
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
Suasana pemakaman mama Herna diliputi perasaan bercampur aduk dari pihak keluarga terutama Dion dan Karin.Ingin rasanya berbahagia dengan hadirnya baby Zoya namun kesedihan akan kepergian mama Herna begitu mendalam.
Prosesi pemakaman berjalan lancar sesuai jadwal. Banyak keluarga yang datang tak terkecuali dari keluarga Darren. Tampak ada Levi beserta istri dan Rayya beserta suami. Anak anak mereka tidak ada yang diajak.
"Kami pamit dulu ya om." ucap Rayya mewakili seluruh anggota keluarga.
"Terima kasih atas kedatangan kalian." sahut Karin masih dengan mata sembab dibalik kacamata hitamnya.
Rayya mengusap usap punggung tangan sepupunya. Memberinya kehangatan agar makin tabah menghadapi musibah ini.
"Kalian jangan lupa datang di syukuran putri kami ya." pesan Dion.
"Om papa,,, Tidak usah mengadakan syukuran atau apa apa untuk Zoya. Bagaimana pun kita masih dalam keadaan berduka." Karin menyahut karena kurang setuju dengan diadakannya syukuran atau sejenisnya.
"Baiklah kalau memang ibu bos sudah memutuskan, maka aku tidak punya kuasa." kelakar Dion menutupi duka laranya.
Memang sih untuk urusan selain urusan kantor Dion akan selalu menyerahkan semua keputusan di tangan Karin. Tapi kali ini ia menjadikannya bahan guyonan hanya karena ia tak ingin semua keluarga Darren merasakan kepedihan sepertinya.
"Be strong om. I know how its feel." Levi paham apa yang dirasakannya.
"Thanks my bro. Kadang om masih saja berharap saat saat seperti ini ada ayah kalian bersamaku. Dia yang selalu bisa membuatku lebih baik."
Akhirnya tangis yang semula sudah ditahan tahan kembali pecah. Dion benar benar merasa terpukul dengan kepergian orang orang terdekatnya.
"Om papa. Jangan bicara begitu. Bagaimana pun sahabat om papa itu hanya menjalani takdirNYA. Beliau pun pasti sudah bahagia di sana bersama bidadarinya. Seperti halnya mama yang bahagia bersama papa. Jadi jangan membuat mereka semua bersedih di sana dengan tangisan om papa ini." Karin mengingatkan dengan intonasi lembutnya.
"Karin betul om. Kami tau om sangat bersedih kehilangan satu persatu orang orang terkasih om. Tapi lihatlah,,, om juga dikerumuni dengan orang orang baru yang juga gak kalah sayangnya sama om. Karin,,, anak anak om,,, bangkitlah demi mereka." Rayya memberanikan diri memberi nasehat.
Dion menyeka airmatanya setelah mendengarnya. Rayya yang jauh lebih muda darinya itu justru bisa begitu bijak berpikir.
"Kamu benar sayang. Ada anak dan istri om yang juga akan selalu bisa membuat om merasa jauh lebih baik."
__ADS_1
Kini senyuman berangsur angsur mulai terpancar di wajah Dion. Hal itu membuat anak anak Darren jadi lebih lega untuk meninggalkannya. Lagipula pemakaman sudah usai. Dion dan Karin juga sudah bersiap pulang.
Ditemani Darwin yang mengemudikan mobilnya, Dion duduk di kursi belakang bersama Karin. Karin melingkarkan tangannya di lengan Dion lalu menyandarkan kepalanya juga di bahunya.
"Ada apa ini?" tanya Dion lembut.
Ia merasakan kalau istrinya tengah memikirkan sesuatu. Tidak biasanya Karin bermanja manja begini apalagi kalau masih ada orang bersama mereka.
"Karin takut."
"Takut?? Takut apa sayang?" Dion heran.
Karin hanya menggeleng geleng di bahu Dion. Tapi cengkeramannya di lengan Dion makin kuat. Membuat Dion makin penasaran.
"Ada apa? Coba cerita sama om papa. Siapa tau om papa bisa bantu." kata Dion seraya mengusap usap pipi Karin dengan tangan satunya.
