Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Minggat


__ADS_3

...Selamat membaca...


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Hana tak langsung mengiyakan permohonan mama Herna itu. Dia berpikir keras. Menimbang nimbang semua perasaannya,,, baik buruknya,,, bagi dirinya.


"Han,,, Mama benar benar memohon padamu sayang. Apa perlu mama berlutut di hadapanmu?" tanya mama Herna membuat Mela terkejut mendengarnya.


"Nyonya sampai segitunya. Yang ada nanti non Hana makin besar kepala." gerutu Mela dan seandainya bisa ingin ia mengingatkan nyonyanya itu.


"Baiklah. Hana mau. Tapi ada syaratnya ma." akhirnya Hana menyetujui.


"Apa pun itu mama pasti sanggupi sayang." jawab mama Herna cepat takut Hana berubah pikiran lagi.


"Mama gak ingin dengar syarat Hana dulu?" tanya Hana.


"Kan mama sudah bilang,,, apa pun itu mama pasti setuju dan sanggupi. Kamu bisa minta apa saja sebagai penggantinya. Kebahagiaan kamu dan Dion adalah yang utama buat mama sayang." mama Herna mengusap tangan Hana.


"Baiklah kalau begitu. Kalau sudah saatnya Hana butuhkan saja berarti Hana kasih tau mama ya?" Hana memastikan.


"Iya sayang. Dan kamu bisa pegang janji mama ini. Mama janji akan memberikan apa pun yang kamu mau." sekali lagi mama Herna meyakinkan.


"Terima kasih ma."


"Jangan sayang. Jangan berterima kasih sama mama karena mama yang harus berterima kasih atas kesediaanmu ini." kata mama Herna.


Keduanya saling berpelukan dengan Mela yang berdiri menyesalkan tindakan mama Herna yang gegabah mengiyakan tanpa tau dulu apa maunya Hana.


"Yah semoga saja non Hana ini tidak macam macam lah. Kasihan mas Dion." sekali lagi Mela hanya bisa membatin.


"Kamu ngapain sih disitu trus Mel? Kepo ya? Nguping ya??" tegur Hana.

__ADS_1


"Maaf non Hana. Saya cuma menemani nyonya tadi." jawab Mela.


"Tenang Han,,, Mela sudah janji tidak akan ungkap apa pun tentang Karin ke Dion atau papa kok. Mama sudah urus Mela dan Darwin. Pokoknya kamu cukup fokus sama Dion saja." ucap mama Herna.


"Baguslah kalau begitu ma. Oh ya ma,,,mengenai perjanjian mama sama Karin yang melarang dia menemui siapa pun yang berhubungan dengan Dion,,,mama yakin dia gak akan menemui Darren atau Rayya?? Secara kan Rayya itu sepupunya." tanya Hana tak yakin.


"Yakin Han. Karena mama sudah beri sanksi kalau dia melanggar janjinya itu. Anaknya itu akan berpindah hak asuh kalau dia sampai melanggar. Dia tentu tidak mau anak yang bisa dijadikan tambang uang itu pindah ke tangan mama kan?"


"Iya sih ma. Tapi Darren dan Rayya sendiri,,,apa mereka akan percaya begitu saja kalau kita bilang ke mereka Karin pergi begitu saja? Kan harus ada alasannya juga ma." Hana mengingatkan.


"Tenang. Kita bisa pakai kondisi Dion sebagai alasannya. Karin masih muda dan yaaah dia juga cantik. Mama akui itu. Jadi untuk anak muda cantik seperti dia, merawat laki laki lumpuh dan koma seperti Dion apa asyiknya? Jadi dia memutuskan pergi saja untuk mencari lelaki lain yang bisa menjamin asyik asyiknya dia lah. Masuk akal kan?"


Hana manggut manggut karena sebenarnya dalam hatinya juga terbersit pikiran yang sama. Sebenarnya ia juga ogah melakukannya namun atas pertimbangan lain lain dan sebagainya, Hana menyanggupi.


Toh juga mama Herna sudah janji akan menyetujui apa pun syarat darinya kan? Tidak ada ruginya bagi Hana.


Hana tersenyum puas. Di depan mata sudah terjamin hidup jadi nyonya Dion yang jauh dari kata kekurangan materi,,, Pewaris tunggal kerajaan bisnis yang menjamur di mana mana.


Tapi sedikit kecemasan kembali menghantui saat ia ingat tentu Darren tak akan diam saja. Dia akan banyak bertanya dan mencari tau kebenarannya.


"Mama sudah kabari Darren keadaan Dion dan Hana?" tanya Hana.


"Sudah sih tapi waktu itu Rayya yang jawab telponnya. Katanya ayahnya sedang menurun kondisinya. Kata Rayya kurang bijak rasanya menyampaikan berita ini pada ayahnya. Ya kita kan sama sama tau kalau Darren dan Dion itu sudah seperti saudara. Bisa saling merasakan kesusahan masing masing. Rayya khawatir kalau Darren dengar malah akan memperburuk kondisinya. Kasihan anak itu,,, Sejak ditinggal Chaira dia sudah berubah banyak tapi tuhan sepertinya masih saja menguji keimanannya." gumam mama Herna.


Namun berbeda dengan mama Herna yang ikut prihatin dengan kondisi Darren,,, Hana malah punya pikiran sebaliknya.


"Kasihan sih kasihan ya. Tapi kalau dipikir pikir ada untungnya juga sih Darren sakit sakitan begini. Jadi dia tidak jadi duri dalam perjalananku kali ini.Sorry Dare,, bukan aku gak peduli tapi aku juga ingin bahagia dengan caraku sendiri. Kamu hanya akan banyak menceramahiku kalau kamu sehat. Kamu hanya akan terus membawa bawa nama dan gelar almarhum ayah dan ibuku. Status kyai akan kamu jadikan senjata untuk menegurku. Padahal aku dan ayah jelas dua pribadi yang berbeda. Mana bisa orang menuntutku bisa seperti ayah dan ibu?" batin Hana mengumpat.


Hana benar benar telah dibutakan mata hatinya. Bahkan ia bisa tidak peduli pada Darren saat ini. Entah bisa disalahkan atau tidak semua yang dilakukannya ini tapi yang jelas Hana tidak ambil pusing dengan komentar orang.


"Yang penting aku bahagia. Bodo amat dengan orang lain." begitu prinsipnya.

__ADS_1


"Baiklah ma. Begitu Hana dinyatakan sembuh oleh dokter, Hana akan rajin menemani Dion." ucap Hana kemudian.


"Iya sayang. Sekarang istirahatlah dulu biar cepat sembuh. Biar bisa cepat ketemu Dion."


Mama Herna berseri seri mengatakannya. Beliau sudah membayangkan Dion akan kembali bahagia bersama Hana.


"Mela,,,sekarang kita ke kamar tuan ya. Ingat apa yang harus kamu jawab kalau tuan tanya tentang Karin. Kalau tidak,,, kamu tanggung akibatnya." ancam mama Herna.


"Iya nyonya." Mela gentar diancam begitu.


Kemudian keduanya berjalan menyusuri lorong lorong rumah sakit yang akan mengantarnya ke ruangan papa Hengki.


"Mama dari mana sih? Kok baru kesini?" protes papa Hengki begitu mama Herna muncul.


"Mama kan gak urus satu orang saja pa. Ada Dion ada Hana yang harus mama urus juga. Makanya papa cepat sembuh. Mama juga lelah seperti ini." sungut mama Herna.


"Kan ada Karin yang bisa bantu mama." sahut papa Hengki.


"Jangan diharapkan lagi sudah anak itu. Dia di mana sekarang saja mama gak tau." sahut mama Herna cuek.


"Maksudnya apa ma?? Memang Karin kemana??" tanya papa Hengki dengan nada terkejut.


"Papa jangan banyak tanya dulu. Ingat jantung papa masih lemah." selalu mama Herna tidak menjawab pertanyaan papa Hengki.


"Karin di mana ma?? Jawab papa!!!" tegas papa Hengki.


Mama Herna kesal mendengarnya. Dengan setengah membentak, mama Herna pun tak menahan nahan lagi.


"MINGGAT!! Mana mau wanita muda cantik sepertinya mengurusi anak papa yang sekarang koma dan nantinya dia lumpuh permanen. Puas papa?"


Detik berikutnya papa Hengki pun merasakan nyeri hebat di jantungnya hingga beliau tak sadarkan diri.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2