
...Selamat membaca...
...🌸🌸🌸🌸🌸...
Bandara Charles de Gaulle tampak sibuk dengan lalu lalang para calon penumpang maupun penumpang yang baru tiba dari berbagai negara. Semuanya sibuk dengan keperluan masing masing.
Hiruk pikuk suara suara dengan berbagai bahasa membuat suasana makin ramai. Maklum bandara internasional satu ini memang selalu ramai.
Di sana juga tampak pak Adi begitu tidak sabar menunggu kedatangan Karin. Pesawat yang membawa putri dan cucunya itu sudah sekitar setengah jam lalu tiba namun belum ada tanda tanda para penumpangnya keluar.
"Mungkin masih sibuk urus bawaannya." gumam pak Adi.
Beliau lantas bernapas lega ketika tampak beberapa penumpang telah keluar ke pintu di mana mereka bisa bertemu sanak saudara atau penjemputnya. Pak Adi memasang mata baik baik agar tak kehilangan jejak Karin.
Kerinduannya pada putri semata wayangnya itu kini tidak hanya sekedar rindu biasa melainkan juga penasaran ingin segera bertemu cucu tampannya juga. Dan tentu saja penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Kemarin beliau dikejutkan dengan berita bahwa masa tahanan beliau sudah berakhir padahal seharusnya masih sangat panjang. Belum lagi tidak ada penjelasan rinci tentang alasan kenapa bisa hukumannya dipersingkat seperti itu kecuali sebuah pesan bahwa beliau harus menjemput sendiri putrinya yang bernama Karina Saswita dan cucunya di bandara ini.
Banyak pertanyaan di benak pak Adi yang harus segera dapat jawaban. Karenanya begitu ada sosok berhijab dengan menggendong bayi membuat mata pak Adi berbinar.
"Karinaaaa,,,," Teriak pak Adi sembari melambaikan tangan ke arah sosok itu.
"Papaaa,,," Yang dipanggil juga langsung terburu buru menghampiri.
"Assalamualaikum papa. Karin kangen banget sama papa." Karin langsung memeluk pak Adi.
"Waalaikumsalam nak. Papa juga kangen." balas pak Adi.
Pelukan hangat keduanya pun diiringi tangisan Delvara yang terkejut saat tubuh mungilnya sedikit terhimpit.
"Oh cucu Opa,,,,Kejepit ya. Maafin Opa ya sayang. Siapa ini namanya anak ganteng ya??" pak Adi mencubit gemas pipi cucunya.
"Delvara Abdimandala Opa,,," sang mama mewakili bayi yang belum bisa bicara itu.
__ADS_1
"Naman yang gagah. Segagah papanya ya." ucap pak Adi sembari mengerling pada Karin.
Karin hanya tersenyum tipis karena sosok gagah yang disebut oleh papanya itu entah saat ini seperti apa kondisinya. Masihkah gagah seperti bayangan papanya itu? Taukah ia di mana anak istrinya saat ini? Pedulikah ia?
"Boleh papa gendong?"
Karin tersentak dari lamunannya dengan pertanyaan pak Adi.
"Boleh. Tentu boleh pa." Karin mengendurkan pengait gendongan bayinya lalu dengan berhati hati memindahkan Delvara ke tangan pak Adi.
"Ya ampun,,, cucu opa kok masih merah begini sudah diajak jalan jalan jauh sih sama mama? Oh ya,,, mana papanya?? Masih urus barang bawaan ya Rin?" pak Adi yang belum tau apa apa itu menanyakan keberadaan Dion.
"Papanya tidak ikut pa." jawab Karin dengan nada yang tidak bisa ditebak oleh pak Adi arahnya kemana.
"Tidak ikut?" Pak Adi mengerutkan dahinya mencoba membaca mimik wajah putrinya itu. Namun belum dapat jawaban.
"Barang barang papa mana? Sudah siap semua kan? Kita harus melanjutkan perjalanan." ucap Karin.
"Papa gak paham Rin."
"Kita tidak akan tinggal di negara ini lagi pa." kata Karin selanjutnya karena pak Adi hanya mematung.
"Rin papa,,,"
"Nanti Karin jelaskan semuanya. Yang penting sekarang kita check in dulu. Jangan sampai kita ketinggalan pesawat. Barang papa segini aja?" tanya Karin sembari menunjuk sebuah koper kecil di dekat papanya.
