
"Nanti malam kita akan ke pesta temanku, apa kau keberatan menemaniku?" tanya Abrar pada istrinya yang masih setia duduk disampingnya dengan mesra.
"Temanmu yang mana? Yang baru pulang ke tanah air tempo hari?"
Abrar mengangguk.
"Tentu saja aku akan menemanimu, jika bukan istrimu siapa lagi apa kau mau ditemani wanita lain?" tatap tajam Alea.
"Aku tidak bilang begitu sayang" cubit Abrar pada hidung istrinya yang menggemaskan.
Setelah makan siang bersama, Alea juga telah puas bermesraan bersama yang terkasih kini saatnya ia kembali ke rumah sakit, Abrar mengantarkannya ke mobil.
Dalam perjalanan menuju lobby, di dalam lift Alea terus tidak melepas Abrar barang sebentar, hingga lelaki itu malu sendiri dihadapan karyawan Alea sesekali mencuri ciuman bibir suaminya.
"Kenapa apa kau malu? Aku ini istrimu, biar mereka tahu kau hanya milikku...."
"Sayang....mereka juga tahu itu, aku merasa kehilangan wibawa saja jika seperti ini" jawab Abrar pelan.
"Apa? Kau menyebalkan...." kesal Alea yang langsung melepaskan diri dari Abrar dan berjalan cepat keluar kantor suaminya, tidak heran perempuan ini tengah mengalami PMS jadi cepat tersinggung dengan hal-hal kecil saja.
"Alea...." panggil Abrar yang segera menyusul istrinya.
"Sayang bukan itu maksudku....jangan tersinggung dulu. Baiklah aku minta maaf" bujuk Abrar.
Alea hanya diam, ketika sampai mobil pun perempuan itu masih bungkam dengan wajah memerah, segera ia membuka pintu mobil dengan kasar dan meninggalkan Abrar begitu saja.
Abrar menghela napas kasar, ia mengusap wajahnya.
"Apa yang telah aku lakukan" sesal pria itu.
****
Alea masih saja kesal, bagaimana suaminya bisa menolak dicium di depan karyawan, meski itu memang memalukan tapi tetap saja ia merasa kesal bukan main, sesampainya di rumah sakit Alea bertemu dokter Bayu di parkiran.
Alea menunduk hormat ketika mata mereka bertemu.
"Alea.....kita bertemu lagi" sapa dokter Bayu.
"Iya dokter, apa dokter mau pulang?" tanya Alea berbasa basi.
"Iya aku akan pulang, kau darimana Alea?"
"Oh.....saya baru saja dari kantor suami, kami makan siang bersama hari ini" jawab Alea polos.
"Huh....beruntungnya jadi suamimu, lain kali ku harap kau mau makan siang bersamaku....sambil bimbingan tentunya, aku akan sangat senang jika kau mau"
"Tentu saja saya mau dokter, saya sangat butuh bimbingan dokter untuk memulai stase ini" jawab Alea semangat.
"Baiklah....bagaimana jika besok?"
Alea mengangguk semangat.
"Apa boleh saya mengajak serta dua teman lain?" tanya Alea kembali.
"Tidak masalah, kau boleh ajak mereka meski aku lebih suka mengenalmu saja" jawab dokter Bayu ambigu.
Alea masih mencoba untuk mencerna.
"Baiklah Alea besok kita bisa bertemu lagi, aku akan pulang sekarang...aku harap harimu menyenangkan" ucap dokter itu lagi ketika Alea tidak menjawab.
Alea kembali mengangguk saja.
"Aku rasa dokter Bayu orang yang baik, asyik....bimbingan gratis makan siang, hmmm sungguh beruntungnya aku" gumam Alea senang, ia bahkan sudah melupakan rasa kesalnya terhadap Abrar tadi.
*****
Abrar pulang lebih cepat karena pikirannya tidak tenang sejak istrinya merajuk tadi siang, namun sesampai di rumah Alea belum juga pulang padahal seharusnya perempuan itu sudah di rumah sejak tadi.
Abrar menghubungi istrinya berulang namun tidak di terima sejak tadi siang, pria ini gusar memikirkan istrinya benar-benar merajuk sekarang.
