
Bella dan Ricko mengundang keluarga dari perempuan yang akan dijodohkan dengan Abrar, mereka akan makan malam bersama dan berniat membahas pernikahan kedua anak mereka.
Yura nama gadis yang akan dijodohkan dengan Abrar, gadis manis yang berumur 26 tahun ini berkarir di bidang pendidikan, ia menjadi salah satu tenaga pendidik di sebuah sekolah internasional di kota tersebut.
Yura gadis baik dan pintar, ia sudah cukup dewasa untuk menikah maka darinya ia menerima perjodohan itu sejak pertama kali di melihat photo Abrar yang dikenalkan oleh Bella sebelum Abrar pulang ke tanah air.
Siapa yang akan menolak pesona dari lelaki matang, tampan dan berbudi pekerti baik seperti Abrar hampir tidak ada celah karena memang Abrar tumbuh dalam didikan keluarga yang baik.
Namun berbeda dengan Abrar, ia sebenarnya berat menerima perjodohan terlebih Abrar hanya mencintai satu wanita saja selama hidupnya yaitu Alea, namun tentu ia tidak berani mengutarakan karena Alea jelas sekali hanya menganggap kedekatan mereka sudah seperti saudara.
Abrar tidak ingin egois, ia menerima perjodohan demi orangtuanya, ia berjanji pada dirinya sendiri akan menerima pernikahan itu dengan baik, biarlah cinta tetap terkubur dalam hatinya, ia juga berjanji akan menerima Yura sebagai istri sesungguhnya.
Sangat dewasa pemikiran lelaki ini, ia mengesampingkan ego nya demi kebaikan bersama.
Setelah makan malam bersama, Abrar dan Yura duduk di bangku taman dihalaman rumah pasangan Bella dan Ricko, sedang keluarganya berada di ruang tamu melanjutkan pembicaraan tentang hari pernikahan.
Lama mereka bertukar cerita satu sama lain, melanjutkan perkenalan, Yura gadis yang mudah di ajak bertukar pikiran mereka mempunyai kesamaan dalam pandangan hidup.
Sedang asyik mengobrol berdua, Arkan diam-diam memotret calon mempelai itu dengan ponselnya, Arkan bahagia bila abangnya bahagia.
Maka darinya Arkan memposting poto mereka di layar media sosialnya dengan caption emoticon love berwarna merah.
******
Alea tengah bermain dengan ponselnya, ia membuka media sosialnya untuk melihat postingan teman-temannya, ia tersenyum namun sedih ketika melihat namanya di sematkan pada salah satu postingan photo pernikahan Nazli beberapa hari yang lalu.
Kemudian keningnya berkerut ketika melihat postingan terbaru dari Arkan.
__ADS_1
"Apa ini? Apa ini bang Abrar?" emosinya langsung naik ketika melihat perempuan disamping Abrar tersenyum pada photo tersebut.
Ia merasa tidak dihargai oleh lelaki yang ia anggap kakak sendiri itu, dimana Abrar berani bersama wanita itu tanpa memberitahunya.
Alea menjadi ingat tentang perjodohan Abrar, dengan sigap ia menelepon Abrar namun sayang sekali ponsel pria itu berada di kamar.
Lalu Alea menelepon Arkan.
"Hallo...bang Arkan, jelaskan padaku postingan yang baru saja kau upload" tanya Alea tidak sabar.
'Tenanglah Alea kau kenapa? Iya itu bang Abrar bersama calon istrinya, malam ini kedua keluarga bertemu' jawab Arkan jujur di seberang telepon.
"Apa? Apa secepat ini mereka akan menikah?"
'Memang harus menunggu apalagi Alea sayang, aku juga akan menikah jadi mama ingin bang Abrar yang menikah terlebih dahulu'
Ia beranjak dari ranjang dengan cepat, mengenakan mantel dan menyambar kunci mobilnya.
Ia turun dari lantai dua tempat kamarnya berada dengan tergesa-gesa.
"Sayang kau mau kemana malam-malam begini?" tanya Eliana ketika bertepatan dengan ia akan naik tangga.
"Apa mama tahu bibi Bella ingin menikahkan bang Abrar secepatnya?"
"Iya, bibi Bella bilang malam ini kedua keluarga bertemu membahas pernikahan abang mu itu, ada apa sayang?" tanya El bingung.
"Astaga kenapa mama tidak bilang, aku akan kesana untuk menggagalkannya" Alea ingin berlalu namun ditahan sang mama.
__ADS_1
"Alea kau kenapa?" tanya El yang semakin bingung.
"Ma....aku yang akan menikah bukan mereka" Alea menggertakkan giginya geram.
"Alea kau bicara apa? Menikah bagaimana, apa kau juga akan menikah? Astaga....kenapa kau tidak bilang mama? Alea jelaskan pada mama apa maksudmu?" El tidak habis pikir dengan putri sulungnya ini.
"Ma....kelamaan, nanti aku jelaskan ke mama oke, sekarang aku akan menjalankan misi ku untuk menggagalkan mereka" Alea berkata yakin sambil tersenyum smirk.
Setelah mencium pipi mamanya, gadis itu pergi mengemudi menuju rumah Bella.
Eliana mematung, ia masih ingin mencerna sikap Alea, ia tahu memang Alea manja pada Abrar namun tidak menyangka juga bahwa gadis Kemal itu berbuat seenaknya saja untuk menggagalkan acara keluarga Bella hanya karena Alea tidak diberitahu akan hal tersebut.
"Kenapa aku merasa Alea semakin kekanakkan sejak kepulangan Abrar, putriku posesif tidak boleh Abrar mendekati wanita lain, astaga Alea....kapan kau dewasa nya nak"
El bergumam sendiri sambil geleng kepala.
"Sayang kau kenapa?" Kemal menghampiri istrinya.
"Putri sulung mu....dia bilang akan mengagalkan rencana pernikahan Abrar" jawab El polos.
"Apa? Astaga....kenapa lagi gadisku itu, terbiasa manja pada putra Bella makanya dia berbuat semaunya, aku rasa kita akan di telepon Ricko sebentar lagi"
"Alea sama sepertimu suka seenaknya saja, kasihan Abrar jika harus menunggu Alea menikah lebih dulu baru pria itu boleh menikah, apa tidak ketuaan"
Kemal terkekeh, ia sudah tahu sifat putrinya yang egois, Alea memang sejak dulu mengatakan bahwa Abrar dan Arkan tidak boleh menikah lebih dulu dari gadis itu. Jadi Kemal sudah tidak heran ketika Alea bersikap seperti sekarang.
"Carikan Alea suami, baru dua putra Bella bisa bebas dari gadis manja kita itu" jawab Kemal enteng.
__ADS_1
"Astaga....memang mencari suami itu mudah, kau saja tidak boleh Alea pacaran, mana bisa gadis itu dapat suami" kesal Eliana.