Pak Adi hanya mengangguk dan masih dengan wajah bingungnya. Namun beliau juga menurut saja saat Karin menariknya pergi.
Tentang koper kecil itu,,, jangan tanya. Tentu saja semua juga bagian dari usaha mama Herna untuk segera mendepak keduanya makin cepat pergi menjauh.
"Papa tolong jaga Delvara dulu ya. Karin urus tiket kita dulu." pinta Karin.
"Ya. Selesaikan saja dulu nak." jawab pak Adi meski masih terus bertanya tanya namun semakin ia banyak tanya bukankah malah akan memperlambat waktu untuk Karin bisa segera menjawabnya.
__ADS_1
Karenanya, dibiarkannya Karin menyelesaikan segala sesuatunya terlebih dulu. Agar segera bisa tenang dan duduk bersamanya serta tentunya menjelaskan semuanya.
Dipandanginya wajah lucu Delvara. Sepasang mata dan alis yang tegas membentuk mirip milik Dion. Pipi chubbynya mengingatkan pak Adi akan Karin saat masih bayi. Pak Adi membelai kepala kecil itu dengan lembut.
"Opa harap kehadiranmu adalah berkah bagi kami semua Del. Jadilah kekuatan untuk mamamu. Opa tidak tau apa yang sebenarnya terjadi tapi apa pun itu,,, Opa akan tetap mendampingi kalian." lirih pak Adi.
Sepertinya beliau sudah bisa mulai menebak nebak namun tak berharap tebakannya itu benar. Ia berharap semua baik baik saja.
"Sudah pa. Kita tinggal tunggu waktu untuk masuk pesawat saja." Karin datang lalu duduk dan membelai pipi chubby Delvara.
"Ada apa sebenarnya?"
Karin menghentikan gerakan tangannya di pipi Delvara. Matanya berkaca kaca namun segera dikedip kedipkannya agar bulir bening itu tak berjatuhan.
"Menangis itu tidak ada salahnya. Kadang sekuat apa pun hati manusia,, dia tetap akan merasa lemah. Menangis untuk membuang semua kesedihan lalu mendapat kekuatan itu tidak apa apa." ucap pak Adi.
Sontak ucapan itu membuat buliran bening itu lolos dengan lancarnya. Membasahi pipi putih yang kini jadi kemerahan. Pak Adi meraih kepala putrinya dan menyandarkannya di bahunya. Didekapnya putrinya itu dengan satu tangannya karena tangan satunya mendekap Delvara.
"Menangislah. Hempaskan semuanya. Kalau kamu sudah merasa lega,,, kamu bisa cerita ke papa ada apa sebenarnya." ucap pak Adi sambil mengusap usap lengan Karin.
Yang diperlakukan begitu makin membenamkan kepalanya di bahu terhangat milik cinta pertamanya itu. Sama seperti anak anak perempuan lainnya,,, bagi Karin papanya adalah cinta pertamanya. Jika dulu bahu itu pernah tak sebegitu nyamannya untuk bersandar maka kali ini bahu itu tempat ternyaman baginya.
Jika sebelumnya ada bahu Dion tempatnya bermanja manja namun kini ia harus mulai membiasakan diri untuk sadar bahwa bahu itu mungkin tak akan pernah jadi miliknya lagi.
"Jangan hilang harapan Rin. Masih ada papa dan Tuhan bersama kita. Dan ada Delvara juga." papa Adi mengingatkannya saat Karin makin terisak.
"Apa pun menimpamu saat ini,,, papa hanya ingin kamu kuat. Delvara membutuhkanmu lebih dari papa. Kuatlah untuk putramu."
"Terima kasih papa." Karin mengeratkan pelukannya pada papanya.
Sampai akhirnya panggilan dari operator yang menyebut bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi akan segera berangkat. Karin mengusap airmatanya. Sejenak kemudian menarik napas dalam dalam agar dadanya tak terasa sesak oleh beban hidupnya.
"Ayo pa. Kita berangkat. Turki menunggu kita. Disana hanya akan ada Karin, papa dan Delvara. Dan kita akan baik baik saja." Karin tersenyum manis menyambut tempat baru dan kehidupan barunya.
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸...