Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 8


__ADS_3

Abrar mendekati Alea yang sedang memainkan ponselnya di sofa, kliennya sudah pergi jadi pria ini sudah tidak ada halangan untuk bicara pada calon istrinya itu.


"Alea....apa yang ingin kau bicarakan?"


"Hmmmm aku ingin abang mengosongkan jadwal hari kamis nanti, dampingi aku ke pesta pernikahan temanku"


Abrar mengernyit heran, biasanya Alea tidak pernah mengajaknya ke pesta pasti gadis itu akan pergi bersama teman-temannya saja.


"Kenapa mendadak? jadwal abang bahkan padat sampai sebelum pernikahan kita"


"Apa? jadi abang tidak mau?" kesal Alea.


"Bukan begitu, akan sulit untuk mengatur ulang jadwal yang sudah direncanakan dengan matang, apalagi ada pertemuan penting hari kamis nanti" jawab Abrar.


"Aku tidak mau tahu....abang harus ikut denganku titik" cebik Alea dengan tangan bersedekap didada tanda ia kesal.


Abrar menghembus napas kasar, ia tidak bisa untuk ikut pergi namun melihat wajah calon istrinya itu ia menjadi tidak tega.


"Alea mengertilah.....memang kenapa kau tidak pergi bersama temanmu saja biasanya kau pergi bersama mereka"


"Huh mereka tentu akan pergi dengan suaminya, mereka sudah menikah bang....aku saja yang belum" jawab Alea tambah kesal, ia mengerucutkan bibir cantiknya kedepan, membuat Abrar merasa geli sendiri mendengar bahwa Alea belum punya pasangan seperti temannya.


"Lalu abang bisa apa? kau saja mengaku sebagai adikku bukan calon istri pada klien ku tadi, apa nanti kau juga akan mengenalkan ku sebagai kakakmu nanti ketika dipesta?" Abrar sengaja menyindir gadis itu.


"Tidak....tentu saja sebagai tunanganku, memang itu kenyataan bukan? apa abang tidak mau menikah denganku? lantas kenapa abang diam saja ketika orang tua kita salah paham sampai sekarang?" Alea membesarkan matanya menghadap Abrar disampingnya dengan jarak yang sangat dekat.


Abrar menjadi salah tingkah dengan tatapan Alea.

__ADS_1


"Kenapa diam? jika tidak mau menikah, ayo kita bicara pada orang tua kita sekarang" Ancam Alea.


"Tidak tidak bukan itu maksud abang, ya Tuhan....Alea tenanglah jangan marah dulu"


"Kalau begitu cepat kosongkan jadwal kamis nanti, aku tidak bisa pergi sendiri" ucap Alea merengek manja sambil menggoyang-goyangkan tubuh Abrar dengan tatapan memohon.


"Baiklah baiklah....jangan cemberut nanti jelek" akhirnya Abrar pun mengalah.


Alea tersenyum puas, segera ia memeluk badan besar pria itu dengan wajah berbinar, bagaimana tidak di pikiran Alea ia akan datang memanfaatkan Abrar untuk ia pamerkan di hadapan Deni dan Dara nanti.


Lagi-lagi Abrar hanya bisa memejamkan matanya sejenak untuk menetralisir perasaannya ketika bersentuhan dengan Alea.


Iya Abrar selalu gugup jika dipeluk gadis manja itu, terlebih sekarang status mereka adalah calon pengantin. Abrar tidak ingin membayangkan hal yang lebih dari ini setelah menikah nanti, ia sedikit pesimis karena Alea tidak memiliki perasaan untuknya.


Namun Abrar tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memiliki cinta terdalamnya itu, apapun yang akan ia hadapi nanti Abrar sudah siap meski dengan penolakan gadis itu, akan tetapi ia berniat mengubah Alea menjadi lebih baik lagi setelah menikah.


*****


Pria ini memakai stelan jas berwarna navy, kontras dengan wajahnya yang tampan, rambut klimis dengan jambang tipis menghiasi rahangnya.



Ia melihat jam di pergelangan tangannya, sudah hampir setengah jam ia menunggu Alea bersiap.


Abrar berdiri menghadap jendela dengan gorden berwarna pastel menghiasi, ia menatap keluar hingga pandangannya tembus ke halaman hijau rumah calon mertuanya.


Adik-adik Alea tidak sedang dirumah sore itu, mereka berada di rumah omanya bersama sang mama karena ada acara keluarga. Alea tidak bisa bergabung karena ingin pergi ke pesta mantan kekasihnya.

__ADS_1


Alea hanya sendiri dirumah, tentu ditemani para pelayan yang bekerja untuk Eliana.


Sudah habis minuman yang disediakan pelayan rumah itu, namun Alea belum juga selesai berdandan.


Abrar masih melamun menghadap jendela, ia menerawang jauh apa yang akan terjadi ketika ia menikahi Alea nanti, ada perasaan takut di hatinya terlebih pernikahan bukanlah sebuah permainan yang ia dan Alea terjebak didalamnya. Abrar ingin menikah sekali seumur hidup, namun jika Alea tidak mencintainya bagaimana bisa bertahan seumur hidup pikir Abrar.


Tiba-tiba lamunannya pecah ketika suara gadis cantik yang ia dambakan memanggilnya.


"Bang....Abrar" kejut Alea.


Abrar sontak membalikkan badan menghadap Alea yang sudah berada dibelakangnya dengan senyuman manis dari bibir berwarna merah muda dan make up tipis ala korea, alis dan mata nya yang tegas menuruni sang papa, hidung mancung dan dagu yang runcing, perpaduan sempurna pasangan Eliana dan Kemal.


Abrar terpana bagaimana calon istri yang biasanya manja dan kekanakkan kini menjelma sebagai gadis cantik bak cinderella yang memakai gaun panjang berwarna biru muda nan sopan menjuntai indah dilantai, dengan rambut yang digerai sedikit dibuat bergelombang menambah keanggunan Alea.


Lama mata mereka bertemu, Alea merasa lain pada hatinya. Gadis itu tiba-tiba gugup mendapat tatapan dari Abrar.


Untuk menutupi kegugupannya Alea melambaikan lima jarinya dihadapan wajah Abrar hingga lelaki itu tersadar.


"Ah....kau sudah siap?"


"Siap dong, ayo" jawab Alea semangat.


Abrar kian canggung ketika Alea menautkan jari mereka sambil berjalan menuju mobil.


*****


jangan lupa mampir ke novelku sebelah ya "Ku lepas kau dengan ikhlas"

__ADS_1


tinggalkan jejak kalian ya gaessss.


__ADS_2