
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
"Jawab Dion ma ini handuk siapa?" desak Dion.
"Mama gak tau nak. Mama hanya ambil handuk ini di lemari belakang itu. Ya mungkin ini punya nak Yusuf." jawab mama Herna dengan penuh kesedihan.
"Dion kenal betul aroma ini ma. Ini parfum Karin. Dion gak mungkin salah. Parfum ini adalah parfum kado ulang tahun dari Dion dan Karin gak pernah ganti parfum lagi sejak itu. Karin ada di sini ma. Carikan Karin ma. Panggilkan dia untuk Dion." Dion terus mendesak.
Keringat dingin makin membanjiri tubuh lumpuhnya. Panas badannya juga makin naik.
"Dion sadar nak sadar!! Maafkan mama. Tapi Karin memang tidak ada di sini nak." mama Herna mulai menangis.
"Kariiinn,,,, Om papa disini sayang. Kariiinn kamu dimana sayang???" Dion terus meracau.
Mama Herna hanya bisa memeluk tubuh lunglai itu dengan deraian airmata bercampur kesedihan luar biasa dan dibumbui penyesalan tak berujung.
"Maafkan mama Dion. Maaf,,,," mama Herna terus menangis.
...🌸🌸🌸🌸...
"Assalamualaikum,,,, Halo Del,,,"
Yusuf sudah berdiri di depan pintu dan menyapa Delvara yang digendong Karin saat mereka membuka pintu untuknya.
"Paaaapppaaaa,,,,"
Tangan Delvara pun terulur kearah Yusuf dan meminta gendong. Hal itu tentu membuat Yusuf sangat senang. Dengan segera diambil alihnya Delvara dari gendongan Karin.
"Waaahhh anak ganteng sudah bisa bicara sekarang. Mana panggil papa lagi. Iya ini papa sayang. Paaapaaa,,, ayo coba sekali lagi ngomong. Papa Yusuf mau dengar lagi,,," Yusuf sangat antusias.
"Paaapppaaaa,,,,Paapppaaa,,,"
"Alhamdulillah jagoan papa makin pintar." Yusuf menciumi pipi gembul Delvara yang menggemaskan itu.
Namun lain Yusuf lain pula reaksi Karin. Karin hanya tertunduk sama sekali tak bergeming. Ia tentu sedih karena Delvara rupanya menganggap Yusuflah papanya. Karin sedikit kecewa karena yang tadinya ia mengira Delvara mengiyakan pilihannya pada papanya,,, rupanya Delvara malah memakai panggilan itu untuk Yusuf.
"Eh kenapa ini mamanya?? Kok murung gitu?? Sampai gak jawab salamku juga. Gak dipersilahkan masuk juga tamunya. Apa iri karena anaknya malah lebih dulu panggil papa ya??" Yusuf yang menyadari diamnya Karin itu mulai menegur.
"Eh maaf,,, Waalaikumsalam. Silahkan masuk Yusuf." Karin jadi terlihat bodoh sendiri.
__ADS_1
Yusuf tersenyum lalu langkah kakinya pun mengekor mengikuti Karin. Karin sebenarnya masih sibuk menata hatinya yang galau akibat ulah Delvara tadi. Bahkan saat ini ia masih tetap berceloteh papapapappa di gendongan Yusuf.
"Sejak kapan Del bisa bicara Rin? Kok kamu gak ngabarin aku?" tanya Yusuf.
"Mmm baru hari ini saja kok. Belum juga ada sejam." jawab Karin agak malas karena ia kurang suka pertanyaan Yusuf tentang kenapa tak mengabarinya.
Memang sih hampir semua hal ia dibantu oleh Yusuf tapi apa iya harus lapor tentang tumbuh kembang Delvara juga?
"Rin,,,ada apa? Apa aku salah bicara?" tanya Yusuf.
"Mmm,,, nggak kok. Aku gak apa apa." sahut Karin sambil mengulas senyum tak ingin sahabatnya itu merasa tak enak dengan sikapnya.
"Yakin??"
"Iya yakin. Aku baik baik saja." Karin meyakinkan.
Yusuf hanya mengangguk angguk berusaha percaya meski ia tetap tak percaya. Ia tau betul gelagat dan gerak gerik Karin. Secara memperhatikan satu gadis yang sama selama bertahun tahun tak mungkin ia gagal paham dengan perilaku si gadis idaman hati.