"Pokoknya om papa gak boleh bandel kalau Karin kasih tau sekarang."
"Lah emangnya om papa pernah bandel??" Dion jadi bingung.
"Jadwal Joni gak dibatasi kan??" celetuk Dion yang merasa gemas dengan tingkah istrinya itu.
"Oh ya itu juga harus direschedule. Gak boleh keseringan biar om papa gak kecapekan. Seminggu cukup 2 kali." Karin membentuk dua jarinya seperti huruf V.
"Kalau urusan makan buah, ok om papa akan berusaha untuk mulai suka makan buah. Makan sayur juga okelah itu bisa diatur. Minum multivitamin juga bukan masalah besar. Terus apalagi tadi?? Mmm,,, gak lembur? Itu sih gak bisa langsung tapi harus pelan pelan dan mungkin om papa akan angkat posisi Megha."
"Terus???" Karin tidak sabar menunggu kalimat selanjutnya.
"Kalau olahraga,,, Kan olahraganya ya sama Joni. Jadi mana bisa Joni dibatasi hanya seminggu 2x??"
"2x itu sudah wajar om papa."
"Siapa bilang???"
"Setidaknya begitu yang Karin pelajari di sekolah dulu." kilah Karin tidak mau kalah.
__ADS_1
"Ah itu kamu dibohongi sama gurumu sayang. Nih ya dengerin om papa. Kamu tau Nan Wise??"
Karin menggeleng karena merasa nama itu asing di telinganya.
"Dia itu Sek*solog dan ahli saraf yang menyebutkan kalau aktivitas suami istri yang dilakukan setiap hari itu dapat meningkatkan suasana hati, citra tubuh dan harga diri lho. Bisa juga untuk menurunkan stress, meningkatkan motivasi dan keharmonisan tentunya. Tuhhh,, Jadi jangan malah kasih jatah 2x saja seminggu. Memangnya kamu mau om papa stress?? Mau om papa gak punya motivasi?? Mau rumah tangga kita jadi gak harmonis?? Nggak kan???"
Karin memicingkan matanya curiga kalau kalau suaminya ini hanya membual belaka seperti biasanya.
"Masak???" tanyanya kemudian.
"Kalau dibilangin suami itu gak boleh ngeyel lho."
"Mana buktinya? Tau dari mana? Bukan modus saja kan ini??" selidik Karin.
"Hmmm coba deh buka itu mbah gugel. Pasti ada kok manfaat kalau kita setiap hari melakukannya."
Dengan cepat Karin membuka kunci layar ponselnya dan melakukan perintah Dion itu. Benar saja ada hal demikian tertulis disitu.
"Hehehe,,," Karin meringis.
"Bandel sih dibilangin. Mana bisa bisanya bilang om papa modus." Dion pura pura ngambek dan menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Tak lupa juga ia pun memalingkan wajahnya membelakangi Karin.
"Om papaaaaa,,, Jangan ngambek dong. Maafin Karin yaaaa." Rayu Karin sambil menarik narik tangan Dion yang tetap menyilang bak anak kecil yang tengah merayu ibunya yang tak mau membelikan mainan untuknya.
Dion menunjuk pipinya memberi isyarat Karin menciumnya terlebih dulu. Karin pun menurutinya.
Cup Cup Cup Cup,, Wajah Dion pun dihujani ciuman bertubi tubi oleh Karin. Dion tersenyum lantas membuka tangannya dan membawa Karin dalam dekapannya. Sungguh ia sangat mencintai istrinya itu. Meski kadang kekanak kanakan juga tapi justru itu yang membuatnya ceria dan bahagia.
"By the way kamu belum bilang apa alasan tiba tiba minta om papa melakukan semua itu." tegur Dion.
"Karin ingin om papa sehat dan berumur panjang. Karin ingin om papa bisa lebih lama menemani Karin membesarkan Delvara dan Zoya. Karin takut kehilangan om papa." mata Karin mulai berkaca kaca.
Dion merengkuh tubuhnya makin erat.
"Om papa akan berusaha hidup selama mungkin demi kalian."
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️...