Lama Abrar menunggu kepulangan istrinya sore itu, pria ini terus menunggu di ruang tamu sesekali melihat keluar jendela namun tidak ada tanda-tanda mobil Alea kembali.
Sampai pada perempuan yang ia tunggu-tunggu itu pulang juga pada akhirnya.
Alea masuk rumah dengan wajah seperti biasa, ia merasa heran kenapa mobil suaminya telah pulang sesore ini, senyumnya mengembang ketika membuka pintu Abrar menyambutnya dengan sebuah buket bunga sebagai permintaan maaf membuat Alea menjadi heran.
"Sayang....apa yang kau lakukan?" tanya Alea heran ketika mendapati suaminya berjongkok seraya menyodorkan buket bunga mawar berwarna pink.
"Alea maafkan aku, please jangan merajuk lagi oke....maafkan sikapku di kantor tadi siang" ucap Abrar serius.
__ADS_1
Alea menarik suaminya untuk berdiri.
"Merajuk? Apa aku terlihat merajuk?" tanya Alea kembali dengan raut bingung.
"Kau tidak menerima panggilanku, kau juga baru pulang sekarang, maafkan aku sayang sungguh....aku tidak bermaksud menyinggungmu tadi siang"
Alea menepuk keningnya baru mengerti arah pembicaraan Abrar, ia tertawa pelan sungguh lucu wajah suaminya jika seperti ini.
"Sayang aku tidak merajuk....bagaimana bisa aku merajuk padamu, maaf....mungkin aku lagi sensitif saja tadi siang, aku tidak apa-apa maaf ponselku mode diam jadi tidak mendengar panggilanmu, aku baru saja dari rumah mama, aku merindukan Baim, maaf apa kau lama menunggu?"
Abrar menggeleng, ia langsung memeluk istrinya dengan erat.
"Syukurlah, aku pikir kau marah padaku....aku bahkan tidak fokus ketika kau meninggalkanku dalam keadaan marah tadi siang, maaf...kau boleh menciumku sepuasnya jika dikantor aku tidak akan malu" ucap Abrar membuat senyum Alea mengembang sempurna, sekarang ia tahu kelemahan suaminya.
"Benarkah?" tatap Alea manja pada wajah menggemaskan suaminya.
Abrar mengangguk serius "Apapun untukmu sayang....jangan seperti ini lagi aku sungguh takut"
Alea tertawa geli melihat raut Abrar, segera perempuan ini mengecup seluruh wajah suaminya dengan gemas.
"Aku mencintaimu bang Abrar....aku hanya ingin semua orang tahu kau hanya milikku, apalagi dikantormu banyak karyawan perempuan aku kesal jika mereka menatapmu"
Abrar tersenyum dan meraih bibir istrinya, mereka berciuman lama dan semakin dalam, Alea melepasnya pelan.
"Aku belum mandi sayang, bukankah kita akan bersiap ke pesta malam ini bukan?"
"Iya....tapi ini masih sore, masih ada waktu untuk kita menikmati senja ini" ucap Abrar kembali menggendong istrinya menuju kamar.
Alea ingin tertawa karena Abrar belum mengetahui bahwa ia mendapat tamu bulanan tadi siang.
"Sayang....maaf aku sedang menstruasi" ucap Alea ketika sampai di ranjang.
Abrar terdiam.
"Huh......apa kau sedang menghukumku? Aku bahkan sudah merasa di ujung" jawab Abrar sendu.
Alea tertawa pelan.
"Tapi kita bisa melakukannya tanpa penetrasi bukan? Kepuasanmu kewajibanku sayang...." jawab Alea menggoda, sambil membuka kaos suaminya.
Abrar tidak bisa berkata-kata lagi, sungguh ia mengakui Alea pandai membaca situasi.
*****
Ia memeluk Alea dari belakang menyibak rambut istrinya nan wangi, ia mencium leher Alea dengan lembut membuat Alea merasa geli.
"Astaga sayang itu geli....ayo aku sudah siap" ucap Alea berbalik badan menghadap suaminya yang sudah terlihat tampan.
"Jangan terlalu cantik...." ucap Abrar mengelap bibir istrinya.
"Bang Abrar" bentak Alea yang kembali menghadap cermin karena pewarna bibirnya sedikit terhapus oleh sang suami.
