
Selamat membaca ๐ธ
๐ธ๐ธ๐ธ
Dion lebih sering memilih menyendiri dan diam sejak kecelakaan itu. Tumpukan rasa bersalah atas kematian suami dan anak Hana menggerogotinya. Ditambah lagi hingga hari ini,,, Tujuh hari pasca kejadian itu, Hana masih tetap belum mau ditemui.
Darren sahabatnya juga tak luput dimintai bantuan untuk membujuk wanita yang sudah menganggapnya sebagai kakaknya itu namun hasilnya nihil.
Hana tetap menutup diri.
"Makan dulu om papa. Om papa kan baru sembuh. Harus tetap jaga kesehatan." Karin datang membawa sepiring nasi dan membujuk suaminya.
"Letakkan saja di situ. Aku belum lapar." sahut Dion tanpa menoleh.
Karin mengelus dada. Sikap suaminya yang akhir akhir ini berubah memang mau tidak mau menguji kesabarannya. Belum lagi hormon kehamilan yang tidak stabil terkadang membuatnya cepat tersinggung.
"Begini saja,,, Kalau memang sudah gak mau dirawat sama Karin,,, Ayo Karin antar menghampiri mantan istri om papa itu. Minta dia saja yang merawat om papa. Kalau memang saat ini cuma dia yang bisa membuat om papa bersemangat hidup lagi,,, biar Karin yang menemui dan memohon mohon padanya."
Dion tersentak dengan ucapan Karin. Ia tak menyangka sikapnya itu akan menimbulkan masalah baru seperti ini. Dari nada bicaranya sepertinya bumil itu cemburu pada Hana.
"Sayang,,, bukan begitu. Om papa hanya belum lapar. Sungguh." Dion coba menjelaskan.
"Belum lapar ya?? Om papa ingat kapan terakhir kali om papa makan??"
Dion berpikir keras sebelum menjawab.
"Biar Karin bantu ingatkan. Om papa makan terakhir Kemarin siang. Dan ini sudah mau lewat jam makan siang lagi tapi om papa masih belum lapar??? Bicaralah kalau ada hal yang mengganggu pikiran om papa. Siapa tau ibu hamil ini bisa membantu cari solusinya. Jangan diam diam menyendiri begini. Tidak akan ada solusi."
"Maafkan om papa sayang. Om papa sungguh banyak pikiran. Om papa merasa bersalah pada Hana. Om papa juga kesal karena dia tidak mau kecelakaan itu dibawa ke meja hijau. Kan sekalian saja kalau memang dia mau om papa dihukum biar om papa tanggung hukumannya. Ini dia malah meminta damai tapi dia sendiri tidak mau ditemui. Om papa jadi serba salah." keluh Dion.
__ADS_1
"Om papa harus sabar. Kehilangan suami dan anak tercinta bersamaan itu pasti sangat berat. Mbak Hana butuh waktu. Kalau om papa merasa bersalah,,berikan dulu ia waktu untuk menenangkan dirinya sendiri dulu. Jangan memaksanya untuk menerima permohonan maaf om papa dulu."
Dengan lemah lembut Karin mengusap usap punggung Dion memberi ekstra kesabaran pada suaminya.
"Kamu benar sayang. Mungkin dia hanya butuh waktu sedikit lebih lama. Seharusnya aku mengerti perasaannya saat ini. Seharusnya aku tidak egois memaksanya menerima dan menemuiku. Dia tengah berduka. Duka yang mendalam."
Dion merasa sudut hatinya terasa nyeri membayangkan bagaimana sedihnya Hana saat ini.
"Kenapa tuhan?? Dari sekian ribu ciptaanMU,,, kenapa harus hamba yang melakukannya? Sebisa mungkin hamba merelakannya bahagia bersama orang lain,, tapi kenapa hamba juga yang Engkau takdirkan merenggut kembali kebahagiaannya itu??" batin Dion merasa diiris.
...๐น๐น๐น...
Hana Saswita,,, wanita yang mau tidak mau menyandang gelar janda itu masih duduk tertegun memandangi foto dirinya bersama mendiang suami dan anaknya.
Setetes dua tetes airmata jatuh membasahi kaca foto itu membuat wajah suaminya kabur. Hana mengusapnya,, mendekap bingkai foto itu lalu menangis lagi.
"Bryaaaaannn,,,,, Varreeeennn,,,," Hana berteriak pilu memanggil nama suami dan anaknya.
Bryan yang biasanya sibuk dengan jadwal pekerjaannya,, hari itu juga sengaja mengambil cuti demi menuruti keinginan putra tercinta.
Hari itu cuaca terasa cerah seakan mendukung keluarga kecil itu untuk merayakan hari jadi Varren.
"Biar Varren yang duduk di depan ya mom." pinta Varren waktu itu.
"Boleh,, tapi ingat pakai seatbelt." ucap Hana.
"Ah mommy,, mommy kan tau Varren mau bergerak bebas buat video selama kita dalam perjalanan. Kalau pakai seatbelt nanti Varren gak bebas gerak mom." Varren membuat wajah memelas pada ibunya.
"Please mom,,,hari ini saja. Varren gak akan rewel atau minta minta yang lain lagi deh sama mommy habis ini." ucapan Varren waktu itu seakan bermakna tapi tentu baik Hana dan Bryan tidak menyangka bahwa maksud dari perkataan itu adalah ia akan meninggal.
__ADS_1
"Sudahlah mom,,, biarkan saja. Kalau mommy sama anak masih saling adu keras kapan kita berangkatnya?? Daddy yang akan lebih hati hati bawa mobilnya biar Varren bisa leluasa ambil video." Bryan menengahi.
"Ok. Daddy janji gak ngebut ya." Hana menegaskan.
Hari itu Bryan memang tidak ngebut tapi pas di lokasi kecelakaan adalah jalan tol yang memang memiliki aturan berapa kecepatan minimumnya. Jadi Bryan yang taat rambu hanya mengikuti perintah rambu.
"Varren,,, pakai seatbelt please." Hana mengingatkan saat mobil mulai masuk ke jalan tol.
"Wait mom. Lima menit lagi." Varren masih menawar.
Hana hanya menghela napas kasar lalu mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Hana yang belum mengambil ponsel sudah dikejutkan oleh suara klakson yang begitu keras dan mobil yang mulai oleng menghindari mobil di depan yang tiba tiba masuk ke jalur mereka.
"Daddy awaaaaass,,,"
Hana menutup mata tak mampu mengingat kejadian itu. Terbayang di matanya Varren terlempar keluar menembus kaca mobil dan tubuhnya terpental di atas mobil yang keluar jalur itu.
Tubuh anak itu sudah berlumuran darah saat ia keluar dari mobil dan mendekapnya. Anak itu sudah tidak bernapas saat itu.
"Kenapa bukan aku saja tuhan yang kau ambil?? Kenapa harus putraku??" tangis Hana kala itu.
Belum juga rasa sedihnya menyadari bahwa putra tercinta telah tiada, Hana diingatkan bahwa dalam mobil yang ringsek bagian depannya itu ada juga suaminya yang entah kenapa sedari tadi belum keluar menyusulnya.
Hati Hana terasa hancur luluh ketika melihat tubuh Bryan digotong keluar oleh orang orang yang menolong. Tubuh lemas itu juga berlumuran darah.
"Please sayang,,, stay alive." bisik Hana dalam hati.Tapi takdir ternyata juga mengambilnya.
Hana menutup diri sejak itu. Ia tak mau kasus itu diperpanjang karena hanya akan menguras energi dan waktunya saja. Hingga detik ini ia belum tau siapa pemilik mobil yang menyebabkan kecelakaan ini. Satu nama pun belum mau ia dengar.
Hana memang menolak untuk tau karena ia masih belum sanggup menata hatinya untuk bertemu dengan orang yang merenggut dua cintanya. Ia butuh waktu.
__ADS_1
...๐ธ๐ธ๐ธ...
Dukung author dengan vote, like dan komen ๐ธ๐นโค๏ธ