Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Beginilah Kehidupan


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


Dion benar benar merasa dilema. Ingin rasanya menemani dan mendampingi Karin sebagaimana yang ia inginkan agar bisa melihat sendiri perjuangan istrinya itu saat bertaruh antara hidup dan mati demi bisa melahirkan buah hati mereka,,, Namun saat ini juga wanita yang telah berjasa besar dan juga pernah bertaruh nyawa untuknya juga sedang berjuang antara hidup dan mati.


"Bagaimana ini????" Dion malah hanya mondar mandir.


Tiga langkah mengikuti arah kemana mama Herna di bawa lantas kembali lagi ke arah sebaliknya di mana Karin di tangani. Lelah juga akhirnya dengan dilemanya itu. Dion memutuskan berhenti. Berdiri di antara dua tempat dimana dua orang wanita terkasih tengah berjuang.


"Hamba mohon berikan keduanya kekuatan ya Rabb. Hamba menyayangi keduanya." Dion diam dan berdiri menundukkan kepala serta berdoa kala menyadari tubuhnya yang hanya satu ini mana bisa dibagi ke dua tempat berbeda.


Sayup sayup ia mendengar suara tangis bayi dari ruangan di mana Karin ditindaklanjuti. Dion yakin itu pasti suara tangis bayi mereka karena saat itu memang hanya ada Karin saja yang melahirkan.


"Alhamdulillah." ujarnya seraya menoleh ke arah sumber suara.


Baru saja akan melangkah ke sana, suara pintu UGD terbuka membuat Dion menoleh kesana. Dion bisa melihat dokter menghampirinya dengan langkah lesunya. Seakan bisa menebak apa yang terjadi, lutut Dion terasa lemas.


"Mohon maaf tuan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun pasien tidak bisa terselamatkan."


Kalimat yang mampu mengubah suasana hati yang semula bahagia menyambut kelahiran anak kedua. Airmata Dion mulai menetes satu persatu pelan namun pasti. Segentle gentlenya Dion, tetap saja ia akan menangis mendengar berita seperti ini.


"Innalillahi wainnailaihi roji'un." lirihnya dalam tangisnya.


Ia tentu terkejut mendengarnya namun ia tidak bisa menentang kehendak Rabbnya. Semua sudah digariskan olehNYA dan semua hamba tuhan hanya bisa pasrah dengan segala ketetapanNYA.


"Mama saya sakit apa sebenarnya dok?" tanyanya kemudian lirih masih dengan wajah tertunduk.


"Dari hasil pemeriksaan kami, bisa kami simpulkan pasien sudah lama sakit. Kadar gula darahnya sangat tinggi menyebabkan beliau tidak sadar. Lalu tekanan darahnya juga tinggi. Singkatnya,,, pasien menderita penyakit komplikasi." jelas dokter tak ingin membuat keluarga pasien makin bingung dengan bahasa kedokteran.

__ADS_1


Dion menangis makin dalam. Menyesali kenapa selama ini begitu tidak peka terhadap kondisi mama Herna.


"Kenapa mama tidak pernah bilang sama Dion ma?? Kenapa mama menyembunyikannya? Kenapa mama memilih menahan semua sakit itu sendiri??"


Segala pertanyaan itu muncul di benaknya namun detik berikutnya Dion pun beristighfar. Tidak baik menyesali semua yang sudah terjadi apalagi ini tentang garis hidup seseorang. Dion bisa menarik kesimpulan mungkin ada alasan kenapa mama Herna melakukannya.


Dikuatkannya langkahnya menuju ke ruangan dimana kini tubuh mama Herna terbaring tanpa nyawa. Dibukanya kain penutup tubuh wanita terkasihnya itu lantas diciumnya lembut kening mama Herna yang wajahnya tampak tersenyum itu.


"Ini bentuk kasih sayang mama pada Dion dan Karin. Mama tau bagaimana kondisi Karin makanya mama gak mau Karin sampai kenapa kenapa kalau tau beliau sakit. Terima kasih ma. Semoga khusnul khotimah. Bertemu papa di surgaNYA. Dion ikhlas."


Walau kata ikhlas diucapkan dengan diiringi seulas senyuman namun tetap saja hati menangis. Wajar. Anak berbakti mana yang tak menangis saat kehilangan orang tuanya untuk selama lamanya. Dion terpekur di tepi pembaringan mama Herna sampai ada yang memanggilnya.


