Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 33


__ADS_3

Nara melihat sekeliling, ia memberanikan diri keluar kamar karena perutnya yang sudah tidak bisa menahan lapar, meski merasa malu dengan pakaian yang ia kenakan setidaknya ia merasa lega bahwa tidak bertemu lawan jenis ketika hendak ke dapur.


Nara merasa canggung ketika para pelayan memandanginya dengan tatapan lain, entah hanya perasaannya saja atau tidak ia merasa tatapan itu seolah sedang mengejek gadis yang akan genap berumur 20 tahun dua bulan lagi tersebut.


"Kenapa mereka menatap ku seperti itu? apa karena penampilan ku yang aneh seperti ini?", gumam Nara pelan seraya melirik pahanya yang terekspos sempurna karena dress yang ia kenakan jauh diatas lutut.


"Tentu saja, memakai pakaian ini tentu aku terlihat murahan bukan? oh nona Sheira kenapa kau memberikan pakaian yang terbuka semua bagian bawahnya?", gerutu Nara kesal, betapa tidak ia terpaksa memakai semua pemberian adik iparnya itu sebab pakaian yang ia bawa sudah entah berada dimana, ia tidak menemukan lagi tas pakaiannya setelah menikah.


Nara memutuskan untuk mengambil banyak makanan dan ia bawa ke kamar, agar ia bisa leluasa makan tanpa malu seperti sekarang.


"Lihat saja dia makan begitu banyak, itu pula kenapa dia membawanya ke kamar pasti nona itu malu pada kita bahwa makannya banyak, itu terlihat kampungan bukan?", ucap salah satu pelayan.


"Lihat penampilannya baru satu hari setelah menikah sudah berani seksi, aku rasa tuan Dannis tergoda karena tubuh dan pakaian yang ia kenakan itu", ucap temannya yang satu lagi.


"Dia hanya beruntung saja bisa menikah karena nyonya Eliana, jika tidak mungkin dia hanya sebatas wanita penghibur saja", sela salah satu pelayan lagi.


Beberapa pelayan tampak sedang bergosip sambil melirik Nara yang mengambil makanan dan membawanya ke kamar.


"Kalian tahu apa yang ku lihat ketika ke kamar tuan Dannis?", ucap salah satu pelayan yang datang menghampiri beberapa temannya itu.


"Memangnya kau melihat apa?", tanya salah satu diantara mereka yang terlihat penasaran.


"Ayo katakan? apa kau melihat darah perawan di kasur mereka?", tanya salah satu sambil tertawa.


"Ah kau ini bicara apa? itu tidak mungkin, bukankah nona Nara didapat oleh tuan Dannis di hotel? kau tahu apa yang dilakukan lelaki dan perempuan di kamar hotel bukan? lagipula aku berpikir mungkin saja tuan Dannis bukan yang pertama baginya", ucap salah satu dengan penuh semangat membicarakan tentang majikannya.


"Kalian salah semua, yang ku lihat adalah terdapat selimut dan bantal di sofa, dan nona Nara tidak membiarkanku membereskan kamar mereka mulai hari ini, dan apa yang lebih mencengangkan?".


"Apa? Apa? jangan membuatku penasaran ayo cepat katakan", desak temannya.


"Photo kenangan nona Naya, sama sekali tidak berubah posisi di dinding kamar tuan Dannis..... aku rasa kalian bisa mengartikannya bukan? apa kau berpikir sama denganku? aku rasa tuan Dannis tidak benar-benar menganggapnya istri, jika dia mencintai istrinya itu pasti akan menjaga perasaan nona Nara ketika mereka sudah satu kamar bukan?".

__ADS_1


Kalimat panjang itu mampu membuat tiga pelayan lainnya tercengang atas apa yang mereka dengar.


Namun segera mereka menunduk takut ketika sebuah suara membuyarkan percakapan antar pekerja di rumah mewah itu.


"Kalian sedang bergosip? ayo kembali ke pekerjaan kalian, kalian bisa bergosip ketika waktu istirahat".


"Maafkan kami nona Sheira", jawab mereka serentak.


"Baiklah..... ayo bubar, jangan di ulangi bukakah pekerjaan kalian masih banyak?".


"Baik nona", jawab mereka lagi.


*****


"Sheira kau sudah pulang? Bagaimana kabar nona Alea?", tanya Nara ketika Sheira menghampiri ke kamar kakaknya itu.


"Kak Alea baik, besok sudah bisa pulang.... keponakan kita sangat cantik, tentu saja karena orang tuaku bibit unggul jadi keturunan nya pun pasti ikut unggul", jawab Sheira tertawa.


"Dia sedang mengajak trio rusuh itu ke taman bermain, aku tidak bisa ikut karena calon mertuaku mengajak bertemu untuk makan siang bersama, aku pulang untuk bersiap pergi", jawab Sheira terkekeh mengingat nakal nya tiga keponakannya itu.


"Mama?", tanya Nara lagi.


"Mama dan papa masih akan menginap di rumah sakit, hei kenapa kau hanya mengurung diri di kamar Nara? ayolah kau bisa menonton tv jika kau mau".


"Tidak.... aku ingin di kamar saja, aku lelah", ucap Nara lesu.


"Ha ha ha, kenapa kau lesu seperti ini? oh aku akan menebaknya, pasti kau kelelahan menghadapi kak Dannis semalam bukan?", tanya Sheira terkekeh geli.


Nara cepat menggeleng, "Jika kau berpikir yang macam-macam itu salah, aku hanya lelah saja sejak menikah aku menjadi kurang fokus".


"Apa kakakku menyakitimu?".

__ADS_1


"Tidak tidak, bukan seperti itu.... tidak ada hubungan nya dengan kakakmu, aku hanya merasa sedih mengingat keluarga ku", jawab Nara menunduk.


"Nara.... kami keluarga mu sekarang, jangan bersedih oke, aku mengerti perasaan mu aku harap kau bisa bertemu keluarga mu saat resepsi nanti", ucap Sheira menggenggam tangan iparnya itu.


Nara mengangguk tersenyum.


Sheira berpendar melihat kamar kakaknya itu yang tidak berubah sedikitpun. Gadis itu mendekati beberapa bingkai photo di dinding.


"Kenapa photo ini belum dilepas? huh.... aku sudah menyuruh pelayan membereskan dan menghias kamar ini kemarin, photo ini sudah tidak berguna lebih baik dibuang saja, kenangan tetaplah sebuah kenangan, tidak baik memajang photo mantan disaat sudah menikah dengan wanita lain, enak saja apa kakakku tidak peka akan perasaanmu sebagai istrinya, ini menyebalkan", ucap Sheira kesal.


Nara menggeleng cepat.


"Tenanglah Nara, akan ku suruh pelayan membereskan photo-photo ini lagi nanti".


"Tidak Sheira jangan, jangan lakukan itu biarkan saja..... aku sama sekali tidak keberatan, tidak mudah melupakan orang yang dicintai sepenuh hati meski kakakmu sudah menikah denganku, aku rasa kau tahu alasannya sebab pernikahan ini hanya....", kalimat Nara menggantung ketika Sheira menyela.


"Nara, jangan merasa sungkan akan hal sekecil apapun, kau istrinya apapun alasannya kakakku harus menghargaimu sekarang, itu pula alasanku mendukung pernikahan kalian agar kak Dannis tidak terus terpuruk akan kematian kak Naya, semua akan berubah seiring waktu, dan itu dimulai dari hal yang kecil seperti membuang semua kenangan yang tersisa diantara mereka, tidak guna hidup dalam kenangan masa lalu. Kau adalah masa depan kakakku, jadi dia tidak boleh menyakitimu meski hanya sebuah photo", ucap Sheira tegas.


"Tapi.... apalah arti sebuah photo, percayalah aku sama sekali tidak keberatan".


"Kau berkata seperti ini karena kau belum mencintainya Nara, kau akan cemburu jika kau sudah mulai menerima pernikahan ini dan aku yakin kalian akan saling jatuh cinta seiring waktu, bukankah sudah ku bilang tidak ada cinta yang tidak hadir dalam sebuah pernikahan, kau akan merasakannya nanti, kau bahkan akan merasa sesak dengan hanya menatap photo suamimu bersama wanita lain meski kak Naya telah tiada, percayalah kau akan sangat cemburu nantinya".


"Aku tidak akan membiarkan hal sekecil apapun memperlambat perjalanan cinta kalian", ucap Sheira sambil mengambil kursi berniat akan menurunkan sendiri photo-photo itu.


"Sheira jangan.... apa yang kau lakukan bagaimana jika kakakmu marah?", cegah Nara.


"Jika dia marah padamu, kau bisa mengadu padaku... jika perlu kau harus mengadu pada mama, jika sudah urusan mama kak Dannis tidak akan berani membantah".


Nara hanya bisa menggigit bibir bawahnya.


"Apa yang akan ku katakan nanti?", gumam Nara menghela napas mengingat wajah menyebalkan suaminya dengan mata menatap langsung dimana Sheira naik ke kursi dan menurunkan sendiri semua photo kenangan Dannis bersama mendiang Khanaya dulu.

__ADS_1


__ADS_2