
Alea yang masih tengah asyik memasak di dapur tidak menyadari bahwa suaminya telah pulang, ia terus saja memotong sayuran.
Abrar masuk rumah dengan tergesa-gesa, ia langsung mendapati perempuan yang ia cari itu sedang berada di dapur, Alea mendengar langkah kaki suaminya pun berbalik dan benar saja senyumnya mengembang menatap wajah pria yang sangat jarang bisa pulang secepat ini, Alea meletakkan pisau dan mengabaikan sayurannya ia melangkah maju mendekati Abrar yang berwajah sulit diartikan.
"Sayang......kau pulang cepat?" tanya Alea yang segera menghampiri suaminya dan hendak memeluk pria itu, namun di luar dugaannya Abrar malah menarik tangannya menuju ruang televisi.
Alea menjadi heran, kenapa perlakuan Abrar tidak seperti biasanya.
"Sayang ada apa?" tanya Alea lagi.
Abrar mengusap wajahnya kasar sebelum menanyakan apa yang ia ingin ketahui dari istrinya itu sejak di kantor tadi.
"Apa maksudmu menyembunyikan tentang pria brengsek itu dariku? Sejak kapan kau mengetahuinya? Kenapa kau tega Alea, pertama soal Arkan sekarang pria itu, aku benar-benar kecewa padamu kau menyembunyikan dua hal besar sekaligus" ucap Abrar menatap Alea serius.
Membuat Alea kehilangan kata-kata mendengarnya, ia tidak menyangka darimana Abrar mengetahui ini sebelum ia sendiri yang akan bicara.
"Sayang dengarkan aku dulu, darimana kau tahu soal ini? Apa dari Vina, ah seharusnya sudah ku duga perempuan menyebalkan itu pasti mengadu pada suaminya" kesal Alea, ia langsung teringat wajah Vina.
"Kenapa Alea? Apa lagi yang kau sembunyikan dariku?" kembali Abrar menatap istrinya tajam.
"Kau mau mendengarku tidak? Beri aku kesempatan bicara, aku akan menjelaskan ini padamu, memang benar aku mengetahui tentang papa Agung, tapi itu tidak seperti dalam pikiranmu, aku bisa menjelaskannya sayang" bujuk Alea meraih kedua tangan suaminya.
"Apa lagi? Bukankah sudah jelas kau menyembunyikannya dariku, sekarang kau mau menjelaskan apa? Kau mau bilang kau mengasihaninya? Kau mau membelanya?" ucap Abrar dengan wajah memerah.
"Aku membencinya Alea, kau tahu itu sampai kapanpun aku enggan bertemu dengannya dan sangat berharap dia segera tiada....tapi kenapa kau lakukan ini padaku?" ucapnya lagi.
Mendengar ucapan menyakitkan itu membuat Alea ikut merasakan kekesalan, ia ingin berusaha menjelaskan namun Abrar malah memotongnya bahkan dengan kata kasar yang tidak pantas seorang anak mengatakan itu pada orangtua nya sendiri.
"Jika iya memangnya kenapa? Aku akan membelanya karena dia papa mertuaku juga, aku bahagia bisa bertemu dengan pria yang menjadi alasan suamiku dilahirkan di dunia ini, aku membantunya dengan usaha ku sendiri....kau tahu darimana aku mengetahui ini? Dari mamaku, papa mu sedang terbaring sakit tidak berdaya bang Abrar tidakkah aku terlalu kejam jika mengabaikannya, terlebih kedua putra kandungnya tidak mau tahu tentang ini, aku memang berniat ingin mengatakannya padamu. Tapi apa kau malah marah seperti ini, aku pikir memang tidak ada seorang anak yang benar-benar membenci orangtuanya sendiri, tapi kau membuktikannya hari ini bahwa ada, kau orangnya...."
"Kau membenci papamu sendiri sampai sekarang, kau seorang pendendam suamiku....seharusnya akulah yang kecewa padamu, bukankah seorang anak akan tetap berbakti meski apapun masalah orangtuanya dimasa lalu. Asal kau tahu aku sama sekali tidak peduli dengan semua itu, jika kau tidak mau mengakuinya biar aku saja, dia papaku juga sekarang, dan kau terserah padamu...teruslah hidup dalam dendam"
__ADS_1
"Jika aku jadi kau, aku akan sangat bahagia bisa kembali berjumpa dengannya, tidak tahu apa ini akan menjadi pertemuan terakhirmu atau tidak tapi ketahuilah sayang....ayahmu sedang tidak baik-baik saja sekarang, dia sakit menanggung beban yang bahkan mungkin lebih berat dari rasa kecewamu padanya, semua sudah berlalu....kau ingin atau tidak aku akan tetap menjalankan peranku sebagai menantu yang baik untuknya, aku rasa kau akan menyesal setelah ini" ucap Alea panjang lebar dengan tatapan tak kalah tajam dari suaminya, sungguh perempuan ini sama sekali tidak takut, ia tidak ingin berlarut dalam kebencian sang suami.
Abrar terdiam, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Alea akan seperti ini membela pria yang sangat enggan ia akui. Bahkan Alea tidak memberinya kesempatan untuk menyela.
"Aku sudah tidak berniat ingin melanjutkan masakanku, aku ingin ke kamar....jangan temui aku jika kau masih bersikap seperti seorang pecundang seperti ini yang selalu ingin lari dari kenyataan, larilah....lari sekuatmu, aku tidak peduli"
"Masa lalu untuk kita berkaca bang Abrar agar kita bisa menjadi lebih baik lagi, hubungan darah tidak akan putus oleh alasan apapun sekuat apapun kau tidak ingin mengakuinya, tapi jangan lupa kau bisa hidup dan berdiri sampai sekarang ini karena setitik air hina dari papamu, kau tidak bisa menyangkalnya bukan? Teruslah seperti ini kau sendiri yang akan rugi, apa kau ingin membunuhnya? Dengan senang hati aku akan mengantarmu menemuinya, jika bukan rasa penyesalan yang akan kau dapat setelah melihat wajah kurusnya yang terbaring lemah, aku pastikan itu akan terjadi" ucap Alea lagi dan lagi membuat Abrar kian bungkam.
Alea memutuskan meninggalkan pria itu mematung disana sendirian.
*****
Alea menumpahkan tangisnya di kamar, ia mengingat jelas bagaimana wajah dan tubuh yang tidak berdaya itu tengah terbaring lemah di sebuah ranjang rumah sakit menanti kepastian akan takdir hidupnya, sembuh atau mati.
Alea begitu bersedih dengan sikap suaminya, terlebih memang pria itu masih saja membenci lelaki tua tersebut, sebagai anak bukankah tidak ada alasan untuk berbuat kasar apalagi sampai membenci orangtuanya sendiri meski telah tersakiti lebih dulu, bukankah urusan hukum menghukum itu adalah urusan Tuhan, bukan manusia terlebih seorang anak.
Abrar kembali mengusap wajahnya kasar, ia bingung bagaimana menghadapi istrinya, niat awal pria itu yang akan marah dengan Alea yang sudah berani membohonginya terlebih ia mengingat Alea sudah akrab dengan Naura beberapa waktu lalu itu membuktikan Alea telah lama menyembunyikan kebenaran ini darinya, namun apa yang ia dapat malah ceramah panjang lebar dari istrinya seakan dialah yang bersalah dalam hal ini.
"Astaga....kenapa berbalik dia yang marah padaku?" gumam Abrar pada dirinya sendiri, ia mendengar jelas bahwa Alea tidak ingin ditemui jika pria ini masih bersikap tidak ingin membuka diri pada ayah kandungnya yang Alea tahu keberadaannya sekarang.
Sama-sama terlarut dalam diam satu sama lain, namun keduanya tidak ada yang meninggalkan rumah. Alea tetap di kamar, dan Abrar masih terus pusing pada kepalanya yang masih berada di ruang televisi.
Pria itu mulai gerah, hingga malam menjelang ia belum mandi dan berganti pakaian sejak pulang tadi, namun keinginannya untuk ke kamar masih terhambat oleh kemarahan sang istri yang berada di dalam sana.
Menghela napas berulang kali, akhirnya Abrar menyerah ia tidak bisa terus diam apalagi harus berjauhan dengan sang istri ketika di rumah, sungguh pria ini mengakui Alea adalah satu-satunya kelemahan yang ia miliki.
