
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
Kamar yang seharusnya terasa dingin oleh hembusan AC itu nyatanya tetap membuat dua insan yang tengah dirasuki setan tetap berkeringat.
Keduanya tengah berlomba lomba mencapai surga kenikmatan duniawi. Saling memacu,,, bertukar posisi sampai akhirnya gelombang dahsyat itu pun menghantam mereka.
Keduanya terkulai dengan nafas terengah engah namun wajahnya menyiratkan kepuasan tak terlukiskan. Dan tak lama kemudian pun mata sama sama terpejam melewati malam panjang.
Keesokan paginya Hana bangun terlebih dahulu. Dipandangi wajah pemuda yang berkat obat perang*sang yang dibubuhkannya ke dalam makanan dan minuman Yusuf semalam akhirnya berhasil ia dapatkan.
"Lumayan juga nih anak. Walau baru pertama tapi gak percuma punya badan atletis begini. Kamu perkasa sekali sayang."
Dengan lembut Hana mengusap dahi Yusuf yang masih tampak tertidur pulas kelelahan setelah semalam berlomba pacu dengan Hana. Diciumnya dengan lembut dengan penuh rasa senang telah dipuaskan. Gelora yang memenuhi relung hati dan jiwa telah dilepaskan.
Hana beranjak turun dari ranjang kenikmatan itu lalu masuk ke kamar mandi. Mengguyur tubuh yang biasanya mulus tapi kini dipenuhi banyak tanda cinta berwarna merah kehitaman. Tapi melihatnya membuat Hana ingin mengulang kegiatan semalam.
Dibersihkannya juga bagian bawahnya yang lumayan banjir dengan cairan kenikmatan Yusuf.
"Hmm,,, aku malah lupa menyiapkan diriku sendiri. Bodohnya aku!!" Hana mengutuki diri sendiri kala ingat ia bahkan tak meminum obat anti hamil dan ia juga baru sadar bahwa Yusuf menumpahkan semua di dalam rahimnya.
"Semoga saja tidak hamil." seru Hana setengah kesal namun kemudian tersenyum saat ia berpikir mungkin saja sebaiknya ia hamil.
"Dengan begitu,,, kamu tidak akan bisa kemana mana. Kamu akan jadi milikku." Hana makin tersenyum lebar sambil mengusap perutnya dengan harapan benih benih gelora Yusuf tertanam dan tumbuh di rahimnya.
Yusuf mengerjap ngerjapkan mata saat ia mendengar sayup sayup suara ponselnya berdering. Namun untuk menjawabnya pun rasanya ia enggan. Rasanya begitu berat membuka matanya. Ia merasa seluruh tubuhnya ngilu. Lelah sangat.
Perlahan kesadaran dan otaknya mulai berfungsi. Suara suara seperti orang mandi juga mulai didengarnya begitu dekat di telinga. Ia membuka mata. Dengan wajah bingung tak mengenali tempat itu.
"Di mana aku?" gumamnya seraya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan asing itu.
"Selamat pagi sayang. Nyenyak banget tidurnya. Lelah ya?"
Yusuf terkejut mendengar suara Hana. Dilihatnya Hana keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk mini diatas lutut. Kepalanya juga dibalut handuk.
"Kamu!!!"
"Iya aku. Memangnya siapa lagi?"
__ADS_1
"Sedang apa kamu di sini?? Ini di mana?? Pakai bajumu!!!" ketus Yusuf.
"Ini kamarku sayang. Kamu bermalam disini semalam. Oh ya,,, terima kasih ya. Kamu hebat banget ternyata di ranjang." Hana mengerling.
"Apa??!!!" Yusuf baru menyadari dirinya sama sekali tak dibalut sehelai benang pun.
Yusuf makin bingung dengan apa yang terjadi. Semakin keras ia berusaha mengingat semakin ia tidak ingat. Obat yang diberikan Hana semalam memang bisa memberikan efek tidak sadar pada yang mengkonsumsinya.
Belum bisa mengingat semuanya, ponselnya kembali berdering. Diraihnya dengan cepat ponsel itu.
"Karin." ingin menjawab namun panggilan sudah berakhir.
"Dia pasti mencari cari aku dari semalam." gumamnya melihat ada puluhan miss call dari Karin.
Dengan segera Yusuf meraih pakaiannya dan memakainya. Hana hanya memandanginya dengan nakal.
"Mau kemana sih buru buru banget? Gak mau lagi?" tanyanya genit.
"Diam kamu!!! Apa pun yang terjadi semalam adalah kesalahan dan itu salahmu!!!" kecam Yusuf.
"Kan kita sama sama mau. Kamu lho yang duluan merayu dan mendekat." ujar Hana.
"Diam!!!"
