Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 9


__ADS_3

Abrar menjalankan mobilnya ke alamat yang sudah diberitahu oleh calon istrinya.


Di perjalanan Abrar hanya bisa geleng kepala mendengar celoteh gadis cantik disampingnya, Alea tidak berhenti bicara tentang konsep pernikahannya, meski gadis ini berat menerima pernikahan mereka yang akan di gelar minggu depan.


Alea tetap ingin menciptakan momen pernikahan seperti yang ia impi-impikan selama ini dimana ia akan memakai gaun bak putri raja dengan ekor gaun yang indah menjuntai panjang dan di iringi para bridesmaid dari adik-adik perempuan dan dua sahabat dekatnya.


Alea tersenyum-senyum membayangkannya, ia tidak berpikir bagaimana ia akan menjalani hidup setelah pernikahan nanti yang ada di pikirannya yaitu tentang momen tersebut harus tercipta sempurna bersama keluarga dan teman-temannya bahwa ia juga bisa menikah seperti dua temannya Nazli dan Keysa. Itu artinya Alea akan terbebas dari rasa malu dari para teman-teman yang akan menganggapnya belum laku jika tidak bisa menyusul menikah.


"Astaga.....aku tidak menyangka akan menikah juga" Alea tertawa sendiri.


Abrar tersenyum senang mendengarnya, ia pikir Alea mulai menerima takdir mereka.


"Apa kau mulai menerima rencana pernikahan ini?" tanya Abrar sambil terus fokus mengemudi.


"Yaaa.....mau bagaimana lagi, aku tidak mau melihat mama dan papaku kecewa, mereka sepertinya sangat menyukai bang Abrar, aku juga heran"


Abrar hanya tersenyum mendengarnya.


"Aku tidak mau berpikir jauh tentang bagaimana kita setelah menikah nanti, yang penting sekarang pikirkan yang bahagia-bahagia nya saja, yang jelas aku tidak perlu lagi masuk akun biro jodoh menyebalkan itu" Alea tersenyum penuh arti.


"Alea....Alea....abang merasa kau sama sekali belum dewasa" Abrar geleng-geleng kepala.


"Biar saja, itu artinya aku akan terus merasa muda.....tapi tunggu, apa abang juga berat menerima pernikahan ini?" tiba-tiba saja Alea bertanya seperti itu.


"Tidak....abang menerima ini dengan senang hati" jawab Abrar.


Alea mengernyit heran.


"Senang? aku kira abang keberatan dengan keputusan orangtua kita, maaf aku yang bersalah disini sudah menghancurkan rencana abang menikah dengan wanita menyebalkan itu"


Abrar tersenyum mengingat bagaimana Alea memanasi Yura pada saat malam itu.


Tidak lama kemudian mereka sampai di halaman sebuah hotel mewah tempat acara pernikahan Deni dan Dara.


Alea menautkan kembali tangannya pada sela jemari Abrar, kembali jantung pria ini gugup sekaligus bahagia diperlakukan seperti semestinya orang yang bertunangan.


Alea melihat-lihat sekitar mencari dua sahabatnya namun belum nampak dipenglihatan netra cokelatnya.


Beberapa teman sekelasnya yang turut hadir menatap kagum pada pria yang masih dalam genggaman Alea, mengerti akan tatapan mereka membuat Alea puas bahwa ia sudah berhasil untuk pamer pasangan di pesta itu.


Beberapa diantara mereka sengaja mendekat dan berkenalan dengan Abrar, pria ini hanya tersenyum ramah dan ikut menyapa teman-teman Alea yang rata-rata perempuan.


Alea begitu puas mengenalkan Abrar sebagai calon suaminya pada teman yang ikut hadir disana, senyum devil pun ia terbitkan ketika mereka mulai berjalan mendekati kedua mempelai hari ini.


"Alea...." ucap Deni terkejut jika mantan kekasihnya itu begitu cantik dan anggun, ia tidak menyangka bahwa Alea akan hadir disana, Deni pikir Alea tidak akan kuat melihatnya bersanding dengan Dara.


Namun pikiran Deni ditepis ketika Alea datang dengan wajah sumringah sambil menggandeng erat tangan pria asing yang tidak pernah ia kenal, Deni sama sekali tidak melihat raut kecewa ataupun terluka dari gadis yang ia pacari hampir dua tahun ini.

__ADS_1


"Hai Den....selamat ya, aku turut bahagia akhirnya kau bertanggung jawab atas perbuatanmu dengan Dara" ucap Alea pada Deni sambil melirik Dara yang memasang wajah kesal.


"Alea....terimakasih kau sudah mau datang, siapa pria ini? apa kau menyewa nya untuk mendampingimu disini?" jawab Dara menatap remeh.


"Oh Dara....kau salah paham sayang, kau kira aku tidak laku setelah lepas dari suami brengsekmu ini? asal kau tahu, ini Abrar calon suamiku kami akan menikah minggu depan, aku harap kalian bisa datang ke pesta ku nanti"


"Calon suamiku ini adalah seorang ceo, tidak seperti Deni yang statusnya masih mahasiswa seperti kita yang tentu keuangannya masih bergantung dari orangtua" Alea menyindir sambil melirik Deni.


Dara berdecak kesal bagaimana Alea menghina Deni dihadapan pria asing.


Abrar hanya diam saja, ia tidak tahu harus berkata apa dengan beberapa orang mahasiswa dihadapannya ini yang tampak saling sindir.


