadian ini ma." papa Hengki memperingatkan.
"Halah,,, mama gak percaya. Lihat wajahnya yang datar tanpa airmata itu? Papa paham wajah apa itu?? Itu bukan wajah sedih melainkan harap harap cemas sebentar lagi semua harta kekayaan Dion akan jatuh ke tangannya tapi ada kita yang menghalangi. Dia diam karena berpikir keras pa bagaimana caranya menyingkirkan kita berdua agar niatnya menguasai harta Dion tidak terganggu."
Tudingan demi tudingan dilontarkan mama Herna pada Karin. Tidak ada perlawanan sama sekalindari pihak Karin. Ia hanya terus membelai puncak kepala Delvara agar kembali tertidur tiap kali bayi itu tersentak kaget dengan ucapan mama Herna.
"Mama keterlaluan!!" papa Hengki menekan dada kirinya yang tiba tiba terasa sangat nyeri. Detik berikutnya papa Hengki oleng dan beruntung ada sopir yang dengan sigap menangkap tubuh majikannya itu.
"Papa,,,!!" mama Herna kaget bukan main.
Sepertinya penyakit jantung papa Hengki yang sudah lama tidak pernah muncul kini kembali kambuh karena terpicu emosi. Suster yang sedang lewat langsung membantu memberikan pertolongan. Papa Hengki dibawa masuk ke ruang tindakan.
"Ini semua gara gara kamu!!!" tuding mama Herna pada Karin.
__ADS_1
...πΈπΈπΈπΈ...