Yusuf segera pergi dari rumah terkutuk yang masih belum bisa diingatnya kenapa bisa membuatnya melakukan perbuatan terlarang itu. Ia menyesali diri sendiri yang tidak bisa menahan semua godaan.
Dengan segala pikiran yang kalut, Yusuf pun menuju ke rumah Karin.
"Loh nak Yusuf. Kok kesini?" tanya pak Adi.
"Karin mana om?" tanya Yusuf.
"Karin kan di rumah yayasan sejak kemarin sama Del. Memangnya gak sama kamu di sana nak?" tanya pak Adi yang jadi bingung.
"Rumah yayasan??? Dari kemarin??" Yusuf makin panik.
"Iya nak. Katanya kemarin kesana buat ambil beberapa barang yang masih tertinggal di sana. Dia ingin membawa barang barang itu ke tempat baru kalian." jelas pak Adi.
"Gawat!!!" Yusuf menyadari sesuatu.
__ADS_1
"Ada apa nak?" tanya pak Adi.
Yusuf tak menjawab dan langsung berlari meninggalkan pak Adi. Pak Adi memang sama sekali belum dikabari Karin.Beliau tidak bingung Karin tidak pulang karena rumah yayasan tidak jauh dari sana dan sebelum sebelumnya Karin memang pernah bermalam di sana kalau sedang membersihkan rumah itu.
Tapi sikap Yusuf pagi itu justru membuat beliau bingung.
"Aneh." gumamnya sambil geleng geleng kepala lalu menutup pintu.
Yusuf berlarian seperti dikejar setan. Rumah yayasan yang hanya beberapa blok dari apartemen Karin terasa begitu jauh pagi itu.
Dan lelah akibat berlarian itu akhirnya membawanya pada sebuah pemandangan yang membuat matanya sakit begitu ia membuka pintu rumah yayasan.
"Rin,,," lirihnya saat melihat Karin tengah duduk menyuapi Dion.
Karin menoleh dengan pandangan dingin. Tidak berbicara sepatah kata pun.
"Rin aku bisa jelaskan." Yusuf tau Karin marah padanya.
Karin tetap tidak bergeming. Ia tetap menyuapi Dion makan. Di ruangan lain tampak mama Herna dengan menggendong Delvara hanya melihat saja ke arah Yusuf tanpa bicara juga. Mama Herna memang tak ingin ikut campur urusan mereka.
"Rin,,, aku mau bicara." ucap Yusuf lagi.
"Ijin dulu sama suamiku." ketus Karin.
Yusuf merasa sakit sekali hatinya mendengar ucapan ketus Karin itu apalagi bisa didengarnya dengan jelas calon istrinya itu bicara tentang suami.
"Rin,,, Kita akan menikah. Dan akan tetap menikah terlepas dari kamu punya suami atau tidak. Aku tidak bisa mundur lagi. Aku tidak bisa mengalah lagi. Aku tidak mau pria lumpuh ini mengambilmu dariku. Dia tidak pantas Rin!!!"
"Jaga bicaramu!! Kamu lupa kamu sedang bicara dengan siapa? Kamu mengatai suamiku dan aku selaku istrinya tidak terima. Siapa bilang dia tidak pantas bagiku?? Siapa bilang teman baikku yang aku percayai tapi malah mengkhianatiku ini lebih pantas untuk bersanding denganku?? Dan siapa bilang dia mengambilku darimu?? Kamu,,,Kamu yang mengambilku darinya!!"
Yusuf terhenyak oleh ucapan Karin yang terdengar penuh amarah itu. Wanita yang biasanya begitu lembut itu kini tak punya sisi kelembutan lagi.
"Rin,,,kamu gak bisa dong main membatalkan begitu saja." protes Yusuf.
"Kenapa tidak?? Aku menyetujuinya karena aku sama sekali tidak tau bahwa orang yang akan menikahiku rupanya diam diam menyembunyikan suamiku. Kamu bukan tidak tau penderitaanku,,,kamu bukan tidak tau apa yang membuatku bahagia. Tapi kamu sengaja menjauhkan itu dariku. Kenapa??? Kenapa kamu lakukan itu?? Apa arti semua kebaikanmu selama ini. Ku kira kamu adalah sahabat,,, ternyata kamu penjahat!!" kecam Karin.
"Rin,,,!!! Aku mencintaimu!! Itu kulakukan karena cintaku padamu."
"Tutup mulutmu!! Hargai suamiku!! Kamu tidak malu mengatakan hal semacam itu di depan pemilik sahku??" mata Karin berkilat.
__ADS_1
Ia benar benar marah. Kesal dan kecewa jadi satu. Ia merasa dipermainkan oleh orang yang paling dipercayainya selama ini.
...❤️❤️❤️❤️...