"Aku memang cantik dari lahir jadi tidak bisa ku ubah sayang....aku akan pucat jika lipstikku kau hapus, ini sudah paling minimalis dandananku" kesal Alea mencubit hidung suaminya.
Abrar hanya diam saja, sebenarnya ia keberatan dengan dandanan Alea yang memang terlihat sempurna meski tidak memoles berlebihan.
"Ayo nanti kita terlambat" ajak Alea menyematkan jarinya disela jari suami tercinta.
******
Langit berwarna cerah dihiasi bintang yang bertabur berdampingan dengan sinar bulan yang hampir purnama, pasangan suami istri itu menuju pesta seorang teman yang kala itu menuntut ilmu di kampus yang sama dengan Abrar ketika di luar negeri.
Sebuah pesta penyambutan seseorang yang akan resmi memimpin sebuah perusahaan sekelas perusahaan Ricko dan Kemal, dimana pria ini akan menggantikan ayahnya yang sudah cukup berumur.
Imran nama lelaki yang juga merupakan teman Abrar, pria ini baru pulang ke tanah air beberapa waktu lalu, berwajah tampan dan seorang pebisnis muda yang tak kalah sukses dari Abrar, masih lajang dan terkenal pandai memikat hati kaum hawa yang memandangnya, lelaki ini cukup misterius ia sering mendekati wanita namun tidak ada satupun yang cocok dan bisa ia jadikan istri padahal umurnya telah matang untuk menikah.
"Sayang....apa memang seperti ini pesta para pebisnis? aku tidak pernah ke pesta mewah seperti ini sebelumnya" ucap Alea pelan pada suaminya seraya mereka berjalan memasuki ruangan dimana pesta berlangsung.
"Benarkah? ini pesta biasa para pengusaha sayang, apa kau tidak pernah ikut papa Kemal?"
Alea menggeleng.
"Aku mana suka ikut papa, membosankan....aku lebih suka pesta kecil-kecilan jailangkung bersama teman-temanku, itu lebih menegangkan" jawab Alea bercanda.
Abrar mengecup puncak kepala istrinya gemas, Alea memang menganggap semua hal menjadi ringan.
****
__ADS_1
Imran dan Abrar berpelukan, Alea tengah ke toilet hingga belum berkenalan dengan teman suaminya ini.
Abrar dan lelaki itu mengobrol ringan bersama teman-teman bisnis lainnya, mereka sudah lama tidak bertemu hingga banyak hal yang mereka bicarakan, Imran mempersilahkan Abrar menikmati menu di pesta, karena ia akan menyambut tamu lain.
Abrar berjalan menuju temannya yang lain sambil sesekali melirik kesana kemari jika istrinya telah kembali.
Alea berjalan dengan cepat, takut suaminya lama menunggu, ia sedikit canggung karena banyak pasang mata melihat ke arahnya terlebih dari mata para lelaki berjas mewah yang masih muda-muda sama seperti sang suami.
"Kenapa mereka melihatku begitu, huh....memangnya tidak pernah melihat wanita cantik apa" gumam Alea terus berjalan menunduk hingga langkahnya terhenti ketika menabrak dada seseorang.
"Oh maaf tuan...maaf aku tidak sengaja" ucap Alea tidak enak sendiri.
Lama pria itu memandang Alea.
"Hei....apa kau buta?" Alea melambai lima jarinya di hadapan wajah sang pria yang tidak berkedip.
"Cantik" itu yang keluar dari bibir pria tersebut.
"Ha ha ha....astaga, jadi benar mereka juga menatapku seperti ini karena aku cantik...perlu kau tahu cantik-cantik seperti ini aku sudah sold out" Jawab Alea tertawa geli.
"Siapa namamu? siapa yang mengundangmu?" tanya pria itu lagi.
"Tentu saja yang mengundangku tuan Imran, dia teman suamiku Abrar, apa kau mengenalnya? aku rasa kalian para pengusaha saling mengenal satu sama lain" jawab Alea tanpa ragu.
"Jadi kau istri Abrar?" tanya pria itu mengernyitkan dahi.
Alea mengangguk.
"Aku Alea istri Abrar...." jawab Alea langsung mengenalkan diri tanpa basa basi seraya mengulurkan tangan.
Lama pria itu terdiam namun matanya masih memandang Alea tidak terputus.
