
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
"Karin,,," Seru Yusuf sumringah melihat kehadiran Karin pagi itu di ruangan tempatnya dirawat.
Ia begitu senang ketika wanita itu masih mau mengunjunginya. Namun ketika sejurus kemudian sosok Dion masuk mengikuti, maka semua rasa itu pun lenyap tak berbekas.
"Assalamualaikum Yusuf."
"Wa,,,Wa,,,Wa'alaikumsalam Rin." Yusuf jadi kikuk.
"Bagaimana kondisimu?"
"Sudah mendingan. Terima kasih masih mau mengunjungiku dan ingin tau kondisiku." ucap Yusuf pelan.
"Jangan salah paham dulu Yusuf." sela Dion.
Yusuf menoleh dan tak sabar menunggu kalimat selanjutnya.
"Kami kesini hanya ingin tau kapan sebaiknya kami mulai memproses segala tuntutan dan gugatan kami kepadamu. Untuk kecurangan bisnis yang sudah kamu lakukan selama ini dan juga untuk perbuatanmu pada mama."
Yusuf merasa terpukul sekali mendengarnya. Bukan karena membayangkan apa hukuman yang sudah menantinya melainkan karena kalimat itu justru terlontar dari bibir Karin.
Bukan Dion yang mengatakannya. Padahal sebenarnya Yusuf berharap kalimat itu Dion saja yang mengucapkannya. Mungkin efeknya tidak akan sesakit ini.
"Kamu membenciku Rin?" tanyanya kemudian.
Karin menggeleng perlahan tanpa senyuman. Dan sebagai sahabat masa kecil dan penggemar setianya, Yusuf pun paham apa artinya.
Karin sangat kecewa padanya,,,,
"Bodohnya aku. Bagaimana bisa aku selalai ini sampai sampai aku tidak sadar bahwa apa yang kulakukan selama ini ternyata menyakitinya. Alih alih membuatnya bahagia,,,rupanya aku malah makin membuatnya menderita dengan terus menyembunyikan keberadaan bang D."
Yusuf terus mengutuki diri sendiri.
"Maafkan aku Rin." lirihnya kemudian.
"Aku memaafkanmu tapi aku tidak bisa menghilangkan kekecewaanku yang mendalam. Aku minta maaf karena aku tidak bisa menjadi sahabatmu lagi. Bukan aku tidak tau diri melupakan semua kebaikanmu selama ini padaku,papa dan Delvara. Aku hanya,,,"
__ADS_1
"Tidak apa apa. Kamu berhak melakukannya. Apa yang sudah kulakukan padamu memang sudah keterlaluan. Mengkhianati sahabat sendiri memang tidak bisa ditolerir lagi apa pun alasannya." Yusuf memotong bicara Karin.
Karin terdiam karena semua yang dikatakan Yusuf itu tengah ia rasakan. Merasa dibohongi,,, dikhianati,, dibodohi,,,dan dimanfaatkan oleh sahabat sendiri, yang paling mengerti penderitaannya,,, yang hampir tiap hari mendengar keluh kesahnya.
Benar benar kombinasi yang tepat untuk menciptakan rasa kecewa mendalam.
"Aku minta sampaikan salamku pada om Adi. Maaf telah mengecewakan beliau." lanjut Yusuf.
Karin hanya mengangguk pelan tanpa suara. Itu membuat lidah Yusuf makin kelu. Kesenjangan dan jarak yang tanpa sadar telah diciptakannya sendiri kini makin terasa.
"Sebenarnya,,, bukan itu saja. Aku juga ingin minta maaf padamu bang D,,, pada mama Herna juga." lanjut Yusuf berharap ada simpati di wajah Karin.
"Aku permisi kalau begitu. Silahkan lanjutkan urusanmu dengan suamiku."
Hati Yusuf langsung mencelos mendengarnya. Karin tak peduli lagi padanya bahkan dengan jelas mengatakan posisinya saat ini sebagai istri Dion.
"Tunggu om papa di ruangan mama ya sayang." pesan Dion.
"Baik om papa."
Yusuf bisa melihat seulas senyum terlukis di wajah cantik Karin namun itu hanya untuk Dion. Bukan untuk dirinya. Dan Yusuf bisa merasakan tak akan pernah ada lagi untuknya.
Karin meninggalkan ruangan itu tanpa sedikit pun menoleh pada Yusuf. Yusuf menghela napas berat. Dia benar benar kehilangan Karin.
"Bisa lepaskan pandanganmu dari istriku Yusuf?" tegur Dion.