Deni pun hanya bisa terdiam, memang benar yang Alea katakan, ia masih bergantung dengan orangtua jika saja Dara tidak hamil mungkin ia tidak akan mau menikah muda seperti ini sebelum sukses.


"Terserah kau saja Alea, aku yakin pria ini hanya sewaan mu saja, mana bisa kau mendapat calon suami secepat ini" Dara masih belum percaya.


"Aku tidak butuh kau percaya atau tidak Dara temanku, aku hanya mau bilang jika aku berhasil move on dari Deni dalam waktu yang singkat, hebat bukan...lagi pula jika dibandingkan dengan calon suamiku ini Deni sama sekali tidak ada apa-apanya" Alea memberi sindiran telak pada pasangan pengantin itu.


"Ayo sayang......kita kesana" ajak Alea bergelayut manja pada lengan Abrar.


Abrar tersenyum geleng kepala dengan tingkah Alea, tentu saja ia merasa di awan ketika Alea memanggilnya sayang.


Deni hanya menunduk, Dara menghentakkan kakinya kesal bahwa Alea tertawa diatas pernikahannya.


****


Tidak lama ia melihat ke sosok perempuan manis yang juga tampak hadir disana, Abrar melihat Yura disana bersama orang tuanya namun Yura memisahkan diri dari mereka dan menghampiri seorang perempuan lain.


Alea belum menyadari hal itu, karena ia masih sibuk bergosip dan mengumpat kedua mempelai bersama kedua temannya.


Yura tidak sengaja melihat Abrar, ia memutuskan untuk menyapa lelaki yang hampir saja menikah dengannya.


"Hai....." sapa Abrar canggung ketika Yura ke arahnya.


"Hai juga, kau disini?"


"Iya...." jawab Abrar singkat.


"Kau sendiri?" tanya balik Abrar.


"Mempelai lelakinya sepupu ku, kau sendiri? maaf aku dengar kau akan menikah minggu depan, meski aku masih kecewa padamu tapi aku senang kau berani bertanggung jawab atas perbuatanmu" jawab Yura pelan, ia mengira memang benar bahwa Abrar telah menghamili Alea.


Abrar bingung ingin jawab apa, ia hanya bisa tersenyum canggung saja.


"Kau gadis yang baik Yura, aku harap kau mendapatkan lelaki yang baik daripada ku, aku malu pada keluarga mu tentang malam itu, sungguh aku minta maaf"


Yura menatap Abrar berkaca-kaca, sesungguhnya Yura sudah mulai menyukai Abrar, bahkan Yura mulai jatuh cinta pada pria ini ketika pertama bertemu.

__ADS_1


"Aku harap pilihanmu benar Abrar, aku merasa kekasihmu terlalu berani, apa kau yakin dia memang mengandung anakmu?"


Pertanyaan Yura membuat Abrar tersedak liurnya sendiri, ia tidak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu.


"Abrar kau tidak apa-apa?" Yura mengusap punggung Abrar dengan lembut.


Disisi lain Keysa baru menyadari bahwa Abrar tidak lagi mengobrol bersama suaminya, ia melihat ke arah pria itu yang sedang terbatuk-batuk dan seorang perempuan yang mengusap punggungnya.


"Alea.....lihat itu, bang Abrar bersama siapa?" tunjuk Keysa pada Alea.


Alea langsung membelalakkan mata menyadari calon suaminya bersama perempuan menyebalkan yang hampir menikah dengan pria itu.


Tanpa berkata lagi gadis bar-bar ini menghampiri Abrar dan menariknya sedikit menjauh dari Yura.


"Sayang....kau disini, kenapa meninggalkanku? oh kau sedang bicara dengan nona ini rupanya" Alea memeluk lengan Abrar mesra.


"Alea aku tidak sengaja bertemu Yura kami hanya saling menyapa" jawab Abrar polos.


"Ah....sayang kepalaku pusing, sepertinya aku ingin muntah" Alea menutup mulutnya memasang raut ingin muntah.


"Alea kau kenapa?" tanya Abrar bingung namun tampak panik.


Yura kembali terluka melihat adegan itu didepan matanya, gadis ini hanya diam saja melihat tingkah Alea.


"Aku baik-baik saja tenanglah sayang, ini memang sudah biasa terjadi di awal itu artinya anakmu berkembang dengan baik" Alea kembali melirik Yura dengan senyum devil.


Abrar semakin bingung.


"Maaf Abrar, aku akan kembali bergabung dengan orangtuaku, senang bertemu denganmu disini" Yura menunduk pamit.


Setelah gadis itu berlalu Alea tertawa terpingkal-pingkal bahwa ia kembali berhasil mengerjai Yura.


"Ha ha ha astaga abang lihat ekspresi terluka nya calon istrimu yang gagal itu?" kembali Alea terkikik geli, membuat Abrar kesal.


"Alea....kenapa kau seperti ini? apa kau masih menganggap ini lelucon? abang mau pulang sekarang, terserah kau mau ikut pulang atau tidak" Abrar berjalan menuju pintu keluar, ia kesal bagaimana Alea kembali menganggap semuanya lelucon dan gadis itu sudah keterlaluan padahal Yura tidak melakukan apapun.


Alea menghentikan tawanya, ia masih mematung disana menatap punggung Abrar menjauh.


*****


author masih butuh dukungannya utk novel


"ku lepas kau dengan ikhlas ya"


udah banyak juga episodenya, ga kalah seru juga hi hi hi


jangan lupa tinggalkan jejak yaaa

__ADS_1


makasih muahhhh muahhhh


__ADS_2