"Aku Imran pemilik pesta ini" ucap pria itu tersenyum sambil menyambut tangan Alea lembut.
Alea terkejut, ia tidak menyangka bahwa ia sedang berhadapan dengan pemilik pesta itu membuat Alea tersenyum sipu, namun diluar dugaan Imran bukan hanya menyambut tangan Alea layaknya perkenalan biasa akan tetapi ia mengecup punggung tangan Alea tanpa ragu membuat Alea membesarkan matanya diperlakukan seperti itu.
Tidak lama berselang Abrar tiba-tiba datang dengan wajah memerah, tanpa berpikir panjang lelaki ini memukul Imran pada bagian wajahnya hingga tersungkur.
"Lancang kau menyentuh istriku....aku tahu kau seperti apa temanku Imran, tapi tidak semua wanita harus kau perlakukan seperti ini terlebih ini adalah istriku" ucap Abrar dengan nada marah menatap Imran.
Alea masih belum tersadar dari keterkejutannya sampai Abrar menarik tangannya untuk segera berlalu dari sana, banyak mata melihat mereka yang juga tak kalah terkejut.
Imran mengelap sudut bibirnya yang berdarah sambil menatap punggung Alea yang menjauh.
"Alea......nama yang cantik secantik wajahmu nyonya Abrar" ucap Imran dengan mengangkat satu alisnya disertai sebuah senyum tipis terukir di bibir seksinya.
*****
"Apa kau cemburu?" tanya Alea polos ketika mereka sudah berada di mobil menuju perjalanan pulang.
Abrar masih bungkam, sungguh dadanya bergemuruh menyaksikan bagaimana Imran menatap Alea dan dengan lancang mengecup punggung tangan istrinya terlebih ketika Alea hanya diam saja diperlakukan seperti itu, padahal kenyataannya Alea sangat terkejut akan sikap Imran ketika itu namun belum sempat menghindar karena Abrar sudah terlanjur datang duluan.
"Oh ternyata seperti ini jika suamiku cemburu, kau tidak pernah cemburu selama ini sayang, sekali cemburu kau langsung main pukul....aku merasa tersanjung" ucap Alea tanpa bersalah, sungguh ia menikmati raut cemburu sang suami.
Abrar meliriknya tajam.
"Ayolah sayang....jangan diam saja, dia temanmu....aku juga heran apa memang seperti itu cara perkenalan orang luar negeri?" tanya Alea polos.
Membuat Abrar menggertakkan giginya kesal.
"Kenapa kau diam saja diperlakukan seperti tadi? kau juga berani berbicara pada pria asing, apa kau senang aku membunuh orang?" sindir Abrar tajam.
Membuat Alea terkekeh, sungguh perempuan ini menganggap segala sesuatu menjadi enteng dimatanya.
"Baiklah aku minta maaf.....aku kira dengan bisa membawa diri dan bergaul di tengah orang-orang seperti kalian akan mempermudahmu jadi kau tidak akan malu membawaku ke tengah rekan-rekan bisnismu, aku hanya mencoba berbaur saja sayang"
"Tidak juga dengan para lelaki Alea, kau bisa berkenalan sesama istri disana" kesal Abrar.
"Mau bagaimana lagi, habisnya teman-temanmu tampan semua" jawab Alea menggoda.
Abrar berdecak kesal menatap istrinya yang masih tampak biasa.
"Ayolah sayang aku hanya bercanda.....aku mencintaimu seorang bang Abrar, jangan marah oke....aku mencintaimu sungguh mencintaimu, kau tidak tahu betapa bahagianya aku melihat raut cemburu mu sayang....kau sangat menggemaskan" bujuk Alea menggenggam tangan suaminya dan mengecupnya berulang.
Membuat Abrar sedikit melunak.
"Aku tidak akan membawamu ketempat seperti itu lagi" jawab Abrar pelan.
"Lalu jika kau tidak mengajakku lantas kau akan membawa wanita lain? tidak akan ku biarkan itu terjadi, kau atau aku yang akan jadi pembunuh nantinya"
__ADS_1
Ancam Alea seraya memukul lengan suaminya dengan manja, membuat Abrar berhasil mengembangkan senyumnya, pria ini tidak bisa berbuat apa-apa jika berhadapan dengan Alea karena ujung-ujungnya ia juga yang akan kalah.