Dengan sedikit gugup pria ini memberanikan diri membuka pintu kamar, matanya berpendar melihat seisi ruangan tidak ada Alea disana, ia bernapas lega ia pikir bisa saja Alea mengurung diri di kamar sebelah, jadi ia merasa beruntung karena sudah sangat gerah ingin segera mandi.
Namun pikirannya ditepis ketika Alea baru saja keluar kamar mandi menggunakan jubah handuk yang menampakkan paha mulusnya yang sempurna, rambut yang masih basah menambah kecantikan istrinya yang berwajah kian segar walau masih tampak sisa mata yang sedikit membengkak karena tangis.
Abrar memejamkan matanya sejenak, bagaimana penampilan sang istri yang membuatnya frustasi, berbeda dengan Alea ia memasang wajah datar, ia terus saja melangkah ingin menuju lemari pakaian, namun tentu saja harus melewati Abrar karena kebetulan Abrar tengah berdiri menghalangi jalannya.
__ADS_1
Alea tidak bersuara, ia diam dan ingin menghindari suaminya yang berdiri disana.
"Sayang" panggil Abrar pelan sambil menghalangi jalan Alea.
"Minggirlah aku ingin berpakaian" jawab Alea ketus.
"Hei...ayolah maafkan aku, kita bisa bicara baik-baik oke......jangan diam dan marah seperti ini" jawab Abrar melunak hendak meraih tangan istrinya namun Alea menepisnya dengan cepat.
"Jangan sentuh aku" kesal Alea.
"Sayang.....maafkan aku, aku tidak bisa seperti ini apalagi harus didiamkan olehmu aku tidak bisa, ayolah kita bisa membicarakan ini secara baik-baik nanti" bujuk Abrar lagi.
Alea menatapnya tajam dan penuh makna.
"Bukankah sudah jelas tadi ku katakan bahwa jangan menemuiku jika belum bisa menerima kenyataa bahwa....." ucapan Alea menggantung ketika merasa tubuhnya melayang dan kepalanya tiba-tiba pusing ketika menyadari bahwa Abrar menggendongnya paksa seperti karung beras dengan rambutnya terburai hampir menyentuh lantai.
"Bang Abrar....lepaskan aku!" bentak Alea.
Abrar tidak menghiraukannya, ia terus berjalan membawa Alea di bahunya menuju kamar mandi, sungguh pria ini tidak bisa jika harus melihat senyum menghilang dari bibir sang istri, ia tidak peduli bagaimana ia akan membahas masalah lelaki tua yang menjadi alasan mereka bertengkar saat ini, Abrar mengaku menyerah sungguh ia merasa gila ketika melihat Alea mengabaikannya.
Alea terus memukul punggung lelaki ini minta diturunkan karena Alea masih kesal dan masih berniat akan memberi pelajaran pada sang suami namun tentu saja ia kalah tenaga hingga mereka sampai ke dalam kamar mandi.
Abrar menurunkannya dibawah guyuran shower yang baru saja ia nyalakan, pria ini meraih wajah istrinya yang masih tampak kesal, mengecup bibir Alea pelan dan penuh perasaan.
"Maafkan aku sayang.....kita bisa bicarakan lagi nanti oke, sekarang aku ingin kau mandi lagi temani aku" ucap Abrar pelan sambil mengusap bibir Alea dengan ibu jarinya.
"Aku hanya tidak ingin kau terus dendam dan ...." kembali Abrar membungkam bibir istrinya dengan kecupan.
"Bisakah kita mandi saja dulu, aku mencintaimu sayang....aku tidak bisa jauh darimu jangan marah lagi oke? maafkan pria yang belum sempurna ini" jawab Abrar dengan tatapan sendu dalam guyuran air shower yang masih mengalir membasahi kedua insan itu.
Alea melunak mendengarnya, kemudian senyumnya terbit dan meraih wajah suaminya.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu bang Abrar, aku mencintaimu" jawab Alea pelan sambil mendekatkan hidungnya di dagu Abrar.
Seperti biasa drama hari itu tetap di akhiri adegan ranjang yang membuat keduanya tidak bisa bertahan lama dalam kemarahan seperti apapun bentuknya, karena seperti itulah seharusnya pasangan suami istri sebab tidak ada emosi berbentuk apapun jika sudah berada di ranjang, dan Alea memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali membujuk suaminya.