Mereka terdiam sejenak. Saling merasa kikuk. Entah karena omongan pak Adi pada Karin tadi pagi atau karena ulah Delvara tadi hingga akhirnya kembali Delvara yang berceloteh dan memecah kesunyian.
"Papappapapaaa,,,"
"Kamu duluan deh." Kata Karin.
"Mana boleh begitu? Ladies first."
"Aku ingin cari kurir dan orang yang bisa bantu aku di dapur. Aku rasa aku semakin kewalahan mengerjakan semua sendiri. Bisakah kamu membantuku sekali lagi mencarikan orang yang tepat?" tanya Karin.
"Jangan sekali,,, berkali kali pun aku selalu bisa. Baik akan segera ku carikan untukmu. Kalau kurir sebaiknya laki laki saja ya. Kalau untuk bantu kamu,,, apa detail kerjaannya?" tanya Yusuf.
"Cukup bantu aku potong sayur saja sih. Cuci perabotan mungkin. Karena kalau urusan pengemasan itu bagianku sendiri. Aku ingin pesan dalam masakanku tersampaikan pada pelangganku." jawab Karin.
"Ah ya,,,aku hampir lupa. Kamu dapat pelanggan baru lagi lho." kata Yusuf.
"Siapa? Alamatnya? Biar aku tulis." Karin bersemangat mengeluarkan buku catatan alamat pelanggan.
"Cukup catat namanya saja. Alamatnya pasti kamu hafal karena dia tinggal di apartemen lama tempatmu tinggal dulu." ujar Yusuf.
"Oh ya?? Jangan bilang ini adalah orang yang sama yang kamu temui tadi pagi di taman ya?" tebak Karin.
"Gadis pinter!!!" puji Yusuf.
__ADS_1
"Ishh,, sudah dari dulu keles." sungut Karin.
"Iya mereka yang tadi pagi aku temui. Mereka aku bawa ke sana karena mereka membutuhkannya."
"Apa mereka sepertiku juga??" tanya Karin.
"Lebih buruk. Mereka orang kaya yang terusir sendiri dari rumahnya oleh istrinya dan menantunya. Harta mereka diambil alih semua. Mirisnya adalah suaminya ini padahal kondisinya lumpuh lho. Tega sekali istrinya." Yusuf geleng geleng kepala.
"Aku kok gak paham ya??" Karin sedikit bingung.
"Hhmm baru dipuji pinter tadi. Jadi gini,,, yang kutemui tadi itu seorang ibu dan anak laki lakinya. Nah pria itu lumpuh. Dialah si suami. Trus ibu ibu itu adalah mamanya. Sampai di sini kamu paham??" tanya Yusuf.
"Oh gitu,,,iya paham. Kasihan sekali mereka." Karin pun iba.
"Dan kenapa mereka mau menjadikanmu langganan karena si pria bilang masakanmu mengingatkan pada istri pertamanya yang hilang." kata Yusuf.
"Hah?? Kok aku jadi bingung lagi." Karin menggaruk kepalanya yang selalu tertutup hijab.
"Yaa gitu deh. Pokoknya si pria ini awalnya punya istri tapi istrinya udah pergi dan dia menikah lagi."
"Sama yang ngusir ini??" tanya Karin.
"Iyaaaa,,,"
"Hmm hidup itu memang drama. Tidak di sana tidak di sini,,,semua punya alur cerita masing masing." gumam Karin.
"Makanya jangan merasa kamulah yang paling menderita di dunia ini. Masih banyak yang lain yang hidupnya jauh lebih terpuruk. Kamu yang masih diberi nikmat lebih hendaknya bersyukur dan berusaha untuk bangkit." Yusuf mulai khutbah jumat nya.
"Iya pak ustadz,,,," ledek Karin.
"Tuh kan kalau dibilangin juga ah. Malah ngeledek. Oh ya,,, tulis saja namanya bang D. Biar aku saja yang mengirim kesana tiap hari karena aku senang bertemu mereka. Aku merasa punya keluarga lagi jadinya." ucap Yusuf.
"Kan ada aku juga keluargamu." ucap Karin sambil menulis nama bang D di deretan nama pelanggannya tanpa punya perasaan aneh apa pun.
"Kamu itu kan cocoknya dijadikan keluarga dengan label istri. Nih anaknya saja udah mau panggil papa sama aku. Kamu kapan nih??" tanya Yusuf.
Karin menunduk dan memainkan pulpennya.
"Bang D,,,, Kenapa harus bang D namanya??" tanya Karin.
...❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1