"Tuan. Istri anda memanggil."


Dion menyeka airmatanya dengan cepat. Ia hampir lupa ada Karin yang pasti bingung menunggunya. Ia benar benar berusaha menghilangkan semua bekas tangisan di wajahnya. Ditarik tariknya bibirnya membentuk senyuman meski kali ini untuk tersenyum pun rasanya sulit sekali.


Dirasa sudah siap, Dion pun melangkah menuju ruangan dimana Karin dan bayi mereka menunggunya.


Dion tersenyum. Mengecup kening Karin lembut. Membisikkan kalimat lembut yang membuat wanita itu merasa begitu dicintai dan dihargai.


"Terima kasih bidadariku. Atas perjuanganmu kembali melahirkan buah cinta kita. Sungguh semua yang ku lakukan untuk keluarga kita tidak ada apa apanya dibandingkan denganmu."


Karin tersenyum namun senyumnya kali ini juga menyimpan segudang tanya akan kondisi mama Herna. Dion tau itu tapi ia mengalihkannya.


"Om papa adzan dulu untuk anak kita ya." ucap Dion yang dijawab dengan anggukan oleh Karin.


Bayi mungil perempuan itu lucu dan menggemaskan sekali. Wajahnya yang lagi lagi mirip Dion mampu menghapus duka lara Dion saat itu.


"Jadi ini princess mama yang suka ngerjain papa selama ini ya? Papa sampai teler ngidam. Halo princess,,, selamat datang ke dunia sayang." ucapnya seraya mengelus elus pipi mungil yang masih merah itu.

__ADS_1


Detik berikutnya Dion membisikkan kalimat kalimat suci di telinga princess mungilnya itu. Karin terus memperhatikan meski ia berusaha keras menahan semua lonjakan pertanyaan yang datang bertubi tubi mengenai kondisi mama Herna.


Dion selesai dengan adzannya. Ia kembali memandangi wajah mungil itu. Tetesan airmata tak bisa dibendungnya ketika melihat wajah itu. Bagaimana tidak? Sepintas malah wajah mama Herna yang melintas bagai cerita cerita dalam film dimana ada yang namanya reinkarnasi.


"Om papa,,," sekali lagi Karin memanggilnya dengan berharap ada jawaban tentang mama Herna.


Dion paham betul. Karenanya ia mendekati Karin yang masih duduk bersandar dengan sisa sisa tenaganya itu. Diraihnya puncak kepala Karin lalu diciumnya dengan cukup lama. Dion berharap ciuman itu mampu memberikan kekuatan untuk istrinya mendengar berita buruk.


"Relakan mama ya sayang. Mama sudah menyusul papa ke surga." bisiknya lirih masih dengan berkali kali menciumi kepala Karin.


Karin sendiri hanya menangis tanpa suara. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain itu dan mengucap "innalillahi" dalam hati. Kesedihan yang seimbang dengan kebahagiaan yang ia dapatkan itu tetap saja menyisakan duka.


Teringat semua kasih sayang yang diberikan oleh mama Herna selama ini tanpa mengingat segala bentuk keburukannya. Karin menangisinya layaknya saat ia kehilangan mamanya sendiri. Kini ia merasa keluarganya makin sedikit.


Kehilangan mama sendiri,,,lalu papa Hengki,,,sekarang mama Herna. Tinggal pak Adi satu satunya orang tua mereka.


Tiba tiba rasa takut kehilangan Dion juga menghantuinya. Diremasnya lengan Dion yang melingkar di tubuhnya. Dion kesakitan namun menahannya.


"Sabar ya sayang. Semua ini sudah kehendakNYA." meski Dion sendiri merasa lemah namun ia tetap harus bisa menguatkan Karin.


Karin hanya mengangguk dalam isakan tangisnya.


"Zoya Allura Devansha."


Dion mengucapkan serangkai nama indah dengan menatap princess cantiknya membuat Karin mengusap airmatanya karena mengingat tak hanya duka yang didapatkannya hari ini melainkan ada bahagia yang kelak akan menemani hari harinya.


"Nama yang indah." ucap Karin.


"Ada yang pergi dan ada yang datang. Beginilah kehidupan." lirih Dion seraya kembali merengkuh tubuh Karin dalam pelukannya.

__ADS_1


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2