Yusuf terasa tercekik dengan pertanyaan itu. Ia sedih diperlakukan begitu oleh Karin sampai tak sadar bahwa suaminya menperhatikan semua yang dilakukannya termasuk memandang hampa kepergian Karin.
"Maaf bang." hanya itu yang bisa diucapkannya.
"Aku memaafkan apa pun yang kamu lakukan selama itu hanya menyakiti aku secara pribadi. Tapi kalau sudah menyangkut mama dan anak istriku, mohon maaf,,,aku tidak bisa begitu saja memaafkanmu. Aku bukan Tuhan Yusuf. Kamu tau itu." ucap Dion.
Yusuf menelan ludah. Ia tak mampu berkata kata lagi.
"Dan mengenai urusan bisnis, aku juga tidak pernah kenal kata berdamai dengan orang yang culas. Kamu harus tetap bertanggung jawab sesuai prosedur perusahaan. Tidak perlu ku sebutkan dengan rinci bukan? Sebagai sesama pebisnis kamu pasti sudah paham." sindir Dion.
"Iya bang." jawab Yusuf lirih.
Kehilangan segala sesuatunya mungkin adalah hal yang sudah terbayang di otaknya saat keculasannya selama ini terendus. Namun semua itu masih tak semenyakitkan kehilangan senyum Karin.
__ADS_1
Jatuh bangun dalam berbisnis akibat keteledoran sendiri itu sudah biasa.
"Mama,,,"
"Mama masih belum sadarkan diri. Belum melewati masa kritisnya." jawab Dion.
Yusuf tertunduk. Mengingat awal pertemuan mereka dulunya. Berawal dari simpati yang memang tulus dan keinginannya untuk membantu terlepas uang yang digunakannya berbuat kebaikan selama ini adalah hasil perbuatan culasnya,,,Lalu pertemuan itu diakhiri dengan tumpahnya darah mama Herna.
"Apa yang sudah hamba lakukan ya Tuhan? Kenapa hamba bisa berbuat sekeji itu?"
Pertanyaan yang Yusuf sendiri tidak bisa menjawabnya itu terus mengusik jiwanya. Sungguh tidak nyaman berada di posisinya saat ini.
"Tindakanku selanjutnya kepadamu adalah bergantung pada kondisi mama. Jika mama bisa melewati semua ini dan kembali sehat, selamat seperti sedia kala sesuai harapan kami,,, Mungkin aku akan sedikit berbaik hati padamu dan itu pun jika mama mengijinkan. Tapi kalau hal yang terburuk menimpa mama,,, Aku harap kamu siap dengan konsekuensinya." tegas Dion.
Yusuf merasa tubuhnya mulai dibasahi dengan keringat dingin. Kelanjutan hidupnya terombang ambing tanpa kepastian.Semua bergantung pada keadaan.
Bangkrut itu sudah pasti,,, Menghabiskan setengah usianya dengan mendekam di penjara adalah kemungkinan yang tidak bisa dipungkirinya juga.
Ingin rasanya mengusap wajahnya dengan telapak tangannya namun apa daya tangan tak sampai,,, tangan terbelenggu.
"Jangan senang dulu. Tuntutan dari putra Darren mungkin juga akan banyak padamu." ucap Dion kemudian.
"Aku siap bang. Aku sadar aku salah dan aku memang harus bertanggung jawab." ucap Yusuf pasrah.
"Bagus. Setidaknya kamu kooperatif. Siapa tau dengan begitu bisa memperingan hukuman dan konsekuensi yang akan kamu dapat."
"Tapi bang,,,Boleh aku minta sesuatu?"
"Apa itu?"
"Bisakah menyampaikan pesanku pada Karin?" Yusuf berharap jawaban Dion adalah iya.
"Aku tau kamu mencintainya. Tapi aku ingin kamu menerima kenyataan bahwa dia milikku. Tuhan memilihku menjadi pendampingnya. Aku minta maaf kalau aku melanggar janjiku padamu untuk merestui siapa pun wanita pilihanmu. Tapi sebagai suami aku merasa aku jauh lebih wajib menyelamatkan rumah tanggaku dan tak menyerahkan bidadariku pada pria sepertimu."
Rupanya jawaban Dion panjang lebar. Cukup sadar diri tidak pantas bersaing dengan Dion. Bukan dari faktor uang,,, Dari segi kebijaksanaan pun Yusuf kalah.
"Maaf bang. Aku sungguh tidak tau malu." lirihnya dengan penuh rasa malu.
...❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1